Captain Agent My Heart

Captain Agent My Heart
episode 19


__ADS_3

Mobil Stev mendekat kearah gerbang kedua atau biasa mereka sebut gerbang utamanya.


Sensor alat pendeteksi yang berada di mobil Stev terrespon oleh sensor di gerbangnya. Membuat gerbangnya perlahan terbuka lebar.


...-------------...


Mata Anna langsung terbelalak kaget saat melihat bangunan di dalam gebang itu. Benar-benar seperti yang berada di film bahkan mansion ini lebih bagus. Pemandangan rumput hijau mengisi semua taman dengan sungai mengelilingi mansion itu. Lalu apa itu dari kejauhan ia seperti melihat landasan jalur jet?!. Anna mengucek matanya apa tidak salah lihat ia benarkah itu.


"Kau tidak salah lihat itu jalur landing dan take off jet pribadi." Ucap Stev saat melihat keraguan di wajahnya.


"B-benarkah?." Tanya Anna setengah tidak percaya.


"Ya, tapi sedang di pakai anggota kami." Jawab Stev.


Mobil Stev berhenti di halaman depan mansion, ia keluar lalu di susul Anna.


"Ayo masuk." Ucap Stev saat melihat Anna hanya diam.


"Tapi koperku?." Tanyanya sambil menunjuk ke bagasi mobil.


"Ah aku lupa." Ucap Stev lalu memencet remaja remotenya untuk membuka bagasi.


"Aku saja." Ucap Stev saat melihat Anna berjalan menuju belakang mobil.


Stev dan Anna berjalan masuk kedalam mansion, dengan tangan kiri Stev mengangkat koper Anna.


Saat sampai di depan pintu,pintu itu langsung terbuka lebar menampakan pria paruh baya yang sedang berdiri di sana.


"Selamat datang tuan dan nona." Ucap Jo tersenyum.


"Terimakasih pak Jo, Anna dia Johan jika kau membutuhkan sesuatu bilang saja padanya." Ucap Stev.


Anna tersenyum manis lalu menunduk menyapa Johan.


"Anna sebaiknya kau istirahat saja,pak Jo tolong antar Anna ke kamar Arya." Ucap Stev.


Anna dan pak Jo sama-sama terkejut, kamar Arya? dia akan satu kamar dengan pria itu pikir Anna.


"Tuan bukankah kamar tuan Arya di kunci dan hanya tuan Arya sendiri yang bisa membukanya?." Tanya pak Jo.


Anna bernafas lega mendengar penjelasan Johan ternyata tidak buruk menikahi pria misterius itu.


"Ya, tapi bukankah ada kunci card cadangannya untuk membuka?." Tanya Stev membuat Anna kembali was-was.


"Ada tuan tapi dibawa oleh tuan Tio." Jawab Johan.


Anna bersorak girang dalam hati ini berarti ia tidak akan bertemu dengan pria itu mengingat mansion ini sangat besar dan jika mereka tidak sekamar Anna dengan mudah menghindari pria itu. Bukan apa-apa tapi rasanya sangat canggung bila berdua denganya jantung Anna seperti sekarat bila berdekatan dengan Arya.


"Ada padaku." Ucap seseorang yang sedang duduk di depan layar PS yang berada di ruang tamu.


"Tae." Tanya Stev sambil mengerutkan keningnya.


"Aku menunggumu lama sekali,ini tangkap." Ucap Tae sambil melemparkan card ke arah Stev.


Stev berhasil menangkap card yang di lemparkan Tae dengan kesal. "Hati-hati jika jatuh kau akan berurusan dengan Tio nanti. Dan kenapa kau disini bukankah kau ada kuliah hah?!." Ucap Stev kesal.


"Jatuh juga tidak akan pecah." Ucap Tae sambil berdiri dari kursi PSnya lalu melangkah ke tangga.


"Kau mau kemana?." Tanya Stev.


"Kamarku. Lebih menyenangkan bermain PS ku sendiri." Jawab Tae datar.


"Hei bagaimana bisa kau membawa kunci card kamar Arya!!." Teriak Stev karena Tae sudah berada di atas.


"Pria datar itu memberikannya padaku dan menyuruhku memberikannya padamu saat kau kembali." Jawab Tae juga berteriak.

__ADS_1


"Anak itu." Gerutu Stev.


"Siapa?." Tanya Anna yang dari tadi menyimak.


Sepertinya ia pernah melihat pria itu tapi dimana pikirnya.


"Dia Tae manusia termuda disini." Ucapan Stev mendapat anggukan kepala Anna.


