
Wajah Carlos langsung menjadi tegas, lalu berkata, “Kita sudah lama dengan Perkumpulan Naga Hitam memiliki anggota yang hebat sepertimu, hari ini gue cuma ingin tahu, gak tahu lu berani duel dengan gue atau gak?”
Hermanto baru ingin bicara, tiba-tiba terdengar suara dari belakang yang membuatnya membatalkan ucapannya. “Dut, lu tuh terlalu gegabah, lupa ya apa yang Kak Kojan bilang ke lu. Cepetan, nanti Kak Wins menunggu terlalu lama!” Orang yang bicara ini bukan orang lain, melainkan Kojan.
Hermanto menoleh dan melihat orang yang datang, entah sejak kapan muncul sekitar tujuh delapan orang di belakangnya, yang memimpin seorang pria muda berbadan tinggi, dan yang tadi bicara adalah dia. Hermanto tertawa, “Bos kalian terlalu memandang gue, menyuruh belasan orang datang untuk mengundang gue seorang, kalau gue gak datang rasanya kurang menghargai!” setelah mengatakannya, tubuhnya bagaikan anak panah yang melesat ke arah Carlos, pukulan dilayangkan ke wajahnya.
Namun dia terlalu meremehkan Carlos, meskipun tubuhnya gempal, namun dia sangat gesit, dengan satu gerakan saja sudah bisa menghindari serangan Hermanto dengan indah, namun meskipun dia bisa menghindari satu pukulan, dia tetap gagal menghindari pukulan yang dilayangkan Hermanto ke arah perutnya. Hermanto tahu akan dirugikan, sehingga memilih mundur. Belasan orang mengepungnya di tengah. Carlos menatapnya dengan senyum jahat, “Hehe, pukulan perkenalan ini akan gue ingat bro!”
Dalam hati Hermanto menghela, dia tahu hari ini tidak akan bisa kabur, Winston bisa membentuk kekuatan yang mengancam mereka di SMA 1 dalam waktu yang begitu singkat bukanlah sebuah kebetulan. Hermanto mengangguk dan membusungkan dada. “Bawa gue ke bos kalian, gue juga pengen kenalan dengan orang ini!”
Carlos cukup salut pada orang yang bernama Hermanto ini, dia sama sekali tidak merasa takut dengan anggotanya yang berjumlah belasan, dia mengangkat jempolnya dan berkata, “Hm! Lu cukup gentle bro! ayo!”
Carlos, Kojan membawa anak buahnya dan Hermanto ke sebuah restoran, di depan pintu tergantung tulisan ‘close’. Carlos membuka pintu dan berkata, “Silahkan Kak Hermanto!”
Hermanto melirik Carlos, setelah ragu sejenak akhirnya melangkah masuk. Carlos dan yang lainnya ikut masuk, lalu mengunci pintunya. Tubuh Hermanto tersentak, lalu menoleh, dalam hati berkata: Paling-paling taruhan nyawa, untuk apa takut? Memikirkan ini, senyum merekah di wajahnya, lalu masuk ke dalam restoran dituntun Carlos. Restoran ini tidak besar, namun diisi oleh orang dalam jumlah yang tidak sedikit, di tengah ada seorang anak muda yang duduk dia atas kursi, usianya sekitar 16 sampai 17 tahun, satu tangannya menopang kepala seperti sedang beristirahat.
Hermanto melupakan rasa takut, lalu bertanya dengan lantang. “Lu yang namanya Winston?!”
Baru mengatakan ini, dari samping muncul seseorang yang langsung menamparnya, “Kurang ajar, beraninya bicara seperti itu pada Kak Wins!”
Hermanto mengusap darah di sudut bibirnya, dia mengabaikan orang di sampingnya, lalu berkata sambil menatap Winston. “Baru tahu ternyata begini cara Kak Wins menyapa tamu!”
“Berengsek, minta dihajar dia!” Orang yang di sampingnya mengangkat tangannya dan ingin memukulnya lagi. Winston membuka matanya dan melambaikan tangan, orang itu melihat gerakan ini langsung mundur. Winston melihat ke arah Hermanto, lalu berkata sambil tersenyum. “Hm! Cukup gentle. Sakti cukup beruntung karena punya anak buah seperti ini. Carlos, ambilkan kursi, jangan biarkan tamuku berdiri!”
