
Kamar berwarna dominan abu-abu, seorang pria memakai baju koko, sarung dan peci sedang duduk di atas sajadah.
Drfttt drfttt
Ponsel yang berada di atas mejanya berbunyi,dirinya berdiri dan melangkahkan mengambil ponselnya.
"Halo,maaf ada keperluan apa tadi anda menelepon saya?".Tanya seorang wanita paruh baya di sebrang telepon.
"Bibi".Ucap Arya pelan.
"Ya Tuhan,Tuan Rey!".Pekik Bi Li.
"Ku tertembak nak apakah sakit sekali ?". Tanyanya dengan suara parau.
"Tidak,aku baik-baik saja.Bagaimana keadaan rumah bi?".Tanya Arya
"Disini baik-baik saja nak, pulanglah apa kau tidak merindukan adik-adik mu?".Tanya bi Li dengan nada sendu.
"Ya".Jawab Arya.
"Tadi pagi nona Kina dan tuan Bara beradu
argumen,tuan".Ucap bi Li.
hening
Arya diam beberapa saat.
"Karena diri ku?".Tanya Arya.
"Seperti biasa nona ingin tuan pulang".Jawabnya.
"Aku akan pulang saat kondisinya memungkinkan". Jawab Arya.
"Baik tuan,jaga kesehatan mu bibi tutup dulu ada tuan Justin di rumah bibi akan keluar".Ucap Bi Li.
"Baiklah Bi".
Tut
Bi Li memutuskan sambungan teleponnya.
Arya berdiri mengambil sajadahnya kemudian meletakkannya di sandaran kursi.
****
Adrew masih duduk di sofa ruang tamu,sambil memejamkan matanya.Sesaat kemudian telinganya mendengar langkah seseorang mendekat.
Adrew membuka mata melihat seseorang duduk di sebelahnya sambil membuka kancing jas yang ia kenakan.
"Bagaimana kondisi Kapten?". Tanyanya pada Adrew.
"Dia baik-baik saja,selagi tidak meminta pulang".Ucap Adrew
"Ya". Jawabnya singkat.
"Ku kira kau tidak pulang Tio". Tiba-tiba dari belakang Stev muncul dirinya mendudukkan bokongnya di sofa single.
Tio hanya diam tidak menjawab membuat Stev mendengus kesal.
Johan mendekat kearah tiga pria yang sedang berkumpul di ruang tamu.
"Tuan-tuan makan malam sudah siap." Ucap Jo.
"Baiklah, pak Jo bisakah kau panggil Arya untuk makan dua hari terakhir ini dia tidak makan hanya asupan dari cairan infus yang tubuhnya dapat."
"Baik tuan." Jawab Jo.Saat akan melangkah pergi Jo kembali berbalik saat Tio membuka suara.
"Biar aku saja." Ucap Tio langsung pergi meninggalkan mereka.
Tok Tok
Ceklek
Tio membuka pintu kamar lalu melihat sekelilingnya matanya menangkap pintu balkon yang terbuka.Dirinya melangkah mendekat kearah balkon melihat Arya sedang duduk menatap langit malam sambil menghisap rokoknya.
"Ada apa?."Tanya Arya tanpa melihat siapa yang datang.
"Makan malam sudah siap kapten."Ucap Tio.
"Aku tidak lapar." Jawabnya.
"Akan saya bawa kesini atau kapten yang turun?."Ucap Tio tanpa mempedulikan ucapan Arya.
"Sudah berapa kali ku bilang,jangan panggil aku kapten saat sedang di luar."
"Maaf,Tuan." Jawab Tio sambil menundukkan badanya.
"Tio..." Geram Arya, dirinya langsung berdiri mematikan rokoknya kemudian pergi meninggalkan Tio.
Salah satu sudut bibir Tio terangkat melihat Arya pergi meninggalkanya.Dia mengalihkan pandangannya kemudian menatap bintang di langit.
Saya berjanji akan menjaganya dengan nyawa saya,tenanglah di sana. Batin Tio dalam hati.
__ADS_1
Sudah beberapa kali Arya menyuruhnya memangil dengan sebutan nama.Bagaimanapun Tio lebih tua darinya tapi tetap saja Tio tidak pernah mau menurutinya.
Tio selalu bilang 'Maaf tuan saya tidak berani'. Kadang pernyataan itu selalu membuat Arya geram, kenapa tidak berani aku yang menyuruhmu tapi dirinya sama sekali tidak merubah panggilan itu.
Tio membalikan badannya melangkah pergi masuk kedalam kamar.Sebelum dirinya sempat melangkah matanya melihat satu bungkus rokok di meja.
Tio mengambilnya kemudian dia melangkah masuk ke dalam kamar.
Saat didalam kamar dirinya tidak menemukan keberadaan Arya.Pasti pria itu sudah turun pikirnya.
