
Kebun di SMA 1 tidak besar, letaknya di belakang lapangan, di sana penuh dengan rumput liar, sampah juga berserakan dimana-mana. Pimpinan dan para guru tidak akan datang ke tempat seperti ini, sehingga tempat ini menjadi tempat para preman sekolah untuk berkumpul, berduel, tawuran, semuanya akan dilakukan di sini. Bahkan bercak darah yang ada di tanah masih bisa terlihat secara kasat mata.
Winston dan Carlos berjalan masuk ke dalam kebun, di belakangnya masih ada belasan anak buah yang ikut di belakangnya. Dari jauh sudah bisa melihat Kak Han membawa segerombolan orang sedang menunggu di dalam sana, di tangannya bahkan memegang perkakas. Kedua belah pihak datang ke tengah kebun dan saling mengamati. Winston menatap Kak Han dan berkata terlebih dahulu. “Kamu adalah preman di SMA 1?”
Kak Han tertawa. “Siapa lu? Atas dasar apa lu ngomong sama gue?”
Carlos menyalakan sebatang rokok untuk Winston dan berkata: “Ini adalah Kak Wins, bos kami!”
Kak Han mengamati Winston. “Kak Wins ya! Gak pernah dengar tuh, gue gak peduli kalian bocah yang nongol dari mana, SMA 1 adalah lapak ‘Kak San’, lu baru juga dateng udah nyebut diri sendiri sebagai bos, ngaca dulu. Hari ini kita bicarakan masalah kalian memukul teman gue!”
Carloss menyalakan rokoknya dan berkata: “Gue gak tahu siapa ‘Kak San’ yang lu bilang itu.” Winston mencegah Carlos dan tidak membiarkannya melanjutkan ucapannya. “Kami yang sudah memukul orang, kalian mau apa katakan. Kami mau jadi apa di sini urusan kami, kamu gak berhak ikut campur.”
Kak Han berkata, “Ok, bocah ini punya nyali juga. Kita gak bahas tentang ini dulu, mengenai elu yang mukul teman gue, gimana kita ngitungnya?”
Carlos berkata dengan kencang. “Siapa lu. Cuma karena punya beberapa kerutan di jidat aja berasa macan beneran?”
“Hehe!” Kak Han tertawa dengan dingin: “Gendut, gak usah songong dulu, tar gigi lu gue bikin berhamburan di tanah!”
Carlos membuka kancing atas bajunya, menggulung lengan bajunya. “Ayo sini, kita lihat gimana cara lu bikin gigi gue berhamburan?!”
Winston menyilangkan tangannya, dia tahu kalau tidak berkelahi tidak akan bisa menyelesaikan masalah ini, dia berkata pada Kak Han. “Kali ini sudah pasti harus berantem, awalnya aku pikir kalau bisa dihindari sebisanya menghindar, tetapi hari ini sudah seperti ini aku juga tidak bisa berbuat apa-apa.” Setelah mengatakannya, tanpa aba-aba, dia langsung menerjang kearah Kak Han, mengangkat kakinya lalu mendaratkan lututnya diatas perut Kak Han dengan kuat. Kak Han tidak menyangka mereka akan bergerak secepat itu, sehingga tidak bisa menghindari serangan di perutnya, membuatnya kesakitan sampai membungkukkan badannya. Winston mengambil kesempatan ini untuk menekan kepala Kak Han yang tertunduk, kemudian menendang wajah Kak Han dengan lututnya dengan kuat.
Kak Han itu juga petarung yang sudah berpengalaman, dia segera bereaksi dan menahan tendangan Winston kali ini dengan lengannya. Winston melihat lututnya ditangkis, dia menyerang punggung lawan menggunakan sikunya. Sikut manusia adalah bagian paling keras, Winston menghantam dengan sekuat tenaga, Kak Han tidak bisa menahannya, dia merasa punggungnya seperti tersambar petir, dia mengerang dengan keras lalu terkapar di tanah.
Karena meremehkan lawan, Kak Han sudah terkapar di tanah sebelum sempat membalas. Winston tahu, menghadapi lawan tidak boleh berbaik hati, kalau sudah turun tangan maka harus membuat lawan terkapar. Saat ini tatapan matanya begitu buas, sama sekali tidak memandang Kak Han yang terkapar ini sebagai manusia. Dia menjambak rambutnya dna menghantamkan wajahnya ke tanah, hanya sekejap wajah Kak Han sudah bersimbah darah dan kesadarannya mulai tidak jelas.
