
Malam pun tiba, Ervan baru saja habis mandi. Di sana melihat Fira sedang mengupas buah. Ervan membuka kulkas tidak ada sayur apa pun. Kemudian dia juga lihat penutup sayuran, di meja sama, tidak ada lauk apa pun.
"Sayang, hari ini kamu tidak masak?" tanya Ervan.
Fira mendongak dan hanya menjawab seadanya. "Memang hari ini kamu gak masuk kerja malam lagi?" jawabnya dan kembali bertanya.
Ervan terheran aneh sama sikap istrinya. Baru beberapa hari dia tidak pulang cepat, sikapnya langsung ketus seperti itu. "Malam ini aku izin, soalnya ...."
Belum juga selesai dia berbicara ponselnya sudah berdering. Mau tak mau dia mengangkat. Suara seberang terdengar jelas di telinga Fira. Ervan dengan cepat menjauhkan, dia tidak mau ada yang dengar oleh Fira. Bukan maksud dia selingkuh atau apa.
"Maaf, nona, hari ini saya tidak bisa ...."
"Kamu sudah menandatangani kontrak pekerjaan. Bukannya katamu tidak masalah kalau lembur berapa jam pun? Aku tidak mau tau, aku butuh sopir sekarang!"
Ervan berjalan dan mendekati istrinya. Fira hanya berikan nasi kotak makanan untuk Ervan. Dia sudah sediakan semua makanan dan pakaian untuk suaminya. Fira sudah tahu semua, tidak perlu Ervan jelaskan lagi.
"Sayang, aku ...."
"Aku ngerti kok. Demi anak kita, kerja lah, aku bisa jaga diri kok," senyum Fira. Ervan siap buat berangkat kerja. Mungkin dia akan lama pulang. Karena putri majikannya akan dinas ke luar kota beberapa hari. Padahal putri majikannya baru saja aktif kuliah, malah mendadak acara pernikahan dari kerabat di luar kota.
Ervan sebenarnya tidak rela, kalau harus merantau jauh lagi. Apalagi kondisi istrinya sedang hamil. Ervan memeluk istrinya, Fira bisa apa? Untuk menahan juga percuma. Memang mungkin sudah takdirnya dia kembali sendiri. Tergores pun tidak akan bisa kembali seperti dulu lagi.
"Aku akan usaha bisa pulang, jangan nakal, ya. Papa kerja untuk kamu," ucap Ervan sambil mengusap perut Fira yang sudah mulai terlihat.
Ketika Ervan beranjak dari rumah, masih sempat-sempatnya Ervan menoleh dan melambaikan tangan padanya. Beberapa detik kemudian bayangan Ervan tidak terlihat oleh mata Fira.
Dengan perasaan bagaimana, pelan-pelan tetesan air mata yang ditahan akhirnya jatuh juga. Pelan-pelan dia menutup pintu depan. Surut terduduk di lantai, hanya bisa menangis dalam suara sepi di rumah. Fira tidak akan tahu, kapan Ervan akan pulang. Meskipun dia tahu Ervan akan merantau. Hanya melalui media sosial yang tidak sengaja dia baca. Dia membuka akun pribadi suaminya.
Dapat jelas, percakapan antara putri majikan dan dirinya. Perasaan Fira tidak bisa merasakan betapa akan hancur, walaupun Ervan memang tidak akan berselingkuh. Apa bisa dia percaya. Jika percakapan itu bukan sekadar putri majikan atau sopir. Melainkan sesuatu hubungan yang harus dirahasiakan.
...***...
__ADS_1
Kediaman Hatari, Chika sedang duduk santai di rumah. Di sana dia lagi asyik nonton TV. Lalu seorang pria tua ikut duduk bergabung. Melihat wajah putrinya sedikit berseri-seri.
"Ada gerangan apa putri Papa yang begitu bahagia ini? Apakah Alex sudah mulai menyukaimu?" tanya Hatari pada Chika.
Chika menoleh dan menggeleng, "Alex tidak akan pernah mau suka sama aku."
"Kenapa? Bukannya kemarin kamu ke apartemen?"
"Iya, tapi sikap dia tetap sama, tidak ada perubahan apa pun. Bahkan buatan kue yang aku bikin, dia tuduh aku akan meracuninya. Padahal aku buat dalam segenap cintaku," ucap Chika dengan muka sangat manja sekali.
Hatari pun menghela pendek. "Mungkin dia belum terbiasa. Berjuang dong."
"Terus, Papa dulu berjuang bisa dapatin hati tante Marika tidak?" Giliran Chika bertanya, soal masa lalu cinta ayahnya bersama ibunya Alex.
