Calon Pewaris.

Calon Pewaris.
Bagian 28.


__ADS_3

Alberto sadar, setelah beberapa menit dia pingsan karena memakan kue bolu mematikan yang sudah disumpahin oleh Alex.


"Tuan ...."


Alex menoleh dan memasang muka tidak ada satu pun kekhawatiran. Alex gitu loh, gengsi yang berlebihan ini paling langka. Dia lebih baik membuang rasa simpati kepada orang tua seperti Alberto.


"Untung bisa diselamatkan, kalau tidak? Aku harus mengklaim asuransi kematian-mu," ucap Alex. Tidak bisa dikondisikan kata-kata itu.


"Apa segitunya Tuan ingin saya mati?" Alberto bertanya seraya bangun dari pingsan.


"Kalau kau mati, siapa yang akan mengomeli setiap hari? Akan sangat susah aku mencari pengganti seperti dirimu," ujar Alex sembari membuang muka, karena dia sangat sulit mengucapkan kalimat dramatis ini.


Alberto yang mendengar pun tersentuh. "Benarkah, Tuan masih peduli padaku? Saya mengira Tuan sudah tidak peduli makanya ...."


Beberapa saat kemudian suara dari pintu masuk, Elisa berlari dengan muka kekhawatiran. Sebab, sebelum hal itu terjadi, Alex sempat menelepon. Kalau suaminya masuk ke rumah sakit karena hampir terkena racun mematikan. Padahal tidak sampai, hanya karena sedikit tidak sedap di lidah saja.


"Kau tidak apa-apa? Apa kata dokter?"


Alberto dengan wajah biasa saja setelah di besuk oleh istri sendiri. "Saya baik-baik saja, tidak perlu dikhawatirkan," kata Alberto mencoba menenangkan hati istrinya.


"Benarkah? Kata Tuan muda, kau terkena racun? Apa itu benar?" Elisa masih bertanya.


"Racun? Tidak, buktinya saya masih hidup." Alberto masih bisa sikap santai.


Alex yang melihat sikap suami istri, merasa tersindir, dia memilih untuk beranjak dari sana. Saat itu Alberto pun berkilah.


"Makanya Tuan, daripada merasa tersindir karena terlalu lama jomlo. Segera resmikan calon istri untuk ibu Marika," ujar Alberto masih sempatnya dia bercanda seperti ini.


"Lebih bagus, eratkan nyawamu, sebelum aku menyuntikkan riwayat kematian,"ujar Alex pergi begitu saja.


Alberto merasa tidak akan takut meskipun putra majikannya mengancam. Karena dia tahu, bahwa Alex tidak akan mungkin berani melakukannya.


Alex mengeluarkan sebatang rokok, kemudian dihidupkan korek. Sambil memandang pemandangan di luar rumah sakit. Tanpa sengaja dia melihat sesuatu yang tidak asing oleh matanya sendiri.


"Sedang apa dia sore-sore begini?" batin Alex.


Rokok yang dia isap, terpaksa dia hentikan. Dia pun pergi dari tempat di mana dia berdiri tadi. Lalu menelusuri lorong-lorong tersebut hingga di sana dia menghampiri seseorang.

__ADS_1


"Sedang apa yang kau lakukan di sini?" tanya Alex, setelah dia berhasil berada di posisi seorang wanita tengah berdiri sambil memegang sesuatu.


...***...


Alex hanya memandang wanita yang sedang menikmati semangkuk es teler begitu lahap. "Apa yang kau lakukan di sini? Kau dari tadi belum menjawab pertanyaan ku?"


"Kau sendiri, sedang apa di sini?" Sebaliknya Fira bertanya.


Fira juga tidak tahu, tujuan dia keluar dari rumah untuk apa. Karena, dia merasa bosan. Makanya dia keluar sebentar untuk menghilangkan rasa mood berlebihan. Pada akhirnya dia malah buntu di tempat ini. Dalam keadaan bengong.


"Membesuk orang sakit yang sudah hampir sekarat," jawab Alex.


"Siapa sakit?"


Fira malah bertanya seakan mempunyai rasa simpati pada Alberto. "Biasa bapak tua, yang memang bikin orang repot."


"Bapak yang sering di sampingmu?" tebak Fira.


Alex tidak merespon. "Seharusnya kau itu sudah harus bersyukur, masih ada orang peduli dan masih setia menemani setiap hari."


Alex merasa mendengar curhatan seorang emak-emak. "Memang kau tidak ada yang peduli? Bukannya suamimu sangat menyayangi dan mencintaimu?" balas Alex seakan dia kurang beruntung.


"Dia tidak akan sering bisa menemani aku setiap saat, dia akan jauh lebih sibuk," ungkap Fira merasa sangat tahu.


Alex pun meluruskan badannya, lalu memanggil penjual itu. "Ya, Pak? Apa mau ditambah lagi?" tanya penjual itu.


