Captain Agent My Heart

Captain Agent My Heart
episode 7


__ADS_3

"Kau tau ini jam berapa?".


Kina yang sudah berada di anak tangga keempat langsung diam di tempat sambil melihat jam di pergelangan tangannya.


"Jam lima". Jawabnya


"Kuliah mu selesai jam dua belas bukan?,bisakah kau memberitahu kakak jika akan pergi".Ucap Bara berdiri mendekati adiknya.


"Maaf".Ucap Kina menunduk lebih baik mengalah daripada semakin rumit nantinya begitu pikir Kina.


Tanpa di duga Kina,Bara memeluk Kina.Kakak beradik itu saling berpelukan di tangga.


Kina mengerjapkan matanya berkali-kali dia kadang bingung dengan sikap kakaknya ini.


Sebenarnya yang mana sikap Bara tanyanya dalam hati.


"Bisakah kau tidak mambuat kakak kawatir".Ucapnya pelan Bara belum melepaskan pelukannya.


"Setidaknya kau bisa mengirim pesan pada kakak". Lanjutnya lagi.


"Kak...".Ucapan Kina terpotong oleh suara deheman seseorang.


Ekhemm


Mereka melepaskan pelukannya,dan melihat kearah pintu ternyata disana ada Vano dan Justin sedang menatap mereka berdua.


"Apa mereka baik-baik saja?".Bisik Justin di telinga Vano.


"Diamlah".Jawab Vano.


"Masuklah,Mandi setelah itu solat dan kau Justin makanlah dulu bibi sudah memasak".Ucap Bara.


"Emm aku akan menunggu kalian di kamar Vano saja kak.Aku akan ikut kalian makan jika kalian sudah selesai beribadah".Jawab Justin.


"Baiklah".Ucap Bara meninggalkan mereka yang masih berdiri di sana.


"Aku pinjam PS,apa kaset yang baru?".Tanyanya sambil kedudukan pantatnya di sofa.


"God of war".Jawab Vano ikut duduk di Sofa.


Kemudian matanya melihat kearah Kina yang masih berdiri di tangga.


"Kau mau kemana Kina?".Tanya Vano.Justin ikut menatap Kina.


"Ke kamarmu". Jawabnya ketus sambil melangkah naik ke tangga.


"Hei kenapa ke kamarku?".Tanyanya sedikit berteriak karena Kina sudah tidak terlihat.


"Apa kau lupa,kau mencuri pengering rambutku". Teriak Kina dari lantai atas.


"Ah iya aku lupa".Ucapnya pelan sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Matanya melirik ke arah Justin yang sedang memperhatikanya sambil menarik salah satu sudut bibirnya ke atas.


"hairdryer miliku rusak".Jawabnya cepat.


Justin bangun dari duduknya kemudian melangkah ke arah tangga.


"Hei kau juga mau kemana?".Tanya Vano.


"Aku ingin bermain PS mu,apa tadi ah iya God of war". Jawabnya.


"Hati-hati dengan kasetnya aku belum main".Teriak Vano.


Justin tidak menjawab ucapan Vano dirinya sampai di depan pintu kemudian membukanya sedikit.


Terlihat jelas Kina di dalam sedang uring-uringan karena pengering rambutnya dalam keadaan yang memprihatinkan kabel pengeringnya putus menjadi dua bagian.


"Apa-apaan ini!!!,Dasar Vano kurang ajar!!,akan ku patahkan kedua tangannya berani-beraninya dia memutus kabel hairdryerku".


Nafas Kina sudah tak beraturan dirinya seperti macan yang siap menerkam mangsanya.


Tangan kanannya memegang hair dryer dan tangan kirinya memegang kabelnya.


Justin yang melihat Kina sedang memiliki taring langsung menutup pintunya perlahan.


Apa yang dilakukan Vano,aku harus pergi jangan sampai aku menjadi samsak tinju Kina.Batinya Justin langsung berlari ke bawah.


