
Koridor lantai satu Gedung SMP 2 Jakarta.
“Heh bocah, keluarin semua uang lu!” Dua orang anak muda dengan rambut warna warni bagaikan gulali menekan seorang murid bertubuh kurus lemah di dinding.
Murid itu menunduk dan berkata lirih. “Aku tidak punya uang.”
Pakk! Satu tamparan mendarat di wajah murid itu. “Jangan banyak bacot lu, cepetan!”
Murid itu ditampar sampai sudut bibirnya memerah, airmata mengalir turun tanpa terkendali. Pada saat ini pemuda yang pendek dan gemuk disamping pemuda tinggi berkata, “Udah, jangan sampai lecet. Bocah ini murid unggulan di kelasku, haha!”
Pemuda tinggi itu melihat ke arah murid itu. “Sial, lihat tampangnya. Buat apa pintar sekolah.” Dia menoleh dan berkata pada pria gemuk. “Dut, periksa sakunya, gak percaya gue dia gak punya duit!”
Pemuda gemuk menjawab singkat, lalu maju ke hadapan murid itu. “Winston, lepaskan tanganmu.” Ternyata murid itu mendengar apa yang dikatakan oleh pemuda tinggi itu, tangannya langsung mencengkram saku celananya dengan erat.
Melihat Winston mencengkram sakunya dengan erat seolah tidak mendengar apa yang dikatakannya. “Sial, omongan gue lu anggap kentut kayaknya ya?” Pria gemuk itu langsung menendang perut Winston. Membuat Winston membentur dinding dengan keras. Pemuda gemuk itu menarik paksa tangannya, lalu memasukkan tangan yang satu lagi ke dalam sakunya. Mengeluarkan uang 10 ribu yang sudah lusuh.
Pria gemuk itu memberikan uang itu pada pemuda tinggi lalu meludah di lantai. “Kurang ajar, dasar tidak tahu diri.” Setelah mengatakan itu, dia langsung pergi dengan pemuda tinggi itu sambil tertawa senang. Meninggalkan Winston yang kesakitan.
Winston Santoso adalah murid Kelas 3 SMP 2 Jakarta, dia giat belajar dan sangat pintar, nilainya juga sangat bagus, menjadi juara umum di sekolah. Namun dia punya sifat introvert, tidak punya teman, ditambah tubuhnya yang kurus dan kecil, sehingga sering dibully. SMP 2 bukanlah sekolah yang ketat di Jakarta, peraturan sekolah tidak terlalu ketat, sehingga terkadang ada anak muda dari luar sekolah yang masuk ke area sekolah. Anak-anak ini tidak terlalu besar, karena berbagai macam alasan tidak lagi sekolah, hanya berkeliaran tidak jelas. Melihat murid yang lemah dan bisa diganggu, kalau tidak mengganggu maka akan memalak uang mereka, mungkin dengan demikian mereka akan merasa hebat!
Berdiri di koridor sekolah sejenak, Winston membungkukkan tubuhnya memungut tasnya yang jatuh di lantai, lalu berjalan keluar dari sekolah. Diperjalanan pulang, mata Winston dipenuhi oleh air mata, dalam hati tidak hentinya bertanya dalam hati: Kenapa? Kenapa mereka terus menggangguku? Kenapa mereka tidak mengganggu orang lain? Kenapa aku?
Tidak ada yang bisa menjawab pertanyaannya, gelapnya senja merundung air matanya. Winston pulang ke rumah, sebelum masuk ke dalam rumah dia mengusap air matanya, dia tidak ingin orang rumah tahu kalau dia dibully di sekolah. Orang yang lemah bukanlah tidak memiliki gengsi, bahkan gengsi mereka jauh lebih tinggi dari orang lain. Winston mengeluarkan kunci dan membuka pintu, hanya ada ibunya di rumah. Makanan yang sudah matang tertata di meja makan menunggunya pulang. Begitu melihatnya pulang, ibu Winston berkata, “Ayo cepat makan, nanti dingin.”
Winston mengangguk dan bertanya, “Di mana papa?”
“Hari ini papa shift malam, jadi tidak pulang,” ucap ibu Winston sambil mengambilkan nasi. Winston hanya menjawab ‘Oh’ lalu duduk sambil melihat makanan di atas meja tanpa nafsu makan.
Melihat Winston hanya duduk dan tidak makan, ibunya bertanya dengan cemas. “Wins, kenapa? Kamu tidak enak badan?”
“Tidak!” supaya ibunya tidak curiga, Winston mengambil alat makan dan mulai makan dengan hening.
Winston hidup di keluarga yang sederhana. Ayahnya seorang supir, sehingga sering lembur. Ibunya pedagang kecil. Meskipun keluarganya tidak termasuk kaya, namun dia tidak pernah kekurangan uang. Karena nilainya disekolah bagus, orangtuanya merasa sangat tenang, asalkan dia meminta uang, orang tuanya tidak pernah menolak.
