
Tiba-tiba Fira pengen makan sesuatu, tetapi dia malas keluar beli. Kenapa dia jadi gak ada niatan buat pergi suatu tempat. Bawaan malas itu baru datang, padahal dia paling semangat untuk bisa keluar sendiri. Semenjak Ervan kerja merantau, entah kapan pulang. Rasa rutinitas dibenak Fira jadi kurang semangat. Waktu akan ngidam itu, Ervan dengan antusias mengabulkan permintaan. Kini, siapa yang akan buat untuk beli? Dia sendirian di sini. Di rumah tanpa seorang pun yang bisa diajak ngobrol.
Orang tua Ervan juga gak pernah bertanya bagaimana kabarnya. Untuk sekadar telepon juga gak pernah sama sekali sejak dia keluar tanpa beritahu kepada siapa pun. Fira mengira setelah dia keluar tanpa mengatakan apa pun pada mereka. Mereka akan menelepon Ervan atau sekadar menelepon dirinya. Selama berjam-jam dia keluar, lalu gak sengaja bertemu lagi sama lelaki menyebalkan, sudah menyelamatkan dirinya. Malahan dia yang menemani sampai larut malam.
Jika saja Ervan dan keluarganya bisa kayak seperti Fira lihat dua hari kemarin itu. Pasti dia gak akan merasa kesepian. Bisa bercanda atau berbasa-basi sederhana. Selama menit-menit dia melamun hal gak penting, tiba-tiba ponselnya berbunyi membuat dia kaget akan hal itu. Nomor gak dia kenal, karena belum tersimpan. Fira berpikir yang menelepon adalah Ervan. Dengan cepat dia mengangkat.
"Halo."
Fira menyambut suara itu. Berharap itu adalah Ervan. Tapi yang Fira dengar bukan Ervan melainkan ....
"Fira, bagaimana kabarmu?"
"Bryan?"
Fira cepat mengenal suara lelaki itu. Bryan, teman Fira saat dia pernah membutuhkan sesuatu padanya.
"Kau masih mengenal suaraku. Bagaimana kabarmu?"
Fira meremas bajunya, dengan cepat dia mengatakan suatu hal. "Bryan, maaf, uang yang kau berikan ke aku. Aku belum bisa membayarnya. Apa kau bisa menunggu ...."
"Uang? Uang apa?"
__ADS_1
"Uang yang pernah aku minta pinjam darimu. Uang untuk melunasi hutang-hutang Ervan tiga bulan yang lalu. Uang itu sudah aku ... pakai untuk ...."
Fira malah berkerut, mendengar suara tawa Bryan. Seolah gak ada penting dengan uang dia bicarakan. Fira takut jika Bryan datang menelepon untuk menagih uang itu.
"Sori, sori. Uang itu sudah jadi hak-mu. Gak perlu kau kembalikan. Toh, orang yang berikan itu juga ikhlas, karena mereka akan beri semua apa yang kau inginkan. Bahkan, kau gak perlu memusingkan soal persalinan kehamilan, atau makanan. Semua sudah ada yang mengatur. Apa kau pernah melihat, dapat dari mana uang penambahan saldo di rekening-mu?"
Ah, Fira mengingat itu, dia pernah terkejut saldo yang tiba-tiba bertambah. Uang yang awal sisa dua juta, tiba-tiba bertambah menjadi dua belas juta. Penambahan uang senilai sepuluh juta itu, sempat Fira tanyakan kepada CS di bank. Nama yang pernah disebutkan itu dari seseorang.
"Maksudmu?"
"Mungkin kau sempat terheran-heran dari mana uang senilai sepuluh juta bisa masuk ke rekening mu? Benar, yang dijelaskan oleh CS bank saat kau datangi. Uang senilai cek giro itu atas nama Marika Aldiana Sanjaya."
Bryan kembali menjelaskan kepada Fira dan Fira langsung mengingat nama yang sudah tidak asing lagi. Bahkan dia sering mendengar nama itu. Dengan segenap perasaan gak bisa dia ungkap satu per satu. Seolah skenario itu tersusun sangat rapi tanpa dia sadari.
"Benar, mungkin kau sudah pernah bertemu dengannya untuk beberapa kali, sekaligus juga dengan anaknya."
