
Anna masih duduk diam memandangi aktifitas di depanya. Sudah satu jam dirinya duduk di kursi taman itu,gebang CBA'grub perlahan di tutup,sinar leser juga mulai menghilang.
"So, Anna nikmati kesendirian mu hari ini,tidak ada yang menemani dan memberi solusi." Ucap Anna pada dirinya sendiri lalu bediri berjalan ke sembarang arah.
Anna berjalan menuju ke arah SH CBA'grub, sampai di depan gedung dirinya melangkah masuk.
Anna melihat-lihat bangunan rumah sakit kusus CBA'grub. Tidak banyak orang yang sakit menurutnya hanya tenaga kesehatan dan mungkin beberapa penjaga.
Pria itu lagi. Batin Anna saat pandangannya melihat ke arah pintu masuk. Ia melihat jika pria itu sedang menelepon terlihat pensel yang dia tempelkan di telinganya. Tio memasuki lift,saat pintu lift tertutup Anna berlari kearahnya lalu melihat lantai berapa pria tadi tiba.
Siapa yang sakit?,Kenapa pria itu keluar-masuk rumah sakit ini. Batin Anna lalu memencet tombol lift yang sama dengan Tio,saat pintu lift terbuka Anna masuk kedalam.
Ting
Pintu lift terbuka,Anna keluar lalu mengedarkan pandangannya.
"Ah dasar bodoh kenapa harus membuntuti pria itu." Ucap Anna menepuk pelan kepalanya. Saat akan berbalik Anna melihat seseorang yang di kenalnya masuk ke dalam ruangan. Pria tinggi, memakai jas putih identitasnya.
"Stev." Ucapnya pelan.
Anna mengikuti arah dimana ruang yang Stev masuki.
Sampai di depan ruangan dengan tulisan VVIP room, Anna mengintip kedalam,pintu sedikit terbuka memudahkan dia melihat ke dalam.
Anna melihat seseorang yang ia ikuti di bawah tadi sedang duduk di sofa sambil berbicara serius dangan Stev.
Anna memutar kepalanya melihat sekeliling ruangan itu,saat bola matanya melihat ke arah brankar dia melihat lelaki duduk bersender tanpa memakai baju sehelai benang pun. Terlihat jelas ototnya yang menonjol dengan perban di lengan kirinya dan rambutnya yang acak-acakan.
Saat menatap intens wajah pria itu,tiba-tiba mata Anna langsung membola sempurna dengan mulut mengganga dan refleks memundurkan langkahnya sambil memegangi dada kirinya.
Badan Anna membentur tembok dengan tangan masih memegangi dadanya. Dirinya mengatur pernafasanya,menarik dan menghembuskanya perlahan.
Ini gila,gila,gila!! itu pria yang kubilang cupu. Kenapa dia bisa jadi sangat tampan. Ya Tuhan itu ciptaan mu yang paling sempurna Teriak Anna dalam hati sampai deheman seorang pria mengejutkannya.
Ekhem
Anna terlonjak kaget lalu melihat ke arah suara pria yang mengejutkannya. Pria yang sama dengan yang ia tabrak kemarin,dan ini pria yang mengatainya gila didepan matanya sendiri.
"Kau-." Ucapannya terpotong oleh pria itu.
"Kenapa?,kau sedang menguping?." Ucap Adrew.
"Haha, yang benar saja. Menguping?, Tentu T-tidak." Jawab Anna sambil tertawa canggung.
Tio keluar dari dalam ruangan karena mendengar percakapan seseorang di luar.
"Adrew kau-." Tio tidak melanjutkan bicaranya saat melihat seorang wanita didepan Adrew.
"Aku tidak apa-apa." Ucap Adrew lalu melangkah masuk.
Tersisa Tio dan Anna di depan ruangan,Anna mendongak menatap Tio yang sedang menatapnya tajam,lalu Anna mengalihkan pandangannya.
Tio meninggalkan Anna tanpa sepatah kata pun dirinya masuk kedalam ruangan VVIP room.
Anna berdecak dalam hati saat melihat pria kaku itu. Saat Anna akan melangkah pergi dari tempat itu
"Anna." Panggil seseorang dari dalam menghentikan langkahnya.
