
lantai defisi IT
Tio keluar dari lift yang membawanya ke lantai devisi IT.
Saat dirinya keluar sontak semua yang sedang mengerjakan tugas mereka di depan layar komputer itu langsung berdiri mereka menundukkan kepalanya.
Tio berjalan dengan wibawanya ke ruangan yang di sediakan di tempat itu.
Ruangan dengan fasilitas fansatik milik Tae.
Karena dialah, Taezo yang ditugaskan memegang kendali sistem keamanan CBA'grub.
Tae jarang menginjakan kaki masuk ke dalam ruangan itu.Dirinya lebih memilih menyelesaikan tugasnya di mansion atau di asrama miliknya di CBA'grub.
Lantai defisi itu bukan orang sembarangan mereka orang-orang terpilih oleh Tio sendiri.
Karena jika salah merekrut orang maka rahasia CBA'grub yang menjadi taruhannya.
Tio membuka pintunya mengunakan key card milikya.
Berjalan mendekat ke arah komputer dan menyalakan.
Dirinya langsung masuk ke situs web melacak penyebar foto itu. Fokus memperhatikan layar komputer yang ada di depannya.
****
"Sekarang bisa kau jelaskan?"
Stev menarik nafasnya dan menghembuskanya perlahan.
"Arya harus membatasi pergelangan lengannya.Peluru yang mengenainya sampai ke tulang jika dia terlalu memaksakan untuk bergerak maka tulang itu bisa saja patah dan harus melakukan operasi pemasangan pen". Jelas Stev panjang lebar.
Pranggg
Stev terkejut saat Adrew menendang meja kaca di depannya sampai pecah.
Harusnya dia sudah tau jika akan seperti ini akibatnya.
Adrew keluar dari ruang rawat tanpa mempedulikan Stev.
"Kenapa sepetinya aku menjadi dokter tidak ada harga dirinya sama sekali jika berhadapan dengan para Agen gila itu."Gumamnya menatap pintu ruang rawat yang masih terbuka lebar.
"Ehh tapi syukurlah aku tidak terkena amukan Adrew,pria gila itu tidak memandang siapapun jika sedang marah." Stev berjalan keluar.
****
"Kina dan Veno belum pulang bi?".Tanya bara saat melihat Bibi Li keluar dari kamarnya.
"Belum tuan bara,tuan mau makan dulu atau mandi?".
"Aku akan mandi lalu beribadah".
"Ohh ya bi apa bibi melihat berita hari ini".Tanya Bara menghentikan langkahnya saat naik tangga.
Bi Li mengerti berita apa yang di maksud tuan mudanya itu karena hanya satu berita yang sejak tadi menjadi perbincangan semua awak media yaitu keberhasilan Arya Agen CBA'grub menangkap dan membunuh berandalan pengedar narkoba kelas kakap.
Bibi Lila gugup untuk menjawabnya.
Bagaimanapun selama ini hanya dirinyalah di keluarga ini yang mengetahui jika Arya adalah orang yang sangat mereka semua kenali.
"Tentu tuan saya melihatnya".Jawab bi Li setenang mungkin.
"Apa bibi melihat foto yang sempat beredar beberapa menit?."
Bibi Li diam beberapa detik kemudian menjawab.
"Tidak tuan,bibi masih banyak pekerjaan jadi bibi tidak bisa menonton sampai habis."
Bibi Li bingung untuk menjawab apa.Dia melihat foto itu karena saat itu dia sedang membersihkan ruang keluarga sambil melihat berita yang menayangkan seorang anak kecil yang bercerita jika Arya tertembak.
Dia juga melihat jelas foto yang beredar viral di ponselnya.
Tentu dia tau betul siapa yang ada di foto itu walaupun pria itu mengunakan masker,tapi melihat dari mata itu dia bisa mengenalinya.
Bibi Lila sangat cemas ia menelfon Rey dan menangis Arya atau Rey sudah dia anggap seperti putranya dia yang sudah mengetahui bagaimana penderitaan yang dia alami dulu.
