Calon Pewaris.

Calon Pewaris.
Bagian 29.


__ADS_3

Sudah mulai jelang malam, Fira masih saja setia duduk di sini. Bahkan Alex juga setia banget menemaninya. Gerangan apa Alex begitu baik, sampai tidak membiarkan si wanita sedang mengandung sudah mulai masuk empat bulan. Juga tidak kerap meninggalkannya.


"Kau ... maksud aku. Kamu tidak merasa dicariin sama orang rumah?" Alex bertanya, bahkan dia menyebutkan panggilan buat 'kau' melainkan 'kamu'.


Mungkin Alex sudah sedikit akrab dengan wanita ada di depannya. Walaupun Fira masih diam. "Apa mereka masih menjelekkan dirimu?" Alex lagi-lagi bertanya.


Alex memang tidak tahu tentang kepribadiannya. Karena dia juga penasaran. Semenjak antar dia pulang dari rumah sakit dua hari yang lalu. Yang Alex lihat sikap keluarga suaminya memang kurang menyukai Fira.


"Kalau kamu niat tidak ingin pulang, kamu bisa tinggal di apartemenku, kalau kamu tidak merasa keberatan," ucap Alex, dengan sifat yang baik dan menawarkan tanpa rasa pamrih.


Fira dengan cepat mendongak dan menatap miming pada lelaki yang sering berdebat dengannya. Tentu Alex membalas tatapan itu. Lama-lama Alex menyukai warna bola mata milik Fira.


"Bagus," gumamnya.


"Maksud aku, dua warna bola matamu, bagus. Aku suka," katanya kembali lebih jelas.


Fira berpaling ke tempat lain. Jalanan semakin ramai, bahkan sudah gelap. Dia sekali lagi melihat jam hapenya. Alex mencuri arah layar hape milik Fira. Sebuah wallpaper tanpa ada foto sama sekali, hanya terpasang wallpaper bunga.


"Kamu suka dengan bunga?"


Alex lagi-lagi bertanya, seakan pertanyaan itu hampir setara dengan dia sukai. "Kenapa? Kamu juga suka dengan bunga?"


Fira sebaliknya bertanya kepada Alex.


"Mak lampir sering menanam bunga di rumah. Bahkan macam-macam bunga di sana," jawabnya.


"Benarkah? Bagus dong?" Fira senyum lembut kemudian murung lagi.


Alex menuntut dan beralih muka wanita itu. "Ada apa? Apa ada sesuatu yang tidak buat dirimu kurang nyaman? Apa mau pindah tempat?"


Fira menggeleng. "Lalu? Kenapa mukamu terlihat murung seperti itu?"


Alex semakin bawel, entah kenapa dia semakin kepo dan penasaran pada wanita di depannya. "Malam ini Ervan akan jarang pulang ke rumah. Aku ingin kembali ke rumah orang tuaku. Tapi ...."


"Tapi?"


Fira mendongak dan menatap Alex penuh teka-teki. "Tapi apa?"

__ADS_1


"Lah, lah, kok nangis? Aduh!"


Alex panik, tiba-tiba Fira mengeluarkan air mata. Alex tidak tahu bagaimana cara untuk menenangkan hati seorang wanita yang sedang hamil begini. Tanpa pikir panjang dia pun beranjak dari sana. Kemudian menyeberangi sebuah tempat.


Beberapa menit kemudian, Alex kembali membawa plastik di tangannya. Setelah itu, dia keluarkan es krim walls kepada Fira.


"Nih!"


Fira dengan pelan menerima dan membuka lalu menggigit tanpa merasa ngilu. Alex tentu ikut makan es krim. Karena dia beli tidak satu, tapi banyak. Buat cadangan di rumah.


...***...


Pukul delapan malam, Fira ikut Alex ke rumah sakit. Alberto masih dirawat. Jadi sementara Alex menjaga sambil dokter memerintah sudah diperbolehkan pulang.


Berhenti di salah satu tempat, nama yang jelas di sana. Dr. David Darmansyah, Sp. G., JT.


David baru saja akan beberes untuk istirahat setelah seharian dia kerja, melayani pasien. Lalu, pintu ruangan prakteknya terbuka. Muncullah seseorang.


"Untuk pemeriksaan, silakan kembali untuk hari esok, hari ini pemeriksaan sudah usai," ucap David.


