
Setelah kepergian sang suami, bertahun-tahun sang Nenek memendam perihal permintaan terakhir suaminya mengenai hutang budi itu. Dengan alasan yang sama, sang Nenek juga ingin mempertahankan tradisi leluhur. Namun sang Nenek sekarang bisa mengerti apa yang mendiang suaminya rasakan. Janji itu seperti bongkahan batu besar yang menindih hati dan terus menggerogoti pikirannya dengan perasaan bersalah. Karena itulah sekarang dia ingin menepati janji tersebut.
"Suamiku...tolong bantu aku untuk menemukan keberadaan mereka." Tetesan air mata sang Nenek atuh mengalir di kedua pipinya saat dia memejamkan kedua matanya.
Beberapa lama kemudian..
Tok Tok Tok
"Nyonya Besar. Makan siang sudah siap." Terdengar suara sekretaris Jang dari luar pintu ruang kerja sang Nenek.
Hening.......
Tok Tok Tok
"Nyonya Besar? Makan siang sudah siap."
Hening.......
Cklek..!
Sekretaris Jang membuka pintu ruang kerja sang Nenek karena tidak ada jawaban dari dalam.
"Saya masuk Nyonya Besar. Makan si---"
"Nyonya Besar?!!" Teriak Sekretaris Jang ketika melihat sang Nenek terkulai dengan posisi miring di kursi kerjanya.
Dengan segera Sekretaris Jang memeriksa keadaan sang Nenek dan mengambil ponsel.
"Dokter Lee, Nyonya Besar tidak sadarkan diri. Tolong segera datang." ucap Sekretaris Jang saat menghubungi dokter keluarga.
Beberapa saat kemudian..
"Dokter Lee, bagaimana keadaan Ibu saya?" tanya Tuan Kim yang datang setelah di hubungi oleh Sekretaris Jang.
"Nyonya Besar akan baik-baik saja setelah beristirahat. Saya akan berikan resep agar kondisinya bisa segera pulih."
"Terima kasih Dokter Lee."
"Saya permisi Tuan, Nyonya."
"Saya akan mengantar Dokter." Ucap Sekretaris Jang sambil mempersilakan Dokter Lee.
"Ibu sudah sadar...?" tanya Nyonya Kim saat melihat sang Nenek membuka mata.
"Ibu baik-baik saja.." jawab sang Nenek dengan suara lirih.
"Ada apa Bu?" tanya Tuan Kim yang berdiri di sebelah ranjang sang Nenek.
__ADS_1
"Ibu hanya teringat tentang Ayahmu..tentang permintaan terakhir Ayahmu.."
"Ibu sangat takut kalau sampai mereka tidak bisa ditemukan lagi karena sudah terlalu lama...bagaimana ibu mempertanggung jawabkannya kepada Ayahmu nanti.."
"Ibu jangan kuatir, saya akan sewa detektif lain untuk membantu penyelidikan."
"Ibu istirahat saja Bu.."
° ° °
Di waktu yang bersamaan..
"Melelahkan..." Keluh David saat baru saja tiba di rumahnya.
Ting!
Ponsel David berbunyi dan dia memeriksanya.
"Kak, Nenek barusan pingsan! Papa Mama sudah berangkat ke rumah Nenek." Isi pesan Jasmine.
David yang sangat kuatir setelah membaca pesan itu langsung menelpon ponsel Ibunya untuk mengetahui keadaan sang Nenek.
"Ma, apa Nenek baik-baik saja? Bagaimana kondisi Nenek sekarang?" tanya David dengan nada cemas.
"Dokter Lee sudah memeriksa Nenek dan Nenek sudah tidak apa-apa sekarang. Hanya butuh istirahat.." jawab Nyonya Kim.
"Nenek pasti senang kalau kamu sempatkan waktu..Nenek tadi teringat almarhum Kakek dan tentang janji itu..karena itulah kondisi Nenek kurang baik tadi.."
"Pastikan kamu meluangkan waktumu dalam minggu ini..."
"Ya Ma, akan David usahakan." ucap David sebelum mengakhiri panggilan.
"Hhhh......" David menghela nafas panjang sambil kembali merebahkan diri di atas sofa.
"Menikah..." Gumam David sambil memandang langit ruangan itu.
"Seandainya saja dulu dia tidak mengejar impiannya ke Luar Negeri..pastinya kami sudah menikah..dan pastinya aku tidak perlu memenuhi janji pernikahan yang dibuat oleh Kakek ini."