Vano yang melihat Justin lari terbirit-birit ke bawah bingung.


"Kau ini kenapa?". Tanya Vano sambil memperhatikan tingkah Justin seperti mencari perlindungan.


"Lebih baik kau persiapan mental dan fisik mu".Ucap Justin lari ke arah kamar pengasuh keluarga Winagara.


Vano mengerutkan keningnya binggung.


Tiga detik kemudian terdengar suara teriakan seseorang yang akan membuat siapapun yang mendengar bulu kuduknya langsung berdiri.


"Vano!!!".Teriak Kina dari lantai atas suaranya langsung terdengar ke seluruh penjuru rumah.


Vano yang masih dalam keadaan loading masih berpikir kenapa,ada apa.


"Vano!!".Teriak Kina berlangsung berlari ke bawah sambil membawa hairdryer yang sudah tidak ada kabelnya.


Vano yang melihat hairdryer pink di tangan Kina otaknya langsung dalam mode on.


"mati aku".Ucapnya pelan akan mengambil ancang-ancang yang pergi dari sana.


"Mau kemana kau hah!".Teriak Kina sambil membanting hairdryer pink ke lantai.


Pyarr


Glek


Vano menelan salivanya dengan susah payah.


"Kina,,Itu bisa rusak nanti". Ucapnya konyol.


"Memang itu sudah rusak!!".Teriak Kina sambil menghentakkan kedua kakinya di lantai.


"Dasar kau".Kina langsung berlari memukuli badan Vano.


Vano menunduk menyembunyikan kepalanya dengan kedua tangannya.


bug


bug

__ADS_1


bug


"Rasakan ini".Ucap Kina di sela-sela memukuli Vano.


bug


"Kina ada apa ini?".Tanya Bara tiba-tiba turun dari tangga karena mendengar teriakan Kina.


Kina menghentikan aktivitasnya saat memukuli Vano,dirinya melihat ke arah Bara.


"Kakak lihatlah apa yang dilakukan Vano,dia merusak hairdryer ku".Ucap Kina sambil menunjuk ke arah hair dryer pink yang tergeletak di lantai dengan puing-puing yang berceceran karena bantingan kuat Kina.


Bara menoleh sekilas lalu melihat ke arah Vano yang sedang memelas meminta tolong padanya.


"t..tidak kak,tadi Kina yang membantingnya aku hanya tidak sengaja memutuskan kabelnya".Jelasnya mencari pembelaan toh memang benar jika ia hanya memutus kabelnya tidak sampai menghancurkanya sampai berkeping-keping, begitu pikirnya.


"Tapi kau yang merusaknya lebih dulu!!".Ucap Kina menghentakkan kedua kakinya dan kembali memukuli badan Vano.


bug


bug


"Kina tenanglah".Ucap Bara mendekati Kina langsung menariknya kedalam pelukannya.


"Aku minta maaf,aku benar-benar tidak sengaja menginjak kabelnya dan menariknya tadi".Ucap Vano melangkah mundur bersiap akan berlari.


hiks hiks hiks


Terdengar isak tangis Kina yang langsung menghentikan langkah Vano saat akan berlari.


Bara juga bingung kenapa Kina menangis hanya karena sebuah hairdryer.


"Kina".Ucap Bara lembut sambil mengelus rambut Kina.


hiks hiks


Bara langsung menatap tajam kearah Vano.


Kau apakan adikku begitu sorot matanya mengatakan.


Vano tidak menghiraukan tatapan tajam Bara dirinya mendekati Kina yang masih terisak.


"Maaf,maafkan aku,akan ku ganti hairdryer itu aku janji".


Ucapnya pelan.


****


Beberapa menit yang lalu


tok tok tok


Ceklek


Suara pintu kamar terbuka dari arah dalam.


"Tuan Justin".Ucap bi Li.


Justin langsung menyerobot masuk ke dalam kamar Bibi Li dan menarik tangan bi Li kemudian menutup pintu kamar bi Li.