"Oh ya Anna istirahatlah,pak Jo ini kuncinya." Ucap Stev sambil menyerahkan card pada Jo.


"Baik tuan, mari nona." Ucap Jo mengambil koper Anna.


Anna mengikuti langkah Jo naik ke lantai atas,saat tepat berada di depan pintu kamar Arya Johan membukanya.


Ceklek.


"Silahkan nona, selamat istirahat." Ucap Johan.


"Terimakasih." Jawab Anna langsung masuk kedalam. Johan menutup pintunya sebelum melangkah pergi.


Anna melihat-lihat kamar Arya,sangat besar menurutnya. Kamar dengan nuansa warna abu-abu dan hitam, diterangi oleh cahaya lampu temaram warna kuning di sudut-sudut kamarnya. Seperti tidak ada tanda-tanda kehidupan pikirnya. Lalu berjalan mencari saklar lampu. Saat sudah mengelilingi ruangan itu sampai tiga kali dirinya menyerah ia sama sekali tak menemukannya. Kesatu karena kamarnya yang besar dan perabotan besar banyak,kedua karena minim cahaya lampu.


Ia masuk kedalam kamar mandi melihat ada saklar lampu ia memencetnya. Saat lampu menyala kamar mandi terlihat lengkap dengan bathtub dan kaca tempered kamar mandi. Anna sampai berdecak kagum dalam hati lalu keluar dan masuk ke ruangan lain di kamar itu ternyata walk in closet. Benar-benar pria ini seumur-umur dirinya tidak pernah melihat kamar dengan fasilitas lengkap seperti ini.


Maklum ia selama ini hanya di kurung di dalam lingkungan asrama sekolahnya.


Saat kembali pun barang yang dipakainya hanya pemberian dari ayahnya?. Eh tuan Robert pikir Anna.


Anna masih sibuk melihat-lihat baju dan aksesoris Arya.


Kenapa jika pria itu mempunyai barang-barang sebagus ini, malah menjemputnya saat di bandara dengan pakaian nerd?. Pikir Anna.


Apa mungkin menutupi identitasnya?, tapi bukankah tidak ada yang mengenalnya?. Batin Anna lalu menggelengkan kepalanya. Ini bukan urusannya mereka memang menikah tapi sama sekali tidak ada dasar cinta di hubungan mereka. Bila sebuah hubungan dengan di dasari oleh cinta bisa hancur bagaimana dengan ini?. Pikir Anna lalu berjalan keluar dirinya akan mandi dan beristirahat,perjalanan dari CBA'grub ke sini sangat melelahkan untuknya.


*****


Pintu mansion terbukalebar saat dirinya akan melangkah masuk.


"Pagi tuan." Sapa Johan.


"Pagi pak, dimana gadis itu?." Tanya Arya sambil membuka kemejanya.


"Nona Anna ada di kamar anda tuan." Jawab Johan.


"Kamarku?." Tanyanya memastikan sambil mengerutkan keningnya.


"Iya tuan tadi tuan Tae memberikan kunci kamar anda pada tuan Stev. Dan itu atas perintah langsung dari tuan Tio." Jelas Jo sambil menerima jas Arya.


"Tio?." Sepertinya saat melihat reaksi Tio pada Anna pria itu terlihat tidak menyukainya walaupun Tio berusaha menutupi ekspresinya tapi Arya mengenal Tio sangat lama. Pria itu akan secara terang-terangan menyingkirkan hal yang tidak ia sukai dan menganggu keamanan orang terdekatnya. Tapi ini?, akhir-akhir ini Tio memang agak sulit ia tebak karena dia berbeda dari kebiasaanya. Menurutnya saat ini Tio sedang menyingkirkan sesuatu dengan cara halus tapi apa dirinya juga tidak mengerti.


"Baiklah Jo, aku kekamar dulu." Ucap Arya lalu berjalan naik ke tangga.


Ceklek.


Arya masuk kedalam kamarnya dengan mengunakan sidik jarinya. Temaram?,hanya cahaya dari lampu kecil yang menyala dan cahaya dari lampu kamar mandi. Arya berjalan kearah nakas saat akan mengambil remote control lampu, ia mengurungkan niatnya karena melihat wajah Anna yang sedang tidur di sofa dengan selimut yang ada di ranjangnya. Jika ia menyalakan lampu gadis itu akan terbangun karena silau pikirnya.


Lalu ia berjalan kearah kamar mandi untuk membersihkan diri. Anna terbangun dari tidurnya karena mendengar suara gemercik air. Ia mendudukkan dirinya sambil menyenderkan bahunya. Menguap, menggeliat dan menggaruk-garuk kepalanya.