"Eh Stev."
"Kenapa tidak masuk?." Tanya Stev.
"Tidak perlu!,aku pergi saja."
"Tidak usah malu Anna." Ucap Stev menarik tangan Anna masuk. Anna mengumpat Stev dalam hatinya, saat sampai di dalam tatapan semua pria melihat ke arahnya.
Anna merasa canggung,dia mengaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Ada apa?." Suara bariton tegas masuk di indra pendengarannya.
Anna menengok ke arah suara itu,manik matanya menangkap sosok pria bersender di atas ranjang pesakitan dengan tangan kiri memakai penyangga yang di gantungkan di lehernya yang membuatnya gagal fokus adalah tubuh tegap pria itu benar-benar sexy.lalu dengan cepat Anna langsung mengalihkan pandangannya dan menggelengkan kepalanya cepat.
Stev yang mengerti langsung menahan tawanya.
"Anna kau bilang jika wanita yang melihat Arya akan terkena serangan jantung,apa kau juga terkena serangan jantung?" Ucap Stev sambil terkekeh kecil.
Mata Anna langsung melotot,dia malu saat ini rasanya ingin berlari keluar dari sini tapi otaknya bekerja dengan baik jika ia keluar dari ruangan ini tidak mungkin jika ia bisa keluar gerbang besar CBA'grub.
"Hah t-tidak." Ucap Anna.
"An-." Ucap Stev terpotong saat mendengar deringan ponsel. Ia mengambil ponselnya di saku jasnya ternyata bukan miliknya lalu mengedarkan pandangannya.
Tio berdiri dari duduknya lalu melangkah keluar sambil menempelkan benda pipih di telinganya.
"Ah aku lupa jika aku harus pergi ke lab. Aku pergi dulu ingat Ary jangan kau cabut jarumnya." Ucap Stev lalu pergi keluar.
Hanya tersisa tiga orang di ruangan itu, atmosfer di sekeliling Anna menjadi dingin. Sepertinya terperangkap di antara dua singa ini bukan keputusan yang baik.
__ADS_1
Oh good sekarang aku berada di antara dua lelaki yang sama-sama menyebalkan. Batin Anna.
Saat Anna akan membuka suaranya,Adrew berdiri lalu pergi keluar tanpa mengucapkan apapun.
Hei hei seharusnya aku yang keluar dasar pria tidak peka. Batin Anna.
"Kau kenapa masih di sini." Ucap Arya tanpa melihat ke arah gadis yang sedang berdiri di samping sofa.
"Aku juga akan keluar." Ucap Anna.
"Pintu keluar ada di belakang mu." Ucap Arya.
Tidak!,semua yang aku puji tentangnya tadi sama sekali tidak benar. Aku menarik kata-kata ku dia sama sekali tidak menarik menurut ku. Gerutu Anna dalam hati sambil melangkahkan kakinya keluar.
Saat Anna sudah berada di luar ruang rawat Arya dia membuka suaranya.
"Apa tadi dia bilang?!,beraninya dia mengusirku,hei pria gila aku juga akan keluar kau tau itu." Ucap Anna pelan sambil menunjuk-nunjuk pintu tertutup di depannya.
"Skil mu menjadi penguntit masih di bawah rata-rata nona." Ucap seseorang mengejutkan Anna.
Anna membalikkan badannya,mendongak menatap pria yang lebih tinggi darinya.
"What!!,what do you say to me?."
(kau mengataiku apa?.) Ucap Anna sambil menunjuk dirinya sendiri.
Adrew mengedikkan bahunya lalu mendorong pelan bahu Anna dan masuk kedalam ruang rawat Arya.
Anna masih mengerutu tidak jelas di depan ruang rawat Arya. Setelah banyak cacian yang ia lontarkan Anna melangkah pergi dari tempat itu.
Anna masuk kedalam lift memencet tombol lantai dasar.
Ting
Pintu lift terbuka Anna keluar dari dalamnya lalu melangkah keluar. Saat sampai di luar SH CBA'grub
terdapat banyak penjaga yang berjejer rapi dengan raut wajah cemasnya. Anna bertanya-tanya dalam hatinya ada apa lagi ini yang belum ia ketahui. Dia melihat mobil dengan logo CBA'grub datang dari arah gerbang dengan sigap semua penjaga berlarian ke arah mobil itu.