__ADS_1
Keesokan harinya, Winston tetap seperti biasa, bangun jam 5.30 pagi. Setelah membaca tugas kemarin, sarapan, lalu berangkat sekolah setelah meminta uang 20 ribu pada ibunya. Rumahnya tidak jauh dari sekolah, hanya berjarak dua jalan dari rumah, kalau berjalan cepat tidak perlu 5 menit sudah sampai. Winston datang ke kelasnya, kelasnya masih terkunci dan belum ada yang datang. Winston mengeluarkan kunci kelas dan membuka pintu masuk ke dalam kelas.
Dia duduk di kursi paling depan, bukan karena tubuhnya pendek, melainkan karena dia belajar dengan baik, yang belajar dengan baik akan duduk di depan, yang nilainya jelek akan duduk di belakang. Posisi tempat duduk akan ditentukan oleh nilai ulangan. Sekolah punya penjelasan untuk sistem seperti ini: yang nilainya jelek pasti karena suka mengobrol dan tidak mendengarkan guru dengan benar, membiarkan mereka duduk di belakang agar tidak mengganggu orang lain, membiarkan para murid yang mendengarkan pelajaran dengan serius bisa belajar dengan tenang.
Winston duduk di tempat duduknya sambil membaca buku. Setelah sejenak suara murid yang berdatangan mulai terdengar, suasana kelas yang tenang mulai ramai. Murid yang punya teman mulai berkumpul, ada yang membicarakan betapa serunya film yang kemarin mereka tonton, ada yang membicarakan artis mana yang sedang merilis lagu baru, ada beberapa siswi yang saling bertukar stiker yang sudah mereka koleksi. Suasana kelas seramai pasar.
Kelas semakin ramai dan gaduh, Winston mengerutkan alisnya, meletakkan bukunya. Pada saat ini pemuda gemuk yang merampas uangnya kemarin berjalan masuk ke dalam kelas, meletakkan tasnya di tempat duduknya. Melihat Winston yang duduk termenung di sana, berjalan mendekat sambil terkekeh. Begitu mendekat, dia langsung memukul kepala Winston. “Woi, hari bawa uang gak?” Winston dibuat terkejut, lalu berkata sambil menggeleng. “Tidak bawa.”
“Gak bawa?” Pemuda gemuk itu terkekeh dan berkata, “Kalau begitu gue mau cek.” Setelah mengatakannya dia langsung memasukkan tangannya ke dalam saku Winston.
Winston menahan tangannya dengan suara yang bergetar. “Jangan, uangku untuk beli makan siang.” Melihatnya tidak mau memberikan uang, pemuda gemuk itu langsung memukul wajah Winston: “Sialan, berani bertingkah lu?!” rasa sakit di wajahnya membuat mata Winston merah.
Pada saat ini semua mata di kelas langsung tertuju ke arah mereka, ada yang merasa heran, ada yang menonton dengan senang. Melihat teman sekelas melihat ke arahnya, wajah Winston langsung menjadi merah, dia tahu harga dirinya sedang terinjak-injak. Teman semeja Winston tidak tahan lagi melihatnya, seorang gadis berwajah bulat berkata pada pemuda gemuk ini: “Carlos, kamu sungguh keterlaluan, kenapa memukul orang?”
Carlos menunjuk wanita itu. “Minggir sana, apa urusannya sama lu!”
Wanita itu memelototinya dan berkata, “Kenapa, memukul orang memang salah.” Teman yang berhubungan lumayan baik dengan siswi itu membantunya. “Sudahlah Carlos, jangan ribut, guru udah mau datang tuh.”
Carlos mengangguk, berkata sambil menatap Winston yang terdiam. “Ok, dasar berengsek, tunggu saja nanti!” Dia berbalik dan kembali ke tempat duduknya dengan kesal.
Teman sebangku Wiston mendorong dari samping: “Kenapa kamu pengecut sekali? Semakin kamu takut padanya maka dia akan semakin mengganggumu. Kamu tidak punya kakak ya di rumah! Suruh saja datang untuk menghajarnya maka dia dia akan berhenti.”
Winston mengangguk dan berkata, “Terima kasih.”
Suna yang melihat sikapnya ini langsung kesal, dia menoleh dan tidak lagi meladeninya.
Hari yang berat akhirnya berakhir. Setelah pulang sekolah, murid yang ada di dalam kelas pergi satu per satu, tapi Winston tidak berani pergi, dia takut Carlos akan mengajak orang mencegatnya di koridor. Dan pada akhirnya hanya tersisa dirinya dan beberapa murid piket yang masih berada di dalam kelas. Murid yang piket hari ini bernama Zola, dia juga pernah diganggu oleh Carlos sebelumnya. Melihat Winston belum pulang, dai menyapu sambil bertanya, “Wins, kenapa masih belum pulang?”
Winston memegang kepalanya dengan malu. “Aku masih ada soal yang tidak paham, nanti baru pulang.”
"Hehe, kamu sungguh rajin. Pantesan nilaimu bagus!" Tidak lama setelahnya, Zola sudah selesai menyapu kelas, lalu mengambil tasnya dan berkata, "Wins, aku sudah selesai nyapu. Kamu pulang gak? Kalau mau pulang barengan."