Tio keluar dari kamar,saat akan membuka pintu dia menginjak pijakan tempat sampah,saat tutupnya terbuka dia membuang sebungkus rokok kedalam.
Tio lalu pergi keluar dari kamar itu menuju ke meja makan.
"Hei Arya dimana penyangga tangan mu?". Tanya Stev saat melihat Arya berjalan mendekat ke arahnya.
Arya tidak menjawab dirinya mendudukkan bokongnya di kursi single ujung.
Karena Arya tidak menjawab Stev melanjutkan bicaranya dirinya kesal pada Arya yang sama sekali tidak memikirkan kondisiya.
"Arya kau ingin cacat ya?,jika kau tidak menggunakan penyangga itu lukamu bisa semakin parah".Ucap Stev dengan nada kesal.
Stev langsung pergi meninggalkan Arya sendiri di meja makan,karena Adrew sedang membersihkan diri.
Tio datang duduk di sebelah kanan Arya.
Jo datang dan mengambilkan makanan untuk Arya kemudian Tio.
Hening
Tio melihat Stev datang dari arah ruang kesehatan,di tanganya membawa satu bungkus plastik berisi kain penyangga.
Stev sudah berdiri di samping Arya.
''Menghadap kesini Arya .'' Ucap Stev.
Tidak ingin berdebat Arya langsung menghadapkan tubuhnya ke arah Stev. Stev membuka plastik mengambil kain panyangga dan memasangkannya di tangan Arya kemudian mengalungkan di pundak kanan Arya.
Sesudah memasangkan Arm sling Stev duduk di samping kiri Arya,Jo mengambilkan makanan untuknya.
"Makanlah pak." Ucap Arya pada Johan yang berdiri di belakang Tio.
"Tidak tuan saya makan nanti saja." Ucap Jo sopan.
"Duduklah pak Jo Arya tidak suka bantahan." Stev melirik ke arah Jo yang berada tepat di depan pandangannya.
"Saya akan makan bersama para pengawal tuan Stev." Jawab Jo sambil membukuk sejenak.
"Ah sudahlah." Ucap Stev.
Suara sepatu seseorang sedang menaiki anak tangga.
Beberapa menit kemudian
Arya sudah menyelesaikan makannya kemudian berdiri,melangkah naik ke atas.
Ceklek
Arya memasuki kamar seseorang,karena tidak di kunci dirinya langsung membukanya.
Kamar dengan berbagai macam jenis komputer gaming terbaik di dunia lengkap dengan Mouse Gaming, Keyboard Gaming, Headphone Gaming,Kursi Gaming, kacamata Gaming,dan kamera web.
Dengan masing- masing berkisaran 36.000 USD sampai 481.250 USD.
Nintendo Wii Supreme, sebuah konsol yang menjadi perangkat gaming termahal di dunia dengan harga 481.250 USD atau setara dengan 6,6Milyar.
Seorang pria sedang duduk di kursi gaming dengan Hendphone Shangri-Li di telinganya,kedua tanganya memegang Stik PlayStation matanya menatap lurus ke komputer gaming di depanya.
"Hmm?".Tanya pria tersebut karena merasa kedatangan seseorang.
Tanpa mengalihkan pandanganya dari komputernya.
Arya berjalan mendekati pria itu dan langsung
melepas earphone yang berada di telinga pria itu.
Pria itu berdecak langsung meletakkan Sticnya di meja.
"Kau sudah menemukanya Tae?." Tanya Arya sambil melangkah ke arah tempat tidur kemudian mendudukkan bokongnya di kasur.
"Tentu". Jawab Tae langsung berdiri mangambil laptop yang berada di ranselnya kemudian mendekati Arya duduk di kasur miliknya.
Tae membuka data yang berhasil ia rentas kemudian memberikan laptopnya kepada Arya.
Saat laptop pindah tanggan,
"Boni?." Tanya Arya sambil mengerutkan keningnya lalu menatap Tae.
Tae mengangguk sebagai jawabannya,lalu dirinya bicara.
"Dia juga mengintai CBA'Grub tadi."Ucap Tae.
"Dia mengikuti mobilku saat keluar dari CBA'grub." lanjutannya.
__ADS_1
"Lalu apa dia tau kau kuliah di sana?." Tanya Arya dengan raut wajah yang tidak bisa di tebak.
"Tentu saja tidak,aku meninggalkan mobilku dan naik bus ke kampus." Jawab Tae, Arya langsung menghembuskan nafas lega.
"Sebenarnya siapa dia?." Tanya Arya,saat Tae akan berbicara pintu kamarnya terbuka.
Ceklek
Tio masuk lalu menutupnya kembali,melangkah mendekati Arya dan Tae. Tio menunduk hormat pada Arya dan mengalihkan tatapannya pada Tae.
"Kau sudah mengetahui pelakunya?." Tanya Tio pada Tae.
