
Malam ini Alex akan tidur di rumah, entah gerangan apa membuat dia pengen ke sana. Nisan keluar setelah apa yang terjadi 15 menit lalu. Sungguh tragis, Alex tidak tahu kalau Nisan berlari hanya mengejar mobilnya. Alex bukan sengaja meninggalkan sopir asisten Alberto. Karena dia terlalu terbawa arus suasana panik tadi.
Nisan juga tidak bisa protes, percuma saja, buat protes tetap dianggap salah. Karena pasal-pasal tersebut.
Marika keluar ketika melihat putranya tumbenan mau pulang. Biasanya sangat susah diajak pulang apalagi buat bujuk.
"Ada gerangan apa kau pulang? Apa karena masalah telepon tadi?" Marika bertanya pada Alex.
Alex bukan langsung menjawab, dia meletakkan botol kietna di atas meja, lalu dia buka kulkas, meneguhkan air mineral di sana.
Marika meraih botol isinya bentuk tidak asing itu. "Sejak kapan kau mulai menyukai sirup ini?" Marika sekali lagi bertanya, karena pertanyaan dia berikan tidak dijawab oleh putranya.
Alex melirik kemudian kembali menutup kulkas dan botol minuman dia minum. "Aku tidak beli, dikasih sama seseorang yang pernah aku tolongin waktu dia pingsan," jawabnya.
"Oh, itu hasil buatan sendiri, jadi Mama bisa lihat sekali lagi, tanpa ada logo sama sekali. Dia juga ada tanam pohon di belakang rumahnya. Terus, dia juga menjual buahnya, katanya di belakang rumahnya ada beberapa pokok pohon aneka buah. Kebetulan Mama suka dengan pokok buah. Mama bisa ke rumah buat lihat-lihat. Kalau semisalnya Mama tidak tahu tempatnya, biar nanti aku yang bawa Mama ke sana, biar Mama yakin dan percaya," imbuh Alex sangat panjang sekali penjelasannya.
Padahal Fira tidak mengatakan kalau dia akan menjual buah katsuri itu. Alex hanya menambahkan saja. Agar Marika tidak banyak bertanya.
"Terus, katanya itu sebagai imbalan terima kasih dariku. Aku sudah coba minum. Kebetulan Mama lagi doyan dan pengen minum berasam manis, mirip muka yang sekarang. Jadi cocok untuk Mama," kicau Alex lagi, lalu langsung kabur sebelum Marika membuka suara mautnya.
Marika baru saja akan memanggil namanya, tetapi dia mengurungkan. Lalu mengambil botol katsuri itu. Dia semakin penasaran pada putranya. Mulai sejak kapan Alex peduli pada seseorang.
"Nisan!"
"Iya, Bu."
Nisan belum pergi, setelah di panggil oleh Marika. "Apa kau tahu rumah wanita yang dimaksud dengan Alex tadi?"
__ADS_1
"Tahu, Bu," jawab Nisan cepat.
"Bisakah besok kau bisa mengantarkan aku ke sana?"
"Bisa Bu."
Alex baru selesai mandi, dia mengambil remote dinyalakan TV. Kemudian dia bersandar sambil menonton dengan tenang. Ada seulas senyum membuat dia tidak bisa lepas. Entah apa yang membuat kesemsem seperti ini. Lalu, Marika masuk, meskipun dia masih menggunakan kursi roda. Ada alat canggih untuk dirinya bisa menaiki ke lantai dua di mana Alex tidur.
"Apa kau sedang jatuh cinta?"
Marika malah bertanya, sehingga Alex dengan cepat duduk menegak. "Tidak!" jawabnya cepat.
"Lantas, kenapa kau terlihat senyum-senyum seperti orang lagi kasmaran? Apa kau jatuh cinta sama wanita yang pernah kau tolongin?" Marika menyimpulkan. Meskipun dia tidak tahu siapa wanita yang Alex jumpai.
"Tidak! Jatuh sama dia? Aku bukan lelaki Pebinor suka rebut istri orang, dia sudah bersuami," balas Alex menggantikan channel saluran TV.
Rasa kecewanya hanya sekilas. Karena dia punya sesuatu lebih itu. "Apa kau tidak tertarik untuk menikah?"
Alex tidak menjawab, dia malah serius menonton pertandingan bola. "Kenapa kau tidak tertarik dengan putrinya Hatari? Bukankah, kau dan dia dulu begitu dekat?"
