Calon Suamiku Teman Idolaku

Calon Suamiku Teman Idolaku
Supaya Otakmu Bersih


__ADS_3

Hari keberangkatan David dan Eve ke Paris pun tiba. Perjalanan bulan madu yang di siapkan oleh keluarga David yang semula hanya untuk David dan Eve itu berubah menjadi liburan untuk semua anggota grup David.


David yang tidak ingin melakukan bulan madu itu diam-diam meminta manajernya untuk mengundang anggota yang lain ikut dalam perjalanan mereka ke Paris.


"Siapa yang bersamamu ini David?" Tanya sang Manajer saat mereka semua sudah berkumpul di villa keluarga David di Paris.


"Ah ini Eve, sepupu jauhku. Orangtuaku menyuruhnya ikut berlibur sekaligus menjadi asisten pribadiku." Jawaban David yang membuat Eve terkejut mendengarnya.


"Mana yang lain?" Tanya David saat melihat Alden dan Sparke tidak ada dalam rombongan.


"Biasa..." Jawab sang Manajer.


"Hallo..senang bertemu denganmu Eve." Ucap sang Manajer sambil mengulurkan tangan kanannya ke arah Eve untuk berjabat tangan.


"Hallo..senang bertemu denganmu juga." Jawab Eve yang membalas sang Manajer dengan senyuman dan menjabat tangannya.


Sesaat kemudian kedua mata Eve langsung membulat dan berdiri mematung. Sang Manajer yang melihatnya terheran hingga menoleh ke arah belakangnya untuk mencari tahu apa gerangan yang membuat Eve sampai terkejut seperti itu.


"A-A-Alden." Ucap Eve dengan terbata-bata.


"I-itu Alden." Sahutnya lagi.


"Benar. Itu Alden dan Sparke. Apa kalian saling kenal?" Tanya sang Manajer dengan kebingungan.


"Tidak, mereka tidak saling kenal." Jawab David yang berdiri di sebelah Eve.


"Alden, kemarilah." Panggil sang Manajer yang melambaikan tangannya ke arah Alden.


"Ada apa?" Tanya Alden yang berjalan mendekati sang Manajer.


Eve yang masih terkejut itu hanya bisa menutup bibirnya dengan kedua tangannya. Kedua bola matanya hampir tidak terlihat karena airmata bahagianya mulai menggenang di kedua matanya.


"Alden, kenalkan, ini Eve." Ucap David yang tersenyum karena hendak mengganggu Eve yang terlihat masih tidak percaya dengan kejutan yang David siapkan untuknya itu.


"Hallo Eve.." Ucap Alden yang tersenyum sambil mengulurkan tangan kanannya untuk berkenalan dengan Eve.


Lalu tiba-tiba..


"EVE?!!"


David yang terkejut melihat Eve yang berdiri di sebelahnya tiba-tiba tumbang langsung reflek berteriak memanggil namanya dan meraih tubuh Eve yang hampir saja menyentuh lantai.

__ADS_1


"Eve?? Buka matamu Eve!" Teriak David yang mulai ketakutan karena melihat Eve pingsan di dalam pelukannya.


"Apa dia baik-baik saja?" Tanya sang Manajer yang juga terkejut melihat kejadian itu.


"Bro, bawa dia ke kamarnya." Ucap Alden yang hendak berusaha membantu mengangkat Eve.


"Biar aku saja." Jawab David yang menepiskan tangan Alden yang memegang bahu Eve lalu langsung mengangkat dan menggendong Eve layaknya seorang putri tidur.


Alden dan sang Manajer yang terkejut melihat David pergi sambil menggendong Eve ke arah kamar hanya bisa terdiam dan saling memandang.


Para anggota lain yang melihat kejadian itu juga mulai menghampiri Alden dan sang Manajer yang masih berdiri di tengah ruangan itu.


"Siapa cewek itu?" Tanya Sparke pada Alden sambil menepuk bahunya.


"Aku tidak tahu. Aku juga bingung." Jawab Alden.


"Namanya Eve. Dia sepupu jauh David." Sahut sang Manajer.


"Ckss. Hanya sepupu jauh? Kenapa David terlihat sangat melindungi gadis itu?" Gumam Alden yang masih kebingungan dengan sikap David yang menolak bantuannya tadi.


"Sepertinya karena orangtua David yang memintanya melindungi Eve." Jawab sang Manajer.


"Kenapa dia pingsan?" Tanya Sparke lagi.


"Aku tidak melakukan apa-apa" Jawab Alden.


"Mungkin dia kelelahan karena perjalanan jauh." Jawab sang Manajer sambil menepuk bahu Alden.