Para staf di perusahaan berhamburan keluar melihat apa yang sedang terjadi.
Mobil itu berhenti tepat di depan SH CBA'grub seorang penjaga membuka pintu mobil.
Anna tidak bisa melihat jelas seseorang yang berada di dalamnya karena tertutup badan besar penjaga-penjaga yang mengelilingi mobil itu.
"APA YANG KALIAN LAKUKAN!! CEPAT BAWA KE DALAM." Teriakan seseorang dari arah belakang membuat mereka mengalihkan pandangannya.
Arya dia berjalan dengan tergesa dengan raut wajah cemas bahkan bisa di lihat dahi pria itu mengeluarkan keringat. Dibelakang pria itu ada Adrew dan Stev yang sama cemasnya.
Anna mengikuti arah brankar itu,saat menyadari bahwa pria yang sedang sekarat itu adalah tuan Robert Pattinson tubuhnya tiba-tiba lemas, lututnya seperti jeli tidak bisa menopang berat tubuhnya dia jatuh terduduk dilantai.
*****
"Bagaimana ini bisa terjadi hah!!." Ucap Arya sambil menarik rambutnya kasar.
"Entahlah,kita tunggu saja Tio." Jawab Adrew.
"Dimana dia?." Tanya Arya.
"Aku tidak tahu."
"Gadis itu,apa dia tau?."
Saat akan menjawab Adrew melihat seorang wanita berjalan ke arahnya dengan lambat.
Karena tak mendapat jawaban Arya menengok ke arah Adrew. Pria itu menatap lurus koridor depan Arya melihat arah pandang Adrew.
Anna sampai di depan dua orang pria yang sedang sama-sama menatapnya.
"Kapten." Panggil Tio yang baru datang.
Adrew dan Arya mengalihkan pandangannya kearah Tio. Arya mendekat kearahnya lalu mencengkram erat kerah baju Tio mengunakan tangan kanannya.
"Siapa?!,Kenapa?." Tanyanya penuh intimidasi.
"Kecelakaan." Jawab Tio.
"Ada yang merencanakannya?." Tanya Arya penuh tekanan.
"Tidak." Jawab Tio datar.
Tapi melihat dari manik matanya terdapat gelagat mencurigakan dari Tio dan Arya bisa melihatnya.
Buughh
Satu pukulan mendarat di rahang tegas Tio sampai membuat sang empunya terhuyung ke belakang.
"Y**ou're crazy arya. Apa-apaan ini!." Ucap Adrew.
__ADS_1
"Apa yang kau tutupi dariku!." Arya menarik kembali kerah baju Tio.
"Niets."
(Tidak ada.)Jawab Tio.
"Beraninya kau berbohong padaku!."
Buughh
Arya memukul Tio lagi membuat hidung pria itu mengeluarkan darah.
"Arya kau ini kenapa?. Jika Tio tidak berbohong pemimpin benar kecelakaan kau mau apa?!" Ucap Adrew melerainya.
"Kemana sopir dan para penjaga ,kenapa bisa pimpinan sampai seperti ini?." Tanya Adrew saat Arya melepaskan cekalan kerah kemeja Tio.
"Pimpinan pergi sendiri." Jawabnya.
"Tidak biasanya pimpinan pergi sendirian." Ucap Adrew penuh selidik.
Tio hanya mengedikkan bahunya.
Arya hanya mendengarkan dia sedang menahan emosinya dia melihat gelagat aneh pada Tio kenapa dia terlihat seperti biasa saja?. Apa mungkin ini hanya perasaanya saja?. Entahlah saat ini ia hanya harus fokus pada pimpinan mengingat lukanya tadi sepertinya cukup serius.
Pandangannya beralih ke arah wanita duduk dan menundukan kepalanya. Bahu gadis itu tidak bergetar?, apa dia tidak menangis? pikir Arya.
Pintu ruang ICU terbuka Stev keluar dari dalamnya dengan keringat membasahi wajahnya.
Arya langsung mendekat ke arahnya diikuti Adrew sedangkan Anna tetap menundukkan kepalanya dan Tio tidak bergeming dari tempatnya.
