Calon Pewaris.

Calon Pewaris.
Bagian 44.


__ADS_3

Usai belanja beberapa kebutuhan di rumah. Fira keluar tanpa membawa apa pun. Nisan mendorong troli belanja, sedangkan Alex malah santai berdiri sambil menunggu dua orang dari tempat belanja.


"Nisan, aku ke sana sebentar ya," ucap Fira memberitahu kepada sang sopir Alex.


"Baik, Bu!"


Setelah izin pada sopir Alex, Fira melangkah ke suatu tempat entah di mana. Sedangkan Nisan mendorong dan mendekatkan troli belanja ke arah Alex. Lalu pria itu tersentak melihat roda troli tiba-tiba menyerang membuat dirinya tidak bisa mengelak.


"Mau cari mati!" umpat Alex pada Nisan.


"Gak akan mati, Pak! Titip ini dulu, saya mau bawa mobil!" seru Nisan menyerahkan troli belanja kepada Alex.


"Wanita hamil itu ke mana?"


"Lagi belanja ke tempat lain."


"Hah? Belanja apa lagi sih?"


Dengan sikap Alex sedikit posesif, Nisan dengan cepat menatap sang majikannya. "Biasalah, Pak. Namanya juga perempuan pasti ada saja dong yang mau dibeli. Terus Bapak sendiri kenapa tak membantunya?"


"Aku? Itu bukan tu--"


"Bukannya itu sudah kewajiban Bapak buat mempertanggung jawab atas apa yang diperintahkan oleh ibu negara?"


Alex lupa, dia sudah berjanji akan menjaga dan mempertanggungjawabkan atas perbuatannya. Akan tetapi dia masih ragu, apa benar di kandungan wanita itu adalah hasil benih cintanya.


"Ingat loh Pak. Tidak boleh membantah, ada karmanya loh, kalau sampai Bapak langgar, Bapak akan ...."


Sudah dua jam berada di swalayan, sekarang Nisan tinggal memasukkan kantong belanjaan ke mobil. Sedangkan Alex malah berdiri sambil bersandar di tepi mobil sembari mengeluarkan permen karet. Aroma tidak sedap bagian hidung membuatnya sedikit kurang enak. Setelah semua kantong belanja dimasukan ke mobil. Nisan menghampiri sang majikan, sedangkan wanita hamil itu entah pergi ke mana saat usai membayar belanjaan yang hampir mencapai jutaan. Padahal Alex sudah menghitung kan barang di ambil oleh Fira tadi, tidak mencapai atas satu jutaan. Kenapa pula setelah dihitung di kasir malah dugaan dari pikirannya.

__ADS_1


"Pak, minta satu dong permen karet," ucap Nisan dengan iming muka memeras sedikit. Mana tahu si majikan satu ini sudah mulai berubah sikap mental yang tidak tantrum banget.


Alex dengan cepat memasukkan permen karet itu ke kantong. "Beli sendiri," ujarnya dengan muka tanpa bersalah apa pun.


Nisan yang sudah berharap akan diberikan malah merasa terabaikan. Dia mengeluarkan sebungkus permen dari mana asalnya. Membuat Alex melirik sumber itu.


"Saya dapat dari kantong belanjaan Ibu Fira tadi, habis bayar belanjaan. Bukan nyolong, tidak kayak Bapak, pelit. Saya kira Tuan sudah berubah, masih tetap sama, haih ... mudah-mudahan calon anak di perut ibu Fira nanti, tidak pelit kayak Papanya," ucap Nisan sambil mengomel tidak jelas itu.


"Lama amat sih wanita hamil itu belanja!" celetuk Alex sengaja mengalihkan topik lain. Karena malas menyebutkan soal calon anak diperut.


"Sabar sedikit dong, Pak! Namanya juga tugas calon IRT. Nanti juga Bapak sama kayak ibu Fira," ucap Nisan masih dengan sikap mengejek.


Alex sudah menahan rasa sabar untuk menjahit mulut sopir satu ini. Karena dia punya harga diri untuk menghargai seseorang, tentu dengan suka relawan menghormati.


"Ngomong-ngomong, Pak. Bapak tidak niat bawa ibu Fira jalan-jalan ke rumah calon mertua? Sambil mengenali lokasi yang tentram. Mana tahu, kan, setelah diajak buat mengenal lebih da --"


Dengan cepat sopirnya menghindar, bahaya jika sampai sang majikan mengamuk. Tidak ada yang peduli lagi posisi dan keadaan.