Bahkan anak-anak keluarga Winagara Lila sangat menyayangi semuanya karena itulah dirinya sampai sekarang tidak menikah lagi setelah kepergian suaminya.saat itu umur Reynold Arya berusia 3 tahun. Masih jauh dimana tragedi itu terjadi yang mengharuskannya pergi meninggalkan mansion mewah keluarga Winagara.
Hanya dirinyalah yang bisa menjaga dan merawat tuan dan nona kecil Winagara karena pelayan dan pengawal setia mereka semua telah tiada.
Dan sesuai dengan janjinya pada Ny.Hana jika ia berjanji akan merawat anak-anaknya.
"Baiklah bibi kau jangan terlalu lelah, istirahatlah".Ucap Bara.
"Iya tuan".Jawab bi Li
***
Arya berjalan keluar dari musolla tempatnya beribadah.
Banyak tim CBA'grub yang berlalu-lalang menjaga keamanan sekitar mereka semua menundukkan kepala hormat pada Arya.
Saat dirinya berjalan akan masuk ke kantor pusat perusahaan,dia menangkap sosok Adrew yang keluar dari bangunan rumah sakit CBA'grub.
__ADS_1
Adrew dengan kaki panjangnya melangkah mendekati Arya.
Arya yang melihat dari jauh menghembuskan nafas kasar seolah dirinya tau yang akan terjadi.
"Arya bagaimana bisa?,kau tertembak separah itu!?,kau tau jika lukamu terus kau biarkan tanganmu bisa cacat!?,lalu bagaimana kau akan memegang pistol nanti".Tanya Adrew menggebu-gebu setelah dia sampai di hadapan Arya.Tanpa melihat sekitar jika banyak mata yang menyaksikanya.
"Bisa kau kecilkan suaramu".Ucap Arya pelan penuh ketegasan.
Adrew yang sadar dia menjadi pusat perhatian langsung menoleh ke arah mereka.
"Diam dan lanjutkan pekerjaan kalian,atau kalian ingin ku lempar dari sini".Ucap Adrew dengan suara keras.
Para pengawal yang diam melihat mereka seketika langsung bubar mengambil langkah seribu.
Adrew terkenal dengan agen arogan dari ketujuh agen inti CBA'grub lainnya.Walaupun dia bicara dalam keadaan emosi dia tidak akan berpikir dua kali untuk memenuhi keinginannya.
"Aku tidak apa-apa,kita pulang".ucap Arya sambil menepuk bahu Adrew dengan tangan kanannya.Dirinya berlalu pergi meninggalkan Adrew.
"Hey..."
"Segera ambil mobil atau aku pulang sendiri".Ucapnya saat tau Adrew akan menolak perintahnya.
"Kau.. baiklah tunggu".Jawab Adrew.
"Hei kau ambilkan mobil yang ku bawa tadi".Ucap Adrew menghentikan salah satu pengawal yang sedang berada di sekitarnya.
"Baik tuan". Jawabnya.
Setelah mobil yang di ambil pengawal tiba di hadapan Adrew.
Adrew langsung ambil alih kemudinya.
"Terimakasih". Ucap Arya sembari menatap tajam ke arah Adrew.
"Ups sorry aku lupa".Jawab Adrew langsung menutup pintu mobilnya.
Arya memutari mobil kemudian masuk ke dalam sebelum mobil yang mereka tumpangi berjalan
Seseorang berteriak kearah mereka.
"Tunggu, tunggu!!".Teriak Stev.
Buughh
Pintu mobil belakang ditutup Stev sembari menormalkan kembali pernafasannya.
Adrew melajukan mobilnya keluar dari gerbang besar CBA'grub.
"dimana Tio?,tidak ikut pulang?".
"Dia masih ada urusan".Jawab Adrew yang masih fokus pada jalanan di depannya.
"Stev kau melihat ponselku?".tanya Arya tiba-tiba memecah keheningan mereka.
