Captain Agent My Heart

Captain Agent My Heart
episode 10


__ADS_3

Arya sedang fokus menyetir mobilnya sudah keluar dari gerbang depan.Tadi saat dia berada di kamar ponselnya berdering pangilan dari pimpinan yang meminta Arya menemuinya.


Tanpa basa-basi dirinya langsung melangkah keluar mansion lalu mengambil mobilnya di garasi.


Besok ia harus pulang dan sebisa mungkin dia menyelesaikan masalahnya hari ini juga.


45 menit berlalu...


Mobil yang Arya kendarai sudah sampai di depan gerbang CBA'grub.Penjaga yang melihatnya langsung membuka pintu gerbangnya lebar.


Mobil yang selalu di kendarai oleh special force selalu memiliki simbol di plat depan dan belakangnya.


Simbol itu akan mengeluarkan sinyal jika berada di dekat pintu gerbang CBA'grub agar memudahkan para pengawal mengenalinya jika mereka adalah salah satu jajaran orang berpengaruh di CBA'grub.


Semua barang modern yang tercipta dari CBA'grub itu semua merupakan rancangan Nation.Ya Tio,dia tidak hanya menjabat sebagai agen tapi juga pencipta alat-alat kusus.


Mobil yang di kendarai Arya memasuki gerbang CBA'grub didalamnya terdapat banyak penjaga yang bersiap di tempat dan juga banyak yang berlalu-lalang.


Bugh


Arya menutup pintu mobilnya,pengawal yang berjaga di pintu masuk menundukkan kepalanya.


Saat Arya sudah masuk ke dalam,pengawal itu langsung masuk ke mobil Arya untuk memarkirkanya.


Arya keluar dari lift dirinya sekarang sedang berada di lantai ke dua tertinggi di CBA'grub.


"Kapten, pemimpin menunggu anda di dalam." Ucap salah satu pengawal.


Arya hanya mengangguk menjawabnya dia melangkah menuju pintu dengan ukiran Pimpinan 2 .


Anggota agen lain di sana menundukan kepalanya melihat kapten mereka.


Salah satu anggotanya membukakan pintu ruangan pimpinan untuk Arya.


"Terimakasih." Ucap Arya langsung masuk.


Didalam ruangan luas,seorang pria paruh baya yang masih terlihat gagah dengan rambut yang sudah memutih sedang berdiri di depan kaca besar yang memperlihatkan semua aktifitas anggota dan para pengawal CBA'grub,senyum tipis tersunging di bibirnya.


"Paman." Suara seseorang membuyarkan lamunannya.


"Arya kau sudah datang?, bagaimana kabarmu?." Ucap Pria paruh baya itu menghampiri Arya


"Aku baik-baik saja." Jawab Arya.


"Kau baru saja tertembak kenapa langsung kemari,aku sudah menyuruh mu untuk beristirahat dulu".


"Aku akan istirahat setelah ini,katakan paman ada apa paman memanggil ku kesini?." Tanya Arya.


"Apa paman tidak boleh memanggil mu." Jawab pria paruh baya itu seraya melangkahkan kakinya menuju sofa.


"Tentu boleh,hanya tidak mungkin jika ini menyangkut tugas bukan?." Tanya Arya.


Biasanya pemimpin akan menghubungi jika ini menyangkut emergency mission pasti seluruh tim inti akan dihubungi entah itu tatap muka langsung atau virtual.


"Ya.Ini masalah pribadi...." Robert menghela nafas.


"Dan aku butuh bantuan mu." Lanjutannya.


Terlihat jelas pria tua itu sedang banyak pikiran.


"Aku akan membantumu." Ucap Arya.


"Katakan apa masalah paman?."


Robert tersenyum sendu,dirinya menjawab dengan suara pelan.


"Putriku..."


Arya menatap datar sambil mengeryitkan dahinya.


Robert yang melihat reaksi Arya hanya menanggapinya biasa saja.


Dia yakin jika Arya tidak mengerti maksudnya.


"Putri...kandungku." Gumam Robert di akhir kata.


Telinga Arya sangat tajam untuk bisa mendengar gumaman Robert.


Terkejut?,tentu saja dirinya tidak pernah tau jika selama ini pria di hadapannya memiliki seorang putri.


"Maksud paman?." Ucap Arya.


"Ya Arya putriku.Selama ini aku menutupi identitasnya setelah kejadian penembakan istriku." Jawab Robert sambil menatap kosong kedepan.


"Putri yang hampir 15 tahun ini tidak ku temui....mungkin dia pikir aku membuangnya." Lanjut Robert matanya mulai memerah menahan air mata yang bisa lolos kapan saja.


Arya diam tidak menyela dia menunggu Robert melanjutkan ceritanya.


