
"Kami berdua sudah sepakat akan menikah untuk memenuhi keinginan terakhir Kakek sesuai kemauan kalian." Ucap David dengan tegas.
"Kalau begitu 5 hari lagi kalian menikah." Ucap sang Nenek.
"Hah?? 5 hari lagi Nek? Apa ga terlalu cepat?" Teriak David dengan mata yang terbelalak.
"Benar Nek. Kami berdua belum mempersiapkan apa-apa."
"Pilih. 5 hari? Atau 3 hari?" tanya sang Nenek.
"5 HARI" Jawab David dan Eve bersamaan setelah saling memandang satu sama lain.
"Baik lah. 5 hari lagi kalian menikah." Jawab sang Nenek.
"Apa persiapan untuk pernikahan mereka sudah selesai?" Tanya Tuan Kim pada istrinya.
"Hanya tinggal fitting baju mereka saja. Yang lain sudah siap.." jawab Nyonya Kim dengan tersenyum.
"Yeeey! Akhirnya Eve akan jadi ipar Jasmineee" Teriak Jasmine sambil memeluk Eve.
"Kamu selamat karena cucu teman Kakek ternyata wanita. Kalau tidak......" ucap David yang berdiri di depan Jasmine.
"Weeeek" Ejek Jasmine sambil menjulurkan lidah ke arah David.
"Eve..besok siang David akan menjemputmu untuk fitting baju ya.."
"Baik Nyonya.."
"Mulai sekarang panggil Mama.." Ucap Nyonya Kim dengan lembut.
"B-baik Ma.."
"David. Kamu antarkan Eve pulang." Ucap Tuan Kim.
"Jasmine ikut yaa"
""Jasmine sayang..kamu disini saja temani Nenek ya" Ucap sang Nenek yang melambaikan tangannya seraya memanggil Jasmine untuk mendekat.
"Baik lah..Jasmine temani Nenek saja" Jawab Jasmine sambil berjalan ke arah sang Nenek lalu memeluknya.
Setelah selesai berpamitan dengan semua, Eve masuk ke dalam mobil dan David pun mulai melajukan mobilnya.
Dalam perjalanan pulang, tiba-tiba Eve teringat kejadian yang dia alami saat melalui rumah-rumah di sekitar.
"Hish. Kalo inget itu bikin esmosi sendiri." Dumel Eve sambil menatap ke arah luar jendela mobil.
"Apa yang kamu bicarakan?" tanya David sambil menoleh ke arah Eve.
"Ga pa pa. Cuma keinget ada mobil hitam nyebelin yang ga bertanggung jawab yang pernah lewat jalan ini."
"Mobil hitam? Maksudmu mobilku ini??"
"Pura-pura ga sadar atau memang ga tau sih?"
"Lha memang ga tau. Memang apa salah mobilku?"
__ADS_1
"Lain kali pelan-pelan naik mobil saat melintasi jalan yang ada genangan air"
"Makin ga jelas...." Geleng David.
"Iih. Masa gitu aja ga ngerti sih? Kubilang, kalo naik mobil itu pelan-pelan apalagi kalo jalanannya ada genangan airnya. Uda ngerti sekarang?" Jelas Eve dengan nada kesalnya sambil memanyunkan wajah.
Hm? Lucu banget cewek ini kalo lagi manyun emosi gitu. Gemesin. Jadi pengen ngerjain.. Batin David saat melihat ekspresi Eve yang menggemaskan.
"Oh gitu..baik lah" Sahut David yang tersenyum tipis dan melambatkan laju mobilnya.
"Kenapa mobilnya tiba-tiba pelan? Apa mobilnya mogok? Kehabisan bensin?" Tanya Eve yang panik karena tiba-tiba laju mobilnya menjadi sangat pelan.
"Tadi katanya disuruh pelan-pelan..." David menjawab pelan sambil berusaha menahan gelak tawanya saat melihat Eve yang kebingungan.
"Heiissh. Kan ini jalanannya ga ada genangan airnya, jadi ga usah pelan-pelan. Kalo pelan gini kapan aku nyampe di rumah?"
"Oo...gitu..?" Ucap David sambil menginjak gas dengan kencang hingga membuat Eve kaget.
"Iiiiiih! Pelan-pelan doong" Ucap Eve dengan kesal.
"Tadi pelan disuruh cepetan. Sekarang uda cepet disuruh pelan. Gimana sih?" Sahut David yang berusaha keras menahan wajah cool nya.
"Astaganagadinagaaaa. Susah banget ngejelasin ke orang satu ini. Auk ah." Jawab Eve sambil menipiskan kedua bibirnya saat bicara untuk menahan emosinya.
"Astaganagadinagaaa" Tiru David dengan sengaja.
"Iiish. Ikut-ikut." Dumel Eve sambil memanyunkan bibirnya.