Carlos mengangguk dan mengambil kursi lalu meletakkannya di belakang Hermanto, lalu berkata, “Kak Hermanto, silahkan duduk!”
Hermanto berpikir sejenak, lalu duduk, dia berkata dengan terus terang. “Kak Wins tidak mungkin mengundangku datang hanya untuk duduk saja ya kan? Ada urusan apa langsung katakan!”
__ADS_1
Winston mengetuk ringan sandaran lengan kursi. “Aku ingin Perkumpulan Naga HItam bubar dari SMA 1!”
Ucapan ini langsung membuat Hermanto terkejut, orang ini sombong sekali, dia berkata dengan senyum sinis. “Ucapan Kak Wins yang angkuh ini sungguh membuat orang salut, tetapi gue gak bisa membantu, juga tidak ada yang perlu gue bantu!”
Winston menggeleng dan berkata, “Kamu bisa membantu, asalkan kamu mengundang Sakti dan para ajudannya datang kemari, itu sudah sangat membantu!”
Ekspresi Hermanto langsung berubah, dia berkata dengan kesal. “Jadi ini tujuan Kak Wins membawa gue kemari?!”
Winston berkata, “Kamu orang yang pintar, seharusnya tidak perlu kukatakan dengan terlalu jelas!”
Hermanto berdiri, berkata dengan kencang dan mata membelalak. “Memintaku mengkhianati Kak Naga, mengkhianati kawan-kawan yang ada di Perkumpulan Naga Hitam, itu tidak akan mungkin! Meskipun lu bunuh juga gak akan gue lakukan. Kak Wins terlalu meremehkan gue!”
Winston tersenyum dan melambaikan tangan dan berkata, “Duduk, duduk, jangan begitu emosi. Aku yakin kamu akan melakukannya!”
Hermanto duduk dan menatap Winston, lalu memejamkan matanya tidak lagi bicara. Carlos yang melihat ini langsung kesal, dia berkata dengan kencang. “Betingkah dia! Gue…” Carlos yang sedang bicara melihat ke arah Winston, dan dalam sekejap langsung menghentikan ucapannya.
Hermanto mendengar Winston mengungkit soal adiknya, langsung membuka matanya, ketika melihat liontin yang ada di tangan Winston, dia langsung berdiri dan maju. Namun baru berjalan dua langkah sudah dibekuk oleh Carlos dan yang lainnya, membuatnya sama sekali tidak bisa bergerak, hanya bisa berteriak, “Winston, apa yang lu lakukan sama adik gue?”
Winston terkekeh dan berkata, “Dia sangat aman sekarang, anak buahku sedang melindunginya! Tapi ini untuk sementara, dia akan tetap aman atau tidak tergantung kamu!”
Hermanto berkata dengan keras. “Winston, cowok gentle macam apa lu, kalau ada masalah lu langsung ke gue aja, jangan sentuh adik gue!”
Winston berdiri, dia jongkok di samping Hermanto, menatap Hermanto yang sedang dibekuk di lantai dan berkata, “Kamu punya kesalahan yang harus kuperbaiki. Gue bukan seorang seorang gentle, ingat dengan baik, aku adalah seorang bajingan! Adikmu ada di tanganku, semua mungkin terjadi. Kamu mau menyelamatkan adikmu, atau kawanmu, aku akan memberikanmu waktu untuk berpikir!”
Hermanto berkata dengan rahang mengetat. “Dasar binatang!”
Winston sama sekali tidak kesal, dia melambaikan tangannya ke arah Carlos. “Biarkan dia pergi! Satu malam cukup untuk berpikir.”
__ADS_1
Carlos dan yang lainnya melepaskan Hermanto, dia berdiri dan berkata sambil menatap Winston. “Dimana adik gue? Gue mau ketemu sama dia!”