__ADS_1
Ketika Winston menyerang Kak Han, Carlos juga tidak tinggal diam, dia menyerang kearah anak buah Kak Han sambil berteriak dengan kencang, anak buah yang ikut di belakangnya juga mengeluarkan tongkat yang tersemat di punggung mereka dan ikut maju menyerang. Carlos yang menerjang ke depan melihat ‘Si Mata Sipit’, dia tersenyum lebar dan berkata, “Bukannya lu suka main, sini gue temenin main sampai puas!”
‘Si Mata Sipit’ berdiri di belakang kerumunan, dari kejauhan dia sudah melihat Carlos menatapnya dan mendekat ke arahnya, dia ketakutan sampai kabur tunggang langgang dan berteriak minta tolong. Namun mana mungkin Carlos memberikannya kesempatan untuk kabur, hanya beberapa langkah saja sudah berhasil mengejarnya dan memukulnya sampai tumbang. Pukulan tadi pagi hanya makanan pembuka, kali ini dia sama sekali tidak segan-segan lagi, menggunakan semua tenaga yang dia punya untuk melayani ‘Si Mata Sipit’.
Yang lainnya juga sibuk mencari lawan, semua berkelahi menjadi satu. Pada saat ini masuk sekitar 30 orangan dari luar, ditangan mereka membawa papan kayu bekas pecahan kursi dan bergabung dalam perkelahian ini. yang memimpin adalah seorang bertubuh tinggi dengan rambut warna warni dan baju yang terbuka, orang ini adalah Kojan.
Dalam waktu sekejap terdengar erangan dari dalam kebun, murid yang berada di lapangan sudah terbiasa dengan suara ini, yang sedang mengobrol lanjut mengobrol, yang sedang main bola lanjut main bola, sementara hamparan kebun itu malah terasa seperti neraka yang menghasilkan erangan yang begitu menakutkan, anak yang tulangnya patah mengerang kesakitan, anak yang masih sanggup berdiri dengan wajah bersimbah darah sama sekali tidak mendengar, karena yang ada di depan mereka adalah musuh. Dan pertempuran antara geng anak baru dengan geng anak lama dimulai!
Winston berdiri, kedua tangan yang merah karena darah, wajahnya juga terkena percikan darah, Kak Han yang terkapar di lantai sudah pingsan. Dia mengusap wajahnya dan membungkuk untuk menjambak rambut Kak Han yang sudah jatuh pingsan, lalu menariknya dengan paksa.
“Semua berhenti!” Winston berteriak. Suaranya kali ini sama sekali tidak kalah dengan Carlos. Semua yang mendengarnya langsung menghentikan gerakannya dan melihat ke arah Winston. Semua orang begitu terkejut, karena yang berdiri di hadapan mereka sama sekali bukan orang lagi, melainkan iblis. Percikan darah yang menempel diwajah Winston melebar setelah diusap, membuatnya terlihat begitu mengerikan, sekujur tubuhnya penuh dengan darah, orang lain tidak akan menyangka itu darahnya atau darah orang lain, tangannya menjambak rambut Kak Han dan menarik tubuhnya sampai setengah terangkat, entah masih hidup atau sudah mati. Sikapnya ini sama sekali tidak ada bedanya dengan iblis yang bangkit dari neraka.
“Emaaak~~~”
Dua orang anak buah Kak Han berteriak dengan kencang dan berlari keluar kebun, namun dicegat oleh beberapa anak buah Winston yang sudah menunggu di luar kebun dan dipukuli. Kemudian menyeretnya masuk dan melemparkannya di lantai. Anak buah yang dibawa oleh Kak Han tercengang.
Senyum tersungging di bibir Winston. “Hari ini tidak ada yang boleh pergi dari sini!” Mendengar ucapan Winston ini, ada yang mulai menangis sambil terkapar di tanah, ada juga yang kehilangan keberanian untuk melawan lagi. Senyum Winston semakin lebar, dia puas dengan hasil ini. sebenarnya dia hanya ingin menakuti mereka saja. “Kalian pilih. Satu, mau sama seperti dia!” Lalu mengangkat Kak Han di tangannya. “Dua, ikut jadi anak buahku! Pilih sekarang!”
Melihat Kak Han yang tidak jelas masih hidup atau tidak, lalu Winston yang menyeramkan bagai iblis dan anak buahnya. Ada yang langsung membuang senjata di tangannya dan berkata dengan lantang. “Kak, Kak Wins, aku ikut denganmu!” ada belasan anak buah Kak Han yang setia terlihat kebingungan.
