Captain Agent My Heart

Captain Agent My Heart
episode 17


__ADS_3

"Bagaimana?." Tanya Arya pada Stev yang baru saja keluar dari ICU.


"Kritis." Jawab Stev.


Arya mengusap wajahnya kasar,dia menahan air matanya.


"Dan Arya pimpinan ingin bicara padamu dan Anna." Ucap Stev.


"Anna?." Tanya Arya.


"Putrinya."


Arya menghembuskan nafasnya kasar lalu mengangguk.


"Adrew panggilkan gadis itu seret jika dia tidak ingin kesini." Perintah Arya.


"Aku-." Ucap Adrew menunjuk dirinya sendiri lalu mendapat anggukan dari Stev. Seakan berkata 'jangan membantahnya'.


"Baiklah." Ucap Adrew lalu pergi dari sana.


Tio masih berdiri di tempatnya sembari memikirkan sesuatu.


****


Anna menghapus jejak air matanya, dia harus menguatkan diri sendiri. Ia tidak boleh lemah apalagi menyerah, Ia kuat dirinya kuat. Tuhan tidak mungkin memberi cobaan melebihi batas kemampuan umatnya.


Tapi apakah ia pantas dengan kalimat itu sedangkan dirinya tidak pernah mendekatkan diri kepada sang illahi?. Memikirkan itu air mata Anna kembali meneteskan.


"Ikut aku!." Ucap seseorang di belakang Anna.


Anna menoleh melihat ke belakang,pria yang sama yang mengatainya berdiri di belakangnya.


Lalu cepat-cepat menghilangkan bekas air matanya dan menormalkan ekspresi wajahnya.


Pria itu langsung menarik paksa tangan Anna.


"Ada apa?,sudah ku katakan jika aku tidak mau mendonorkan darah ku padanya!!." Ucap Anna memberontak melepaskan cekalan tangannya.


"Kau tidak perlu banyak bicara." Ucap Adrew mengencangkan cekalan tangannya.


Anna di seret oleh Adrew dirinya berusaha memberontak.


Anna sampai di depan ruang ICU dimana Robert Pattinson dirawat.


Tio melihat ke arahnya lalu melangkah pergi,saat melewati Anna dan Adrew ia berbicara.


"Kau sudah di tunggu di dalam." Ucapnya lalu melangkah meninggalkan kedua manusia itu.


Adrew mendorong tubuh Anna untuk masuk keruangan yang sudah ia buka.


Saat tubuh Anna berhasil ia dorong gadis itu membisikkan sesuatu padanya.


"Apa jika kau jadi aku kau akan membantu seseorang yang sudah membuat dirimu hancur?." Ucap gadis itu.


Adrew tidak peduli ia menutup pintunya saat gadis itu sudah masuk.


"Anna-." Suara lemah seseorang masuk di indra pendengarannya.


Anna menengok kebelakang melihat pria paruh baya terbaring lemah tak berdaya dengan banyak alat penopang hidup menempel di tubuhnya.


"Mendekatlah." Ucapnya.


Anna menggeleng pelan, Arya yang sedang duduk di samping Robert langsung berdiri dan menarik Anna agar mendekat.


"Arya aku ingin kau menjaga anakku." Ucap Robert.


"Aku akan menjaganya,kau fokuslah dengan kesembuhanmu paman." Jawab Arya.


"Aku ingin kau bisa menjaganya hanya kau yang ku percaya di sini."


Arya mengangguk.


"Menikahlah denganya." Ucap Robert pelan.


"Apa!." Ucap Arya terkejut. Menikah?, bahkan dalam benaknya tidak pernah terpikirkan untuk menikah.


Anna langsung menggelengkan kepalanya sambil tersenyum getir ia tak habis pikir dengan pria tua ini. Anna memundurkan langkahnya ia ingin pergi dari sini sekarang.


"Hanya itu agar diriku bisa tenang." Ucap Robert.


"A...arya kumohon-." Ucap Robert nafasnya sudah tersengal-sengal.


Anna refleks menghentikan langkahnya saat melihat kondisi Robert.


"Akan ku panggilkan Stev." Ucap Arya akan melangkah pergi tapi tanganya di tahan oleh Robert.


"Meni..kahlah s-sekarang." Ucap Robert


"Paman.." Panggilnya lirih.


