Captain Agent My Heart

Captain Agent My Heart
episode 18


__ADS_3

"Bagaimana?." Tanya Arya pada Stev.


"Masih sama, tapi sekarang kondisinya sudah keluar dari masa kritis." Jawab Stev.


"Syukurlah." Ucap Arya.


"Lalu Ary kau tidak mungkin membuat istrimu tinggal di sini selamanya bukan?." Tanya Stev.


Arya mengusap wajahnya kasar ia bahkan tidak terpikirkan itu sama sekali.


"Bawa saja ke mansion." Ucap Stev memberi solusi.


"Tidak sembarangan orang bisa masuk ke sana." Jawab Arya.


"Dia istrimu Arya!!,istri! kau sekarang sosok suami. Orang-orang CBA'grub mengenalnya dan kita tidak tahu dari sekian banyak orang CBA'grub apakah diantaranya ada musuh dalam selimut. Anna akan dalam bahaya jika dia jauh dari mu." Jelas Stev.


"Aku tidak berpikiran sejauh itu." Ucapnya


"Aku tau,pikiranmu sedang kacau saat ini. Aku mengerti banyak hal terjadi belakangan ini." Ucap Stev.


"Bilang pada Tae agar menjemput gadis itu dan bawa dia ke mansion." Ucap Arya.


"Ada Adrew dan Tio bukan?, kenapa Tae?."


"Andrew dan gadis itu selalu bertengkar dan Tio aku merasa dia menyembunyikan sesuatu dariku." Ucap Arya.


Stev mengangguk,ia percaya jika Tio bukan penghianat tapi,dari dulu dugaan Arya tidak pernah salah.


Stev hanya berdoa semoga tidak ada orang yang menusuk mereka dari belakang apalagi orang terdekatnya.


"Akan ku hubungi Tae." Ucap Stev.


Arya mengangguk ia berjalan ke asramanya dirinya harus mengurus semua pekerjaan CBA'grub. Karena kursi kepemimpinan sedang kosong.


Tut....Tut...Tut


"Ada apa?." Tanya Tae.


"Kau bisa ke CBA'grub?."


"Kenapa ada masalah?."


"Tidak. Kau di perlukan untuk mengantar istri Arya ke mansion."


Terdengar suara menahan tawa di sana,membuat Stev mengerutkan keningnya binggung. Tidak biasanya si Tae tertawa pikirnya.


"Kau kenapa?." Tanya Stev


"Tidak hanya terdengar aneh menyebutnya istri kapten."


"Hei dia memang istrinya. Jadi mulai sekarang Panggil dia kakak ipar." Ucap Stev.


"Lupakan,aku tidak bisa mengantarkannya aku ada kuliah." Ucap Tae lalu memutuskan sambungan teleponnya.


Tut


"Ah Tae gila." Umpat Stev.


Stev berjalan keluar ke arah asrama, saat sampai di depan kamar Arya. Ia mengetuk pintunya,


Tok tok tok


"Arya Ini aku."


Ceklek


"Ada apa?." Tanya Arya keluar dengan stelan jas warna hitam dan kemeja putih.


"Tae tidak bisa mengantar Anna jadi aku yang akan mengantarkannya."


"Kau?, bukankah kau harus menjaga pimpinan?." Tanya Arya.


"Ada banyak perawat di sana lagi pula Anna lebih dekat denganku." Ucapan Stev langsung mendapat tatapan tajam dari Arya.


"Haha aku bercanda. Aku tidak akan mengambil istri adikku sendiri." Jawab Stev.


"Aku harus mendapat izin dari suaminya,jadi aku di izinkan tidak?." Tanya Stev.


"Baiklah." Ucap Arya.


****


Anna berjalan di lobi asrama dengan langkah malas. Ia seperti terkurung di lingkungan ini,memang disini ada banyak tempat dan luas tapi orang-orangnya menurut dirinya sangat pendiam apalagi setelah mengetahui jika ia putri pimpinan dan sekarang menjabat sebagai istri Arya.