Hatari sempat nya batuk-batuk. "Suruh aku perjuangin cinta untuk Alex. Papa sendiri tidak bisa perjuangin. Ujungnya malah nikah sama mama. Apa nanti aku juga akan dapat karma seperti itu?" cicit Chika.
Setelah bertahun-tahun dia tidak pernah mempertanyakan soal ini. Karena dia merasa Alex memang tidak suka dengannya. Dulu memang akrab, entah kenapa sikap Alex saat pulang dari Swedia, berubah banyak sekali. Bahkan dia sempat memanggil dirinya sebutan 'cupu'.
"Chika! Papa!" teriak Aluna.
Aluna baru saja pulang dari negeri tetangga. Semenjak dia merantau, pekerjaannya tidak pernah usai. Baru saja dia ambil cuti buat hiburan di tanah air sendiri. Tiba-tiba sudah dapat telepon dari kantor. Diminta untuk dinas ke luar kota. Ada masalah soal pemasaran di sana.
Aluna stres semakin hari hidupnya tidak pernah lepas urusan bisnis kerja. Sebagai marketing pemasaran, kenapa harus dirinya yang mengurus perusahaan. Jika bukan anak cabang milik ayahnya. Mungkin dia juga tidak akan mau menerima dan memegang perusahaan kecil itu.
"Pa, kayaknya Mbak Luna bakal akan pidato panjang deh," bisik Chika.
Hatari hanya mendengkus. "Seperti yang kamu lihat. Itulah keturunan sifat dari almarhum ibumu," kata Hatari.
"Pa! Sudah jam berapa ini? Kenapa sopir Papa pekerjakan belum juga datang?" timpal Aluna.
Chika menoleh dan memandang wajah kakaknya. Wajah Aluna memang cantik, tinggi, putih, rambut sebahu. Pasti banyak orang yang suka sama dia. Akan tetapi kenapa sampai sekarang kakaknya Chika belum memikirkan untuk menikah?
__ADS_1
"Maksud Mbak Luna, sopir yang sering bawa Chika?" Chika balik bertanya.
"Iya pastilah, memang sopir yang Papa pekerjakan itu ada berapa? Hanya ada nomor kontak di ponsel Papa!" jawab Aluna.
"Sebentar, Mbak Luna minta dia tugaskan jadi sopir pribadi, Mbak?" tebak Chika.
"Iya, memang kenapa?" Aluna sebaliknya bertanya. Dia kembali menelepon Ervan.
Ervan terjebak macet, dia akan lama tiba di sana. Tak lama ponselnya berdering. Dengan cepat dia melihat dari putri majikannya.
..."Iya, non. Sabar ya, saya masih di jalan. Lagi mac ...."...
"Berapa lama? Kamu tahu, aku harus sampai di sana sebelum jam sebelas malam!"
"Ini juga saya usahakan, non."
Tak berapa lama, suara klakson dari belakang sudah nyaring. Ervan pun menyalakan kereta dan jalan. Sedangkan Chika tidak terima. "Gak bisa dong, Mbak! Itu, kan, sopir pribadi ku. Besok Chika mau kuliah siapa yang antar?"
"Masih banyak sopir lain? Ini mendesak soalnya." Aluna tetap tidak bisa menggugat, karena dia sudah meminta Ervan menjadi sopirnya.
"Pasti Mbak telepon dia pakai namaku! Benar, kan? Ngaku!" tebak Chika.
Chika tahu banget bagaimana sifat Aluna, jika mendesak, dia akan menggunakan nama orang lain sebagai tawanan. "Ya gimana lagi, kalau bukan pakai nama kamu, dia pasti tidak akan mau menyetujuinya. Jangan karena soal ini kamu tidak terima. Aku tahu loh apa yang kamu lakukan selama ini?" ucap Aluna pergi dari tempat santai itu.
Beberapa menit kemudian Ervan muncul dengan muka terengah-engah karena berlari. Keretanya tiba-tiba mendadak mogok, mau tak mau dia titip ke tempat tambal ban. Untung tambal ban itu sudah kenal baik. Jadi dia tidak akan ragu dan tidak takut, kalau keretanya hilang.
"Maaf, Nona Chika, saya terlambat, tadi kereta saya tiba-tiba mogok jadi ...."
Hatari yang menoleh menatap Ervan, sebaliknya Chika dengan merenggut kembali menonton TV. Sementara Aluna kembali menaiki anak tangga.
"Yang telepon kamu itu bukan Chika, Van. Tapi putri pertamaku, Aluna. Malam ini kamu membawa Aluna ke luar kota," ucap Hatari, sebagai perwakilan komunikasi.
__ADS_1