Calon Suamiku Teman Idolaku

Calon Suamiku Teman Idolaku
Jasmine


__ADS_3

"Ma, apa aku tidak salah dengar? Nenek menyuruhku untuk menikah tidak sesuai tradisi hanya karena janji Kakek?" tanya David setelah mendengar tentang janji pernikahan itu.


"David, memang karena janji Kakek, tapi kami juga berpikir bahwa sudah waktunya kamu untuk memiliki pasangan dan menikah. Papa dan Mama ingin segera menggendong cucu, begitu juga dengan Nenek yang ingin segera melihat cicit."


"Kalau begitu kenapa tidak ijinkan saja aku menikah dengan wanita pilihanku?"


"David, kamu akan segera menikah setelah cucu teman Kakek ditemukan. Tidak ada bantahan." ucap sang Ayah.


"Apa kalian sudah yakin bahwa cucu teman Kakek itu adalah seorang wanita? Kalau ternyata pria, itu artinya aku boleh menikah dengan wanita pilihanku sendiri meskipun tidak sesuai tradisi?" David bertanya dengan antusias, berharap orangtuanya menjawab setuju.


"Tidak. Di luar untuk memenuhi permintaan terakhir Kakek, kamu tetap harus menikah sesuai tradisi keluarga. Keputusan kami sudah bulat." Ujar sang Ayah dengan tegas.


Sejak kecil David adalah anak yang selalu patuh terhadap orangtuanya. Keluarga mereka adalah keluarga yang harmonis dan bahagia. Bahkan David sangat mengidolakan kedua orangtuanya.


Karena orangtuanya mengatakan itu adalah keputusan bulat, David tidak bisa menolak walaupun di dalam hatinya dia merasa ini cukup mengejutkan baginya.


Sejak dulu keluarga David sangat memegang teguh adat dan tradisi, karena itu David cukup terkejut karena baru kali ini keluarga mereka melenceng dari tradisi. Bahkan untuk urusan yang sangat penting yaitu pernikahan.


° ° °


Beberapa hari telah berlalu, Eve sudah berada di Korea dan tinggal di sebuah kamar yang di sediakan di belakang taman yang terletak di samping gereja tempat dia akan bekerja.


Eve tidak banyak berkomunikasi dengan sekelilingnya, tapi dia rajin dan sangat memperhatikan para tua-tua yang melakukan ibadah di gereja tersebut sehingga dalam waktu singkat dia menjadi kesayangan kepala pendeta dan para pekerja lainnya.


Hari Minggu itu seperti biasa orangtua Jasmine datang untuk beribadah di gereja yang ternyata adalah gereja tempat dimana Eve bekerja. Karena wajah Eve yang oriental dan terlihat jelas bukan warga Korea, banyak orang yang memperhatikannya termasuk orangtua Jasmine yang adalah donatur terbesar di gereja itu.


Eve termasuk wanita yang tidak suka membeda-bedakan orang. Dengan tulus dia memperhatikan setiap orang yang hadir beribadah disana, terutama terhadap para tua-tua. Karena bagi Eve yang sudah yatim piatu itu, Eve menganggap mereka semua seperti orangtuanya sendiri.


Siang itu di taman gereja..


"Wah Nak Jasmine sekarang sudah jadi wanita dewasa yang cantik sekali.."


"Betul ya..sudah waktunya berkeluarga lho.."


"Betul, betul, Nak Jasmine..anak Bibi seumuran dengan Nak Jasmine. Kapan-kapan Bibi ajak ke rumah Nak Jasmine supaya kalian bisa berkenalan ya"

__ADS_1


"Anak Bibi juga cuma beda 1 tahun sama Nak Jasmine..kapan-kapan Bibi berkunjung ya"


"Apa orangtua Nak Jasmine sering di rumah? Kapan-kapan Bibi berkunjung sama anak Bibi juga ya"


Di tengah taman itu terlihat beberapa wanita paruh baya yang sedang sibuk menyapa seorang gadis muda. Dari raut wajah gadis itu sangat terlihat kalau dia tidak nyaman dengan situasi itu, tapi karena jalannya di halangi oleh para wanita paruh baya itu, gadis itu tidak bisa pergi dari tempat itu dan hanya bisa memasang wajah tersenyum canggung.


"Permisi Nona..maaf kalau saya mengganggu, tapi orangtua nona sudah menunggu anda untuk kembali." Ucap Eve sambil tersenyum menatap ke arah gadis muda yang ada di hadapannya itu, berharap gadis itu mengerti maksud Eve yang hendak berusaha menyelamatkannya dari kepungan para ibu itu.


