
"Waah..pengantin baru sudah turun." Jasmine yang ada di tengah tangga tersenyum dan merangkul lengan Eve saat melihat David dan Eve hendak turun.
"Kakak ipar..apa kamu suka dengan hadiahnya?" Bisik Jasmine sambil tersenyum-senyum.
"Jadi kamu tau tentang itu?" Eve menoleh ke arah Jasmine sambil menyipitkan matanya.
"Tentu saja. Aku yang membantu Mama untuk memilihkan model terbaru itu." Jasmine menaikkan sedikit dagunya seraya bangga akan hal itu.
"Dia tidak perlu pakai begituan." Sahut David yang berjalan tepat di depan Eve.
"Ih Kak David dilarang nguping pembicaraan wanita." Dumel Jasmine.
"Eh tapi tunggu sebentar..tidak perlu pakai?"
"Ah bagaimanapun terima kasih hadiahnya Jasmine.." Sahut Eve sambil tersenyum dan menepuk-nepuk ringan tangan Jasmine yang melingkar di atas lengannya.
"Selamat pagi Nek, Pa, Ma" Sapa Eve saat melihat sang Nenek dan orangtua David yang sudah duduk menunggu di meja makan.
"Pagi sayang.." Jawab Nyonya Kim dengan senyumannya yang lembut.
Pagi itu mereka semua sarapan dengan suasana yang sangat tenang. Sudah lama Eve tidak merasakan suasana makan bersama dengan keluarga, karena itulah rona bahagia terpancar jelas dari raut wajah Eve.
° ° °
"Apa kamu sebahagia itu bisa makan bersama dengan mereka?" Tanya David saat mereka sudah berada dalam perjalanan menuju rumah David.
"Iya..sudah lama aku tidak pernah makan bersama keluarga seperti tadi." Rona wajah bahagia terpancar jelas saat Eve menjawab dengan senyuman.
"Kamu beruntung punya keluarga yang hangat seperti itu..."
"Aku jarang pulang, tapi aku akan usahakan kita bisa pulang lebih lama kalau jadwalku kosong. Biasanya aku hanya akan pulang hari Sabtu sore supaya Minggu kami bisa ibadah pagi."
"Apa aku boleh pergi juga? Maksudku, aku bisa pergi sendiri supaya tidak diketahui orang."
"Tidak masalah." Jawab David setelah sempat terdiam sejenak.
Karena perjalanan menuju rumah David yang cukup jauh, Eve pun mulai tertidur dan terbangun sesaat sebelum mobil masuk ke dalam garasi rumah David.
"Ayo turun. Ini rumahku. Daerah di sini hanya ada beberapa rumah dan jaraknya cukup jauh-jauh. Jadi berhati-hatilah, kalau tidak ada keperluan penting lebih baik hindari ke luar. Jangan sampai media atau orang lain melihatmu keluar atau masuk rumah ini."
"Aku mengerti." Jawab Eve yang mengikuti David masuk ke dalam rumahnya.
__ADS_1
"Apa kamu keberatan kalau aku meminta Bibi Hong berhenti untuk datang?" Ucap David sambil berjalan masuk ke dalam sebuah kamar.
"Bibi Hong?" tanya Eve yang tidak mengerti ucapan David.
"Ah maaf. Bibi Hong pelayan yang setiap hari akan datang untuk membersihkan rumah ini. Setelah pekerjaannya selesai dia akan pulang. Jadi--"
"Tidak apa-apa. Aku bisa membersihkan rumah, jadi tidak perlu merepotkan Bibi Hong."
"Maaf. Bukan bagaimana, tapi akan jadi masalah kalau sampai Bibi Hong melihat ada wanita yang tinggal di rumahku."
"Tidak apa-apa. Aku mengerti. Akan bahaya kalau sampai orang luar mengetahui tentang pernikahan kita."
"Baik lah. Ini kamarmu. Istirahatlah. Aku harus pergi sekarang."
"Lalu kamarmu?" tanya Eve saat David hendak berjalan ke luar pintu kamar.
"Kamarku di atas. Di lantai dua. Kenapa...? Apa kamu mau sekamar saja denganku..?" Tanya David sambil tersenyum seraya menggoda Eve.
"Ih dasar cowo mesum kepedean. Justru aku takut kalau kamarmu terlalu dekat nanti kamu gampang masuk kamarku. Syukurlah kalau kamarmu di atas." Jawab Eve dengan wajah manyunnya yang membuat David terkekeh melihatnya.