David menoleh, ternyata yang muncul adalah Alex, lelaki keras kepala. Tapi, Alex tidak sendiri, ada satu orang lagi terhalangi oleh badannya Alex.


"Dengan siapa kau datang?" David bertanya.


Alex pun menyingkirkan posisi dan di sana Fira berdiri dengan sikap yang manis diliputi oleh pakaian molor karena sedang berbadan dua.


David sedikit kaget, tetapi dengan cepat dia bersikap biasa. "Calon istrimu?" tebak David, namun bercanda.


"Jaga mulutmu! Dia sudah bersuami. Kau pikir aku lelaki apaan, pebinor, perebut bini orang?" tuding Alex menarik kursi dan memberi untuk Fira juga.


"Mana tau, bisa saja," ujar David.


Fira pun mendarat dirinya ke kursi. Kemudian David mengamati wajah Fira cukup lama. Kemudian Alex memberi isyarat.


"Oh, ada apa kau kemari? Bukannya waktu jam besuk sudah usai? Aku dengar Alberto hampir terkena racun karena makanan? Bagaimana bisa?" David mengalihkan percakapan agar suasana lebih nyaman.


"Entahlah, lidahnya saja gatal, sudah tahu rasanya tak akan enak, masih saja penasaran," kata Alex sambil memainkan pulpen milik David.

__ADS_1


Fira bangun dari duduknya, terus Alex menoleh sekaligus memperhatikannya. David berada di duduk bisa melihat dengan matanya sendiri. Kalau ada sisi care dari Alex.


"Kamu mau ke mana?" Alex bertanya.


"Aku mau ke toilet sebentar," jawab Fira pelan, lalu dia beranjak keluar, membiarkan dua lelaki di dalam ruangan itu.


Alex pun tidak bertanya sampai sosok bayangan Fira sudah menghilang. David mulai meledek. "Sepertinya kau mulai perhatian padanya?"


"Maksudmu?"


"Apa kau tidak merasa sesuatu yang aneh pada dirimu?"


Kali ini David serius bertanya. Bagaimana tidak, dari segi yang dia kenal Alex. Belum pernah sekalipun dia perlakukan seseorang seperti wanita tadi. Alex berpikir keras atas pertanyaan David.


"Tidak, biasa saja. Memang apa yang aneh?" Sebaliknya Alex bertanya kepada David.


David mulai menyelidiki pada Alex. "Yakin, kau tidak merasa terjadi hal aneh setiap bertemu dengan wanita tadi?"


Alex sekali lagi berpikir keras. "Yang paling aku aneh itu saat aku menikmati suatu makanan," kata Alex masih mengingat lagi.


"Makanan apa?"


"Makanan yang gak pernah aku sukai, kayak tadi sore, aku temani dia makan di suatu warung. Dia hanya nikmati es teler, sedangkan aku malah kayak orang kelaparan. Makan baso tiga mangkok, terus es koteng dua mangkok." Alex menjelaskan.


Dia juga merasa heran. David senyum panjang, membuat Alex semakin horor. "Apa yang kau senyuman sih? Lama-lama aku seram lihat sikapmu," sanggah Alex.


David menghela panjang, dia beranjak dari duduk, lalu mengambil segelas air minuman ada di mesin itu. Lalu tidak lupa berikan kepada Alex. "Kau tahu, hal yang membuat kau seperti itu. Bisa jadi makanan yang tidak kau sukai, tanpa sadar kau menikmati dengan santai.


Biasanya seseorang yang sedang ngidam bisa beralih ke orang lain," jelas David hanya menyimpulkan. Karena dia bukan di bidang kandungan.


"Jadi maksud kau, aku ini dalam kondisi sedang hamil?" Alex semakin bego setelah diminta penjelasan ke David.


"Bukan, memang kau itu versi lelaki gay? Maksud aku, bisa saja wanita yang kau bawa itu, beralih ke hormon kandungan disalurkan ke dirimu," ucap David kembali menyimpulkan.


Alex langsung melebar bagaikan bunglon yang siap mengeluarkan dua bola matanya. "Maksudmu, aku yang menghamili wanita tadi?"


Setelah percakapan Alex dan David, Fira kembali tanpa sengaja terdengar olehnya, ketika Alex menyebut dirinya. Alex menoleh, saat Fira mematung atas percakapan dua lelaki ini.

__ADS_1


__ADS_2