"Ah ponselmu?".Ucapnya sembari berfikir.
"Dibawa Tio".Jawabnya.
"Berikan ponselmu". Perintah Arya pada Stev dia menoleh ke belakang.
Stev merogoh saku kemeja putihnya.
"Ini".Mengulurkan tangan kedepan memberikan ponselnya.
Saat ponselnya di tangan Arya ponsel milik Stev berbunyi.
Drfttt drftt
Tertera nama 'Arkan' di layar ponselnya.
"Siapa?".Tanya Stev dan Adrew hanya menoleh sekilas.
Tanpa menjawab pertanyaan Stev, Arya mengangkat panggilan teleponnya.
"Halo,kak stevv!!".Teriaknya di sebrang telepon.
"Akhirnya ada yang mengangkat panggilan ku,aku menelepon yang lain mereka semua tidak merespon panggilanku dasar menyebalkan."
"Kak aku menelepon mu tolong bilang pada kak Arya untuk segera mengirim heli ke sini aku ingin pulang".
"Mereka semua di sini bodoh sekali kak,mereka masuk ke perangkap lagi.Ck bodoh sekali mereka itu.Aku susah susah mengeluarkan mereka dari tahanan dan mereka dengan bodohnya masuk kejebakan musuh lagi" .Ucapnya panjang lebar tidak memberi kesempatan pada di seberang telepon untuk menjawabnya.
"Halo kak Stev kau mendengar ku".Tanyanya lagi.
"Sudah mengeluhnya?".Ucap Arya singkat membuat yang di seberang telepon membulatkan matanya.
"K..kak Arya.hehe aku bukannya mengeluh tapi ini kenyataan mereka memanang bodoh.Kau tau kak aku sudah melepaskan mereka dari pekerjaan ilegal yang mereka kerjakan.Tapi dengan mudahnya mereka masuk ke rayuan si tua bangka itu.Dengan alasan mereka butuh uang untuk makan karena pelosok seperti ini tidak mudah mendapatkan pekerjaan padahal pekerjaan mereka ini merugikan negara dan kau tau..."
Tut tut
Arya memutuskan sambungan teleponnya.
"Kenapa kau matikan Arya?".Tanya Stev yang mendengar keluhan Arkan.
__ADS_1
"Suaranya bisa membuat telinga ku tuli".Jawabnya.
Sesaat kemudian ponsel Stev yang masih di tangan Arya berbunyi.
Arya mengeser ke atas untuk menjawabnya.
"Kak kenapa kau matikan teleponnya aku menelepon mu dengan susah payah kau tau itu?!!".Ucapnya langsung saat telepon terhubung.
"Bersabarlah.Setelah kau bisa menyelesaikan semuanya aku pasti akan mengirimkan transportasi untukmu".
"Hei kak ku mohon ini menyusahkan sekali.Apalagi daerah ini susah sekali untuk mengunakan teknologi".
"Berpikirlah mengunakan otakmu jangan kau gunakan otot untuk orang-orang seperti mereka."
"Tapi,,,". Sebelum Arkan menyelesaikan ucapannya terpotong oleh suara seseorang di sana.
"Hei anak muda sedang apa kau di sana?".Teriak orang tersebut sampai terdengar ke telinga Arya.
Arya menjauhkan ponselnya dari telinganya dan melow speker sehingga mereka yang berada di mobil mendengarnya.
"Ck.Apalagi ini".gumam Arkan yang mereka dengar.
"Sedang menanam bunga". Jawabnya ketus dan sedikit berteriak.
Stev yang mendengarnya langsung mengerutkan keningnya binggung.
"Apa?!,apa kau bodoh anak muda kau menanam bunga di atas pohon?".
"Ah ya aku tahu kau sedang berburu ya?, baiklah lanjutkan pastikan kau bisa membidik rusa yang besar!".Lanjutnya lagi.
