Calon Suamiku Teman Idolaku

Calon Suamiku Teman Idolaku
Anggap Saja Impas


__ADS_3

"AAAAA! Bagaimana ini? Aku kan ga tau kode pintu ini. Ponsel ponsel. Aku harus telpon David untuk tanya-- ah iya..aku kan ga tau nomornya.." Ucap Eve sambil menghela nafas panjang.


"Jasmine. Ya, aku harus telpon Jasmine dan tanya nomor David." Seru Eve sambil merogoh saku celana jeans nya.


"AAAA! Ponselku di tas!!" Teriak Eve saat menyadari kebodohannya telah meninggalkan ponselnya di dalam tasnya yang ada di dalam kamarnya.


° ° °


"Apa..? Jadi hadiah semalam tidak Eve pakai? Kamu yakin Nak?" Tanya Nyonya Kim pada Jasmine yang sedang duduk di samping sang Nenek.


"Sepertinya begitu Ma..karena mereka tidak terlihat mesra padahal sudah melewati malam pertama. Jasmine curiga jangan-jangan mereka tidak melakukan malam pertama." Jawab Jasmine sambil menopang dagunya.


"Nenek rasa juga begitu..."


"Kalau begini terus kapan mereka bisa punya anak..? Ini tidak bisa di biarkan. Mama akan kirim mereka untuk bulan madu secepatnya."


"Sekretaris Jang. Tolong siapkan bulan madu untuk David dan Eve ke Eropa segera." Perintah sang Nenek pada sekretaris pribadinya.


"Baik,Nyonya Besar." Jawab Sekretaris Jang yang berdiri tidak jauh di belakang kursi sang Nenek.


"Tapi Bu..David pasti memiliki jadwal yang tidak bisa di tunda. Apa tidak lebih baik kita tanyakan dulu kapan dia ada jadwal kosong..?" Ucap Nyonya Kim dengan pelan.


"Ah benar juga..kalau begitu kalian tanyakan padanya segera lalu beritahukan pada Sekretaris Jang supaya bisa segera diatur olehnya." Jawab sang Nenek.


"Jasmine akan telpon Kak David sekarang." Sahut Jasmine dengan penuh semangat.


🎵🎶🎵🎶🎵


"Hallo Kak David? Nenek dan Mama mau bicara, tunggu sebentar akan Jasmine loudspeaker." Ucap Jasmine yang langsung menaruh ponselnya di atas meja dan menyalakan pengeras suara pada ponselnya.


"Ada apa? Kakak masih harus lanjut rapat dengan yang lain, jadi tidak bisa bicara lama." Jawab David.


"David..apakah dalam waktu dekat ini kamu ada jadwal kosong Nak? Berapa hari..?" Tanya Nyonya Kim.


"Ada apa Ma? Hari Sabtu depan David akan pulang sampai hari Selasa."


"Sungguh? Baguslah kalau begitu..ya sudah kamu lanjutkan rapatmu Nak." Ucap Nyonya Kim yang terlihat senang mendengar jawaban David sebelum mengakhiri panggilannya.


Setelah mendengar hal itu, sang Nenek dan Nyonya Kim serta Jasmine saling memandang dan tersenyum penuh arti seolah hendak merencanakan sesuatu.


Sementara itu di tempat kerja David...


"Ada apa dengan mereka? Sebegitu kangennya mereka pada cewek manyun itu? Bukannya baru tadi pagi mereka berpisah? Ckss...para wanita memang sulit di pahami." Gumam David sambil menggelengkan kepala lalu berjalan masuk ke dalam sebuah ruangan.


Hari itu rapat David dan para anggota lainnya cukup lama sehingga jam latihan dance mereka pun selesai lebih malam dari biasanya.

__ADS_1


Sesampainya David di depan rumah, betapa terkejutnya dia melihat seseorang di depan pintunya sedang terduduk memeluk kedua lututnya.


"Siapa?" Gumam David saat membuka pintu mobilnya hendak berjalan mendekati orang itu.


"Eve??" Teriak David saat melihat ternyata orang itu adalah Eve.


"Apa yang kamu lakukan di luar?" Tanya David sambil memegang kedua lengan Eve.


Badannya panas? Batin David saat dia menyadari badan Eve yang panas dan menggigil hampir tak sadarkan diri.


Dengan cepat David langsung membuka pintu dan menggendong Eve masuk ke dalam kamarnya.


"Ma..." panggil Eve dengan suara lirih.


"Eve? Apa kamu bisa mendengarku? Eve?"


"Ma....sakit..." Airmata Eve mulai jatuh melalui sudut matanya.