"Saat aku meninggalkanya usia putriku baru 5 tahun.Aku kehilangan istriku dan aku tidak mau kehilangan anakku juga...maka dari itu aku menahan keinginan ku untuk bisa memeluknya dan memberikan kasih sayang padanya.Bahkan dia saat dia membutuhkan diriku aku tidak pernah datang ke hadapanya." Air mata berhasil lolos dari mata Robert.

__ADS_1


"Kau pasti tau alasannya kan Arya." Tanya Robert tersenyum ke arah Arya.Senyuman yang hanya Robert dan tuhan yang mengerti senyuma itu.


Arya menganggukkan kepala menjawabnya.


"Ah maaf aku tidak bisa mengontrol air mata ini." Ucap Robert sambil mengusap air matanya dan tertawa sumbang.


Robert menghela nafas sebelum dirinya berbicara.


"Putriku akan datang....mungkin dia sudah bosan terkurung dalam asrama selama 15 tahun ini." Ucap Robert.


Entah Robert harus senang karena putrinya akan kembali atau cemas karena nyawa anaknya bisa dalam bahaya jika berada di negara ini.Karena jika putrinya berada di sini maka tidak ada yang tidak mungkin jika putrinya tidak akan terseret ke lingkaran CBA'grub.


Robert menatap Arya yang masih diam.


"Aku ingin meminta tolong padamu Arya,jaga putriku." Ucapnya menatap sendu Arya.


Robert yang biasanya terlihat tegas dan berwibawa kini di hadapan Arya.Pria tua itu terlihat rapuh seperti seorang ayah yang telah gagal mendidik putrinya.


"Dia di sini paman,kau bisa menebus kesalahanmu padanya selama ini."


"Kesalahan karena telah mengabaikannya." Lanjut Arya.


"Ya aku juga ingin bisa seperti seorang ayah lainya yang menjadi cinta pertama putri mereka sedangkan aku. Malah membuat kebencian yang mengakar di hatinya.Tapi aku terlalu pengecut Arya saat melihat istriku tiada,dan aku tidak mau itu terjadi pada putriku. Jadi ku mohon jaga dia untukku." Robert meneteskan air matanya lagi sambil mengatupkan kedua tanganya.


Arya langsung beringsut mendekati Robert dan memeluknya.Robert juga membalas pelukan Arya terdengar jelas suara isak tangis pria tua itu.


"Aku akan menjaga dia untukmu paman." ucap Arya,dirinya bahkan tidak mempedulikan luka tembakan yang ia dapat kemarin.


"Terimakasih-, maaf aku lupa kau baru saja tertembak.Ada yang sakit?." Ucap Robert melepaskan pelukannya.


Arya menggelengkan kepalanya.


****


"Masak apa bi?." Tanya antusias Justin sambil memundurkan kursi di meja makan.


"Wah jamur lada hitam." Seru Justin saat melihat Bi Lila meletakan makanannya di meja makan.


Vano dan Justin sudah duduk di kursi meja makan,kurang adik perempuannya,Kina.Tapi gadis itu bilang akan makan bersama setelah solat.


tak tak


Suara sendal seorang gadis kuncir kuda menuruni anak tangga dengan senyum lebar menghiasi wajah mungilnya.


Kina mendudukan bokongnya di kursi lalu pandanganya menyapu makanan yang berada di meja makan.


"Tumben bibi pesan pizza saat ada makanan di rumah?." Tanya Kina saat melihat Bi Li datang dari arah dapur.


"Bukan bibi nona tapi tuan Vano." Jawab bi Li sambil menarik kursi untuk duduk.


Vano mengarauk tengkuknya yang tidak gatal,menatap Kina sambil tertawa canggung.


"Tumben?." Tanya Kina sambil memincingkan matanya.


Vano tak kunjung menjawab membuat Justin kesal,pasalnya mereka berdua ribut membuat ia tidak bisa segera menyantap makanan di depannya.


Cacing di perutnya sudah minta di isi tapi dua orang ini malah memperlambat asupan untuk cacingnya.


Pikir Justin.


1 detik


2 detik


3 detik


"Ck.Kau ini tidak peka sekali ,Vano ingin minta maaf padamu." Sentak Justin,langsung menutup mulutnya mengunakan kedua tanganya


Astaga!!,kau ini apa-apaan.Harusnya aku tidak ikut campur dalam pertengkaran mereka.Habis sudah lihat singa betina itu melirikku seakan aku ini seekor rusa. Batin Justin meruntuki kebodohannya karena membentak singa betina mode on.


Justin sialan!!. Umpat Vano dalam hati.


"Benarkah?." Ucap Kina menatap tajam Justin.


Justin yang mendapat tatapan tajam Kina langsung menggelengkan kepalanya cepat,sedetik kemudian dia langsung mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Jadi yang benar mana!." Ucap Kina dengan suara sedikit menyentak.


"Ya, Kina aku ingin minta maaf padamu.Soal hairdryer itu aku tidak sengaja dan aku juga tidak tau itu hairdryer..." Vano mengantung kalimatnya,membuat Kina kesal.