"Tunggu sebentar. Bagaimana kalau ternyata cucu keluarga itu seorang pria? Jasmine? Hahaha." David menyipitkan matanya dan terlihat ujung bibirnya melengkung ke atas. Saat itu juga dia langsung meraih ponselnya dan menghubungi Jasmine.
"Jasmine, kamu tau kan Kakak ada ikatan janji nikah dengan cucu keluarga teman Kakek? Kalau itu wanita, Kakak harus menikah dengannya..kalau itu pria..berarti siap-siap saja kamu harus menikah dengannya ya. HAHAHAHAHA" David langsung mengakhiri panggilan itu dengan tawa keras.
Ting!
"Jadi Kak David menelponku cuma untuk bilang begitu? Dasar iseeeeeeng!! Jasmine sudah punya pacar!" Tulis Jasmine dalam pesannya.
"O tidak bisa..janji itu harus ditepati.." jawab David seraya mengganggu adiknya.
__ADS_1
"Tapi Nenek dan Papa Mama tidak ada bilang kalau Jasmine yang harus menikah kalau cucu mereka pria."
"Mungkin mereka lupa...nanti akan Kakak ingatkan kepada mereka.."
"Kak Daviiiiid! Iseng banget sihh!" Teriak Jasmine dengan nada kesal dalam pesan suaranya hingga membuat David makin tertawa terbahak-bahak karena telah berhasil mengganggu adiknya itu.
° ° °
Tiga hari kemudian..
"Sudah di temukan?" ucap Tuan Kim saat menerima telepon dari seseorang.
"Kalian pergi dan laporkan ke kediaman Nyonya Besar sekarang. Saya juga akan kesana sekarang."
"Ada apa Pa?" tanya Nyonya Kim yang sedang duduk di sebelahnya.
"Ayo berangkat ke rumah Ibu. Mereka sudah menemukan jejak anak itu."
Sesampainya Tuan dan Nyonya Kim di kediaman sang Nenek, mereka sudah di tunggu oleh dua orang detektif yang telah di sewa oleh keluarga Kim untuk menggali informasi.
"Beritahu kami, dimana mereka berada sekarang?" tanya Tuan Kim kepada kedua detektif yang berdiri di hadapan mereka.
"Sebelum pasangan suami istri tersebut meninggal dunia karena kerusuhan besar saat itu, mereka menitipkan putra tunggal mereka kepada seorang kepercayaan di kediaman mereka dan mengirimkan mereka ke negara lain."
"Kemana?" tanya sang Nenek.
"Indonesia." jawab salah satu detektif itu.
"Lalu? Apa kalian sudah menemukannya?" tanya Tuan Kim.
"Sudah Tuan. Putra mereka di asuh sebagai anak oleh pekerja orangtuanya itu dan nama anak tersebut diubah menjadi nama Indonesia demi keamanan dan kemudian menikah dengan wanita asal Indonesia dan memiliki seorang putri. Nama putri mereka adalah Lin Mei Hua." Para detektif itu menceritakan secara bergantian.
"Lin...sesuai marga teman Ayahmu." Ucap sang Nenek sambil memegang lengan Tuan Kim.
"Lalu apa kamu sudah menemukan dimana mereka tinggal?" tanya Tuan Kim lagi.
"Sayangnya setelah pekerja orangtuanya meninggal dunia, putra keluarga itu dengan anak dan istrinya ditipu oleh istri dan anak-anak pekerja itu. Semua harta keluarga yang seharusnya milik putra itu di alihkan semua ke atas nama anak-anak dari pekerja itu. Kemudian putra keluarga itu beserta anak dan istrinya mengalami keadaan yang sulit hingga mereka berdua meninggal dan hanya tinggal putri mereka seorang diri."
"Lalu dimana keberadaan putri mereka sekarang?"
"Putri tunggal mereka sekarang tinggal di Korea tidak lama semenjak kematian ibunya."
"Di Korea?" tanya sang Nenek, Tuan dan Nyonya Kim bersamaan.
"Benar. Dia adalah pekerja di sebuah gereja di daerah ini. Nama Indonesia nya adalah Eve, Eve Lin." Detektif itu memberikan sebuah foto kepada sang Nenek.
"Eve Lin? Dimana aku pernah mendengar nama ini?" Gumam Tuan Kim yang merasa tidak asing saat mendengar nama tersebut.
__ADS_1
"Pa. Bukankah itu adalah nama teman baru Jasmine yang berasal dari Indonesia?" ucap Nyonya Kim sambil memegang lengan suaminya yang duduk di sebelahnya.