"Ku moh..on."


Arya menganggukkan pelan ia tidak bisa melihat kondisi orang yang sudah dia anggap ayahnya sekarat.


"Aku akan menikahinya tetap bertahan kau harus menjadi walinya. Aku panggilkan Stev sebentar." Ucap Arya lalu melepaskan tangan Robert yang mengengam tangannya.

__ADS_1


Ia melangkah keluar dengan tergesa-gesa.


******


SAHH


Anna dan Arya sudah sah menjadi suami istri,mereka menikah di depan Robert yang terbaring di ranjang pesakitan.


Saat Stev memeriksanya kondisinya Robert semakin memburuk dan ia meminta agar pernikahannya dilakukan secepatnya di hadapannya.


Beberapa pengawal mengelilingi juga Tio,Stev,Adrew dan Tae.Ya Tae datang saat mengetahui kondisi pimpinan. Mereka menjadi saksi ikatan janji suci yang mereka buat dihadapan Tuhan. Janji yang akan membawa mereka di kehidupan barunya.


Saat ini mereka sedang berada di luar ICU kondisi Robert down. Anna hanya duduk diam sambil menatap kosong ke depan.


Ceklek


Stev keluar dari dalam ruang ICU.


"Pimpinan koma." Ucapnya.


Arya langsung menyandarkan tubuhnya di dinding.


"Sampai kapan?." Tanyanya dengan mata terpejam.


"Tidak ada yang tau."


"Berusahalah sebaik mungkin."


"Pasti." Jawabnya sambil menepuk pundak Arya.


"Istirahatlah kau pasti lelah,dan ajak istri mu juga." Ucap Stev.


Arya melirik sekilas ke arah Anna lalu berjalan mendekat ke arahnya.


"Kau baik-baik saja?." Tanya Arya saat berada di hadapan Anna.


"Apa aku terlihat baik-baik saja?." Ucap Anna sambil tersenyum.


"Haha,bukankah aku terlihat sangat bodoh." Lanjutnya.


Lalu melangkah pergi meninggalkan mereka yang masih diam.


"Aku hanya menuruti kemauan ayahnya." Ucap arya melihat kepergian wanita yang sah menjadi istrinya.


"Mengertilah kondisinya Arya." Ucap Stev.


*****


Anna bangun dari tidurnya dengan mata bengkak karena semalaman dia menangis


Anna sampai di depan ruang rawat Robert ia membuka pintunya perlahan.


Didalam ia bisa melihat Arya yang sedang duduk di sebelahnya karena mendengar suara pintu terbuka Arya melihat ke arahnya.


"Ada apa?." Tanya Arya.


"Aku ingin berbicara padanya jika kau tidak keberadaan." Ucap Anna.


Arya menoleh ke arah Robert lalu kembali menatap Anna.


"Aku tidak ada hak untuk keberatan." Ucapnya lalu berdiri dan berjalan keluar.


Arya keluar dari ruang rawat membiarkan waktu kepada ayah dan anak itu.


"Ada apa kenapa keluar?." Tanya Adrew yang baru saja sampai.


Arya tidak menjawab dirinya melangkah pergi ke ruangan Stev.


Ceklek


"Arya ada apa?." Tanya Stev.


"Nyalakan penyadap ruang rawat pimpinan." Perintah Arya.


"Kenapa?." Tanya Stev tapi tetap mengikuti perintah Arya.


Adrew masuk ke ruangan Stev.


****


Anna menghela nafasnya,lalu menarik kursi duduk di samping brankar Robert.


"Hai." Sapanya.


"Aku harus memanggil mu dengan sebutan apa?." Tanyanya pada tubuh lemah Robert.


"Bukankah kau sangat egois,kau tidak pernah ada untukku dan tiba-tiba kau datang lalu kembali mengatur kehidupanku."


Di sisi lain mereka sedang mendengarkan percakapan,lebih tepatnya suara Anna karena Robert tidak menimpali ucapannya.


"Kau meninggalkannya dengan wanita itu Arya." Tanya Adrew.


"Dia anaknya gadis itu berhak menemuinya,dan jika ia sudah kelewat batas aku akan bertindak." Ucapnya.


"Tapi aku merasa Anna wanita yang baik." Ucap Stev ikut menimpali.

__ADS_1


"Dengarlah gadis itu seperti pemeran antagonis." Ucap Adrew.