Kali ini Marika ingin tahu sedetail-nya. Meskipun beberapa tahun hubungan dia dengan putranya tidak pernah berjalan baik-baik saja. Semenjak Marika memindahkan Alex ke Swedia, untuk mengubah dan meng-introspeksi diri dan belajar lebih baik. Bukannya berjalan lancar. Malahan membawa kekacauan setelah pulang ke Indonesia.
Bagaimana membuat Marika begitu frustrasi, bahkan tiba-tiba jatuh sakit karena Alex. Sekarang ini saja, Marika mendapat kabar, kalau putranya sempat memberikan cek milliaran kepada seseorang. Bahkan tidur dalam satu malam, bukan itu saja, dapat kabar juga wanita itu sedang hamil.
Tentu, Marika ingin memastikan apakah kandungan pada wanita itu adalah benih dari putranya. Marika tentu sangat berharap jika wanita yang mengandung benar-benar darah daging dari Alex, serta calon cucunya.
"Kurang suka saja, terus kenapa Mama dulu tidak jadi menikah dengan ayahnya Chika?" Sekarang Alex malah bertanya pada Marika.
__ADS_1
"Setiap aku ke sana, dia selalu bahas tentang dirimu. Apa kau dan dia pernah menjalin sebuah asmara?" Alex berbicara, belum diberi kepada Marika membuka sebuah jawaban.
Marika tertawa, malah membuat Alex makin horor akan suara dari ibunya. "Jadi karena dia terus bertanya soal itu, kau menolak anaknya?"
"Jawab dulu pertanyaan ku, baru membahas soal itu. Aku bertanya kenapa kau mengalihkan topik bukan aku pertanyakan?" Alex lama-lama kesal pada ibunya.
Hal ini kenapa dia tidak bisa berbicara baik-baik pada ibunya sendiri. Karena setiap pertanyaan, tidak pernah akan dijawab oleh wanita tua yang sudah hampir punah.
"Kau sendiri, belum menjawab pertanyaan dari saya. Saya bertanya, kenapa kau tidak tertarik untuk menikah? Apa alasan kau tidak tertarik pada Chika? Bukankah kau dan dia dulu sangat dekat?"
"Itu ... ah! Memang setelah menikah apa akan berjalan baik-baik saja? Usia Chika masih muda, sangat disayangkan kalau dia cepat menikah di usia segitu, dia akan kehilangan masa depan dan bermain-main dengan kawan sebayanya," ucap Alex, meskipun dia sangat sulit menjawab pertanyaan yang membingungkan.
"Benarkah? Jadi kau ingin menikah dengan wanita dengan usia berapa? Apa kau tidak sadar berapa usia kau sekarang? Apa kau tidak ingin mengabulkan keinginan Mama? Memang kalau kau menikah, setelah itu Mama wafat, apa Mama bisa menggendong cucu yang dilahirkan oleh istrimu?" Kata-kata akhir yang begitu kejam. Bahkan Alex tidak bisa menjawab semua isi perkataan itu dari wanita tua di depannya.
"Bu-bukan begitu. Kenapa Mama jadi sebut wafat, memang dokter sudah memastikan kapan Mama akan meninggal? Intinya aku belum siap saja. Karena aku juga tidak bakal mau mengecewakan seorang wanita, kalau nanti aku melakukan sesuatu bukan keinginannya," kata Alex pelan dan sedikit malu untuk jujur.
Alex memang tidak bisa berkata sesuatu yang dramatis. Dia memang tergolong lelaki yang berengsek. Suka menghamburkan duit, bahkan tidak pernah berpikir panjang soal berapa duit yang dikumpulkan oleh Marika agar bisa terlihat terpandang oleh orang lain.
"Jika Mama minta kau tanggung jawab yang pernah kau lakukan, apa kau setuju?" Marika bertanya sekali lagi, tetapi pelan. Karena dia tidak ingin melukai hati Alex.
"Tanggung jawab?"
"Ya, tanggung jawab, wanita yang pernah kau tiduri, dan pernah kau berikan satu cek milliaran kepadanya," ucap Marika sangat jujur.
Alex diam dan mengeratkan kedua tangannya. Dia mencoba untuk tenang. Sampai sekarang dia memang tidak ingat, kapan dia lakukan pada wanita itu. Itu juga dia terlihat sangat mabuk dan tidak sadar sepenuhnya.
"Tidak apa-apa, jika kau belum menyetujuinya. Tapi, Mama hanya berharap, setelah wanita itu melahirkan, Mama tetap akan membawanya ke sini. Meskipun kau tidak setuju, demi keluarga Sanjaya," ungkap Marika, lalu meninggalkan dari kamar Alex.
__ADS_1