
Pagi-pagi sudah hujan, gerimis rapat tanpa petir. Fira tetap akan ke pajak buat beli beberapa kebutuhan untuk rumah. Dua hari kemarin, kebeteannya tidak membawa suasana dukung. Dia tidak suka dalam keadaan seperti ini. Meskipun banyak sekali cobaan yang membuat terhambat. Uang yang ada dikantong masih bisa digunakan sampai tahun depan.
"Mau ke mana, Fir?"
Seseorang bertanya saat dia hendak melintas keluar dari rumahnya. Dengan payung dia pegang. Tanah diselimuti oleh aspal sudah hampir banyak lobang-lobang karena kendaraan mobil besar suka lewat.
"Mau ke pajak sebentar!" jawabnya, sambil menghindari lobang dibarengi dengan air hujan.
"Hujan begini, ke pajak? Napa gak tunggu tukang sayur lewat saja?"
"Banyak yang mau di beli!"
Orang itu diam, kemudian bisa berujar, "Hati-hati loh, jalanan licin! Gak naik ojek atau becak?"
Fira seraya senyum dan menggeleng. "Naik angkot lebih hemat!"
"Hati-hati loh!"
"Ya!"
Usai bercakap-cakap sama tetangga, Fira lanjut dengan berjalan kaki ke simpang. Memang jengkel sih, tetapi apa boleh buat. Ervan tidak ada di sini, oleh sebab itu, dia memilih pergi sendiri. Saat seperempat perjalanan, Fira hendak buat mengindari genangan air yang ada pada lobang itu. Tapi mengindarnya itu malah membuat dia tidak seimbang.
Namun, seseorang menghadang dan menangkap dari belakang. Hampir saja dia masuk ke parit. Jika tidak, mungkin dia akan terbentur sesuatu di sana.
Dengan cepat dia mendongak dengan siapa mencegah dari bahaya. Payung dia pegang ikut terjatuh. Di seberang sana Nisan sudah hampir jantungan kalau Alex tidak segera menyelamatkan wanita itu.
"Jalan kenapa tidak pakai mata sih?" gerutu Alex, masih bisa marah ke Fira.
Fira dengan cepat berdiri tegap dan mengambil payung tersebut. "Aku pakai mata ya. Mana aku tau kalau lubangnya banyak," ucapnya sempat pula membersihkan sisa bercak becek di kaki dengan air hujan di sana.
"Tetap saja itu membahayakan dirimu. Kalau sampai terjadi kayak tadi, bagaimana?"
"Ya gak gimana-gimana, paling basah doang."
Dengan mudah Fira menjawab hal itu tidak akan pernah terjadi padanya, walau berbahaya.
"Kau ini!"
Alex ingin sekali mencubit bibir wanita itu. Tapi dia menahan. Dia sudah janji tidak akan emosi. Harus sabar, kalau bukan tanggung jawab, dia juga tidak akan mau melakukan sesabar begini.
"Kau sendiri, kenapa ada di sini?" Giliran Fira bertanya, usai dia membersihkan bercak hitam di kaki karena jalanan becek banget.
"Buat temui dirimu, lah." Alex menjawab sedikit malu.
"Temui aku? Ngapain?"
"Tidak tahu, nebeng Nisan. Kata Nisan kau mau ke pajak."
Fira langsung menuju di mana Nisan berada sekarang. Nisan di mobil. Mobil itu sudah terparkir cantik tanah kosong.
__ADS_1
"Sudah bengong saja, daripada naik angkot mending naik mobil lebih aman dari bahaya kayak tadi," ujar Alex.
Fira tidak mengindahkan ajakan Alex. "Aku lebih suka naik angkot, biar lebih cepat. Kalau mobil kau akan parkir ke mana? Di pajak susah buat cari parkiran, apalagi dengan badan mobilmu itu ...."
Alex tidak mau menunggu lanjutan, dia pun kembali dan merebut payung di tangannya. "Ya sudah."
Fira makin bloon. "Kau mau ngapain?"
"Katamu lebih suka naik angkot? Ya sudah, aku temani."
Fira menoleh ke mobil di sana Nisan menunggu dan keluar. Segera dia menelepon Alex. Alex dengan cepat bilang kalau dia naik angkot ke kota.
"Kau tinggalkan dia di sana?"
"Nanti dia nyusul setelah selesai kau berbelanja," ucapnya kemudian.
Mereka menyeberang di depan mereka sudah di tungguin sama angkot warna merah kekuningan. Fira naik baru Alex setelah menutupi payung. Badan Alex besar, dan tinggi juga, jadi saat dia akan masuk ke angkot itu memang susah. Di dalam ada beberapa penumpang juga. Jadi Alex duduk lebih dalam bersama Fira, saling menyempit.
Sampai di pajak Hongkong, mereka menelusuri tempat jualan ada di pinggir kaki lima / pinggir jalan. Hanya ada beberapa yang masih menjual sayur-mayur. Alex hanya membuntuti dari belakang. Karena dia sosok pengikut doang.
