Cara Menjadi Bos Mafia

Cara Menjadi Bos Mafia
Chapter 9


__ADS_3

Setelah murid baru yang di sana mendengar ini langsung menjadi gaduh, mereka memang pernah mendengar nama ini, muncul bos mafia baru di SMP 2 yang bernama Winston Santoso. Terdengar suara pengeras suara. “Semua murid baru segera berkumpul di lapangan. Semua murid baru segera berkumpul di lapangan. Pembagian kelas akan dimulai sekarang.” Para murid baru berhenti bicara, semuanya berdiri dengan tegak, sementara yang terkapar di papah oleh beberapa orang untuk berdiri ke pinggir.


Tidak lama berselang, beberapa guru keluar dari gedung sekolah, yang memimpin adalah seorang pria paruh baya usia 50 tahunan dan berkepala plontos, tangannya memegang pengeras suara. Dia berjalan ke atas panggung yang sudah terpasang di lapangan. Pria paruh baya itu berkata sambil memegang pengeras suara. “Halo. Halo~~!” Merasa suaranya cukup baik, dia berdehem dan berkata, “Halo para murid sekalian, saya adalah kepala sekolah disini. Ya, saya disini mewakili para siswa dan para guru sekolah ini menyambut kalian semua untuk bergabung dengan sekolah kami. Anu, sekolah kami sudah berdiri sangat lama…(dihemat saja ya isi pidatonya^^)”


“Berikutnya, biar ketua coordinator sekolah kita yang akan menyampaikan sedikit sambutan, hm, ayo semua tepuk tangan!” akhirnya pidato kepala sekolah yang super panjang selesai juga, hampir 60% pidatonya berisi sejarah pembangunan sekolah ini, 30% membicarakan visi dan misi sekolah, dan 10%-nya berisi ‘eee’ ‘hmm’ ‘anu’ dan sebagainya. Terdengar suara tepuk tangan yang sangat minim, Carlos yang berdiri disana tidak hentinya bergerak-gerak sambil bertarung dengan kelopak mata yang terus mengatup. Melihat sikap Carlos, Kojan yang berada disamping mencubitnya, membuat Carlos terkejut dan jauh lebih segar.


Ketua coordinator menerima pengeras suara, “Halo~ halo halo~” bahkan Winston yang pun merasa stress, bagaimana ceritanya orang-orang ini bisa berada di posisi ini. Ketua Koordinator mencoba pengeras suaranya sejenak, lalu mulai bicara, “Anak-anak, selamat pagi! Saya adalah Ketua Koordinator sekolah ini, nama lengkap bapak Sudarjono. Kalau ada yang ingin kalian tanyakan atau butuh bantuan silahkan menemui bapak. Sejarah sekolah kita sudah dijabarkan dengan sangat jelas oleh bapak kepala sekolah kita tadi, namun bapak tetap ingin sedikit menambahkan…!”


Carlos menarik seragam Winston dan berkata dengan pelan. “Kak Wins, kenapa rasanya aku ingin membunuh orang ya?”


“(1000 years later)… jadi, kalian semua bisa datang ke tempat ini seharusnya merasa sangat beruntung. Sudah, sekarang pembagian kelasnya sudah bisa dimulai!” Akhirnya Ketua Koordinator ini mengatakan satu kata yang suka didengar murid-murid, tepuk tangan anak-anak pun terdengar begitu antusias. Sebelum Ketua Koordinator menyerahkan pengeras suara kembali kepada Kepala Sekolah, dia tidak lupa berteriak, “Terima kasih, terima kasih semuanya!”


Setelah pembagian kelas selesai, Winston dan Carlos juga beberapa anak buahnya masuk kelas 10.6. Kojan yang masuk kelas 10.3 memasang wajah tidak senang. Angkatan tahun ini jauh lebih banyak sehingga dibagi menjadi delapan kelas, setiap kelasnya ada 60 orangan anak. Anak buah yang dibawa Winston terpencar di semua kelas. Masing-masing wali kelas membawa murid mereka masing-masing kembali ke kelas, lelu duduk sesuai tinggi badan. Wali Kelas Winston adalah pria paruh baya berusia 40 tahunan, postur tubuhnya tidak tinggi, mengenakan kacamata. Namun entah kenapa Winston merasa orang ini sangat jahat.


Winston diatur di kursi tengah, teman sebangkunya adalah seorang siswi yang sangat ceria. Winston baru saja duduk, gadis itu langsung mengulurkan tangannya ke depan Winston: “Hai, nama gue Lucy.” Winston tercengang, namun segera menjabat tangan kecil itu dan berkata, “Namaku Winston Santoso, halo!” pada saat ini Winston baru melihat wajah Lucy dengan jelas, wajahnya sangat imut, matanya besar, bulu matanya lentik dan panjang, ketika mengerjapkan mata terasa seperti ada dua kipas kecil yang naik turun.