Winston yang melihat ini hanya tersenyum, lalu berkata, “Kalian beritahu ‘Kak San’ kalian, aku yang memukul orangnya, aku yang mencari masalah, kalau tidak senang silahkan cari aku, namaku adalah~ Winston Santoso!” melihat orang-orang ini sudah mendengar dengan jelas, “Kalian boleh pergi sekarang, kali ini aku lepaskan kalian, kalau sampai ketemu lagi jangan salahkan aku yang tidak memperingatkan kalian.”
Orang-orang ini melihat Winston tidak sedang bercanda, sehingga berkata “terima kasih” lalu segera memapah temannya yang terluka dan pergi. Namun mereka tidak akan pernah bisa melupakan wajah Winston hari ini, ini merupakan trauma yang membekas dalam seumur hidup mereka.
Melihat mereka pergi menjauh, Winston berkata pada anak buahnya, “Kalian bawa anak yang terluka ke rumah sakit, cepat! Kojan, kamu ikut dengan mereka!”
__ADS_1
Kojan menjawab lalu membopong teman yang terluka keluar dari kebun. Winston menundukkan kepala dan berpikir sejenak, lalu berkata pada Kojan. “Nanti setelah sampai di rumah sakit cari Mata Tiga, dia punya uang!”
Kojan berjalan cukup jauh, lalu berbalik dan menjawab dengan lantang. “Aku tahu, Kak Wins!” setelah mengatakannya dia langsung berjalan keluar dari gerbang.
Carlos berjalan mendekat, dia berkata sambil tertawa pada Winston. “Kak Wins, kali ini puas sekali berantemnya! Aku mengalahkan tiga orang anak. Namun tetap tidak sesadis Kak Wins! Kak Han itu nyaris mati!”
Winston menggelengkan kepalanya, begitu melihat ke arah Carlos, dia nyaris tertawa terbahak-bahak. Baju Carlos sobek sampai muncul beberapa lubang, dan diatasnya ada banyak bercak darah, wajahnya yang lebar sudah dipenuhi keringat yang bercampur dengan debu tanah, sudah seperti seorang pengemis. Winston mengeluarkan sapu tangan dari sakunya dan memberikannya pada Carlos. “Lap dulu wajahmu!”
Carlos menerima sapu tangan dengan wajah tersipu, dia mengelap asal wajahnya. Dalam hati bergumam: Wajah Kak Wins tidak lebih bersih dari wajahku.
Winston berkata pada orang yang tadi setuju berpindah ke pihaknya. “Aku tahu kalian ikut denganku di bawah paksaan, namun karena kalian sudah ikut denganku, aku akan menganggap kalian sebagai saudaraku, aku harap kalian tidak akan mengkhianatiku, kalau tidak. Aku rasa aku tidak perlu mengatakannya dengan jelas. Sekarang aku kembali memberikan kalian kesempatan untuk memilih, yang bersedia tetap ikut denganku tentu saja welcome, kelak apa yang kumiliki kalian juga akan kubagi, yang tidak bersedia tetap tinggal aku tidak akan memaksa, segera pergi dari sini!”
Ada beberapa dari mereka yang tunduk oleh kekejaman Winston, ada juga yang terpaksa. Mendengar apa yang dikatakan Winston, memang membuat mereka merasa bingung. Winston melihat semuanya dengan jelas, dia berkata dengan lantang. “Kelak kalian ikut denganku berarti menjadi orangku, siapa yang berani menyentuh kalian tidak akan kuampuni. Tidak peduli siapapun itu! Hari ini hanya contoh, apa yang aku katakan pasti akan kujalankan!”
Setelah mendengar ucapannya, mereka tidak lagi ragu, semuanya membungkuk hormat pada Winston. “Kami bersedia ikut dengan Kak Wins, kalau sampai berkhianat, tidak akan diterima bumi!”
Winston tersenyum, berkata pada anak buah yang sudah ikut lama dengannya. “Semua lihat dengan jelas, orang-orang ini kelak akan menjadi anggota kita, semua harus saling menjaga!”
Dan yang lucunya, orang-orang yang tadi masih bermusuhan dan berkelahi, sekarang langsung menjadi kawan, dan takdir mereka menjadi satu.
Salah seorang berkata pada Winston. “Kak Wins, aku merasa kamu sangat berbakat, namun ‘Kak San’ bukan orang biasa. Kamu memukul kami… bukan, maksudku memukul mereka, Kak San tidak akan membiarkan hal ini begitu saja!”
Winston bertanya pada orang ini. “Siapa namamu?”
“Kak Wins, namaku Yandhi. Kelas 11.2.”
__ADS_1