
Alex sudah mengerti, dia pulang setelah mengantar Fira. Setelah itu dia langsung pulang, untuk bertemu dengan ibunya. Sudah banyak segala pertanyaan ada di otak Alex. Pertanyaan itu bakal ditanyakan langsung ke Marika.
Di rumah, Marika sedang beri pupuk tanaman di kebun kesayangan. Halaman yang luas mungkin lebih cocok dibuat lapangan bulu tangkis atau basket. Sayangnya Marika lebih suka dijadikan tempat penanaman ragam alam hijau.
Dari arah berlawanan, suara mesin mobil di depan halaman rumah. Marika sudah yakin yang datang itu adalah putranya. Tidak ada siapa pun datang ke rumah kalau bukan hal kepentingan. Karena rumah hanya tempat privasi khusus Sanjaya saja.
Marika juga tidak akan sembarang beri alamat rumah dia tinggal. Terkhusus kalau dia mengundang langsung. Bryan sendiri juga tidak bisa sembarang bebas datang ke rumah ini. Terkecuali kalau Marika memerintahkan.
Alex masuk ke rumah, dengan sikap buru-buru, pekerja di rumah langsung memberi hormat namun digubrisnya.
"Mana Mak Lampir itu?"
Alex bertanya salah satu pembantu sedang mengelap jendela. Mereka sudah tahu arti julukan Alex. "Nyonya Marika ada di kebun."
Alex pun melesat ke sana. Marika dengan senandung bernyanyi, sudah terdengar derapan kaki menyusul ke sini. Marika seolah sudah tahu semua apa yang akan terjadi. Karena tidak mungkin putranya mau pulang dalam keadaan tergesa-gesa. Masih dalam situasi santai, Marika tidak akan pernah berburu sesuatu kalau bukan bersangkutan terlebih dahulu berbicara.
"Jelaskan padaku, apa Mama yang merencanakan semua ini?"
Alex tidak ingin berbasa-basi lagi, dia ingin langsung ke inti permasalahan. Karena semua tertuju padanya, bahkan dia juga tidak tahu, segala pertanyaan setiap diucap oleh David, dokter khusus pribadi di Sanjaya, kemudian Elisa, pengasuhnya, Alberto--sopir dan pengikutnya. Bahkan mertuanya Fira.
"Rencana apa? Mama tidak mengerti," ucapnya, masih taburkan pupuk ke pot tanaman yang belum terlihat.
"Tidak usah pura-pura, kalau Mama masih ingin aku berada status sebagai keluarga Sanjaya, jelaskan semua tujuan Mama melibatkan aku dengan wanita yang sudah Mama bayar."
Marika berhenti menaburkan pupuk ke pot lain. Dia memasukan kembali pupuk warna biru itu. Setelah itu, dia mengelap dengan handuk sudah basah.
"Jadi kau menuduh Mama sudah membayar seseorang agar kau bertanggungjawab atas kehamilannya?"
Alex menatap serius. "Bisa jadi, bukankah kau itu sosok berkuasa. Lagipula kau bisa lakukan apa yang tidak bisa aku lakukan. Aku bukan boneka, yang hanya sekadar diminta pertanggungjawaban," ucap Alex dengan yakin dia memang tidak pernah lakukan apa pun.
Marika kini serius dan juga memandang wajah putranya. Disisi manapun paras wajah Alex tidak jauh dari orang dia cintai. Jika bukan karena manusia dia sayangi, mungkin Marika juga tidak akan terlalu peduli.
"Apa di wajah seperti saya ini, terlihat kejam, sampai harus menyewa seseorang mengakui dia hamil atas benih hubungan terlarang tersebut?"
Kali ini Marika benar-benar bertanya pada Alex. Sampai di mana pun, Alex memang tidak pernah bisa percaya omongan ibunya sendiri.
__ADS_1
Sejak diminta ke Swedia buat mengintropeksi diri, belajar lebih giat. Menghukum atas bukan kesalahan. Tiba-tiba disuruh pulang ke Indonesia, disuruh lanjutkan pengelolaan usaha anak cabang milik almarhum ayahnya. Padahal di usia muda itu, kebebasan.
