Calon Pewaris.

Calon Pewaris.
Bagian 45


__ADS_3

"Sudah dong Pak, jangan merenggut seperti itu. Namanya juga butuh rileks pikiran. Tugas kita memang memberi kesenangan pada calon an --"


"Calon anak apaan? Kesenangan sih iya. Harus ada waktu juga. Kamu pikir pekerjaan saya itu hanya menemani seperti orang gila kayak tadi. Yang ternyata dia memanfaatkan situasi buat memanjakan diri di salon!"


Nisan cuma mengangguk dan menyimak setiap kalimat demi kalimat dipanjatkan oleh majikan. Dia bisa buat apa untuk membela, hanya diperlukan adalah pasal-pasal ayat 1.


"Sambil belajar menjadi seorang Papa. Sekarang sih belum, sambilan mengenal bagaimana menjadi orang tua yang benar-benar bisa diandalkan. Jadi wanita melahirkan seorang anak itu tidak mudah, apa lagi bawaan segala ***** bengek banyak loh."


Alex langsung mengalih pandangan penuh tanda tanya, mendengar ceramah nasehat dari mana seperti asisten sopir Alberto mempunyai motivasi yang bagus banget.


"Sepertinya kamu cocok jadi penasehat di pengadilan hukum. Dari semua yang saya dengar, banyak sekali kegunaan dalam ber-kalimat."


Nisan jadi malu setelah di puji seperti itu. Dia sampai salah tingkah hingga membuat majikan sendiri geli. "Ah, Bapak bisa saja. Ini juga karena keracunan dari Om Alberto."


"Kayaknya pengetahuan tentang kekeluargaan, kamu lebih jago. Apa nanti setelah dia melahirkan, saya mengangkat dirimu menjadi seorang pengurus segala kebutuhan anak pewaris itu?"


Alex mengusulkan dan akan mengangkat Nisan menjadi pengasuh tetap di kediaman Sanjaya. Perihal dengan Alberto dan Lisa. Dengan raut muka betapa syok, Nisan dengan cepat membuka suara namun panggilan telepon menghalanginya.


"Ya, ada apa?"


"Sepertinya kantong belanjaanku tertinggal di mobilmu. Apa kamu bisa membawanya ke sini?"


Dalam sekejap dia menoleh ke belakang duduk, ada satu kantong belanjaan tertinggal. Entah siapa yang meletakkan di sana. Sambil melirik si sopir, Nisan membisu dan menunggu panggilan dari seseorang berakhir.


"Nanti saya minta Nisan mengantarnya."


"Tidak bisa, tadi ibu Marinka berpesan, kalau Nisan harus kembali ke kantor. Bahwa beliau memerlukan dirinya membawa sesuatu di sana. Apa kamu benar-benar tidak bisa membawanya? Kalau kamu memang tidak bisa ... aku akan pergi ...."


"Bisa! Akan saya antarkan kantong belanjaanmu. Tidak perlu beli lagi."


Asisten sopir hanya memasang telinga lebar-lebar. Sepertinya nyawanya tertolong, sesekali melirik, dan mencuri perhatian. Muka Alex merah kayak tomat.

__ADS_1


"Dari siapa Pak?"


Ke kepoan Nisan ingin tahu, ya sudah jelas dari Fira. Mana mungkin dari Chika. Sebab, ibu negara sudah menyusun strategi kedepannya.


"Tak usah pura-pura, tak tahu siapa menelepon! Kamu, kan, sengaja menaruh kantong belanjaan di sini." Penuduhan tanpa bukti.


"Mana ada, memang ada bukti saya memindahkan kantong belanjaan itu? Kayaknya Bapak sendiri yang menaruh. Bapak saja lupa, saat mau menurunkan kantong belanjaan."


"Apa iya?" batinnya.


"Baiklah Pak, izin turun. Kayaknya saya dipanggil sama ibu negara." Nisan keluar dari mobil, Alex menggunakan kembali mobil untuk putar balik.


Sedangkan di kediaman Fira, wanita itu tengah memasukkan beberapa kantong belanjaan ke kulkas. Lalu perlengkapan bayi sementara taruh di kontainer khusus dulu untuk jaga-jaga.


Dilihat jam dinding, sudah pukul 5 Sore. Ervan belum kunjung beri kabar kapan pulang. Notifikasi chat sama telepon juga belum ada tanda apa pun.


Beberapa saat kemudian, terdengar suara klakson berbunyi di depan rumahnya. Pakai jurus apa pria itu menggunakan mobil begitu super cepat banget. Alex mengeluarkan bungkus kantong belanja yang tertinggal lalu memasuki ke rumah petak tersebut.