"Emangnya dilarang?"
"Ga ada hak patennya kok dilarang."
"Dah lah. Capek"
"Ya uda, istirahat sana kalo capek.." Ucap David dengan lembut sambil menempelkan telapak tangannya ke dahi Eve lalu mendorongnya hingga kepala Eve mendarat di kursi.
Apa-apaan sih cowok ini? Dari tadi ga mau kalah kalo ngomong, sekarang tiba-tiba melembut. Ga jelas.
Sesampainya di halaman depan gereja..
"Jangan lupa ya, jangan beritahu siapapun tentang rencana pernikahan kita." Ucap David saat Eve melepaskan seatbelt.
"Yaaa..." Jawab Eve yang kemudian membuka pintu dan turun dari mobil David.
"Terima kasih sudah mengantarku pulang." Ucap Eve sebelum menutup pintu mobil.
David hanya menjawabnya dengan senyuman manis hingga lesung pipinya terlihat jelas. Setelah itu David melaju dan pergi dari sana.
Sepertinya akan menarik tinggal dengan cewek tukang manyun itu. Dari luar dia terlihat tegas dan pendiam, tapi entah kenapa emosinya tidak menyeramkan, malah membuatnya terlihat manis dan menggemaskan...
Gumam David dalam perjalanannya pulang sambil tersenyum sendiri mengingat ekspresi Eve tadi.
Sementara itu di kamar Eve....
"Aku akan menikah?"
__ADS_1
"Bahkan dengan seorang David Kim?"
"Kyaaaaaaaa!" Teriak Eve yang melompat ke ranjangnya dan membenamkan wajahnya agar teriakannya tidak terdengar sampai ke luar.
"Aku tidak percaya iniii! Seorang idola besar akan menjadi suamiku. ya ampuuun." Ucap Eve yang masih membenamkan wajahnya dan kegirangan sendiri sambil memeluk erat bantalnya.
"Tunggu sebentar." Ucap Eve sambil terduduk di atas ranjangnya.
"Aku bukan sedang bermimpi kan?" Tanya Eve sambil mencubit pipi nya sendiri.
"Aw. Sakit. Ini bukan mimpi ternyata." Ucap Eve sambil menggosok pipinya yang merasakan sakit akibat cubitannya sendiri.
° ° °
Hari yang di tunggu oleh semua orang...
Termasuk penulisnya😌
"Eve cantik sekaliiiiii" Teriak Jasmine sedikit heboh saat melihat Eve mengenakan pakaian tradisional.
Setelah selesai melakukan prosesi ritual pernikahan, Eve dan Jasmine terlihat sedang berada di halaman rumah kediaman keluarga Kim.
Ternyata cewek ini cantik juga kalau pakai pakaian begini..Batin David sambil memperhatikan dari jauh.
"Kak David? Eve cantik kaaan?" Tanya Jasmine.
"Cantik.." Kata itu meluncur sendiri keluar dari mulut David tanpa dia sadari karena pandangannya masih terikat oleh kecantikan calon istrinya yang berbalutkan pakaian tradisional itu.
"Ciyeeeeeeeeee...kayaknya ada yang.." Ejek Jasmine sambil menyenggol lengan David.
"Hah? Ya cantik..semua pasti cantik kalo pake baju begitu. Tapi tetap saja bukan tipe Kakak." Jawab David memotong perkataan Jasmine untuk menghindar dari ejekan Jasmine.
Malam harinya..
"Satu kamar??" Teriak David dan Eve bersamaan saat sang Nenek dan orangtuanya menyuruh mereka tidur di dalam satu kamar.
"Tapi Ma? Masih ada kamar lain di rumah ini yang dia bisa tempati, kenapa harus tidur di kamar David?"
"Atau ya sudah dia tidur di kamar David ga pa pa, malam ini David tidur di kamar lain." Ucap David.
"Benar, Eve bisa tidur di kamar tamu...Ma" sahut Eve yang masih belum terbiasa memanggil Nyonya Kim dengan panggilan Mama.
"Tidak bisa. Kalian sudah menjadi suami istri sekarang, jadi sudah sewajarnya kalian tidur satu kamar." Ucap Nyonya Kim.
"Ayo cepat istirahat, sudah malam. Bukannya besok kamu masih ada kegiatan lain Nak..? tanya Nyonya Kim pada David.
Tidak bisa membantah lagi, David dan Eve yang dipaksa masuk ke dalam kamar milik David itu hanya bisa menuruti keinginan keluarganya.
Ceklek!
__ADS_1
Sesaat setelah masuk dalam kamar, David dan Eve saling berpandangan saat mendengar suara pintu terkunci. Sontak mereka langsung mencoba membuka pintu tersebut, tapi sia-sia karena pintu sudah dikunci dari luar.