"Bagaimana?." Tanya Arya tidak sabar.
Stev bukannya menjawab dia melirik kearah Anna yang sedang menundukan kepalanya.
"Pemimpin butuh transfusi darah secepatnya." Ucap Stev.
"Lalu apa lagi panggil cepat semua orang yang berada di sini dan tanyakan pada mereka siapa yang darahnya yang sama dengan pimpinan!!." Ucap Arya pada Tio dan Adrew.
"Itu memakan waktu lama,karena harus mengecek apakah mereka menderita penyakit tertentu atau tidak. Putrinya ada di sini,mungkin darah mereka sama." Ucap Stev sambil melihat ke arah Anna yang mendongakkan kepalanya.
Arya lalu beralih melihat kearah wanita itu yang masih duduk dengan raut wajah biasa.
"Tunggu apalagi cepat, golongan darah mu sama dengannya bukan." Ucap Arya menarik tangan wanita itu.
Yang terjadi malah di luar dugaan semua orang,Anna melepaskan tangannya yang di pegang oleh Arya.
"Aku tidak mau." Jawabnya.
Plakkk
Arya menampar pipi gadis itu, Anna memegangi pipinya yang berdenyut nyeri.
"Kau gila!!,yang di dalam sedang sekarat itu ayahmu. Dimana hati nurani mu sebagai seorang anak hah." Bentak Arya di depan gadis itu. Sungguh ini pertama kali baginya membentak seorang gadis karena segeram-geram apapun dirinya akan tetap terlihat tenang tapi mematikan didepan musuhnya.
Anna mendongak dengan tangan masih memegangi pipinya.
"Anak?, Kau tidak tau apa yang sudah ku lalui dengan orang yang kau sebut ayahku itu." Ucap Anna.
"Hanya karena dia tidak pernah menemuimu bukan berarti dia tidak mempedulikan dirimu." Ucap Arya menunjuk wajah Anna.
"Kau tidak tau bagaimana hidupku jangan sok seolah kau tau apa yang selama ini ku rasakan!!." Teriaknya di depan wajah Arya.
Arya mengangkat tangannya hendak memberi pelajaran kepada gadis didepannya ini. Tanganya mengantung di udara dia mengepalkannya lalu menurukan tanganya.
"Apa?!,kau mau menamparku lagi hah,tampar!, ayo tampar!!, hanya pria brengsek yang berani main tangan dengan seorang wanita." Ucap Anna sambil menampar-nampar pipinya.
"Adrew cari pendonor yang tepat untuk pimpinan dan pastikan dia sehat. Kita tidak bisa mengharapkan dari anak tidak tahu diri ini." Ucap Arya lalu melangkah pergi dari tempat itu.
Stev melihat Anna lalu berjalan memasuk ICU,Adrew juga pergi dari sana untuk mencari pendonor yang tepat.
Air mata Anna yang ia tahan perlahan tumpah ia menghapusnya kasar lalu beranjak pergi dari tempat itu.
Tio memandangi punggung wanita itu yang perlahan menjauh darinya. Tio menatap Anna dengan pandangan yang sulit diartikan.
Anna duduk di kursi taman,Air matanya tidak bisa ia bendung lagi. Anna menangis dirinya menangis ia tidak bisa menahannya lagi. Ia lelah dengan semuanya, orang-orang tidak pernah tau apa yang terjadi mereka hanya datang dengan cacian yang sebenarnya mereka sendiri pun tidak mengerti penyebabnya.
Bahkan disaat aku meminta tolong pada dunia semua seolah tutup mata dengan kehadiran ku.
Lalu apakah adil jika mereka yang tidak pernah melihatku, tiba-tiba datang dan langsung memerintah diriku.
Haha ini lucu sekali mereka melihat buku dari sampulnya,buah dari kulitnya dan kura-kura dari cangkangnya.
Mereka hanya melihat yang hanya bisa pandangan mereka tangkap. Tanpa mereka sadari jika perbuatannya menimbulkan dampak yang besar bagi seseorang.
Mereka kira seseorang yang diperlakukan seperti sampah akan terus diam, menutup mata dan telinga.
Haha.
__ADS_1
Tidak akan!!
~Lucianna Grace Amoera