David yang terenyuh saat melihat airmata Eve mulai menetes, dengan lembut David mengusapnya dan menghapus jejak airmata Eve.


Malam itu David semalaman menjaga dan merawat Eve yang sedang sakit dengan penuh kelembutan.


° ° °


"Ma......"


"Peluk Ma...." igau Eve sambil membuka kedua lengannya seolah siap untuk dipeluk.


"Bangun Eve!" Teriakan itu berubah menjadi suara David yang membuat Eve terkejut dan langsung membuka kedua matanya.


"Kyaaaaaa!!" Teriak Eve saat melihat wajah David berada sangat dekat di hadapannya.


"Kamu sudah sadar?" Tanya David sambil duduk di kursi yang ada di samping tempat tidur.


"A-apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu ada disini?"


"Seharusnya aku yang bertanya padamu! Apa yang kamu lakukan di luar semalam? Sudah berapa lama kamu duduk di luar? Apa kamu mau mati kedinginan di luar sana??" Ujar David dengan sedikit emosi.


"M-maafkan aku..kemarin sore aku lapar sedangkan di rumah tidak ada beras ataupun nasi. Karena itu aku ke luar untuk membelinya. Tapi saat sudah di luar aku baru ingat kalau aku tidak tau nomor sandi rumahmu." jelas Eve sambil berusaha mengambil posisi duduk.


"Lalu kenapa tidak menelponku untuk bertanya??" Tanya David dengan nada sedikit kesal.


"Aku meninggalkan ponselku di dalam tas. Lagipula..a-aku tidak tau nomor ponselmu." Jawab Eve tertunduk malu.


"Hh...sudahlah. Aku ga mau berdebat dengan orang sakit." Dengan lembut David memeriksa panas badan Eve dengan menempelkan telapak tangannya ke kening Eve.

__ADS_1


Sontak itu membuat Eve terkejut dan reflek memundurkan kepalanya sedikit ke belakang.


"Ckss. Jangan gerak." Kata David.


"Demamnya sudah turun. Syukurlah."


KREOOOOOOK


Keduanya saling bertatapan saat mendengar bunyi perut keroncongan yang sangat keras itu.


Eve yang malu karena perutnya itu langsung menutup seluruh wajah dan badannya dengan cover bed.


"M-maaf..perutku lapar." Ucap Eve dengan pelan.


"Aku sudah memesan bubur untukmu. Tunggulah sebentar lagi."


"T-tunggu sebentar. Bagaimana aku bisa memakai baju tidur ini?" Tanya Eve yang kaget saat menyadari bahwa pakaiannya berbeda dengan yang kemarin dia kenakan.


"Ah itu...." David yang terlihat bingung mulai mengalihkan pandangan matanya seraya tidak berani melihat ke arah Eve yang sedang menatapnya dengan mata yang membulat.


"Jangan bilang....k-kamu yang menggantikannya?" tanya Eve lagi.


"Aku tidak punya pilihan. Semalam kamu berkeringat dan demam tinggi, karena pakaianmu basah jadi harus di ganti." Jawab David.


"Ja-jadi kamu melihat semuanya?" Tanya Eve sambil menyilangkan kedua tangannya di dadanya.


"Ha-hanya bagian atas saja!" Jawab David.


"Dasar mesuuuuum!" Teriak Eve sambil memukul-mukulkan bantal ke arah David.


"Heiiiiy! Itu bukan keinginanku! Aku terpaksa melakukan itu karena kamu sakit!" Teriak David yang berusaha menghentikan pukulan bantal dari Eve.


"Tetap saja!"


"Hentikan! Bukannya kamu juga pernah melihatku bertelanjang dada? Anggap saja kita impas!"


"Iishh. Dasar cowok mesuuum!" Eve melanjutkan pukulan bantalnya.


"Stop!! Hentikan." Teriak David yang berhasil menahan bantal Eve dengan menempelkannya di dada Eve sehingga wajah mereka berdua sangat dekat.


"Maafkan aku, tapi semalam itu aku terpaksa okey?" ucap David dengan pelan.


TING TONG


"Seharusnya itu makananmu yang datang. Tunggu sebentar di sini." Ucap David sambil beranjak dari tempat tidur dan berjalan ke luar kamar.

__ADS_1


Dia melihat semuanya? Aku sangat malu. Ditambah lagi kemarin aku tidak pakai pakaian dalam yang bagus. Kyaaaa. Sungguh memalukaaan.


Jadi malunya karena itu toh Eve? Tau gitu pake aja lingerie hadiah dari mama mertua🤣🤣


__ADS_2