Tingkat stres itu membuat Alex frustrasi, mengacuhkan bisnis usaha, lebih memilih dunianya. Tiga bulan setelahnya, dikabarkan Marika masuk sakit karena mendadak serangan jantung ringan, stroke.
"Kalau kau merasa saya lakukan itu, mungkin sudah dari awal saya sudah melakukannya, tetapi bukan membuang dirimu ke Swedia," ungkap Marika tidak ada kebohongan dari sikap bicaranya.
Marika tidak akan mungkin melakukan suatu hal seperti itu. Dia seorang wanita yang adil suatu kebenaran.
"Kalau bukan kau, lalu apa maksud dikatakan oleh Fira?"
"Dia mengatakan sesuatu kepadamu?"
"Iya, dia bilang, dia menerima sejumlah uang di rekening senilai 10 juta, dia sempat tidak percaya atas uang itu. Dia juga bilang, pengiriman uang itu atas nama dirimu, apa itu benar?" ucap Alex, dia menjelaskan kepada Marika.
Marika bukannya terkejut apa dia dengar. Suatu hari semua akan terungkap secara perlahan-lahan. "Benar, saya yang berikan 10 juta kepadanya," jawab Marika jujur.
"Terus, uang puluhan millaran itu juga kau yang berikan?" Alex tanya lagi.
Detik kemudian, Nisan muncul untuk melapor kepada Marika. Tapi, Marika dengan santai menjitak kepala Alex seperti anak kecil dapat hukuman karena salah beri pertanyaan.
Alex dengan muka geram, sudah siap mengumpat. Tapi Marika dengan mata menyeramkan. "Itu salahmu sendiri, kau yang berikan, dengan santai kau tidak tahu apa yang terjadi tiga bulan yang lalu!" pungkas Marika.
"Kenapa harus aku? Memang salahku apa di tiga bulan itu?" Alex masih tidak mengerti.
Marika mendengkus sebal. Lalu meminta Nisan mendekat. Nisan pun menuruti, Alex menoleh. Tidak sadar sejak kapan sopir cadangannya ada di sini.
Marika mengambil sebuah amplop di tangan Nisan, kemudian berikan kepada Alex.
"Apa ini?" Alex agak bingung.
Seakan dia harus menerima hukuman lagi. Dia benci kalau dapat hukuman aneh. Jika dia mengingat di mana tiba di negara asing. Banyak sekali kertas di depannya. Semua wajib diselesaikan dalam satu malam.
"Buka saja, agar kau tahu apa yang terjadi tiga bulan saat itu," pinta Marika.
Alex pun masih ragu, karena penasaran, ya sudah dia buka saja. Daripada harus berdebat tak usai sama wanita lampir satu ini.
__ADS_1
Ketika Alex buka amplop cokelat dan mengeluarkan beberapa lembar foto di sana, Alex tercegah. "Tiga bulan lalu, kau dengan temanmu sedang hip hip hura di salah satu bar. Dari antara tiga temanmu itu, ada satu orang tega memberikan satu minuman kepadamu. Tapi, kau masih menyepelekan itu semua. Kau terlihat mabuk, tapi kau tidak sadar, kalau di hotel itu ada seorang wanita. Wanita itu sedang menunggu seseorang. Tapi, kau ...."
Marika tidak melanjutkan kronologi tiga bulan lalu itu. Alex pun pelan-pelan mengingat insiden itu.
Kronologi tiga bulan, saat di mana Fira sedang panik. Kepanikan itu membuat dia bingung harus mencari di mana uang agar bisa membantu suaminya. Fira mendapat kabar, kalau Ervan mendapat masalah atas kelalaian dari pekerjaan. Dia harus mengganti uang sebesar miliaran karena telah memakai atau mengorupsi uang perusahaan atas kesenangannya. Fira tidak tahu kronologi masalah Ervan di sana. Yang pasti Fira harus mencari uang itu, dan bisa memberi uang tiket kepulangan Ervan.