"Ayo ayo, bawa barang-barang bawaan kalian masing-masing ke dalam kamar." Ucap sang Manajer sambil menepuk-nepukan telapak tangannya lalu mereka pun mulai mengambil koper mereka masing-masing.


Di villa milik keluarga Kim yang sudah di siapkan oleh Nyonya Kim itu terdapat dua bangunan. Satu bangunan yang berisikan 2 buah kamar di tempati oleh David dan Eve, sedangkan para anggota lain dan sang Manajer menempati satu bangunan lain yang berisikan 3 buah kamar.


° ° °


"Bagaimana kondisi Eve sekarang?" Tanya sang Manajer yang datang mengunjungi tempat David.


"Masih belum sadar." Jawab David dengan singkat.


"Sepertinya dia kelelahan karena perjalanan jauh. Aku akan bawa anak-anak untuk makan malam di luar. Apa kamu mau ku pesankan makanan pesan antar?"


"Aku akan pesan sendiri nanti. Kalian bersenang-senanglah. Maaf aku tidak bisa ikut kalian."

__ADS_1


"Heiy..kenapa harus minta maaf? Justru aku yang tidak enak karena meninggalkan tuan rumah dalam kondisi sepupumu seperti ini."


"Tidak apa-apa. Aku sendirian bisa menjaganya. Selamat bersenang-senang." Ucap David dengan senyuman tipisnya menghantar sang Manajer keluar dari ruangan.


Setelah sang Manajer dan yang lainnya pergi ke luar, David duduk di sofa yang ada di tengah ruangan dan memesan makanan pesan antar.


"M-maafkan aku..." Dari balik pintu kamar terdengar suara lirih Eve yang menatap David dengan sendu.


"Kamu sudah sadar kucing manyun?" Sahut David yang terkejut melihat Eve berdiri di balik pintu kamarnya dengan wajah yang memelas.


"Aku sudah tidak apa-apa. Kamu susul saja mereka, aku bisa menjaga diriku sendiri."


"Bagaimana perasaanmu sekarang? Pusing? Ayo cepat kembali berbaring di kasurmu." Ujar David sambil menuntun Eve ke arah tempat tidurnya.


"Apa kamu kelelahan karena perjalanan tadi? Atau kamu memang sedang tidak sehat?" Tanya David yang duduk di tepi ranjang Eve.


"A-aku....se-sepertinya karena aku terlalu bahagia bisa melihat Alden sedekat itu tadi." Jawab Eve dengan gugup.


"Hah?" David tercengang mendengar jawaban lugu dari Eve.


"I-iya...tadi aku sepertinya lupa bernafas karena mendengar suara Alden dan melihatnya tersenyum di depanku seperti itu." Jawab Eve dengan malu-malu.


"Jadi hanya karena itu kamu pingsan??" Pekik David yang merasa heran dengan jawaban penyebab Eve pingsan tadi.


"Bagaimana ini....?" Tanya Eve dengan kedua alisnya yang melengkung menatap David dengan tatapan memelas.


"Apanya yang bagaimana?" Tanya David dengan heran.


"Aku pasti sangat memalukan tadi. Bagaimana kalau Alden menilaiku buruk karena aku pingsan di pertemuan pertama kami?"


PLETAK!


"Aww!" Teriak Eve yang kesakitan karena David menyentilkan jarinya di tengah kening Eve.


"Kenapa kamu menyentilku? Sakit tau!" Pekik Eve sambil mengusap dahinya dan menatap David dengan kesal.


"Supaya otakmu bersih dari Alden! Dari baru sadar yang kamu ingat dan kamu bicarakan cuma Alden dan Alden saja. Apa kamu sadar kamu sudah membuat orang kuatir?" Ucap David dengan nada yang terdengar sedikit kesal.


"Mm..maaf sudah membuatmu kuatir..tapi aku tidak bermaksud begitu. Lagipula, aku hanya menjawab pertanyaanmu tadi." Jawab Eve yang memanyunkan bibirnya sambil terus mengusap dahinya.


"Bukan aku yang kuatir. Manajerku yang kuatir tadi." Jawab David yang langsung berdiri karena gugup.

__ADS_1


"Istirahatlah dulu. Aku sudah pesankan makan malam untuk kita. Nanti akan kupanggil kalau sudah siap." Ucap David yang bergegas ke luar dari kamar Eve.


Kenapa aku harus merasa kesal saat mendengarnya pingsan hanya karena melihat Alden? Batin David yang bersandar di depan pintu kamar Eve setelah menutupnya dengan buru-buru.


__ADS_2