
"Bukan sepenuh kesalahan aku juga," imbuh Alex, meskipun dia sudah mengingat insiden itu.
Tak lama kronologi diceritakan oleh Marika. Bryan pun muncul, dia muncul tiba-tiba dapat panggilan mendadak dari seorang. Siapa lagi, Ibu Negara.
"Memang bukan sepenuhnya itu kesalahanmu, tetap saja kau harus tanggung jawab," tuding Marika.
Wanita tua itu tidak mau rugi, karena apa? Uang sebanyak itu sudah bisa diinvestasikan ke tempat lain.
"Yang harus tanggung jawab, harusnya dia!" Alex langsung menunjukkan ke Bryan.
Bryan tercegah kaget, dia baru saja sampai, kenapa pula sudah dituduh tanpa sebab akibat. "Salah saya apa, Tuan?" Bryan dengan polos bertanya.
"Pakai tanya lagi, kau yang berikan uang 10 milliar ke Fira?" jawab Alex dan menyeret Bryan ke permasalahan ini.
"Bukannya itu perintah dari Tuan? Kenapa saya yang disalahkan?" Tetap kukuh Bryan tidak disalahkan sepenuhnya.
"Itu ...."
Alex kehabisan alasan, salahnya juga terlalu gegabah sehingga membuat dia susah buat cari alasan yang tepat. "Pokoknya itu salahmu. Bukannya kau juga akan menodai dia kalau aku tidak langsung masuk saat kondisi mabuk? Aku juga tidak tahu, rencana kelicikanmu akan mempengaruhi situasi saat itu!" ujar Alex dengan sikap tegas dan membela seorang diri.
Bryan tidak berkutik. Memang awal itu, dia akan berikan uang senilai di mana Fira minta. Tapi dengan syarat saat kesepakatan itu disetujui, dia akan memperdaya Fira sebagai melampiaskan nafsunya. Akan tetapi dia sedikit terlambat karena terjadi kecelakaan di jalan. Oleh karena itu, dia tidak memberitahu Fira bahwa dia sedikit terlambat bukan menghambat untuk dia menunggu terlalu lama.
Saat dia sampai, dia sudah tidak sabar buat kelabui teman wanitanya. Tidak tahunya dia tiba di kamar di mana dia pesan. Sudah terbuka sedikit, lalu dengan terkejutnya, bahwa Fira sudah pingsan di ranjang dengan balutan selimut, serta ada beberapa pakaian berceceran di mana-mana.
Bahkan Bryan agak kaget dan kesal juga tidak bisa mendapatkan apa dia mau. Karena teman wanitanya sudah dinodai duluan oleh rekan putra majikannya. Alex yang di sana masih setengah sadar atas pengaruh alkohol mendekati, dan memerintah Bryan buat tip cek sebagai tutup mulut. Beranggapan bahwa dia yang menodai teman wanitanya.
Tentu Bryan awal akan melakukan itu, tetapi Bryan diketahui oleh rekan pemiliknya. Marika, tidak mudah ditipu begitu saja, meskipun uang itu memang atas nama Sanjaya. Pastinya Marika akan mencari kebenaran sebenarnya, keberadaan Alex selama berada di Indonesia.
"Masih menyalahkan orang lain lagi! Saya tidak peduli, kau tetap harus pertanggungjawaban atas insiden itu terjadi. Kau juga, Bryan. Saya tidak butuh penjelasan apa pun soal perihal itu. Jika kau masih hidup tenang, sudah kau tahu apa yang saya minta darimu?" ucap Marika dengan sikap tegasnya.
Bryan dengan cepat menunduk dan menuruti perintah itu. "Sudah, Nyonya. Seperti yang Nyonya inginkan. Semua berjalan dengan lancar."
"Memang apa yang Mama rencanakan?" Alex penasaran dan ingin tahu.