Justin mengatur nafasnya yang memburu.


Justin langsung menarik tanganya sambil menggelengkan kepalanya cepat.Sebelum Justin menjelaskan kebingungan bi Li terdengar suara menggelegar di penjuru rumah.


"Vano!!"


"Ya Tuhan nona Kina".Bi Li akan melepaskan pergelangan tangannya dicengkraman lembut Justin.


"Tuan".Ucap Bi Li


"Tenanglah bi Vano yang bersalah biar dia sendiri yang menanggung akibatnya".Jelas Justin.


"Kalau tidak bisa-bisa Bibi terkena imbasnya,dan pasti kak Bara juga akan keluar.Temani saja aku di sini". Lanjutnya.


Atau mungkin aku bisa jadi amukan Kina juga.Batin Justin sambil menggelengkan kepalanya.


Bibi Lila melihat Justin menyelidik.


"Tuan Justin tidak ikut membuat nona Kina marah bukan?".Tanya bi Li.


"Yaampun bi aku tidak mungkin membuat kucing manis itu berubah menjadi sosok macan mengamuk".


"Dan kalaupun aku yang membuatnya menjadi seperti itu aku bukannya bersembunyi di kamar ini,pasti aku langsung kabur dari rumah ini".Jelas Justin.


"Lalu kenapa tuan Justin bersembunyi di sini dan tidak keluar dari rumah ini?".Tanya Bibi Li.


"Kau mengusirku bi?".Tanya Justin merubah nada suaranya agar terlihat menyedihkan.


Bibi Li langsung merasa bersalah dirinya bertanya seperti itu hanya karena penasaran kenapa Justin malah bersebunyi di sini bukanya pergi menjauh saat tau akan ada anak macan mengamuk begitu pikirnya.


"Tidak,tidak.Bukan seperti itu tuan,Bibi hanya bertanya".Jelasnya sambil mengelus tangan Justin yang berada di pergelangan tangannya.


Maaf bibi aku sedikit bersandiwara.Jika bukan karena God of war mungkin aku juga akan mengambil langkah seribu,untuk apa aku membahayakan kesehatan jantung juga fisikku.Batinya.


Justin melepaskan cengkraman tangannya dan duduk lalu tidur terlentang di atas ranjang milik bibi Li.


"Tapi tuan apa tidak masalah jika kita..."Ucap bi Li terpotong omongan Justin.


"Tidak masalah bi biarkan saja,Kak Bara juga pasti akan memisahkan mereka.Jika kita di sana itu tidak baik untuk kesehatan gendang telinga mu".Ucap Justin.


*****


hiks hiks


"Maaf Kina jangan menangis,Akan ku belikan hairdryer yang lebih bagus dan juga lebih canggih dari itu".Ucap Vano sambil mengelus punggung Kina.


Kina langsung menjauhkan tubuhnya.Mengusap air matanya kasar.


"Kau tidak tau kak itu hairdryer yang aku beli bersama kak Rey lima tahun lalu,aku menjaganya dengan baik. Kau tau,kak Rey sangat susah untuk di ajak pergi berlibur semua barang yang dia pilihkan harus aku jaga dengan baik".Tujuk Kina pada hairdryer yang sudah berkeping-keping.


"Tenanglah".Ucap Bara menarik Kina kedalam pelukannya.


"Kakak akan menyuruh Kak Rey pulang". Lanjutnya lagi.


Kina membelalakkan matanya terkejut,tapi setelah itu senyum tipis tersunging di bibirnya.


"Are you sure?". Tanyanya memastikan.

__ADS_1


"Yes I am sure".Jawab Bara.


"You're not lying?".Ucap Kina.


"Anything for you". Jawab Bara sambil mengelus rambut Kina.


"Thanks".Kina melepaskan pelukannya menatap Bara yang sedang tersenyum kepadanya.Dirinya juga ikut tersenyum dan membalikan tubuhnya kemudian berjalan ke kamarnya, dirinya tidak mempedulikan tatapan Vano yang memohon padanya.