"Eh ... Pak, saya bilang gini juga kebaikan Anda, loh."


Belum berakhir sindiran dan celaan dari sopirnya. Melihat sikap pria di sebelahnya sok acuh tak acuh itu, padahal mendengar dengan baik. Ada rasa pengen tahu, dan peduli banget.


"Kapan lagi Pak. Daripada keburu diperintah sama ibu negara. Mana yang lebih baik? Langsung atau menunggu perintah?"


Alex belum beri tanda tanggapan apa pun atas usulan dari sopir yang super cerewet. "Mak Lampir tidak terlalu sibuk, dia mau mampir apa, tidak. Kenapa kamu malah sibuk sendiri? Bilang saja kamu pengen segera lapor ke satu kampung kalau saya bawa calon pewaris tunggal di keluarga Sanjaya!"


Suara keras mengundang satu warga di sekitar menoleh. Kalau tidak segera dibungkam oleh sopirnya. Majikan satu ini memang tidak bisa diajak komunikasi yang baik.


"Singkirkan tangan super bau itu!" Dengan cepat dia mengambil sapu tangan mengelap bibirnya yang sempat ditutup oleh tangan Nisan.

__ADS_1


Nisan yang melihat sikap lebay majikannya ikut mengelap seadanya. Alex dengan lirikan mata ilfil pun melotot. "Oh Esmerlanda! Dapat dari mana sopir super jorok ini. Di sana ada kran air. Kenapa tidak kamu cuci, kenapa pula lap di celana yang entah itu ada kuman atau bakteri?"


Mendengar suara semakin menjadi, mau tak mau sopir itu mendekati kran air yang khusus untuk penjual makanan di rumah tersebut. Napas majikan sudah mulai menggebu-gebu. Nisan tidak bisa berbuat apa-apa, hanya permisi buat cuci tangan dengan cara menutupi betapa malu terhadap warga sekitar.


Terik matahari semakin panas, Alex dan Nisan masih setia menunggu di pajak. Sebab Fira belum kembali, entah ke mana saja wanita hamil itu. Daripada bosan menunggu, Alex malah santai duduk di mobil sambil menyalakan mesin, kemudian membuka AC. Sedangkan si sopir malah duduk di warung kopi menikmati segelas jus favorit untuk menyegarkan tenggorokan yang hampir meledak karena kering.


Tanpa sadar ternyata Fira sedang berada di salon favorit. Apa lagi duduk sambil memejamkan mata karena rambutnya sedang di krimbat. Makanya mereka yang menunggu di luar, begitu lama. Fira melupakan dua orang itu. Entah bagaimana jadinya jika usai wanita hamil itu keluar dari salon. Pastinya Alex mengeluarkan seluruh tanduk yang tidak biasanya.


Beberapa saat deringan ponsel Fira berbunyi, tanpa melihat siapa menelepon. Dengan santai menerima panggilan itu.


"Halo?"


"Sudah selesai belanjanya?"


Fira membuka mata dan menjauhkan ponsel, kemudian melihat nama kontak panggilan. Dengan sikap tegak, dia kembali menjawab.


"Aku lupa, sudah selesai. Tapi ...,"


"..., Mbak, mari cuci dulu."


Di seberang Alex menelepon Fira, karena sudah memakan batas waktu dijanjikan. Dari jam 9 pagi, sampai sekarang belum kelar juga belanja di tempat ini. Dari tukang sayur sudah pada mulai berkemas-kemas, serta becak-becak yang nangkring deret berbaris rapi, mulai menghilangkan jejak satu per satu. Melihat jam tangan sudah pukul 3 sore. Seperti hari-hari dilalui oleh pria watak yang keras kayak besi beton.


Ketika ditelepon, Alex mendengar suara lain. Tanpa berpikir panjang dirinya menebak posisi wanita itu berada di mana sekarang.


"Kamu ..."


"Nanti aku kembali telepon kamu," ucapnya mengakhiri panggilan telepon, tanpa beri kesempatan untuk Alex bertanya.


Dia keluar dari mobil, lalu beranjak mencari sosok wanita hamil itu. Nisan yang serius menonton permainan catur di warung tersebut. Mendengar suara pintu mobil di hantam kuat. Segera menyusul mengejar si majikan itu.

__ADS_1


__ADS_2