Winston menggeleng dan berkata, “Gak bisa, kamu boleh pergi sekarang. Oh iya, sebaiknya kamu jangan lapor polisi. Kalau enggak, adikmu akan lenyap dari dunia ini. dan kamu gak akan bisa menemukan bukti apapun kalau aku pelakunya! Kamu hanya punya waktu semalam untuk berpikir, sebelum besok siang beri aku jawaban, kalau gak aku tidak bisa menjamin keselamatan adikmu. Inget loh, jangan lupa!”
Hermanto masih ingin bicara, namun Carlos dan yang lainnya sudah menyeretnya keluar. Hermanto dalam perjalanan pulang menangis, dia tahu adiknya yang lebih kecil 4 tahun darinya sudah sangat menderita karena tidak memiliki ibu, bagaimana pun dia tidak ingin adiknya mengalami hal yang buruk, tidak akan…
Setelah Hermanto pergi, Winston akhirnya merasa lega, dia berkata pada yang lain sambil tersenyum: “Ayo, kita tengok tamu kecil kita!” Semua juga ikut tertawa. Setelah semuanya keluar, Kojan menemui bos restoran dan memberikan uang satu juta rupiah, memberitahunya besok malam akan datang lagi. Pemilik restoran tidak hentinya mengangguk sambil tersenyum.
Winston dan yang lainnya datang ke Sinar Billiard yang ada di samping SMP 2, di luarnya sudah ada beberapa orang yang berjaga, begitu melihat Winston datang, mereka langsung membungkuk dan menyapa. “Kak Wins!”
Winston mengangguk dan bertanya, “Bagaimana cewek itu? Baik-baik aja kan!”
Seorang anak buahnya berkata dengan wajah murung. “Dia sangat aman, tenaganya full, dia terus memberontak sampai sekarang. Kak Wins, lihat mukaku, ini perbuatannya!”
Winston melihat dengan seksama, ada empat luka panjang diwajah anak buahnya yang masih berdarah, dia tertawa dan menepuk bahu anak buahnya, lalu masuk ke dalam ruang billiard. Carlos yang mendekat langsung memukul kepalanya, lalu berkata sambil tertawa. “Emang minta dihajar lu!” Yang dipukul hanya bisa memang wajah muram.
Winston berjalan masuk, Mata Tiga sedang merokok dengan bosan. Melihat Winston datang, dia memadamkan rokoknya dan berdiri, dia segera bertanya, “Kak Wins, gimana? Kakaknya setuju gak?”
Winston berkata sambil tersenyum. “Orang ini sangat setia kawan, aku memberikannya waktu semalam untuk berpikir. Kalau tidak melesat seharusnya tidak masalah!”
Mata Tiga bertanya, “Kalau dia tetap tidak setuju, apa yang harus kita lakukan pada cewek ini?”
Winston berkata sambil tersenyum. “Dia tidak mungkin menolak, selama tiga hari ini aku sudah menyelidiki, dia sangat sayang pada adiknya ini! kalau dia sampai gak setuju, haha… maka cewek ini biar jadi bini kamu aja! Mukanya lumayan kok!”
Mata Tiga digoda oleh Winston sampai mukanya memerah, dia menundukkan kepalanya dan berkata, “Kak Wins, jangan bercanda ah!”
Winston berkata, “Ayo, bawa gue buat nemuin cewek itu!” Mata Tiga mengangguk, lalu masuk ke dalam dengan Winston dan yang lainnya. Baru membuka pintu, langsung disambut oleh sebuah bantal besar yang melayang, Mata Tiga terkejut, dia segera menangkapnya. Diatas ranjang berdiri seorang gadis bermata besar yang berusia sekitar 14 sampai 15 tahun, dia bertolak pinggang dan berteriak, “Bajingan, cepat lepasin gue, kalau gak abang gue gak bakal ngelepasin kalian!”
__ADS_1
Setelah Mata Tiga mendengar ini, matanya langsung membelalak besar, lalu membentak. “Turun lu! Haduh! Itu ranjang gue, beraninya lu berdiri di sana pakai sepatu?! Ni anak…” Mata Tiga segera berjalan mendekat dan langsung menggendongnya turun tanpa mempedulikan wajah terkejut gadis itu, dia menatap dengan sedih ranjang yang diinjak tanpa perasaan itu.