Sebenarnya ia binggung dengan posisi Arya kenapa mereka takut padanya. Tapi setelah di pikir-pikir melihatnya saat di atas ranjang pesakitan,Arya benar-benar sangat mengagumkan badanya sangat atletis, otot-ototnya yang six pack membuat ia terpesona. Eh tidak!,tidak! jangan memujinya lagi tidak hanya dia yang berotot semua pengawal disini juga berotot ya! jangan memujinya!.


Pikiran Anna terbang kemana-mana,ia langsung menggelengkan kepalanya sambil memukulnya.


"Kau kenapa Anna." Suara Stev membuatnya tersadar lalu mendongak menatap Stev didepannya.


Lalu saat melihat ke belakang Stev disana berdiri seorang pria dengan balutan kemeja putih dan jas hitam,hidung mancung, rahang tegas dan mata coklat sedang melihat kearahnya. Membuat Anna terdiam mematung sambil berdecak kagum dalam hati.


"Hei Anna,Anna You are okay?." Tanya Stev.


"Ah ya aku tidak apa-apa, k-kalian mau kemana?." Tanya Anna menghindari kontak mata dengan Arya.

__ADS_1


"Aku akan mengantar kau pulang dan Arya dia ada urusan pekerjaaan." Jawab Stev.


"Pulang?." Tanya Anna.


"Ya pulang ke rumah Arya."


"Kau tinggal bersama siapa?." Tanya Anna melihat kearah Arya karena saat mereka menikah sepertinya Anna tidak melihat kedua orang tua Arya atau mungkin mereka tidak datang karena pernikahannya mendadak. Jika iya berarti ia harus meluluhkan hati mertuanya jika tidak maka kehidupannya akan seperti di neraka tinggal bersama mertua yang sama sekali tidak menyukainya. Pikir Anna.


"Tinggal bersama yang lain." Jawab Arya menunjuk ke arah Stev dengan dagunya.


"Ya kita tinggal bersama. Dengan Tio, Adrew dan yang lain." Ucap Stev.


Anna menganggukkan kepalanya jadi ia tidak tinggal dengan mertua, syukurlah. Anna menghembuskan nafas lega.


"Kita pulang sekarang?." Tanya Stev di anggukki oleh Anna.


"Eh tapi baju-baju ku?." Tanya Anna.


"Tenang saja aku sudah menyuruh orang untuk mengemasi pakaian mu mungkin sebentar lagi datang." Jawab Stev.


Anna,Arya dan Stev berjalan keluar di depan asrama terparkir mobil BMW putih disana.


"Masuk dulu tunggu di dalam." Ucap Arya pada Anna.


"Aku tunggu di sini saja."


"Disini panas masuk saja." Perintah Arya di anggukki Anna.


Saat baru membuka pintu, seorang wanita membawakan kopernya lalu memberikannya pada Stev.


Stev memutar memasukkan kopernya ke dalam bagasi mobil.


Anna masih diam melihat ke arah Arya sedangkan Stev sudah masuk ke dalam mobil.


"Hei Anna masuklah." Ucap Stev dari dalam.


Anna melangkah mendekat ke arah Arya lalu mengambil tangan kanannya lalu ia menciumnya. Arya diam mematung jantungnya berdebar kencang dan apa ini dia merasa gugup?. Saat Anna melepaskan tangannya ia langsung berbalik masuk kedalam mobil.


Mobil BMW putih sudah meninggalkan asrama dan Arya masih terdiam mematung.


"Ada apa denganku dia hanya pamit." Ucapnya pelan lalu pergi kearah perusahaan CBA'Group.


*****


Anna didalam mobil meruntuki kebodohannya karena dengan beraninya ia memegang tangan Arya. Tapi dia kan istrinya bukankah itu wajar menurutnya.


"Kau kenapa?." Tanya Stev.


"Tidak."


Anna mengangguk ia juga baru tau jika Arya adalah muslim karena di negara ini sangat sedikit orang dengan agama muslim dirinya beruntung bisa mendapatkan suami yang seiman dengannya.