"Sebentar ya!" teriak Fira.


Mendengar suara itu, Alex masuk saja, kemudian meletakkan kantong belanja di meja dekat sofa. Lalu mengikuti arah sumber suara yang sepertinya mengalami kerepotan.


Di sana Fira sedang mengangkat kontainer ukuran sedang untuk diletakkan di atas lemari pakaian, sambil menggunakan bangku plastik tersebut. Alex yang melihat sontak mengejutkan sesuatu berbahaya sekali. Karena bentuk badan wanita itu tidak mengimbangi dengan benda yang memberatkan.


"Kamu ini mau cari mati!"


Alex dengan cepat membantu dan menolong, untung saja kursi plastik itu tidak patah. Jika terjadi, bagaimana menjelaskan kepada ibu sihir. Fira jauh lebih terkejut karena dirinya melupakan bahwa dirinya bukan wanita langsing seperti sekarang.


"Kalau ada apa-apa sama kandungan, bagaimana saya menjelaskan kepada calon mertua!"


Masih dengan suara lantang, karena begitu syok. Hal itu pasti akan berakibat mimpi buruknya. "Calon mertua? Maksudmu?"

__ADS_1


"Eh ... maksudku ... sudahlah, kebiasaanmu itu memang bikin jantungan terus. Sampai kapan kamu tidak buat debaran jantung berdetak cepat kayak di suruh lari maraton, kalau tadi saya tidak cepat menangkap dirimu. Mungkin ...."


Alex kayak orang aneh, ngelantur tidak jelas. Membuat Fira sedikit geli melihatnya. "Apa yang lucu? Saya serius!"


"Kamu tidak perlu pedulikan soal diriku. Terima kasih atas pertolonganmu. Bagaimana lagi, banyak yang harus aku susun di sini. Apalagi Ervan belum ada kabar kapan pulang. Sudah hampir dua hari, kamu tahu rasa takut itu kadang membawaku tidak bisa tidur nyenyak. Aku paling takut kalau Ervan akan berubah pada pendirian setelah mendapat pekerjaan barunya."


Alex mengikuti wanita hamil itu hingga ke dapur. Di sana Fira mengambil kantong belanja di mana pria itu membawanya. Dimasukan ke lemari dekat penyimpanan yang layak.


"Memang dia tidak beritahu berapa hari dinas?" Alex bertanya sambil minum jus buatan Fira.


Fira menggeleng lesu, terakhir melihat suaminya pulang. Kemudian dengan muka ada hal yang disembunyikan. Membuat benaknya semakin kalut.


"Kamu tidak mencoba menelepon?"


Fira bisanya mendesah. "Pengin sih, cuma ... aku takut mengganggu pekerjaannya. Apalagi tugasnya sebagai sopir pribadi yang sangat dipercayai oleh majikan."


"Ya ... tidak salahnya, ditelepon dulu. Biasanya jadwal tugas sebagai sopir itu ada batas istirahat. Tidak mungkin 24 jam menyetir terus, kan? Yang menarik motor besar seperti truk, juga punya istirahat buat perjalanan."


"Atau saya yang coba telepon?"


"Tidak perlu. Nanti malam saja, aku coba telepon." Senyum Fira merasa tidak enak hati pada pria di depannya.


Alex memasukkan kembali ponsel ke kantong. "Ya sudah, kalau kamu merasa kurang nyaman di malam hari. Kamu bisa telepon saya kapan pun atau saya minta Nisan buat temani ...."


"Tidak perlu. Kamu pikir aku ini penakut, hanya ditinggal sendirian."


"Bukan begitu, saya tidak mau ada sesuatu yang membahayakan seperti tadi. Apalagi kamu ..., kalau tidak, menginap di rumahku bagaimana? Saya yakin kamu akan jauh lebih nyaman di sana. Soalnya di sana juga ada ...."


"Tidak perlu, aku tidak mau merepotkan terlalu banyak terhadap ibu Marinka, kayaknya tugas kamu sebagai pelindung sudah selesai. Waktunya kembali, jangan sampai Alberto mencari."


Fira menarik Alex meninggalkan rumahnya. Akan tetapi Alex bersikeras membujuk Fira untuk menginap di rumahnya. Karena dia juga takut, takut terjadi tidak diinginkan. Firasat nya sangat kuat, rasa khawatir itu bersikukuh bisa membawa wanita hamil menurutinya.

__ADS_1


__ADS_2