Apa dia sudah kembali?. Tanyanya dalam hati.


Ceklek.


Arya keluar dengan mengunakan lilitan handuk di pinggangnya. Otot-otot tubuhnya terekspos jelas dan enam roti sobek tercetak di perutnya. Arya tidak sadar jika Anna sudah melihat dirinya sambil membuka mulutnya lebar karena minimnya cahaya.


Anna benar-benar menikmati pemandangan di depanya ini. Benar-benar menggoda imannya. Melihat Arya berjalan dari kamar mandi ke arah walk in closet. Tapi hal tak terduga terjadi Arya seperti akan melepas handuknya. Anna yang melihatnya spontan menjerit.

__ADS_1


"Kyaaa jangan di buka!!!." Teriaknya mengejutkan Arya.


Arya langsung menoleh ke arah Anna yang sedang menutup wajahnya dengan kedua jari tangannya. Tapi yang membuatnya lucu adalah gadis itu membuka jarinya tepat di matanya. Dan ia yakin gadis itu sedang mengintipnya melalui sela jarinya.


"Kau kenapa?." Ucap Arya lalu berjalan kearah nakas samping tempat tidur. Pergerakan Arya dilihat oleh Anna kepalanya mengikuti arah jalan Arya.


Arya mengambil remote lalu menyalakan lampunya lalu mendekat kearah Anna.


"Hei hei jangan mendekat?." Ucap Anna.


"Kenapa?,bukankah kau ingin melihat ABS ku?,jika ingin menyentuhnya aku tidak keberatan ." Ucap Arya.


"Tidak,siapa bilang?." Ucap Anna mengelak.


"Baiklah aku hanya menawari istriku jika kau tidak mau tidak masalah." Ucap Arya lalu berjalan kearah walk in closet. Meninggalkan Anna yang merona mendengar ucapan istri dari mulut Arya. Entah kenapa itu membuatnya senang hatinya menghangat.


Arya keluar dari dalam walk in closet dengan mengunakan celana moka selutut tanpa memakai bajunya.


"Kau ingin pamer ya!!." Ucap Anna.


"Tidak, siapa bilang?." Ucap Arya mengambil kotak obat di lemarinya.


"Kau kenapa?." Tanya Anna.


"Tidak aku baik-baik saja." Ucap Arya berjalan ke ranjang dan mendudukkan bokongnya dikasur.


"Lalu untuk apa kotak obat itu?." Tanya Anna.


"Ck. Sepertinya saat pertama bertemu denganmu kau tidak secerewet ini." Ucap Arya sambil mengambil antibiotik dan kain kasa.


Anna mencibikkan bibirnya,saat akan membalas Arya, Anna langsung terbelalak melihat luka jahit di lengan Arya. Sepertinya ia tadi terlalu fokus terhadap otot six pack Arya sampai tidak mengetahui jika lengan pria itu mengeluarkan darah.


"Itu kenapa!!." Ucap Anna sambil berlari ke arah Arya.


Arya memoleskan antibiotik untuk luka jahit bekas operasi setelah ia membersihkan darah yang keluar. Sepertinya ia tadi tidak memperhatikan lukanya sampai jahitannya kembali terbuka.


"Biar aku saja." Ucap Anna saat melihat Arya kesusahan mengobati lukanya ia merampas salep antibiotik di tangan Arya.


Arya hanya menurut dia diam saja saat jari gemetar Anna mengoleskan salep di lukanya. Dia tidak meringis atau mengeluh tapi gadis di sampingnya malah berkaca-kaca hampir menangis.


"Kau kenapa?." Tanya Arya.


"Berapa banyak luka yang kau dapatkan? dan kenapa?." Tanya Anna dengan suara parau sambil melihat badan Arya yang dipenuhi bekas luka.


"Tidak ingat dan karena tertembak,tertusuk dan terjatuh." Ucapnya santai sambil melihat tangan Anna yang sedang melilitkan perban di tanganya.


Lalu mendongak melihat Anna yang wajahnya hanya tersisa beberapa senti dari wajahnya.


"Kau menangis?." Tanya Arya.


"Tidak ini mungkin karena mengantuk." Ucapnya sambil menghapus air matanya.


"Apa sakit?." Tanya Anna lagi.


"Sekarang tidak." Jawab Arya.


"Kalau begitu kau tidur lagi saja dan tidur di kasur." Lanjut Arya.


"Kau juga akan tidur bukan?, kau pasti lelah." Ucap Anna.


"Aku nanti saja setelah solat subuh." Ucap Arya.


"Mau solat bersama?." Tanya Arya.


Anna mengangguk menjawabnya.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2