Hanya satu jalan yang bisa Fira lakukan adalah pertolongan, bantuan. Fira masih ragu untuk menelepon temannya. Meskipun, desakan harus dilakukan. Kala Fira menelepon Bryan, meminta pertolongan. Awal Bryan agak ragu. Karena sudah kenal Fira. Maka Bryan meminta Fira untuk janjian ke hotel, pertemuan mereka di sana.
Fira pun menuruti keinginan Bryan dijanjikan. Sampai Fira di sana, Fira diminta untuk menunggu, Bryan dalam perjalanan. Fira sudah tidak tahu lagi mau ngapain, dengan bodoh dia menyetujui dan datang ke sini. Meskipun orang lain tidak tahu dia di sini.
Fira sekali lagi melihat jam ponselnya. "Bryan lama sekalian datangnya. Sebenarnya dia benar-benar datang apa gak sih?" gerutu Fira.
"Kalau dalam lima menit dia gak datang, aku pulang saja!" Fira membatin.
Padahal dia sudah senang bakal bisa dapat itu uang. Meskipun dia melakukan situasi yang salah. Bryan memang kaya, tetapi Fira tidak tahu apa yang akan direncanakan oleh Bryan.
Sudah hampir lima menit, Fira bersiap untuk beranjak dari tempat pertemuan. Dia akan mencoba menelepon Bryan untuk membatalkan pertemuan. Saat Fira akan buka pintu buat pergi. Seseorang masuk dan membuat dirinya terjatuh karena tindihan laki-laki itu.
Fira mencium aroma tidak sedap, Fira berusaha untuk menjauhkan diri dari laki-laki itu. Lalu dia bangun buat pergi. Tetapi sebuah tangan menarik Fira, dia terempas di dinding.
"Apa yang kau lakukan ...."
Fira terdiam setelah apa dilakukan oleh laki-laki itu. Dia mencium dan memperdaya Fira tanpa ampun. Fira sempat meronta. Akan tetapi kekuatan laki-laki itu lebih besar ketimbang miliknya. Sempat pula laki-laki itu menampar Fira, karena dia meludahi wajahnya. Entah karena terlalu kasar, hingga membuat Fira pingsan. Laki-laki itu dengan sisa kepala pusing. Dia pun memperdayakan seisi tenaga yaitu, menodai tubuhnya.
Bryan tiba, dia menuju ke kamar hotel dijanjikan. Saat dia sampai, dia melihat pintu kamar itu terbuka. Dia pun masuk. Bryan terkejut melihat matanya sendiri.
"A-Alex!"
Alex menoleh, dia setengah sadar apa dilakukan pada seorang wanita terbaring hanya dibaluti oleh selimut di sana. Pastinya Bryan mengenalinya. Alex mendekati Bryan kemudian membisikkan sesuatu kepadanya. Tentu Bryan tercegah. Padahal isi otaknya itu, akan meniduri Fira. Siapa juga tidak ingin tubuh temannya. Dari awal Bryan sudah suka sama Fira. Karena rencana untuk bisa mendapatkan tubuh wanita itu yang sudah menikah. Malahan gagal, maka hanya tutup mulut dan menuruti perintah Alex.
Esoknya, Fira sadar setelah dia pingsan. Dia melihat sekitar, dia tidak ingat apa yang terjadi, tetapi dia merasa bagaimana bisa tertidur. Di sana Bryan berdiri menunggu temannya sadar.
"Bagaimana apa nyenyak tidurmu?"
Fira segera beranjak dari ranjang itu. "Bagaimana aku bisa ...."
__ADS_1
Fira merasakan sesuatu bagian bawahnya. Dia sempat menoleh ke Bryan. Apakah dia dan Bryan melakukan sesuatu. Bryan berdiri dan mendekatinya. Lalu serahkan selembar giro cek, dengan nominal sesuai diinginkan oleh Fira.
"Aku berharap kau tidak menceritakan kepada siapa pun apa yang terjadi tadi malam. Anggap kejadian itu hanya kecelakaan. Uang ini seperti yang sudah kita sepakati. Aku yakin kau bisa merahasiakan ini, jika tidak, kau akan menyesal dikemudian harinya," ucap Bryan. Fira menerima tanpa pamrih. Sekali lagi menatap Bryan sudah menghilang di balik pintu kamar ini.