
"Kau mau ke mana?"
Tiba-tiba Alex sudah berada di belakang Nisan. Nisan baru akan siap buat berangkat, menjalankan tugas diperintah oleh ibu Marika. Dengan kaget itu pula Nisan menoleh. Alberto saat ini masih di rawat di rumah sakit. Mungkin hari ini sudah diperbolehkan untuk pulang.
"Mau ke rumah bu Fira," jawab Nisan.
"Ngapain ke sana?" Alex bertanya lagi.
"Ibu Marika minta saya antar bu Fira periksa kandungan."
"Periksa kandungan di mana?"
"Di rumah sakit biasa ibu Marika rawat?"
Alex manggut-manggut, "Ya sudah, kebetulan aku mau ke sana."
"Memang Tuan sakit juga?" Nisan malah balik bertanya.
"Sakit kantong! Tentu jenguk si pria tua itu dong! Dikira sebagai putra majikan tak tau diri!" jawabnya, seolah ingin menampar muka Nisan.
"Oh, saya pikir Tuan sakit, makanya mau ikut ke rumah sakit juga."
"Sudah, jangan banyak bawel."
Nisan pun segera masuk ke mobil dan menjalankan perintah. Fira baru saja habis buat sarapan. Sarapan kali ini tidak ada yang spesial, hanya secangkir susu milo sama roti kering. Untuk ke depan dia harus lebih hemat lagi. Uang yang diberikan oleh wanita tua datang ke rumahnya semalam, juga belum dia sentuh atau digunakan. Apalagi untuk sekarang, dia tidak ingin ke mana-mana. Pengen di rumah, tetapi dia bingung juga. Di rumah juga tidak ada kegiatan apa pun.
Dia menghela napasnya, sambil bersandar ke kursi, dan sambil memandang sekitar rumah yang masih tetap biasa-biasa saja. Tidak ada yang baru barang-barang di sini. Hanya yang terbayang adalah suara saat bersama Ervan, kegiatan keseharian mereka saat berdua sebelum dikabarkan dia hamil. Semua aktivitas dilakukan oleh mereka, masih tersimpan di memorinya.
Sekarang tidak akan ada lagi suara Ervan yang memanggilnya, membuatkan minuman untuknya, membawa dia jalan-jalan, bercerita tentang pekerjaan. Dia akan kembali menjadi seorang diri. Untuk bisa kembali ke rumah mertua, mungkin akan sulit baginya ke sana. Belum tentu ibu mertuanya mau bermanis mulut dengannya.
Sekali lagi dia membuka ponselnya, terakhir kali dia mematikan ponsel saat Ervan menelepon, beberapa panggilan tak terjawab, dan juga pesan darinya. Dibuka salah satu akun sosial medianya. Terdapat sebuah pesan percakapan diantara mereka berdua. Ervan dengan seorang wanita.
Fira tidak tahu, siapa wanita yang sedang mengirim pesan kepada Ervan. Entah sebuah rahasia apa yang membuat Ervan harus mematuhi dan menuruti pekerjaan itu. Apakah Fira sudah mempunyai firasat terdapat sebuah noda lipstik di baju kerja suaminya saat itu.
__ADS_1
Ada kala, Fira ingin bertanya, namun dia merasa tidak pantas dipertanyakan. Bahkan, dia juga tidak akan tahu, jika Ervan lebih dulu membencinya. Selama 15 menit dirinya melamun, tersadar akan suara di depan rumahnya.
"Sabar dulu, Tuan! Main nyosor saja. Mungkin dia lagi keluar," ucap Nisan mencoba menenangkan Alex yang tidak mempunyai kesabaran.
"Tahu dari mana kalau dia lagi keluar? Memang dia ada beritahu ke kau?" Gantian Alex tanya, firasat Alex tidak pernah salah. Kalau wanita hamil itu memang tidak ada di rumah.
Kalaupun Fira tidak ada di rumah pastinya di sekitar warga sini sudah memberitahu. "Tidak sih, Tuan. Cuma, kan ...."
Tak lama pintu depan terbuka, Fira memandang dua lelaki di sana sedang berdebat tentang apa. "Tuh, kan, apa aku bilang. Dia itu di rumah. Masih ngotot dia keluar! Ingat feeling aku itu gak pernah salah!" Alex merasa hebat dan senang kalau yang dia firasat kan itu tidak pernah salah.
"Eh iya deh. Saya salah." Nisan bisa apa? Mengelak? Yang ada gajinya kepotong.
"Ada apa?" Fira bertanya, melihat dua lelaki ini pagi buta begini sudah cari keributan.
Alex melangkah dan masuk ke dalam. Tanpa permisi atau izin dulu. Nisan berdiri dan memberi salam kepada Fira.
"Selamat pagi, Bu Fira. Seperti yang diperintahkan sama ibu Marika. Hari ini saya datang untuk mengantar Ibu untuk periksa kandungan," ucap Nisan dengan sikap yang sopan dan ramah.
Fira tidak mengekspresikan apa pun. "Hari ini aku tidak jadi buat periksa kandungan. Bilang sama majikan kamu tidak usah repot-repot, aku akan pergi ke klinik terdekat saja buat periksa."