"Hairdryer apa!."


Keramat. Ucap Vano dalam hati.


"Kesayangan mu." Jawab Vano.


Kina mengangguk lalu berucap " Ya tidak masalah."


Vano dan Justin langung melongo melihatnya, Vano pikir Kina akan mendiaminya dan tidak akan mudah memaafkannya. Teringat jika hairdryer itu benda keramat yang mungkin tidak boleh lecet sedikit pun.

__ADS_1


"Tunggu apalagi, kapan kita makan,air liur kak Justin sudah keluar dari tadi." Ucap Kina melirik Justin.


Justin langsung gelalapan mengelap bibirnya,mana tidak ada air liur.Pikirnya.


Kina melihat aksi Justin langsung tertawa terbahak sambil memegangi perutnya.


Hancur image gue. Gerutu Justin menatap kesal ke arah Kina.


Vano yang melihat Kina tertawa semakin merasa bingung.


"Kau tidak marah?." Tanya Vano membuat kina berhenti tertawa.


"Sebenarnya aku marah,tapi karena kesalahan mu itu kak Bara akan meminta kak Rey untuk pulang." jawab Kina.


Devano mengangguk menjawabnya,


pantas saja .Batinya.


"Sekarang apa bisa kita makan?." Ucap Justin melihat mereka berdua diam.


"Maaf bibi." Ucap Kina menunduk dia lupa jika di meja makan ada Bi Li yang juga menunggu dan melihat mereka beradu mulut.


"Tidak apa-apa nona." Jawab bi Li sambil tersenyum hangat.


Didalam keluarga pasti lebih menyenangkan jika ada di antaranya yang membuat rumah terasa ramai.


Menurutnya canda tawa yang selalu terdengar membuatnya sejenak melupakan permasalahan yang ada.Apa jika suatu saat rahasia besar terbongkar mereka masih bisa seperti ini?, tersenyum dan tertawa tanpa beban.Pikir bi Li.


"Sekarang kau pimpin doa." Ucap Kina menunjuk Vano.


Mereka berdoa sesuai ajaran mereka masing-masing


*****


Arya memutuskan untuk menginap di asrama malam ini,saat ini dia sedang duduk di tempat tidurnya yang berukuran single size itu.


Setelah solat tadi dia akan turun ke bawah,tapi entah kenapa dia menjadi malas untuk keluar makan malam.


Tadi Stev dan Adrew datang,tetapi Stev ada pertemuan yang mengharuskannya pergi dari sana.Sedangkan Adrew sedang makan di cavetaria.


Sekarang dia sedang duduk bersandar di sandaran tempat tidurnya.Kaki kanan di luruskan dan kaki kirinya di tekuk ke atas,jari tangan kirinya mengapit rokok yang masih tersisa setengah.


Memikirkan apa yang akan terjadi besok jika dia pulang.


Dreft dreft


Ponsel di mejanya berdering dia langsung mematikan rokoknya membuangnya di asbak.Lalu meraih ponselnya mengeser tanda hijau.


"Halo."


"Ada apa?." Tanya Arya.


"Tadi Bara keperusahaan lagi,menanyakan kau sedang berada dimana"


"lalu?."


"Sesuai perkataan mu aku bilang bahwa kau ada di London."


"Terimakasih Ra."


"Sama-sama,Ary kau mau sampai kapan membohonginya?,suatu saat kebohongan yang kau tutup serapat mungkin pasti akan terbongkar."


"Aku tau,aku sendiri yang akan memberitahu mereka." Jawab Arya


" Apa kau tidak takut jika mereka mengetahui ini dari orang lain?".


"Ya."


Aku takut. Batin Arya.


Terdengar hembusan nafas kasar dari sebrang telpon.


"Terserah kau Arya aku hanya memberitahumu kemungkinan yang akan terjadi." Ucap seseorang di sebrang telepon.


"Aku tau, terimakasih sudah membantuku Kejora." Ucap Arya.


"Hmm ,walaupun aku harus membohongi seseorang untukmu.Baiklah aku hanya ingin menyampaikan itu. Night " Cibir gadis di sebrang telepon.


Tut


Arya mematikan sambunganya.


Gadis itu adalah Kejora Primatja,direktur utama perusahan tekstil. Arya meminta gadis itu memasukan namanya di perusahaan di bagian manager pemasaran luar negri.


Dan juga memintanya jika siapapun yang menemuinya di perusahaan itu maka mereka harus memberi jawaban jika Reynold sedang berada di luar negeri.


Kejora mau membantunya gadis itu tahu apa masalah yang di hadapi Arya. Dia di luar memang terkenal dengan ketegasanya tapi sisi lain dalam dirinya,ia hanya seorang pria rapuh yang dituntut keadaan agar dia berdiri tegak di hadapan semua orang.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2