Winston menggeleng, "Kamu pulang saja duluan, lagian kita tidak searah."
__ADS_1
Zola mengucapkan 'bye' lalu berlari keluar kelas sambil menggendong tasnya. Winston menunggu sebentar lagi, melihat waktu sudah lewat jam 6, merasa Carlos tidak mungkin menunggunya sampai selarut ini, mungkin mengira dia sudah pulang sejak tadi.
Winston merapikan bukunya, lalu berjalan keluar kelas dengan membawa tasnya. Setelah mengunci pintu kelas, dia berbalik dan pergi.
Rata-rata murid sekolah sudah pulang jam segini. Lampu di koridor sudah banyak yang dimatikan, sehingga remang-remang. Winston berjalan sampai ke koridor lantai 1, ini adalah tempat yang paling dia takuti, karena Carlos dan temannya selalu menunggunya di sini. Melihat tidak ada siapapun di koridor, akhirnya Winston bisa merasa lega. Namun baru berjalan setengah jalan, pintu ruang kelas yang ada di samping tiba-tiba terbuka, dari dalam muncul 5 orang, dan di antara mereka ada Carlos dan temannya yang kemarin merampas uang Winston.
Carlos berkata dengan senyum yang jahat. "Winston, akhirnya lu keluar juga, lu bikin kita nunggu lama banget!" Setelah mengatakannya, mereka langsung mengepung Winston.
Winston merasa begitu terkejut, dia tidak pernah diganggu oleh orang sebanyak ini, airmata hampir menetes turun. "Carlos, pagi... Pagi ini maaf!"
"Sialan! Gak usah ngomongin yang lain, keluarin uangnya dulu." Carlos merasa mereka ramai sehingga bicara dengan sangat lantang dan berani.
"Uangku sudah dipakai buat beli makan siang, sekarang benar-benar tidak ada lagi."
Carlos terkekeh. "Gak ada yah, gue pukul juga bakalan jadi ada." Setelah mengatakannya, dia langsung menendang paha Winston. Yang lainnya adalah berandal di kelas masing-masing, merupakan murid yang tidak takut membuat masalah. Melihat Carlos main tangan, mereka tidak banyak bicara, dan langsung ikut mengeroyok Winston.
Carlos memukul sambil berkata, "Semua jangan hajar mukanya, nanti kalau bengep repot urusannya." Winston disudutkan sampai ke dinding dengan kedua tangan memegangi kepala. Saat ini dia sudah tidak bisa merasakan sakit di tubuhnya, karena jika dibandingkan dengan rasa sakit hatinya, ini jauh lebih ringan. Dia tidak bisa mendengar suara dari luar, telinganya berdengung keras.
"Sudah! Jangan pukul lagi." Carlos merasa sudah cukup, sehingga menahan kawannya. Dia tidak ingin memukul orang sampai menjadi kasus. Dia menjambak rambut Winston dan memukul wajah Winston:"Besok bawa uang 20 ribu. Kalau sampai besok gak bawa, gue suruh orang buat ngehajar lu, ngerti gak?"
Tubuh Winston menempel di dinding sambil membungkuk dengan wajah menunduk, airmata mengalir turun menyusuri wajahnya. Melihat Winston tidak bicara, Carlos menjambak rambut Winston lebih keras lagi dan berkata, "Kurang ajar, gue lagi ngomong sama elu denger gak?" Winston menjawab singkat dengan kaku. Carlos akhirnya pergi dengan temannya sambil mengangguk puas. "Tar mau kemana?"
"Main game yuk!"
"Gak asyik, biliard aja!"
"Sialan, memangnya lu punya duit?"
Mereka bicara sambil tertawa meninggalkan sekolah.
Pada saat ini tubuh Winston yang bersandar di dinding merosot turun perlahan, dia jongkok di lantai sambil menangis sejadi-jadinya, saat ini dia merasa hidupnya sungguh tidak berarti, buat apa pintar sekolah? Pada akhirnya tetap diganggu orang! Kenapa? Dia memukuli kepalanya dengan kencang, dia benci dirinya yang begitu lemah, benci dirinya yang tidak melawan mereka, benci kenapa tidak berani memberi tahu orang tuanya kalau dia diganggu di sekolah.
Setelah sesaat, perasaannya lebih tenang, Winston berdiri dan merapikan pakaiannya yang berantakan, lalu meninggalkan sekolah. Pada saat ini, di luar hujan lebat, Winston berjalan perlahan di jalanan. Dia berterima kasih pada langit yang hujan pada saat seperti ini, paling tidak bisa membuat orang lain tidak melihat air matanya, dia hanya ingin hidup normal, apakah itu sulit? Kenapa orang lain bisa sekolah dengan tenang, namun dia harus menanggung rasa takut. Kalau ini adalah hukuman untuk orang yang lemah, maka dia akan memilih menjadi kuat mulai sekarang. Tidak mau lagi di-bully oleh siapa pun. Hari ini, turun hujan lebat, Winston tidak akan melupakan ini selamanya, karena hari ini adalah awal perubahannya.
__ADS_1