"Apa rumah kalian jauh?." Tanya Anna.


"Lumayan, tidurlah jika kau lelah."


"Tidak."


Mereka berdua sama-sama diam.


45 menit berlalu


Mobil Stev melewati jalanan sepi dengan banyak pohon-pohon besar.


"Em Stev kalian memilih tinggal di hutan?." Tanya Anna memecah keheningan.


"Haha. Ya mungkin karena kita menyukai ketenangan."


"Kata-kata mu ambigu sekali ." Jawab Anna.


"Umurmu berapa Stev?." Tanya Anna.


"Masih muda,30 tahun." Jawabnya santai.


"Tiga puluh?." Ucap Anna sambil memperlihatkan tiga jarinya.


"Tua sekali." Cicitnya pelan.


"Hei itu masih muda tau." Ucap Stev tidak terima.


"Jika begitu aku harus memanggil mu paman." Ucap Anna.


"Mana bisa seperti itu!."


"Ck. Jelas bisa umurku dua puluh tahun kita beda sepuluh tahun. Aku tidak mau di panggil kurang ajar karena memanggil orang tua dengan sebutan nama." Ucap Anna sambil melipat kedua tanganya di dada.


"Tidak mau!. Jangan panggil aku paman aku belum setua itu."


"Yaya. Baiklah akan ku panggil kau kakak bagaimana?."


"Ck. Panggil aku nama saja."


"Kau tau aku dari dulu ingin memiliki kakak laki-laki jadi boleh ya." Ucap Anna sambil mengerjapkan matanya.


Stev yang melihatnya memincingkan matanya.

__ADS_1


"Baiklah-baiklah asal kau tidak memanggilku dengan sebutan paman." Jawabnya.


"Terimakasih kak Stev." Ucap Anna senang.


"Anna kau punya kepribadian ganda ya?." Tanya Stev.


"Alter ego?." Tanya Anna di anggukki oleh Stev.


Haha


"Kau gila ya?. Kau pikir ini di film." Ucap Anna sambil tertawa.


"Tidak,hanya aku terkejut saja kenapa sifat mu berubah-ubah,kau kemarin seperti orang dewasa dan sekarang aku melihatmu seperti gadis remaja." Ucap Stev.


"Hei aku ini memang gadis remaja tau!." Ucapnya tidak terima.


"Untuk masalah sifat. Bukankah itu tergantung tempat dan situasi. Terkadang anak-anak harus menjadi dewasa sebelum waktunya."


Stev mengangguk benar sifat sesi bisa berubah tergantung situasinya.


*****


"Masih lama ya?." Tanya Anna bosan pemandangan yang ia lihat hanya pohon-pohon rindang yang berjejeran sepanjang jalan.


"Sudah hampir sampai lihat depan." Ucapnya menunjuk ke depan dengan dagunya.


Anna menoleh menatap kedepan lalu mengeryitkan dahinya.Dari jarak jauh Anna melihat gerbang besar,apa tidak salah ini? ia melihat gerbang tua tinggi dengan banyak tanaman liar di sekitarnya.


"Kalian yakin tinggal di sana. Kalian tinggal di bangunan tua tidak terpakai. Apa gaji kalian di perusahaan besar itu tidak mampu untuk membeli rumah yang lebih layak?,bahkan mobil ini sepertinya lebih mahal dari rumah di dalam sana." Ucap Anna panjang lebar.


Tawa Stev pecah saat mendengar ucapan gadis di sampingnya ini tidak tahu saja dia apa yang ada di dalam.


Anna salah mengartikan tawa Stev pemikiran-pemikiran negatif langsung muncul di kepalanya. Anna merapatkan duduknya di pintu memberi jarak dengan Stev dan mencoba membukanya.


Stev menghentikan tawanya saat melihat gadis itu ketakutan.


"Hei Anna kau baik-baik saja?." Ucap Stev.


"Tidak aku ingin turun." Ucap Anna dengan keringat membasahi pelipisnya.


"Hai kau ini kenapa?." Ucap Stev menghentikan mobilnya beberapa jarak dari gerbang.