"Kak..."Ucapan Vano terhenti saat Bara juga pergi meninggalkanya.


Aku akan memastikan jika pria itu bukan kak Rey.Batin Bara,dirinya menaiki tangga dengan pikiran yang melayang entah kemana.


Devano masih diam di tempatnya melihat hairdryer pink di lantai dirinya meruntuki kebodohannya kenapa bisa seperti ini.Apalagi ini menyangkut Rey dirinya yakin tidak akan mendapat maaf dengan mudah oleh Kina.


Bodoh, bodoh sekali aku!.


Jika aku tau hairdryer itu benda kramat tidak akan pernah mau aku memakainya.Tapi salah dia sendiri kenapa benda usang itu masih dia pakai harusnya diletakan saja di dalam peti.Gerutunya dalam hati.


****


"Sepertinya mereka sudah selesai Bi".Ucap Justin bangun dari tidurnya dan melangkah mendekati pintu.


Justin membuka pintunya lalu melangkah keluar,dirinya berhenti saat melihat Bi Li tidak mengikutinya keluar.


"Bi,kau tidak ingin melihat Vano yang babak belur?".Ucap Justin memasukan setengah badanya ke pintu kamar.


"Tidak tuan Justin,Bibi akan keluar saat makan malam sekarang Bibi akan solat dulu".Ucapnya.


"Ah iya, baiklah aku keluar dulu Bi". Justin meninggalkan kamar bi Li.


Langkah Justin terhenti saat dia melihat Vano sedang melamun di pinggiran sofa.


Dirinya sekuat tenaga menahan tawanya saat melihat wajah pias Vano.


Penampilan Vano yang sekarang sangat menyediakan di mata Justin.Rambut dan baju acak-acakan,dan terdapat goresan kuku di tangan juga wajahnya.


Ah rasanya dia ingin memotret dan menyebarkanya ke sosial media miliknya.Bagaimana seorang Devano Malik yang biasanya tampil cool sekarang terlihat seperti seorang pria yang habis di labarak kekasihnya karena tertangkap basah sedang berselingkuh.


HAHAHA


Tawa Justin yang ditahannya dari tadi langsung pecah karena pemikirannya.


Vano yang sedang terdiam langsung sadar dari lamunannya.Dirinya menatap geram ke arah Justin.


"Sialan kau!!".Ucapnya sambil melempar bantal sofa kearah Justin yang sedang terbahak.


Bantal yang ia lempar terkena wajahnya seketika dirinya diam.


"Jika kau masih tertawa bukan hanya bantal yang ku lempar tapi barbel yang akan mendarat di wajahmu".Ucapnya Vano mendekati sofa kemudian melemparkan tubuhnya di atas kursi sofa.


"Ck.Kau ingin wajah tampanku ini cacat ya".Ucap Justin ikut mendaratkan bokongnya di sofa.


Justin merogoh sakunya kemudian fokus bermain dengan ponsel di tangannya.Vano masih melamun memikirkan cara untuk menjinakkan adiknya satu-satunya cara harus melibatkan kakak pertamanya,tapi dirinya sudah menghubungi kakak pertamanya lima hari yang lalu tidak pernah ada jawaban.


Argh.Memikirkanya saja membuatnya frustasi,Vano mengacak rambutnya kasar,Justin hanya meliriknya saja tidak mempedulikannya.


Hening


Tidak ada percakapan dari keduanya masih sibuk dengan urusan masing-masing.


Justin berdiri kemudian melangkah menuju tangga.


"Hey kau mau kemana?". Ucapnya saat melihat Justin berdiri.


"God of war,aku sudah menantikannya dari tadi.Jika bukan karena pertarungan mu aku sudah menyelesaikan beberapa level".Ucap Justin.


"Sialan kau!!, ternyata dari tadi kau masih di sini hanya karena game itu?". Tanyanya kesal.