"Begini saja, berikan nomor kontak majikan kamu. Biar aku yang bicarakan kepadanya," sambung Fira serahkan ponsel kepada Nisan.
Nisan sedikit ragu buat memberi nomor kontak. Lalu Alex keluar dan mengetik nomor kontak bukan ibunya. Melainkan nomor kontak darinya. Lalu ponsel Alex berdering. Setelah itu dia menyimpan nomor kontak Fira tersebut. Fira tidak terlalu suka dengan sikap Alex yang kurang sopan akan tata karma.
"Beliau agak susah dihubungi kalau tidak ada hal penting. Beliau sudah menyampaikan kepadaku. Kamu tetap harus diperiksa. Beliau tidak suka dengan penolakan. Beliau sangat menghargai seseorang, apalagi dia sangat peduli. Jangan membuat dia kecewa. Bagaimana jika penyakit serangan jantungnya kumat lagi? Aku akan kesusahan untuk membujuk dirinya buat minum obat dan perawatan rutin? Aku berharap kamu bisa mengerti maksud atas ucapanku."
Alex pun beranjak dan untuk siap membawa Fira ke rumah sakit buat periksa kandungan.
Fira kembali masuk kemudian menutup pintu rumahnya yang pasti dikunci. Lalu, dia pun masuk ke mobil. Alex juga dan Nisan siap menjalankan mobil ke rumah sakit yang di tuju.
Sampai di rumah sakit, Fira, Alex, dan Nisan turun dari mobil setelah di parkir. Mereka bertiga masuk. Di sana Alex bertemu dengan Elisa, pembantu yang bekerja di rumah ibunya.
"Tuan." Elisa memanggil Alex.
__ADS_1
Alex pun menyambutnya. "Bibi, bagaimana kabar Alberto? Apakah sudah lebih baik?"
"Sudah lebih baik dari sebelumnya," ucap Elisa, kemudian melirik ke arah seorang wanita. Dengan penampilan bisa ditebak oleh Elisa.
"Apa ini yang sering ibu Marika ceritakan? calon menantu dan calon cucu dari Tuan Alex?" batin Elisa masih mengamati Fira.
Fira yang merasa diperhatikan oleh seorang wanita paruh baya. Dia pun mundur untuk menutup diri dari pelindung Alex. Alex yang mengerti dia pun memperkenalkan langsung kepada Elisa.
"Dia adalah Bibi Elisa, dia mengasuh aku dari kecil, dan juga bekerja di rumah," ucap Alex tidak akan pernah menutupi dengan siapa dia bawa.
Elisa pun dengan cepat memberi salam kepadanya. "Tuan ke sini untuk ...."
"Sekalian mau jumpa Alberto, sambil bawa dia periksa kandungan. Mak Lampir itu sudah berkoar-koar minta tahu jenis kelamin apa dalam kandungannya. Heran sama wanita tua itu. Anak sendiri bukannya dipeduliin malah peduli orang lain!" balas Alex mengomel.
"Mungkin ibu Marika sudah tidak sabar pengen segera gendong cucu. Makanya Tuan segera cari istri. Kalau mau diperhatiin terus sama ibu Marika," cibir Elisa.
Alex memutar dua bola mata dengan malas. Nisan baru saja selesai mendaftar antrian pasien. Baru selang beberapa perbincangan mereka. Nama Fira sudah dipanggil oleh perawat.
"Nomor antrian kosong enam, atas nama ibu Fira!"
Alex mendengar nama itu, dengan cepat membawa Fira ke ruang pemeriksaan. Saat di depan ruang itu. Seorang perawat mempersilakan Fira masuk, tetapi dokter yang akan periksa Fira itu seorang lelaki. Tiba-tiba Alex mencegah perawat tersebut.
"Apa dokter wanita tidak ada?" tanya Alex.
"Ada, Pak! Saat ini dokter Hena jam sebelas baru tiba," jawab perawat tersebut.
"Kalau gitu tidak jadi periksa." Alex pun menarik Fira keluar. Dokter itu baru saja akan menanyakan kondisi Fira.
Nisan dan Elisa berdiri karena ingin tahu juga kabar dari pemeriksaan. Tapi muka Alex sudah masam sambil menatap Nisan. "Tadi kau daftar dia buat periksa kandungan. Apa kau ada bertanya dengan siapa dokter yang periksa?"
"Kalau itu saya tidak tahu, Tuan. Bagi saya tidak ada masalah kalau Ibu Fira diperiksa sama dokter siapa? Soalnya hanya periksa saja, bukan persalinan?" jawab Nisan pelan-pelan.
"Ya, harus tanya dong! Dia, kan, wanita. Masa yang periksa kandungan si laki-laki. Sesama wanita, kan, mudah. Kalau dokter itu kegatelan gimana? Siapa yang akan pertanggungjawab, kan?" pungkas Alex.
__ADS_1
Nisan yang merasa, kalau Alex aneh. Bagaimana bisa dia begitu peduli pada Fira. Padahal Fira bukan istrinya atau siapa-siapa. Sebaliknya Elisa merasakan hal yang sama.
"Apa Tuan cemburu kalau Ibu Fira akan diperiksa sama dokter laki-laki?" tebak Nisan pelan-pelan, takut dia salah bicara.