Calon Pewaris.

Calon Pewaris.
Bagian 33.


__ADS_3

Ervan baru sampai di rumah, sejak dia lembur tidak pulang selama seharian penuh. Apalagi pekerjaan menjadi seorang sopir bukan hanya posisi buat antar orang doang. Tapi, membantu pekerjaan pindahan putri majikan ke apartemen. Karena putri majikannya ingin hidup mandiri, apalagi kuliah juga akan mulai aktif offline.


Saat dia masuk ke kamar, tidak menemukan istrinya di sana. Kemudian dia mencari ke dapur, hingga seluruh rumah, tidak menemukan muka Fira di rumah ibunya. Lalu dia bertanya pada adik bungsu -- Amira.


"Mir, kamu lihat mbak Fira?" tanyanya.


Amira malah menatap bengong dan menggeleng. "Dari semalam sudah gak nampak mbak Fira. Memang Abang gak telepon dia ke mana? Aku pikir dia ikut sama Abang, makanya gak pada cariin."


Ervan justru tidak mendapat kabar apa pun dari Fira. Seharian itu, dia bisa pegang hape. Itu juga pegang disaat putri majikan menelepon atau kirim pesan singkat. Setelah itu lanjut hingga lupa adanya seseorang sedang menunggu.


Tak lama Ervan baru akan kembali ke kamar buat buka hape yang seharian dia matikan. Terus, Renata, sang ibu mana lagi yang paling galak di rumah menoleh.


"Baru pulang?" Renata bertanya, sambil mampir ke kamar putra keduanya..


"Iya, Ma. Oh ya, Fira ada kasih tau, dia ke mana?"


"Fira? Gak? Dari semalam dia gak di rumah. Mama pikir dia nyusul buat bantu kamu kerja," jawab Renata.


"Begitu, ya. Ya sudah, aku coba telepon dia," ujar Ervan.


"Istri begitu masih kamu pertahankan? Palingan dia pergi cari lelaki yang pernah antar dia pulang ke sini," kata Renata, kembali menjelekkan Fira lagi.


Ervan menggubris, lebih penting dia telepon Fira. Akan tetapi, nomor Fira tidak bisa dihubungi, sekali lagi dia coba telepon, masih sama. Sehingga dia pun melesat keluar.


Sementara di rumah, Fira sedang memetik cabai rawit dan beberapa pohon yang sudah berbuah. Di belakang rumah yang terdapat berapa luas tanah diliputi oleh peninggalan orang tuanya saat itu. Fira belum rela menjual kepada siapa pun. Karena kenangan di rumah ini sangat banyak sekali. Meskipun begitu, Fira masih tetap bersyukur.


"Loh, Dek Fira, ndak ke rumah mertua lagi?" timpal seseorang yang baru saja keluar dari ladang orang.


Fira menoleh dan tersenyum, "Ndak lagi, Mang. Mamang habis dari mana?" jawabnya dan balik bertanya.


Mamang mengangkat se-goni / sekarung rambutan baru dia petik dari ladang milik Surya. "Wah, sudah panen, ya?"


"Dek Fira mau? Biar tak kasih sikit, mumpung makan juga ndak bisa banyak-banyak," ucap Mamang sambil menurunkan karung itu. Lalu Fira dengan cepat berjalan ke tempat Mamang berada. Diberikan kaloh kepadanya.

__ADS_1


"Nanti aku buat manisan, Mamang mau? Biar aku bawa ke rumah," kata Fira.


Fira memang suka bikin sesuatu yang menurutnya bisa dimanfaatkan. Meskipun skill yang dia peroleh tidak seperti skill kawan-kawan sebayanya. Setidaknya dia sudah bisa melakukan seperti membuat manisan dari pohon dia tanam, bikin sirup dari buah katsuri, dan banyak lagi.


"Boleh, boleh. Kenapa ndak mau dijual-beli, kan, Dek Fira?" usul Mamang.


Fira juga sependapat begitu, tetapi dia lebih suka mengonsumsi sendiri. "Maunya sih gitu, Mang. Tapi, lihat kondisi aku ini. Biasa keadaan orang yang sedang hamil agak rentan banget buat kerja berat-berat."


Mamang paham banget, walau tidak terlalu akrab dengan Fira. Tetap saja melihat kehidupan Fira sudah boleh dibilang lumayan, karena mendapat seorang suami yang baik dan pengertian.


"Benar sih. Ndak apa-apa, tar kalau semisalnya Dek Fira butuh sesuatu, panggil Mamang saja, nanti Mamang cari bala bantuan."