“Winston Santoso? Kenapa rasanya seperti pernah mendengar siapa menyebutnya ya!” mata Lucy mengerjap, namun tetap tidak bisa mengingatnya, dia bertanya pada Winston dengan wajah bingung. “Lu punya kenalan di SMP 11 gak?” Winston menggeleng, hanya tersenyum tanpa bicara.


Carlos duduk di depan Winston, sesekali menoleh, dalam tatapannya penuh dengan sorot mata iri dan kagum. Winston yang melihat ini langsung menepuk kepala Carlos dan bertanya: “Carlos, kenapa melihatku terus seperti itu?”


Carlos memasang wajah murung sambil menunjuk siswi di sampingnya dengan bibirnya, dia memegang tangan Winston dan berkata dengan sedih. “Kak Wins, kasihanilah aku!” Ekspresi Carlos yang aneh itu membuat Lucy terkekeh.


Winston melihat teman sebangku Carlos, kebetulan gadis itu mendengar suara tawa dibelakangnya, dia juga menoleh. Setelah melihat jelas wajah teman sebangku Carlos, akhirnya Winston mengerti penderitaan Carlos. Dia mengangguk, lalu berkata dengan wajah tegas namun menahan tawa. “Hari-harimu nanti pasti akan sangat menakjubkan.” Carlos tercengang, dia tidak menyangka Winston bisa bercanda, mulutnya bergumam entah mengatakan apa. Sebenarnya sejak Winston bergaul dengan Carlos, Kojan dan juga Mata Tiga, dai menjadi jauh lebih ceria, hanya saja dia tidak menyadarinya.

__ADS_1


Pada saat ini guru berdiri di depan meja guru dan mengetuk meja guru. “Semua tenang! Tenang!” Seisi ruangan langsung menjadi hening. Pak guru sangat puas dengan efek ini, dia mengangguk dan berkata: “Sekarang, saya anak memperkenalkan diri!” Lalu mengambil kapur dan menuliskannya di papan tulis, setelah menulisnya dia menunjuk sambil berkata: “Ini adalah nama bapak!”


Seorang anak tidak bisa melihat dengan jelas sehingga bertanya, “Pak, bapak nulis apa. Bisa dibacakan saja gak!”


Ekspresi guru itu langsung berubah, lalu melempar kapur yang ada di tangannya ke kepala murid itu. “Kamu buta! Lulusan SMP atau bukan, masa gak bisa baca! Kenapa murid angkatan ini gembel sekali sih?!” Melihat wajah murid itu memerah, dia terhenti sejenak dan berkata, “Saya kasih tahu ya! Tulisan ini bacanya ~ Soedaryanto Soedrajat! Duduk kamu!”


Carlos menoleh kearah Winston dan berkata  dengan suara pelan. “Buset, di sini memang beda, guru bisa memarahi murid! Brengsek, mukanya ngeselin banget!”


Winston mendengus dan berkata: “Orang seperti ini kayak kacang goreng bukan hanya ada di SMA 1!”


“Hei, kalian sedang membicarakan apa?” Pak guru memelototi Winston dan Carlos. Carlos menoleh ke arahnya dan menahan diri untuk tidak bicara.


Pak guru mengambil selembar kertas lalu berkata dengan lantang. “Sekarang bapak akan mengabsen, yang dipanggil angkat tangan bilang hadir. Sekarang bapak mulai! Lucas.”


“Carlos Juwanta.” Carlos mengangkat tangan dan berkata hadir dengan lemas. Pak guru langsung memelototinya, lalu lanjut mengabsen: “Winston Santoso.” Begitu membaca nama ini pak guru berhenti sejenak, lalu terkekeh. “Nama yang aneh sekali, bapak ingat dulu ada bandit yang namanya Winston Santoso!” Carlos hampir meledak karena emosi, baru ingin berdiri sudah ditahan oleh Winston.


Guru itu langsung mengabaikan belasan sorot mata yang nyaris bisa membunuh orang yang dilihat, lalu lanjut bicara: “Entah apa yang orangtuamu pikirkan saat memberimu nama ini?!”


Winston berdiri perlahan, “Pak, menghina nama orang lain sangat tidak sopan, entah orang tuamu mengajarimu atau tidak?”


“Kamu pikir siapa kamu, beraninya bicara seperti ini pada bapak!” pak guru merasa kehormatannya ditantang, dia berteriak dengan lantang dan penuh amarah, tangannya juga digerakkan di udara.