"Ah terima kasih sudah memberitahu. Kalau begitu saya permisi dulu.." Kata gadis itu sambil berjalan melewati para ibu itu.


"Ah ya, cepat kesana Nak Jasmine, jangan sampai Tuan dan Nyonya Kim menunggu lama."


"Benar, benar, sampaikan salam kami kepada mereka ya Nak Jasmine."


Saat berjalan ke arah Eve, gadis itu menatapnya sambil menggerakkan bibir tanpa mengeluarkan suara seraya mengucapkan terima kasih, lalu membungkukkan sedikit kepalanya dan berjalan ke arah pintu luar.


"Nak, apa kamu mengenal keluarga mereka?" tanya salah seorang ibu tadi.


"Tidak Nyonya, saya hanya seorang pekerja di gereja ini. Saya permisi Nyonya.." ucapku sambil tersenyum dan pergi meninggalkan para ibu itu.


° ° °


Setelah ibadah selesai sudah kewajiban kami para pekerja untuk berberes merapikan semua perlengkapan setelah ibadah selesai dan membersihkan ruangan ibadah.


"Hi, apa kamu masih mengingatku?" ucap seseorang yang berdiri di depanku saat aku sedang membersihkan meja altar.


Ternyata itu adalah gadis muda yang minggu lalu kulihat di tengah taman gereja.


"Hallo, Nona yang minggu lalu di taman? Maaf kalau minggu lalu saya sudah berlaku tidak sopan menyela pembicaraan kalian." Ucapku dengan sedikit membungkuk seraya meminta maaf pada gadis itu.


"Tidak, tidak. Justru saya yang harus berterima kasih karena sudah membantu saya terlepas dari para Bibi itu. Namaku Jasmine, dan namamu?" ucap gadis itu sambil mengulurkan tangan kanannya.


"Eve" sahutku sambil menjabat tangannya.


"Apa kamu pekerja baru disini? Sepertinya kamu bukan asli sini, dari mana kamu berasal?" tanyanya.

__ADS_1


"Benar, saya berasal dari Indonesia dan baru pindah kesini 3 minggu yang lalu."


"Apa kamu mengenal keluarga saya Eve? Ah, bukan bermaksud buruk, hanya saja sejak minggu lalu saya penasaran bagaimana kamu bisa tahu waktu itu saya datang bersama orangtua saya?"


"Maafkan saya Nona, saya tidak mengenal keluarga Nona. Saya baru disini dan kebetulan saat minggu lalu pagi itu saya keluar dari taman hendak ke ruang ibadah, saya melihat Nona turun dari mobil yang sama dengan seorang Tuan dan Nyonya, jadi saya mengira mereka adalah orangtua Nona."


"Jangan meminta maaf Eve. Mereka memang orangtuaku. Ah maaf, saya jadi berbicara tidak formal."


"Tidak masalah Nona." Senyumku.


"Panggil saja aku Jasmine." Ucapnya sambil tersenyum.


"Jasmine. Maafkan saya, tapi saya masih harus melanjutkan pekerjaan saya, saya permisi dulu..." ucapku sambil menundukkan sedikit kepalaku dan berjalan masuk ke dalam ruangan pekerja.


Minggu berikutnya, Jasmine kembali menyapaku setelah selesai ibadah dan mengajakku menemaninya di taman karena dia harus menunggu orangtuanya yang sedang berbincang dengan kepala pendeta di dalam ruang kerja bapak kepala.


"Eve, apa kamu mau menjadi temanku?" tanya Jasmine.


"Tentu saja Jasmine." Jawab Eve.


"Kalau begitu kapan-kapan mampirlah ke rumahku. Temani aku berbincang di rumah. Ah atau kita bisa melakukan kegiatan lain di luar rumah." Ucap Jasmine dengan semangat.


"Boleh saja." Jawab Eve.


"Kalau begitu berikan nomormu, aku akan menghubungimu kalau supirku sudah berangkat menjemputmu besok."


"Menjemputku? Besok? Tidak usah merepotkanmu Jasmine. Berikan saja alamat rumahmu dan jam berapa aku bisa kesana, aku bisa kesana sendiri."


"Tapi Eve, akan lebih cepat kalau supirku yang menjemputmu."


"Tidak usah Jasmine. Aku bisa berangkat sendiri. Atau tidak jadi saja aku kesana?" ucapku menyipitkan mata sambil tersenyum.


"Jangan! Baik lah..aku akan berikan alamatku. Tapi janji ya, besok kamu akan datang?"


"Aku janji.." ucapku sambil tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2