"Kau!!,Pergilah atau akan ku tembak kau dari sini".Jawab Arkan berteriak kemarahannya sudah sampai batas maksimalnya.
Pria yang sedang bicara dengan Arkan langsung berlari.
"Baiklah anak muda aku tidak akan mengacaukan konsentrasi mu.Tapi nanti berikan daging juga untukku".
"Dasar kau!!,Sial!!".Geramnya sampai ia lupa jika dia sedang menelepon.
"Sudah?".Tanya Arya.
"Masih tersambung rupanya.Kau mendengarnya kak mereka menyebalkan sekali!,ku mohon kirimkan aku kendaraan untuk kembali".
"Memangnya kau ini sedang dimana Arkan?,kenapa kau dikira sedang berburu".Kali ini bukan Arya yang bertanya melainkan Stev yang sedari tadi menahan tawanya karena mendengar umpatan kekesalan Arka.
"Ahhh kak Stev kau juga mendengar?,kalian sedang dimana memangnya.apa kalian sedang bersenang-senang sekarang?". Arkan tidak menjawab dan balik bertanya
"Aku akan kembali bersama Arya dan Adrew ke mansion.Jawab aku kau dimana?".
"Diatas pohon kapas". Jawabnya singkat.
"What!,kau ini bukanya menyelesaikan tugas mu malah bermain di atas pohon kapas.Yaampun!".Jawab Stev.
"Aku mencari sinyal tidak ada sinyal sama sekali di sini aku harus berusaha keras untuk bisa menelepon kalian Tau?!!".Ucapnya ketus.
HAHAHA
Tawa yang sedari tadi di tahan Stev akhirnya pecah dirinya membayangkan bagaimana raut wajah Arkan yang sedang merah menahan marah dan kesal.
"Kau tertawa hah!!".Ucapnya kesal.
Tut tut
Arkan mematikan sambungan teleponnya karena dia yakin membujuk Arya yang sudah mengambil keputusan sama saja menunggu ayam jantan bertelur,tidak akan pernah terjadi.
"Kau membuatnya kesal Stev".Ucap Arya yang masih fokus pada ponsel.
"Haha tapi itu menyenangkan bukan?,Apalagi jika aku melihat wajah itu mengamuk".Ucapnya masih tertawa.
"Eh tapi Arya sebenarnya tugas apa yang di kerjakan Arkan?".Tanya Stev yang sudah berhenti tertawa.
"Ada pekerja ilegal tambang emas mereka mengunakan keluguan penduduk di sana untuk membantu mereka mengali emas".Jawab Arya.
"Semacam kerja paksa?". Tanyanya lagi.
"Jika di bilang kerja paksa itu tidak bisa karena itu kemauan penduduk di sana sendiri karena kebutuhan ekonomi mereka".
"Jadi mereka tidak mempermasalahkan jika itu pekerjaan ilegal?".
"Mereka tidak bisa berpikir sejauh itu karena kurangnya ilmu pendidikan yang mereka peroleh".
"Wah jadi mereka menggunakan ketidakmampuan seseorang untuk memenuhi keinginannya".
"Ya seperti itu". Jawabnya.
"Jadi tugas Arkan menyadarkan penduduk di sana juga menjebloskan para petinggi penambang ilegal itu ke jeruji besi?".
"Ya tugas utamanya adalah memberikan penjelasan kepada penduduk di sana.Jika masalah penambangan ilegal itu urusan pihak berwajib".
"Kenapa tidak langsung saja menjebloskan mereka kepenjara jika seperti ini sama saja memberikan mereka kesempatan untuk terus menguras kekayaan negara".
"Mereka bisa menunjukan aksi protes besar-besaran dan itu bisa lebih rumit lagi.Lebih baik warga di sana sendiri yang mengusir dan menjebloskan para petinggi penambang ilegal itu".
"Ya kau benar karena saksi paling kuat adalah penduduk di sana sendiri".Ucap Stev sambil menganggukkan kepalanya
__ADS_1
Bersambung....