
"Kak David mana Ma?" tanya Jasmine saat baru saja kami memulai makan siang.
"Kakakmu sudah pulang karena ada jadwal lain" jawab Nyonya Kim yang sangat cantik dan anggun itu.
"Jasmine, apa kamu lupa dengan aturan makan?" ucap Tuan Kim dengan nada pelan tapi terkesan sedikit tegas.
"Tidak berbicara saat makan. Maaf Pa."
"Maafkan kami Eve..silakan dinikmati makanannya.." Ucap Nyonya Kim sambil tersenyum menatapku.
"Tidak apa Nyonya. Terima kasih untuk hidangannya." Jawab Eve dengan tersenyum.
Karena suasana yang sangat tenang dan canggung, aku hanya berani mengambil sedikit dari sekian banyak makanan yang tersedia di atas meja.
Setelah selesai menikmati hidangan utama, beberapa pelayan mulai masuk dan mengambil semua piring dan makanan yang ada disana kemudian beberapa pelayan lain datang dengan membawa beberapa kue dan cake dan menaruhnya di tengah meja besar tersebut.
"Silakan Eve..jangan sungkan.." ucap Nyonya Kim dengan senyumannya yang ramah.
"Terima kasih, tapi saya sudah cukup kenyang Nyonya" tolakku dengan tersenyum tipis.
"Jadi Eve berasal dari mana?" tanya Tuan Kim dengan sopan.
"Saya berasal dari Indonesia Tuan."
Setelah itu begitu banyak pertanyaan mereka hingga tidak terasa sudah dua jam lebih waktu telah berlalu.
"Maaf Tuan, Nyonya, Jasmine..tapi saya sudah harus pulang karena hari sudah mulai larut dan masih ada pekerjaan yang harus saya lakukan di gereja."
"Lain kali berkunjung lagi ya Eve.." ucap lembut Nyonya Kim.
"Terima kasih Nyonya, Tuan. Saya pamit.." ucapku sambil berdiri dan mulai berjalan ke arah pintu depan.
"Supirku yang akan mengantarmu Eve" sahut Jasmine.
"Tidak usah repot Jasmine. Saya bisa pulang sendiri."
"Sudah mulai larut. Lebih baik supir yang antar Eve." Ucap Tuan Kim sambil menganggukan kepalanya.
"Kalau begitu maaf saya merepotkan. Terima kasih Tuan, Nyonya." Sambil menundukkan sedikit kepalaku seraya berterima kasih atas kebaikan mereka.
"Bye Jasmine."
"Bye Eve."
Setelah Eve meninggalkan rumah kediaman keluarga Kim, Jasmine banyak menceritakan tentang Eve kepada kedua orangtuanya.
"Jadi dia tidak tahu tentang kakak kamu?" tanya Nyonya Kim kepada Jasmine.
"Ia Ma. Dia benar-benar tidak tahu tentang keluarga kita. Seandainya saja dia bukan orang luar, sudah aku jodohkan dia untuk Kakak."
"Mama setuju sayang..dia anak yang baik."
__ADS_1
"Papa juga setuju kan?" Jasmine memandang ke arah Tuan Kim yang duduk sambil membaca korannya.
"Papa setuju saja. Tapi sepertinya dia bukan tipe Kakakmu. Lagipula, kenapa kalian berandai-andai untuk hal yang mustahil seperti ini."
"Pa..tidak ada yang mustahil.." jawab Nyonya Kim dengan lembut sambil tersenyum ke arah Jasmine.
"Benar." jawab Jasmine dengan tegas.
° ° °
Sementara itu David sedang sibuk melakukan sesi pemotretan di sebuah lokasi.
"Okey. selesai. Sangat bagus David!" Ucap sang fotografer.
"Terima kasih semua nya." Sambil mengucapkan itu David berjalan melewati para kru dan staf dan masuk ke dalam ruang ganti baju.
Ketika selesai mengganti bajunya, David pun berpamitan kepada panitia disana dan segera masuk ke dalam mobil pribadinya yang terparkir di luar gedung pemotretan.
Ting!
Sebuah pesan masuk ke ponsel David dan dia pun memeriksanya.
"Cantik. Tapi bukan selera Kakak." Balas David singkat.
Ting!
"Foto pertama itu foto jaman dulu Kak. Yang ini fotonya dia yang sekarang. Gimana? Lebih cantik?" tanya Jasmine lagi dalam pesannya.
"Cantik. Tapi tetap bukan tipe Kakak." Jawab David lagi.