__ADS_1
"Tidak usah kepo soal urusan dunia luar. Jalani tanggung jawabmu, penuhi semua apa yang terjadi pada calon menantu dan calon cucu di Sanjaya. Jangan sampai saya dengar keluhan dari mulutnya, saya akan mencabut jabatanmu dari perusahaan Sanjaya. Ingat itu!" Marika tidak main-main dengan ancaman itu.
Mana mungkin Alex menerima sikap ancaman itu. Dia belum merasakan bagaimana hidup sebagai rakyat jelata. "Tidak bisa begitu, ancaman apaan?"
"Makanya tanggung jawab, jalani apa yang saya minta! Jika kau tidak ingin hal itu terjadi!"
Alex bangkit dari duduk dengan muka kesal, melewati Bryan dan Nisan. Mereka menunduk tidak berani menatap Alex. Mereka merasakan aura sangat berbahaya. Kalau Alberto sudah jelas sangat mengetahui sifat Alex. Jadi tidak pengaruh kalau Alex dapat ancaman seperti itu. Sayangnya Alberto belum bisa melanjutkan pekerjaan. Karena masih perlu banyak istirahat.
"Nisan, kau sudah tahu tugas yang saya minta?" Sekarang Marika bertanya kepada asisten sopir Alberto.
"Sudah, Nyonya," jawab Nisan.
"Mulai besok, saya minta kau mengawasi dan melakukan perintah yang saya minta. Jika dia tetap menolak, biar saya yang menemuinya," titah Marika kembali melanjutkan pekerjaannya itu.
"Baik Nyonya."
Saat Nisan beranjak meninggalkan tempat itu, tinggal Bryan. "Kenapa berdiri saja?" Marika bersuara.
Dengan cepat Bryan mendarat diri ke kursi kosong. "Tidak perlu takut begitu. Apa ancaman saya ini begitu menghambat hidupmu?"
"Kau melakukan sangat baik, seharusnya saya tidak meminta kau melakukan itu," ucap Marika pelan.
"Saya tahu, Nyonya melakukan itu demi kebaikan tuan Alex dan juga temanku," kata Bryan menunduk sambil memainkan jarinya sendiri.
Ada raut wajah yang bersalah banget. "Saya tahu, kau menyukainya. Meskipun dulu kau suka padanya, kau tentu tidak akan pernah melukainya bukan?"
Bryan mendongak, terdapat raut muka penuh arti tanda tanya. Bryan beruntung bertemu perempuan yang sangat mengerti tujuan hidupnya. Jika bukan Marika yang menolong dan membantu usahanya, mungkin dia tidak akan di sini berdiri tegap. Walaupun dia bukan lagi seorang atasan, melainkan di bawah kekuasaan Sanjaya.
"Saya juga tidak akan pernah melakukan itu. Meskipun dia tetap bersikeras meminta untuk bisa dipersatukan. Alasan saya melakukan itu, agar semua terungkap satu per satu. Bagi saya, Fira jauh lebih baik daripada wanita yang hanya menginginkan kekuasaan," ungkap Marika, menceritakan kepada Bryan.
Bryan tidak tahu, kenapa Marika memilih Fira menjadikan wanita ternoda, dan hamil dari seorang lelaki memiliki ingatan tidak sempurna seperti Alex.
"Kenapa Nyonya memilih dia? Kenapa bukan wanita lain?" Bryan bertanya. Dari jauh-jauh sebelumnya Bryan ingin bertanya perihal ini.
__ADS_1
"Tidak semua wanita itu jujur, jika bukan karena material. Saya yakin Fira dapat dipercaya, karena selama peristiwa terjadi, kehidupannya tidak seberuntung wanita mana pun, mendapat seorang suami yang sangat mencintainya. Akan tetapi Fira tidak mengetahui kebenaran tentang suaminya kala itu," jawab Marika.
"Apa karena ...."
"Benar, jika bukan kecelakaan itu, tidak mungkin saya mengetahui asal usul tentangnya, bukan?"