"Hahahaha syukurlah kalo kamu berpikir begitu. O ya, aku penasaran dengan isi kotak besar dari Mama tadi." Ucap David yang ke luar dari kamar dan berjalan ke arah meja dapur.
"Ya. Tadi waktu kita mau berangkat Mama memberikan kotak itu, katanya untuk persediaan kita. Mungkin ini bahan makanan. Apa kamu bisa memasak?" tanya David sambil membuka kotak itu.
"Aku hanya bisa memasak masakan yang sederhana saja." Jawab Eve yang berusaha membantu David untuk membuka kotak itu.
BLUSHH
Seketika wajah mereka berdua memerah dan terdiam mematung saat kotak pemberian Nyonya Kim itu terbuka.
GLUP
David yang terkejut itu menelan salivanya dan langsung mengangkat kedua tangannya dari tepi kotak itu. Sedang Eve yang sama terkejutnya seperti David langsung menutup kotak itu.
"Ah kamu mungkin belum tau kalau Mama adalah pemilik perusahaan pakaian dalam wanita." David menjelaskannya lalu mengangkat kotak itu dan berjalan ke arah kamar Eve.
"A-apa yang kamu lakukan?" Tanya Eve yang berjalan mengikuti David.
"Ini persediaan untukmu, jadi tentu saja kutaruh di kamarmu. Kan ga mungkin kutaruh di kamarku?" David menaruh kotak yang berisi penuh dengan lingerie itu di atas meja yang ada di dalam kamar Eve.
"T-tapi--"
__ADS_1
"Aku pergi dulu."
David bergegas ke luar dari kamar Eve dan berjalan dengan cepat ke arah garasi.
Bagaimana bisa Mama memberikan lingerie sebanyak itu? Apa Mama berharap cewek itu mau memakainya setiap hari untuk menggodaku? Tidak, tidak, aku tidak mungkin tergoda melihat cewek yang tidak seksi seperti dia. Batin David saat berusaha menenangkan dirinya dalam mobil sambil mulai melajukan mobilnya.
Eve yang berada sendirian di kamar mendengar suara mobil David yang makin menjauh dari rumah itu.
"Lagi-lagi hanya tinggal aku sendirian.." Gumam Eve sambil membuka kedua kopernya dan mengambil foto kedua orangtuanya.
"Pa..Ma..Eve sudah menikah sekarang. Seandainya saja kalian masih ada..." Ucap Eve dengan suara lirih sambil memeluk foto orangtuanya dan mulai menangis.
Bagaimana tidak? Seorang gadis yang hidup sebatang kara di tempat yang sangat jauh dari tempat asalnya, tanpa sanak keluarga maupun teman, sekarang menikah namun pernikahannya tidak boleh diketahui siapapun.
Eve yang menangis tersedu-sedu mulai merebahkan badannya di atas lantai dingin kamar itu. Lama menangis seorang diri hingga kedua matanya sembab, Eve pun tertidur tanpa mempedulikan rasa dingin dari lantai marmer kamar itu.
Saat terbangun dari tidurnya, dari jendela kamarnya Eve melihat matahari sudah hampir tenggelam.
KREEOOOKK
"Ah. Aku belum makan siang tadi.."
Perut Eve yang lapar mulai mengeluarkan suara dan Eve pun berdiri hendak mencari makanan di dapur.
Saat Eve membuka pintu kulkas mewah yang ada di dapur, isinya hanyalah botol-botol air dan buah-buahan.
"Kulkas besar dan rapi tapi tidak ada makanan.." Keluh Eve sambil mengusap-usap perutnya yang kelaparan.
"Aku laparrr...bagaimana ini? Apa aku beli di luar saja? Tapi aku tidak tau daerah ini."
Tidak bisa menahan rasa laparnya lagi, Eve mengambil sebuah apel merah dari dalam kulkas lalu memakannya.
"Aku pingin nasi... " Keluh Eve yang masih merasakan lapar sambil mengusap perutnya berkali-kali.
Tanpa berpikir panjang, Eve mengambil dompetnya dan memutuskan pergi ke luar untuk membeli makanan.
CEKLEK!
Sesaat setelah Eve ke luar dan menutup pintu rumah itu, mendadak Eve menghentikan langkahnya dan tiba-tiba terdiam mematung.
"AAAAAA!" Teriak Eve sambil membulatkan matanya karena baru tersadar kalau dia tidak mengetahui kode sandi untuk membuka pintu rumah David.
__ADS_1