Winston menatap pria paruh baya di hadapannya tanpa berkedip, perasaan kesal membakar hatinya, Winston menunjuknya dan berkata, “Di hadapanku kamu sama sekali bukan apa-apa! Sebaiknya jangan menggangguku, kalau tidak kamu akan tahu apa itu menyesal!” setelah mengatakannya Winston menarik celananya dan kembali duduk.

__ADS_1


“Kau…” pak guru masih ingin membalas, namun teringat tatapan matanya yang begitu ganas, ucapan yang sudah di ujung lidah dia telan kembali. Dia tidak ingin mengakui dirinya dibuat ketakutan oleh seorang anak baru, namun kakinya yang gemetar sudah mengkhianatinya.


Dalam hati diam-diam mencatat nama Winston Santoso ini dan terkekeh, kemudian lanjut mengabsen. Carlos menoleh dan bertanya pada Winston. “Kak Wins, kita nyinggung gapapa?” Winston memejamkan matanya. “Kita masih punya kesempatan!” Lalu tengkurap di atas meja bersiap untuk tidur.


Setelah pak guru mengabsen, dia kembali memilih pengurus kelas. Tentu saja, nilai Winston adalah yang terbaik di kelas, namun kesan yang diberikan untuk guru sungguh dalam, membuatnya tidak menjabat apapun. Hanya saja guru tidak tahu, hasil seperti ini membuat Winston sangat puas.


Lalu guru kembali berkata, “Sekarang kalian boleh pulang, ingat untuk masuk jam 7 besok, kita mulai pelajaran jam 8. Tidak ada yang boleh terlambat.” Setelah mengatakannya, dia langsung berjalan keluar dari kelas, dalam hatinya berpikir bagaimana cara mengerjai Winston yang tadi sudah mempermalukannya.


Winston dan Carlos berjalan keluar kelas, anak buah yang sekelas dengan mereka juga mengikuti dari belakang. Melihat di koridor sudah berdiri beberapa orang anak, semuanya mengenakan seragam SMA 1, begitu melihat Winston dan Carlos, salah seorang murid yang mukanya sudah bengkak sampai seperti bakpau menunjuk dan berkata pada orang disampingnya: “Kak Han, itu mereka, aduh~~” Karena menunjuk terlalu bersemangat, sehingga tubuhnya merasa sakit lagi.


Winston mempertegas penglihatannya, ternyata dia adalah ‘Si Mata Sipit’ yang tadi pagi dipukuli Carlos, dalam hatinya sungguh salut pada anak ini, sudah dipukuli habis-habisan oleh Carlos seperti itu masih bisa berjalan, sepertinya kemampuan bertahannya sangat kuat. Carlos juga sudah melihat dengan jelas, lalu mencibir. “Mau apa, gak senang.”


Kak Hans yang tadi dipanggil ‘Si Mata Sipit’ itu mendekat dan mengamati Carlos. “Lu anak baru, baru dating udah mukulin senior sampai kayak gini, sama sekali gak menghargai senior, menurut lu mungkinkah gue tinggal diam.” Yang bernama Kak Han ini memiliki tubuh 180an, lingkar perut yang lebar, begitu mengangkat alisnya langsung ada tiga garis kerutan di atas keningnya, terlihat sedikit mirip dengan harimau.


“Terus lu mau apa?” Carlos tidak berani merendahkan Kak Han ini, kalau duel satu lawan satu dengannya belum tentu bisa menang.


Kak Han mengangguk. “Nanti kita ketemuan di kebun belakang lapangan, kita selesaikan masalah ini.” setelah mengatakannya dia langsung berbalik dan pergi. ‘Si Mata Sipit’ ikut di belakangnya dengan kaki yang pincang, ketika pergi dia menoleh ke arah Carlos: “Sebaiknya lu persiapkan mental lu, siapa yang gak nongol berarti pengecut!”


Pada saat ini Kojan juga sudah tiba, dia bertanya pada Winston: “Kak Wins, ada apa?”


Winston masih belum bicara, Carlos sudah menimpali: “Dua anak yang tadi pagi dipukuli saat diparkiran datang dan mengajak kita “menyelesaikan” masalah di kebun belakang lapangan.”


Setelah Kojan mendengarnya langsung tertawa dengan senang dan menggosok tangannya. “Kak Wins, kita sudah lama gak membantai orang, kebetulan sekali hari ini kita bisa menghajar orang dengan puas.”

__ADS_1


Winston mengangguk, kelihatannya tidak berkelahi disini memang sulit. Karena SMA 1 ini merupakan ‘sarang’ anak berandal. “Kojan, panggil anak-anak, aku punya rencana.” Setelah mendengarnya Kojan langsung pergi.


__ADS_2