Bryan mengerti, jadi ini Marika melakukan agar semua rencana dapat berjalan sempurna, walau harus mempertaruhkan harga dirinya. Meskipun Fira tidak tahu tujuan maksud Marika berbaik padanya. Bahkan Alex sekalipun.
"Jika suatu saat itu terjadi, apa dia akan menerimanya? Saya ragu dia tidak menerima begitu mudah. Apalagi melihat tuan Alex."
"Mungkin situasi saat ini memang tidak mendukung sekali. Jika tidak diberitahu secara langsung, Alex akan merasa salah paham terus menerus denganku. Bagaimana watak keras kepalanya itu, selalu tidak ingin mengakui kesalahan, apalagi di usia saya sekarang ini, belum tentu bisa hidup berapa lama lagi?"
Di sisi lain, Alex menendang batu kerikil itu, hingga membuat seluruh batu kecil tersebut diterjang ke penjuru tempat di mana-mana.
"Tuan."
Nisan sudah berdiri di sampingnya, Alex hanya melirik dengan ujung matanya. Lalu dia mengacuhkan asisten sopir itu.
"Maafkan saya Tuan. Saya ...."
"Sudah berapa lama kau kerjasama dengan mak Lampir itu?" Alex langsung ke titik permasalahan.
"Sejak Tuan dipulangkan oleh ibu Marika," jawabnya.
"Lalu?"
Nisan menceritakan semua kronologi dari awal, Alex tiba-tiba dipulangkan oleh Marika dari Swedia. Setelah usai pendidikan, karena sering membuat masalah di sekolah, hingga membuat Marika frustrasi. Beliau pun memindahkan Alex ke Swedia. Tapi Alex tidak bisa bertindak sesuka di negara sana. Karena tempat itu yang akan Alex tinggal, tempat yang sangat kecil kemungkinan tidak dapat beradaptasi sebebas di Indonesia.
Selama empat tahun itu pula, Alex bekerja keras hingga mendapat perhatian publik di negara tersebut. Setelah menerima hukuman dan menjalankan hukuman dari ibunya. Alex tiba-tiba dipulangkan kembali oleh Marika. Dengan permintaan konyol, setahun wafatnya sang ayah tercinta. Marika lah yang melanjutkan perusahaan dipegang oleh suaminya. Setelah semua berjalan lancar, Marika pun meminta Alex meneruskan perusahaan salah satu cabang milik suaminya ada di kota Sumatera.
Alex yang masih ingin menghirup kebebasan, Marika pun melepaskan hukuman tersebut. Namun tanpa disangka, Alex terlalu berlebihan hingga keuangan dihasilkan susah payah oleh Marika. Telah dipergunakan semena-mena oleh putranya. Padahal situasi perusahaan itu hampir jatuh bangkrut. Untung masih dapat dipertahankan oleh Marika dan rekan-rekan lainnya.
Bahkan kelicikan dari teman-teman Alex sengaja membuat Alex semakin gila. Marika pun bertindak sesuatu yang seharusnya tidak dilakukan. Cara paling keji dan licik juga. Agar Alex bisa sadar apa yang telah dilakukan pada seseorang yang sebenarnya di luar nalar rencananya.
__ADS_1
Alex memang tidak tahu menahu soal perencanaan dari ibunya. Tapi rencana itu sangat gila, hingga dia kesal, jengkel sekali padanya. Sampai sekarang pun hubungan ibu dan anak masih belum akur. Maka dari itu Alberto yang sudah setia menjadi pengikut Alex, sangat sabar. Bahkan selalu melapor apa saja dilakukan oleh putranya.
Marika juga tidak tahu perencanaan dilakukan oleh Hantari. Meskipun hubungan antara Marika dan Rejeki Hantari itu tidak seakrab dulu lagi. Marika tetap bersikeras tidak akan menerima sesuatu bukan pekerjaan. Tentu Marika juga tahu, kalau Alex tidak terlalu suka dengan putrinya Hantari.