"Haha,tentu saja.Kau tau hanya di sini aku bisa bermain sepuasnya tanpa gangguan ataupun tekanan".Ucapnya santai lalu naik tangga kelantai atas.


"Jangan lupa ibadah mu kau sudah membuang waktumu percuma".Ucap Justin mengingatkan sebelum naik anak tangga terakhir.


"Ya Tuhan aku lupa".Gumamnya langsung berlari ke atas mengikuti langkah Justin.


*****


"Kau ingin menghubungi siapa Arya?".Tanya Stev.


Mereka masih di dalam mobil ke arah mansion mereka.


"Pengasuh ku".Jawab Arya singkat.


Tut Tut


Sambungan terhubung tidak ada sahutan dari sebrang telepon.


Dirinya melihat jam di ponselnya mungkin bibinya itu sedang menjalankan kewajibanya sebagai umat muslim, begitu pikir Arya.


Lima belas menit kemudian,mobil yang mereka tumpangi sampai di gerbang pertama mansion.Lalu tidak jauh dari pandangan terlihat gerbang besar menjulang tinggi dengan banyak corak di gerbangnya.Berbeda dengan gerbang pertama tadi,jika yang ini terlihat sangat mewah jika di bandingkan dengan garbang pertama yang mereka lewati.Orang yang pertama melihatnya pasti berfikir di dalamnya adalah sebuah pabrik yang sudah usang tapi siapa sangka ternyata di dalamnya adalah sebuah mansion mewah lengkap dengan jalur landing dan take off jet pribadi juga hamparan rumput yang luas,taman dan di kelilingi sungai buatan melingkari mansion besar tersebut.


Mereka sampai di gerbang utama mansion, terlihat gerbang terbuka dengan sendirinya karena sensor yang di pasang di mobilnya terrespon oleh sensor gerbang utama.


Jika gerbang utama melalui sensor berbeda dengan gerbang pertama terbuka dengan remote control yang hanya di miliki oleh penghuni dalam mansion mewah itu.


Mobil telah sampai di halaman mansion mereka bertiga turun dari mobilnya kemudian melangkah masuk.


Pintu utama mansion langsung terbuka lebar saat kedatangan mereka.


"Malam Tuan-tuan".Ucap pria tua berkisaran umur 45 tahun sedang berdiri di depan mereka.


"Malam pak".Jawab Stev dirinya yang sedang memegang jas putih di tangannya.


Stev dan Adrew langsung duduk di sofa mereka menyenderkan tubuhnya dan memejamkan matanya.Pak Jo mengikuti langkah mereka yang mengarah ke ruang tamu.Berbeda dengan Arya yang langsung naik ke lantai atas.


Stev dan Adrew, yang melihat hanya diam,sudah pasti Arya akan beribadah begitu pikir mereka bersama.


"Tenanglah pak Jo,Arya baik-baik saja,lukanya akan segara pulih".Ucap Stev saat dirinya melihat pak Jo dari tadi melihat cemas ke arah Arya yang sedang berjalan naik ke kamarnya.


"Baik tuan". Jawabnya walaupun jawaban Stev itu tidak mengurangi rasa cemasnya.Dilihat saat Arya mengunakan penyangga itu sudah di pastikan bagaimana seriusnya luka Arya.


"Tuan apa perlu saya siapkan makan malam?".Tanya pak Jo yang masih tidak bergeming dari tempatnya.


"Ya pak Jo,aku belum makan".Jawab Stev cepat dirinya berdiri dan melangkahkan kakinya menuju ke kamarnya.


Hanya tersisa Adrew di sana dan pak Johan masih setia menunggunya.


"Pergilah pak Jo aku tidak membutuhkan apapun".Ucap Adrew masih memejamkan matanya.

__ADS_1


"Baik tuan Adrew".Ucapnya sambil melangkahkan kakinya pergi ke dapur.


Bersambung.....


__ADS_2