Fira gak bisa membayangkan wajah wanita yang pernah datang ke rumahnya bersama sopir pribadi dari lelaki menyelamatkannya itu. Bahkan sikap wanita itu juga sangat lembut dan ramah. Tanpa pamrih sedikit keraguan mempercayai dan memberi simpati dengan hormat kepadanya.
Sekilas terlintas diingatan kemarin, sopirnya menyebutkan nama wanita itu. "Seperti yang diperintahkan oleh ibu Marika. Saya datang untuk mengantarkan periksa kandungan."
Bahkan saat Fira akan minta nomor telepon dari majikannya. Lelaki itu dengan cepat merebut ponsel Fira dan mengetik sesuatu, serta mengatakan, "Beliau agak susah dihubungi kalau tidak ada hal penting. Beliau sudah menyampaikan kepadaku. Kamu tetap harus diperiksa. Beliau tidak suka dengan penolakan. Beliau sangat menghargai seseorang, apalagi dia sangat peduli. Jangan membuat dia kecewa. Bagaimana jika penyakit serangan jantungnya kumat lagi? Aku akan kesusahan untuk membujuk dirinya buat minum obat dan perawatan rutin? Aku berharap kamu bisa mengerti maksud atas ucapan-ku."
__ADS_1
Di seberang Bryan terus bersuara. Fira tidak merespon sehingga panggilan telepon pun diputuskan oleh Bryan. Bryan yang berada di kantor, merasa terheran-heran. Tapi terdapat seulas senyum membuatnya yakin kalau cepat atau lambat semua akan terbongkar.
"Bagaimana sudah kau beritahu kepadanya?" Suara itu membuyarkan lamunan Bryan.
Bryan menoleh dan senyum dengan kemenangan. "Seperti yang perkirakan. Semua lancar," kata Bryan sambil berjalan dan duduk bersama seseorang di sana, dan ikut menyesap secangkir teh.
"Kau memang bisa diandalkan, sekiranya apa yang akan terjadi setelah ini?" kata orang itu.
"Kita lihat saja, mungkin dia gak akan bisa mengelak, atau mungkin dia akan memilih jalan terakhir," ujar Bryan sembari ulasan senyum yang penuh teka teki.
Hotel bintang empat, kota Sumatera Selatan. Di mana Ervan dan Aluna sedang duduk sambil menunggu seseorang. Aluna sudah menggeram dan menggoyang kakinya karena sangat kesal. Orang yang dia temui belum juga datang.
"Nona, tenang dulu, mungkin orangnya sedang dalam perjalanan atau terjebak macet," ucap Ervan, sambil menenangkan Aluna yang gak bisa diam, berdiri terus mondar-mandir, kemudian duduk lagi, berulang-ulang terus menerus.
Sehingga membuat yang lain duduk di lobi itu terusik akan dirinya. "Tenang kau bilang? Ini sudah berapa jam kita menunggu. Dia yang kasih janji, tetapi dia malah ngaret kayak gini! Waktu pekerjaan aku itu bukan cuma menunggu dia saja. Kalau bukan dia, aku gak bakal membatalkan semua jadwal pertemuan!" ngomel Aluna.
Dengan suara memang gak bisa dikecilkan lagi. Aluna beda dengan Chika. Kepribadian Aluna sangat tegas dan cekatan pada pekerjaan. Beda dengan Chika memiliki sifat sedikit manja dan sifat yang masih labil.
Kemudian seseorang berlari kecil dan mendekati di mana Aluna dan Ervan berada. Seorang wanita dengan wajah biasa-biasa saja menghampiri mereka. Aluna melihat dari atas hingga ujung kaki mengerut.
"Maafkan saya, jadwal yang saya janjikan membuat Ibu Aluna menunggu terlalu lama, terjadi kecelakaan kecil pada mobil saya saat menuju ke sini," ucap wanita itu.
__ADS_1
Ervan sekali mengamati wajah wanita itu. Entah di mana Ervan pernah bertemu tetapi hal itu sepertinya dia tidak ingat.
"Ck! Kecelakaan kecil? Apa kau tak punya alat komunikasi terlebih dahulu? Hanya menunggu pertemuan seperti, membuatku ingin membatalkan semua kesepakatan kerjasama. Kalau saja bukan karena ayahmu mengenal ayahku. Mungkin aku juga tak akan mau menerima proposal darimu," ucap Aluna, masih bisa mengomentari wanita dengan setengah bungkuk sambil meminta maaf.