Fira sangat berterimakasih banget punya warga yang peduli. Beberapa saat kemudian, terdengar suara mobil di depan rumah. "Eh, kayaknya ada tamu datang, ya, Dek Fira?" timpal Mamang seakan telinga dia paling tajam banget.


"Kayaknya. Ya sudah, cukup ini. Nanti istri Mamang gak ke bagian. Makasih banget, ya, Mang!"


Fira bergegas masuk untuk memeriksa. Di sana sudah ada Marika dan Nisan di sana berdiri. Marika hanya memerhatikan seluruh rumah dia berdiri. Tidak buruk pikirnya.


Bukan itu saja, Fira juga melirik ke arah Nisan tengah berdiri sambil beri senyuman padanya. "Selamat pagi, Bu Fira. Maaf, pagi-pagi sudah mengganggu, saya ke sini ...."


"Kamu yang buat botol kietna yang kasih ke putra saya?" potong Marika berbicara, langsung ke intinya.


Fira yang tidak paham maksud ucapan dari wanita tua itu. Dengan cepat dia menjawab dan menanggapi. "Ah, iya, benar."


"Kata putra saya, kamu ada menanam pokok pohonnya?"


"Ada, apa Ibu datang ke sini untuk me-lihat2?"


"Apa boleh?"


"Boleh, kok. Sangat boleh banget, silakan."


Sebelum Fira persilakan Marika dan Nisan untuk melihat pohon kietna tersebut. Fira masuk ke gudang lalu mengambil dua pasang sandal untuk mereka.

__ADS_1


"Sebelum lihat pohonnya, aku sarankan pakai sandal dulu, karena di belakang sedikit becek dan ada beberapa tanah masih basah. Soalnya semalam hujan deras. Akan sangat sayang baju Ibu nanti kotor," ucap Fira berikan sandal kepada Marika dan Nisan.


Mereka pun memakainya. Lalu Fira membawa mereka ke belakang rumah. Walaupun pohon itu tidak banyak. Dengan secara hati-hati, Nisan membantu Marika untuk menelusuri tempat itu. Dengan mata yang sangat jeli. Marika dapat melihat betapa bagusnya perawatan pohon itu tanpa ada satu yang termakan oleh ulat hijau.


"Apa kamu sering menjaganya?" Marika bertanya.


"Ah? Gak sering. Karena kebetulan di sini ada warga bantu menjaga. Soalnya dua minggu belakangan ini aku gak di rumah. Semalam saja pulang pas sopir Ibu yang antar," jawab Fira dengan suara yang lembut dan sopan banget.


Marika sesekali memerhatikan wajah Fira. Fira merasa sedikit kurang suka ditatap seperti itu oleh wanita tua di depannya.


"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" Marika pun bertanya lagi.


Dia merasa, dia pernah bertemu dengan Fira. Hanya Fira sendiri tidak mengingat kapan itu terakhir. "Masa? Memang di mana, ya, Bu?" tanya Fira. Seolah memang dia tidak pernah bertemu dengan Marika.


"Kalau tidak salah, saya pernah kasih kue bolu pandan kepada suamimu," katanya.


Fira sekali lagi coba mengingat. Karena bawaan kandungan, dia agak lupa sesuatu yang sangat sulit di ingat. "Aku gak terlalu ingat, memang Ibu ini putra OKB yang keras kepala itu, ya?" Fira sekali lagi bertanya.


Marika langsung mengerut alisnya, "OKB?"


"Iya, putra Ibu, terlalu OKB. Bukan gimana sih, sifatnya terlalu angkuh. Tapi, dari sifat angkuh itu ada sisi baik, cuma menjengkelkan," cicit Fira menceritakan pengalaman dan kejadian bertemu dengan Alex.


"Benarkah?"


Fira mengangguk sangat polos. Marika begitu senang setelah apa dia temukan. Marika sudah tidak sabar ingin mengatakan sejujurnya kepada wanita hamil itu.


"Sudah berapa kehamilan kamu? Apa kamu sering periksa ke dokter?" Marika begitu antusias memerhatikan Fira.


"Dua hari lagi sudah masuk bulan ke empat, untuk periksa gak terlalu sering. Karena suamiku sedikit sibuk," jawab Fira sedikit sedih namun dia tetap sikap tegar.


Marika bisa melihat, kalau wanita di depannya, sedang dalam tidak baik-baik saja. "Kenapa tidak di periksa? Apa kamu tidak ingin mengetahui jenis kelamin apa?"


Fira senyum kecut, "Cowok apa cewek, yang dia sehat," ucapnya.

__ADS_1


__ADS_2