Tae mengangguk menjawabnya.
"Siapa dia?." Arya bertanya pada keduanya.
"Boni ,adik dari pengedar narkoba yang kau tangkap dan lenyapkan." Jawab Tae.
"Ya tuan ,dia adiknya dan sebenarnya dialah yang harus kita waspadai.Karena semua sumber strategi dia lah yang merencanakannya. Bos itu hanya tameng jika sewaktu-waktu produksi ilegnya bocor dia tidak ikut terseret dan bisa cuci tangan.Mungkin dia ingin membalasnya karena bagaimanapun bisnis narkoba itu yang paling menguntungkan untuknya ,apalagi kita membuat semua bisnis lainya ikut hancur." Tio menjelaskan.
"Jadi tokoh utama di belakang layar ya". Arya mengangguk mengerti.
"Langkah selanjutnya?." Tanya Tae.
"Menangkapnya apa lagi?." Jawab Arya datar.
Tae hanya mengangkat kedua bahunya acuh dirinya kembali ke kursi gaming dan melanjutkan permainannya.
Arya berdiri hendak keluar kamar sebelum tanganya menyentuh hendel pintu dia berbalik kemudian bertanya kepada Tio.
"Kau membawa ponselku?.'' Tanya Arya.
"Iya tuan?.'' Tio merogoh sakunya kemudian memberikan ponselnya.
Setelah menerima ponselnya Arya langsung keluar kamar Tae dirinya melangkah menuju kamarnya yang berada di lantai yang sama.
*****
Setelah masuk kedalam kamarnya Arya duduk bersandar di sofa.Kemudian jarinya menghidupkan ponsel miliknya banyak Panggilan tidak terjawab dari Kina dan juga Vano.
Tapi yang mencuri perhatiannya adalah ketika ada pangilan tidak terjawab dari adik pertamanya Bara Indra.
Tidak biasanya Bara menelfonya apakah ada yang penting,tapi pemikiran Arya langsung menangkap saat foto viral itu menyebar.Tapi bukankah foto itu tidak mengekspos semua wajahnya.Arya langsung mengusap wajahnya kasar.
Apa lagi setelah ini?. Batin Arya.
Arya menghubungi nomor telepon Bara, panggilan ke empat barulah di sebrang sana menjawabnya.
"Halo.'' Ucap Bara.
''Assalamu'alaikum." Arya membenarkannya.
"Wa'alaikumsalam." Jawab Bara.
"Kapan kau pulang." Ucap Bara tanpa basa-basi.
"Ada apa?,terjadi sesuatu?." Arya bertanya.
"Ya,Kina merindukanmu." Ucap Bara malas.
Dia mulai curiga. Ucap Arya dalam hati.
"Kau dimana sekarang?." Tanya Bara.
Dengan tenang Arya menjawab.
"Di London, Perusahaan menyuruhku mengatasi masalah yang berada di daerah Greenwich.''
''Benarkah?,kau sudah dua bulan tidak pulang apa aku bisa mempercayai mu?." Ucap Bara dengan nada yang tertahan.
''Apa yang membuatmu curiga padaku?." Ucap Arya.
''Bukankah selama ini hanya itu alasan mu jika tidak pernah di rumah?." Tanya Bara yang sekarang sudah tersulut emosi.
"Bara pekerjaan ku manajer pemasaran luar negeri." Ucap Arya.
Diseberang sana Bara tersenyum sinis.
"Ya itu yang selalu kau jadikan alasan."
Bagaimana aku tidak curiga padamu kak,aku saja tidak tau jurusan kuliah mu dulu dan aku bahkan belum pernah melihatmu diperusahaan tempat mu bekerja.Aku tidak akan pernah memaafkanmu jika kau membohongi kami dan bergabung dalam lingkaran perusahaan menjijikkan itu. Batin Bara matanya memerah terdapat kilatan kebencian di matanya saat dia mengingat perusahaan peninggalan mendiang ayahnya. Ah bukan ayah hanya mantan ayah.
"Lalu apa yang bisa membuat mu percaya?." Ucap Arya.
Maaf aku membohongi mu lagi. Batin Arya. Dirinya tau jika saat ini Bara pasti sedang teringat pada ayah.
"Pulanglah jika kau ingin aku percaya padamu." Ucap Bara.
"Baiklah aku akan pulang 2 hari lagi,akan ku selesaikan secepatnya.". Jawab Arya.
"Aku pegang janjimu,jika kau mengingkarinya maka jangan salahkan aku jika menuduhku bergabung perusahaan laknat itu." Ucap Bara dan langsung mematikan sambungan teleponnya.
Deg
__ADS_1
Maafkan aku,aku berharap suatu saat nanti kalian bisa mengerti kenapa aku memilih keputusan ini. Ucap Arya dalam hati.
Bersambung....