"Cabai kecil berapa?" Fira jongkok sambil tanya harga ke penjualnya.
"Sekilo tiga puluh ribu," jawab penjualnya.
"Gak kurang?"
"Memang segitu harganya."
"Kemahalan, mungkin di sana lebih murah, di sini banyak yang mahal," jawab Fira sambil memberitahu ke Alex.
Alex tidak bertanya lagi, dia malah ikut jejak wanita hamil satu ini. Satu tempat ke tempat lain, dia ikuti. Hingga perosotan pendalaman, bahkan jalanan sangat becek sekali. Kendaraan sembrono suka-suka, hingga dirinya buat mengindari dari jiplakan air hitam itu.
"Ikan berapa, Bang?" tanya Fira pada penjualnya.
Sekarang dia berada di tempat perikanan, wajarlah di sana basah, dan banyak air yang bau sumber udara lautan. Belum lagi diselimuti oleh genangan air hujan.
Tadi sempat turun rintih gerimis padat.
"Ikan mana nih, Bu?" Penjualnya tanya.
Fira menunjukkan ke ikan merah. "Ikan merah, sekilo lima puluh, kalau ikan bawal -- tiga lima," ucap penjualnya.
"Mahal kali? Gak tiga puluh?"
"Gak bisa, ambil saja sudah empat lima."
"Kalau ini?" Fira menunjukkan ke kerang laut.
"Dua puluh sekilo," kata penjualnya.
__ADS_1
"Sepuluh lah, aku beli dua kilo," ucap Fira menawar.
Penjual itu awal menolak, karena sudah mau siang maka dia pun mengiakan. "Berapa Bu?"
Sambil ambil plastik, "Dua kilo," jawab Fira.
"Pilih yang cantik ya! Kayak aku!" ujarnya masih sempat senyum.
Alex yang dengar dan lihat sikap wanita hamil itu jadi sedikit bagaimana gitu. Selain pandai tawar menawar, bisa juga bercanda dengan penjual pajak ini. Setelah beberapa menelusuri putar-putar tempat yang sama. Akhirnya apa yang dibelanjakan oleh Fira terpenuhi. Alex menenteng belanjaan itu.
"Mau pesan apa?" Fira bertanya pada Alex saat usai belanja di bawah pajak.
"Terserah saja," jawabnya.
"Gak ada menu terserah. Suka kwetiau?" timpal Fira.
Dengan anggukan muka polos, Fira pun memesan kwetiau pangsit dua porsi dan minuman teh manis dingin jumbo.
Sambilan menunggu, Fira membuka isi dompet, kemudian Nisan menghampiri mereka berdua. Fira mendongak. "Oh sudah datang, kau sudah makan?"
"Belu ... eh ... sudah ...." Dengan cepat Nisan menjawab.
"Sudah pesan saja, sekalian makan bareng. Kau jadi majikan jangan suka menindas orang yang lemah!" ucap Fira, dengan cepat mengancam Alex.
"Baik, Bu. Habis bawa belanjaan ke mobil," ujar Nisan.
"Kok aku yang di ...."
Nisan senang kalau ada yang membela, apalagi Alex jadi tersangka utama. "Kau kira aku gak tau, kau suka menindas orang yang lemah. Aduh!"
Tiba-tiba perutnya kesakitan, Alex yang mendengar pun jadi ikut panik. "Kau tidak apa-apa?"
"Aku gak apa-apa, aku mau ke kamar kecil dulu. Ingat ya, Nisan balik sini, perlakukan dia baik-baik." Fira beranjak dari duduk, masih sempatnya mengingatkan Alex untuk bersikap baik pada asisten sopirnya.
Fira bergegas ke kamar kecil, dia sakit perut mendadak. Padahal Alex panik karena dikira terjadi sesuatu pada kandungan. Tak lama Nisan kembali, Alex memasang muka judes padanya.
"Nih, duduk!" Alex berikan kursi kosong kepada Nisan.
Nisan dengan rasa senang pun menuruti, tak lama itu pesanan mereka datang. Fira belum keluar dari kamar kecil. Nisan dan Alex menunggu.
Sudah dua menit, Fira belum juga keluar dari kamar kecil. Alex beranjak dari duduk membuat Nisan ikut berdiri, baru saja akan pergi melihat keadaan wanita itu. Fira sudah menampakan mukanya dengan muka merah merona dan keringat. Dia kembali ke tempatnya, malah memasang muka heran pada dua lelaki di depannya.
"Ada apa dengan muka kalian?" Dengan santai pula Fira bertanya.
"Ibu baik-baik saja?" Nisan duluan bertanya pada Fira.
"Memang kenapa?" Fira malah balik bertanya.
Nisan sekali lagi melirik ke Alex. "Soalnya tadi Ibu ke ...."
__ADS_1
"Beberapa hari ini aku susah BAB, makanya lama di dalam," jawab Fira jujur tanpa ada rasa jijik.