"Es koteng satu, sama minta baso bihun satu," jawab Alex.


"Baik, tunggu sebentar, ya!"


Ketika penjual itu kembali. Fira malah bengong. "Ada apa? Tenang itu bukan buat dirimu. Aku juga lapar. Dari tadi belum sempat makan," kata Alex dengan sikap yang tenang.


Tidak biasanya saat ketemu sama Fira. Pasti akan terjadi keributan. Entah kenapa, Alex malah bersikap lembut padanya.


"Memangnya kau tidak ada pekerjaan? Sehingga membuat dirimu santai seperti ini? Apa kau tidak takut, jika pada bos mu?"


Alex langsung tertawa seakan pertanyaan itu sangat lucu. "Apa yang kau tertawakan?" Fira semakin kesal melihatnya.

__ADS_1


Alex langsung mereda tawanya. "Tidak ada yang berani memarahi diriku. Yang gaji juga dari aku, buat apa?"


Fira semakin melongo, bahkan es teler ada di mangkuk tidak disentuh lagi. "Kenapa? Apa kau baru tahu, kalau aku adalah bosnya?" jawab Alex seakan dia tahu isi kepala Fira.


...***...


Alberto sedang disuapin oleh istri tercintanya. Elisa akan merawat Alberto hingga sembuh. Dia juga sudah memberitahu kepada Marika.


"Bagaimana bisa kau terkena racun dari kue itu?" omel Elisa.


"Karena saya lihat agak penasaran dengan rasanya. Dari bentuk memang tidak bagus. Tapi bisa jadi rasanya itu ...."


"Yang penting kamu sudah selamat. Untung ada tuan muda, kalau tidak ...."


Alberto sangat mengerti. Sudah dicemaskan oleh istrinya. Alberto merasa bersyukur bisa menikah seorang wanita seperti Elisa. Meskipun di usia mereka sudah tidak muda lagi. Walaupun belum dikaruniai seorang anak. Namun Alberto sangat menyayangi Alex seperti putra sendiri.


"Apa kamu sudah mencari tahu tentang keluarga wanita hamil itu?" Alberto mengalihkan percakapan lain.


Elisa menghapus sisa air matanya. Teringat cerita dari suami soal Alex meminta dirinya mencari asal usul keluarga wanita yang sering diceritakan oleh Marika.


"Hanya beberapa informasi, dijelaskan kalau wanita itu sudah tidak memiliki orang tua. Sejak usia 20 tahun, kehidupan wanita itu sudah menjadi yatim. Di usia itu, dia sudah bertunangan dengan seorang lelaki. Keluarga lelaki juga perekonomian pas-pasan. Sekilas dari informasi saya dapatkan dari ibu Marika. Kalau wanita itu menjual diri untuk melunasi hutang suaminya. Suami yang saya sebutkan itu tunangan yang sudah berjalan selama tiga tahun, kemudian menikah dua tahun lalu." Elisa pun menceritakan kepada Alberto.


Alberto berpikir sebentar, "Jadi memang benar, kalau Alex yang memberikan sepuluh miliaran kepada wanita itu? Dan Alex juga yang sudah menghamili dan berikan benih cinta kepada wanita itu?"


Elisa pun mengangguk, "Seperti yang ibu Marika simpulkan."


"Tapi, Alex tidak mengingat kejadian itu? Kalau memang Alex yang memberi benih cinta kepada wanita itu. Seharusnya dia melihat wajahnya?" tebak Alberto seakan memecahkan masalah yang cukup serius.


"Yang dijelaskan oleh ibu Marika, kalau Alex memang tidak ingat pada wanita dia tiduri. Karena Alex dalam keadaan sangat mabuk, bahkan wanita yang bersedia disetubuhi juga tidak melihat wajah Alex. Sebab wanita itu diikat, jadinya sangat sulit saling mengenal," terang Elisa seakan menyimpulkan kronologinya.


Kembali ke rumah makan, Alex sudah menghabiskan dua mangkuk baso. Entah kenapa saat ini dia pengen makan terus. Rasa ngidam itu seakan membuat dirinya terbawa obsesi.


Fira yang melihat pun sedikit seram. "Kau tidak merasa mual, makan begitu banyak?"


Alex juga tidak tahu bagaimana dia bisa memesan baso ketiga kalinya. Padahal dia sangat kurang doyan dengan makanan seperti ini. Apalagi di tempat rumah makan yang sangat menjijikkan sekali.


"Aku juga tidak tahu, pengen saja. Kau sendiri? Tidak merasa lapar? Apa kandungan mu tidak menginginkan sesuatu?" Alex sebaliknya bertanya kepada Fira.

__ADS_1


Fira merasa aneh pada sikap lelaki di depannya yang begitu perhatian. Jarang dia bertemu lelaki seperti itu, apalagi Ervan tidak pernah mengatakan seperti itu.


"Aku lihat kau sudah kenyang," ujarnya kemudian.


__ADS_2