"Kumohon lepaskan aku." Ucap Anna sambil mengatupkan kedua tangannya.


"Ada apa denganmu?!." Ucap Stev melepaskan sabeltnya lalu membalikkan badannya menghadap ke Anna.


"Hei Anna kenapa?." Ucap Stev.


"Kau mau membunuhku bukan? aku juga kenapa bodoh sekali, jalanan yang ku lewati tadi sepi dan gelap. Kau juga membawaku ke tengah hutan dan sekarang kau membawaku ke bangunan tua!." Ucap Anna.


"Membunuh?,siapa?,aku-." Ucap Stev binggung.


"Ya siapa lagi. Ternyata benar psikopat selalu bisa berakting dengan baik." Ucap Anna.


"Psikopat?,aku?." Tanya Stev di anggukki cepat oleh Anna.


BWAHAHAHA


Tawa Stev benar-benar pecah kali ini, melihat Anna dengan raut wajah ketakutan dan kebodohannya.


"K-kau tertawa?, benar bukan jika kau itu adalah psikopat!. Tolong jangan bunuh aku temanmu itu Arya aku baru menikah dengannya kau ingin teman mu menjadi duda muda?." Ucap Anna.


BWAHAHAHA Stev masih tertawa dengan memegangi perutnya. Saat dirasa ia bisa mengontrolnya Stev menjalankan mobilnya.


"Kak Stev ku mohon!,aku belum pernahkah merasakan bagaimana rasanya bahagia. Aku bahkan tidak pernah merasakan kasih sayang yang tulus selain dari ibuku." Ucapnya pelan dengan wajah memelas.


Ucapan Anna membuat tawa Stev berhenti sebenarnya apa yang sudah di lalui gadis ini.


"Tenanglah aku tidak akan membunuhmu. Jika aku membunuhmu bagaimana kau akan memberikan keponakan untukku." Ucap Stev.


Mata Anna langsung membola mendengar ucapan Stev. Jadi dia tidak dibunuh hanya karena agar bisa memberikan keponakan?. Pikir Anna.


Saat dirinya akan protes dia melihat Stev mengambil remote lalu menekannya. Pintu gerbang itu terbuka lebar Anna bisa melihat di dalamnya tidak ada bangunan tua hanya jalanan senggang dengan pohon cemara di pinggir jalan berbeda dengan jalan yang ia lewati tadi. Matanya seperti melihat sebuah gerbang lagi tapi hanya samar-samar karena jaraknya yang jauh.


"Dimana bangunan tuanya?." Tanya Anna lalu menengok kebelakang. Gerbang itu tertutup dengan sendirinya sekarang ia malah berfikir jika ada makhluk astral yang menutupnya.


"Apa aku mengatakan padamu jika ada bangunan tua di dalam,tadi?." Tanya Stev melihat sekilas ke arah Anna.


Anna menggelengkan kepalanya,benar juga Stev tidak mengiyakan akan membawanya kebangunan tua dan membunuhnya. Apa kecemasan ia tadi hanya sia-sia ahh betapa malunya jika kepanikannya tadi tidak berdasar.


Apalagi dari jarak lumayan dekat Anna melihat gerbang besar dengan ukiran yang sangat indah. Gerbang emas dengan warna gold, sangat tidak mungkin jika didalamnya adalah bangunan tua.


Anna menutup wajahnya dengan kedua tangannya,ia malu.


"Maaf." Cicitnya pelan.


Stev menoleh kearah Anna lalu mengulurkan salah satu tangannya dan mengacak rambut Anna.


"Sudah ku maafkan tenang saja karena hari ini aku memiliki adik baru. Dan perlu kau tau ini pertama kalinya untukku di tuduh sebagai psikopat." Ucap Stev di sambil tertawa.


Mobil Stev mendekat kearah gerbang kedua atau biasa mereka sebut gerbang utamanya.


Sensor alat pendeteksi yang berada di mobil Stev terrespon oleh sensor di gerbangnya. Membuat gerbangnya perlahan terbuka lebar.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2