Hiks Hiks


"Hei-." Ucapan Stev terhenti karena mendengar suara Anna menangis.


"Ku kira ia gadis kuat,ia benar-benar bisa menyembunyikan lukanya." Ucap Stev tiba-tiba.


Hiks hiks


"Kau egois,kau bahkan dulu tidak pernah mempedulikanku sama sekali."


"Kenapa sekarang bahkan suami pun kau yang memilihkannya untukku. Aku hanya ingin bebas dari kekanganmu."


Hiks Hiks


Tit


Arya mematikan alat penyadapnya saat mendengar tangisan gadis itu entah kenapa suaranya tangisnya membuat jantungnya berdebar ada rasa yang tak bisa di jelaskan logikanya.


"Kenapa kau matikan Arya?." Tanya Stev.


"Ini masalah pribadinya kita tidak punya hak untuk menguping isi hatinya." Jawab Arya lalu pergi keluar.


Arya keluar menunggu di depan ruangan Robert ia harus memberikan ruang untuk gadis itu mengeluarkan isi hatinya.


20 menit berlalu


Ceklek


Anna keluar dari dalam ruangan dengan mata bengkak dan hidung memerah.


"Kau?, masuklah aku sudah selesai." Ucap Anna lalu berjalan pergi.


"Tunggu, bisakah kita bicara." Ucap Arya.


Anna hanya mengangguk lalu berjalan di belakang Arya.


Mereka sampai di taman lalu Arya duduk di ikuti Anna.


Hening


Beluma ada yang memulai pembicaraannya.


Arya menghembuskan nafasnya sebelum mulai berbicara.


"Anna." Panggil Arya ini pertama kalinya Arya memanggil namanya.


Anna menoleh kearah Arya.


"Kita sudah menikah dan itu tidak bisa di sangkal lagi." Ucap Arya.


"Ya aku tau." Jawab Anna.


"Kau ingin berpisah?." Tanya Arya menatap lurus kedepan.


Deg


"Kau gila ya!,kita baru menikah kemarin dan kau ingin pisah?.Haha benar-benar semua orang menganggap ku seperti barang." Ucap Anna tertawa getir.


"Aku tidak ingin pisah." Ucap Arya menghentikan tawa Anna.


"Pernikahan bukan hal untuk di permainkan. Pernikahan itu komitmen dan aku ingin kita menjalaninya sebagai pasangan suami istri." Ucap Arya.


"Lalu kau akan meminta h-hak mu." Ucap Anna terbata-bata ia takut saat ini.


Melhat itu Arya tertawa kecil sungguh bodoh atau gila wanita ini. Anna melihat tawa Arya seketika ia terhipnotis oleh tawanya. Sangat menawan pikirnya.


"Jika kau menyerahkannya aku tidak akan menolaknya." Ucap Arya .


Wajah Anna langsung pias seketika. Dirinya menggeleng cepat dan menjawab "Aku tidak mungkin melakukanya kecuali aku sudah tidak waras."


"Lalu kenapa kau tidak ingin pisah, bukankan kebanyakan pernikahan terpaksa salah satu dari mereka mengharapkan perpisahan?." Ucap Arya.


"Karena aku tidak ingin menjadi janda muda. Mau di taruh di mana mukaku jika aku diceraikan suaminya satu hari setelah pernikahan." Jawab Anna.


"Wanita cantik seperti ku memang mudah mencari yang lain tapi harga diri seorang istri adalah harga mati."


Arya hanya menggelengkan kepalanya pelan. tidak habis pikir dengan gadis di depanya ini. Ia kira karena memang dirinya tidak suka dengan perceraian ternyata karena masalah gengsi dan harga diri.


Arya berdiri dari duduknya lalu melangkah pergi meninggalkan Anna.


"Hei kau mau kemana?." Teriak Anna tidak di balas oleh Arya.


****


Anna berjalan menuju ke kamarnya saat akan membuka pintunya seorang pelayan wanita membawakan sepiring makanan untuknya.


"Nona sarapan anda." Ucap pelayan tersebut di depan pintu.


"Ah dari kemarin aku belum makan." Ucapnya menerima sarapan itu lalu meletakkannya di meja.


"Terimakasih."


"Sama-sama nona." Jawab pelayan itu lalu pergi.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2