Ting!
"Lalu tipe Kakak itu yang bagaimana?" Jasmine mengirim pesan lagi.
"Seksi." Ketik David sambil tersenyum sendiri dalam mobilnya.
Ting!
"Seksi yang bagaimana? Spesifik dong jelasinnya."
"Astaga, anak satu ini kenapa sih dari tadi nanya hal beginian?" Gerutu David di dalam mobilnya.
"Seksi itu langsing, body nya bagus and perut rata. Muka nya tirus ga bulet. Sudah? Kakak mau pulang." Tulis David dalam pesan balasannya.
__ADS_1
Ting!
"Ya elah, nih anak apa lagi sih."
"Pulang ke mana?" tanya Jasmine dalam pesannya lagi.
"Ke rumah Kakak lha." Balas David.
Ting!
"Ampun daah Jasminee" Gerutu David sambil membaca pesan dari adiknya lagi.
"Mama tanya, kapan Kakak pulang ke rumah?" Isi pesan Jasmine.
"Kakak usahakan dalam waktu dekat." Balas David yang kemudian mulai melajukan mobilnya pergi meninggalkan lokasi itu.
Sementara itu di rumah Nenek keluarga Kim..
"Bagaimana sekretaris Jang? Apa kau sudah menemukannya?" tanya Nenek Kim kepada seorang pria tua yang berdiri di belakangnya.
"Belum Nyonya Besar. Detektif yang mencarinya sedikit mengalami kesulitan karena keluarga mereka pindah dari sana setelah kejadian tersebut. Jadi perlu beberapa waktu lagi untuk mencari tahu keberadaan mereka." Jelas pria tua itu.
"Pindah? Apa detektif itu sudah menemukan jejak kemana mereka pindah?" tanya sang Nenek lagi sambil berjalan menuju kursi kerjanya.
"Sudah Nyonya Besar. Mereka sekeluarga pindah ke Indonesia."
"Bagus. Terus lanjutkan dan percepat penyelidikan." ucap sang Nenek.
"Baik Nyonya Besar." Jawab pria tua itu sambil menundukkan kepalanya lalu berjalan ke luar ruangan.
"Suamiku...semoga keputusan yang ku ambil ini bisa membuatmu bahagia disana sekarang." Gumam sang Nenek sambil memandang foto mendiang suaminya yang ada di atas meja kerjanya.
Sang Nenek teringat kembali saat sang suami memberitahunya tentang janji pernikahan itu seminggu sebelum sang suami meninggal dunia.
"Sayang..bagaimana bisa kamu melanggar tradisi kita?" Ucap sang Nenek kepada suaminya yang terbaring lemah di atas ranjang.
"Kala itu aku hanya berpikir untuk membalas budi mereka. Karena mereka lah aku bisa kembali kepadamu dengan selamat saat itu. Aku tidak mau tidak bisa kembali berkumpul denganmu dan anak kita yang masih berusia 3 tahun. Melihat keluarga mereka yang harmonis dan putra mereka yang sudah berusia 15 tahun saat itu, aku benar-benar ingin bisa kembali ke Korea dan melihat putra kita bertumbuh hingga menjadi dewasa." Ucap sang suami menjelaskan.
"Kenapa baru sekarang kamu menceritakan ini kepadaku? Setelah berpuluh-puluh tahun lamanya.."
"Selama ini aku memendam karena aku takut melanggar tradisi leluhur kita. Tapi perasaan bersalahku sekarang menjadi semakin besar..janji itu seperti sebuah batu besar yang menindih hati dan mengganggu pikiranku setiap saat. Mungkin karena umurku sudah dekat.."
"Sayang..jangan dipikirkan lagi. Lebih baik sekarang istirahat supaya cepat sembuh.."
Ingatan sang Nenek kemudian beralih ke detik-detik saat sang suami menghembuskan nafas terakhirnya.
"Sayang..bantu aku - menepati janjiku pada - keluarga itu - hutang budiku pada - mereka..." Ucap sang suami dengan nafas terputus-putus kepada istrinya yang menangis di sampingnya.
"Sayang..jangan bicarakan ini lagi" jawab istrinya sambil memegang tangan suaminya erat-erat namun sang suami telah menutup mata dan menghembuskan nafas terakhirnya.
Mengingat hal itu, sang Nenek menangis di ruang kerjanya. Padahal sudah bertahun-tahun sejak kepergian suaminya. Tapi semua terasa masih nyata bagi sang Nenek.
__ADS_1