Cara Menjadi Bos Mafia

Cara Menjadi Bos Mafia
Chapter 7


__ADS_3

Winston berjalan seorang diri di jalan, jam 10 malam sudah jarang ada pejalan kaki di jalanan. Angin malam berhembus, rumput di pinggir jalan bergesekan. Pada saat ini seluruh kota begitu hening, hanya ada beberapa mobil yang sesekali melintas disampingnya. Winston berjalan sambil menendang batu yang ada di depannya sambil berpikir.


Bagaimana masa depannya? Menjadi preman seumur hidup, atau menjadi mafia yang hebat. Tidak peduli yang mana pilihannya, semua itu bukan yang dia inginkan, semakin dalam terjerumus membuatnya semakin paham kalau kedua jalan ini adalah jalan tidak berujung yang tidak akan bisa berputar balik. Dalam hatinya tiba-tiba muncul sebuah pemikiran, bahkan dirinya juga terkejut oleh pemikiran ini. namun Winston tidak menyangka, sekian tahun kemudian dia hanya akan berjarak satu langkah dari pemikirannya ini.


Winston menggelengkan kepala dan tidak lagi memikirkan semua ini, terkadang nasib seseorang harus mengandalkan diri sendiri, dan terkadang ditentukan oleh takdir.


Satu bulan kedepan, bisa dikatakan adalah hari paling pahit bagi Carlos, Kojan dan juga para anak buah Winston. Tidak ada kebebasan, hanya ada tekanan. Tidak ada hiburan, hanya membaca buku.


Di bawah tekanan Winston, para murid yang dianggap sebagai sampah masyarakat oleh para guru, mengalami peningkatan yang sangat pesat dalam pelajaran. Membuat semua guru begitu terkejut. Dalam hati berpikir: apakah pengorbanan mereka akhirnya menyentuh hati para anak muda yang nakal ini? pihak sekolah bakan mengadakan rapat untuk hal ini, memuji para wali kelas kelas 9.


Murid mereka angkatan tahun ini jauh lebih baik dari angkatan-angkatan sebelumnya, dan telah berdedikasi untuk dunia pendidikkan. Semua wali kelas juga menyampaikan: untuk generasi bangsa yang akan datang, kami akan lebih giat bekerja, mendidik para murid dengan baik.


Hari UN akhirnya tiba. Satu hari sebelum ujian Winston memanggil semua anak buahnya untuk berkumpul, bertanya pada mereka bagaimana belajar mereka? Semuanya hanya menundukkan kepala dan tidak bicara. Dalam hati mereka tahu jelas, bagaimana mungkin pelajaran selama tiga tahun bisa dikejar semudah itu! Melihat semua diam, Winston menggeleng dan berkata, “Tidak peduli apa pun caranya, saat ujian besok masing-masing dari kalian harus membawa satu handphone!”


Carlos merasa heran dan bertanya, “Kak Wins, untuk apa membawa barang seperti itu?” Kojan sempat tercengang, lalu langsung paham, dia memukul kepala Carlos dan berkata, “Otak lu kemana sih, tentu saja Kak Wins akan membagikan jawaban pada kita!”


Winston melihat semuanya membicarakan hal ini dengan wajah tersenyum, dia berkata dengan lantang. “Siapa yang tidak punya ponsel angkat tangan, aku akan memikirkan caranya!”


Ada beberapa anak buah yang mengangkat tangan, Carlos melihat ke kanan dan ke kiri, lalu mengangkat tangannya dengan wajah tertunduk merah. Kojan yang berada di samping langsung menariknya. “Heh, lu jangan malu-maluin, punya lu tar gue pinjemin.”


Kepala Carlos tertunduk semakin rendah, dai berkata dengan malu dan suara lirih. “Kan miskin!” Semua tertawa. Winston berkata sambil tersenyum. “Siapa yang bisa mendapatkan handphone lebih usahakan pinjam lebih banyak, bantu teman yang lain melewati rintangan kali ini dulu, mengerti?” ada beberapa anak buah yang lebih kaya berkata dengan lantang. “Mengerti Kak Wins!”


Winston mengangguk dengan puas. Carlos bertanya, “Kak Wins, jangan-jangan cara ini sudah terpikirkan olehmu sejak awal?”


“Kalau begitu ngapain Kak Wins masih maksa kita-kita belajar selama sebulan?” Carlos mengutarakan isi hati yang lainnya.


Winston berkata dengan wajah tegas. “Karena aku tidak ingin kalian naik SMA seperti orang bodoh. Kalian juga harus ingat, kalau tidak tidak berpendidikan, kalian sama sekali bukan siapa-siapa! Tidak peduli ke manapun kalian pergi, tidak akan ada yang memandang kalian, meskipun kelak menjadi seorang bos mafia juga sama.”


Akhirnya semua paham niat Winston, itu baru benar-benar memikirkan mereka, membuat mereka begitu tersentuh, lalu berkata dengan serempak. “Mengerti, Kak Wins!”

__ADS_1


Keesokan harinya, di depan gerbang sekolah dipenuhi oleh orang tua murid. Para orangtua murid datang untuk menyemangati anak mereka, dan sudah berdiri di sana sepanjang siang.


Mata Tiga jongkok di disamping sambil merokok, dia melihat jam dan bertanya pada anak buah di sampingnya. “Hans, coba lihat handphonenya sudah siap semua atau belum?” Yang bernama Hans segera mengangguk dan berlari ke samping.


“Sudah satu jam lebih kenapa masih belum keluar juga!” gumam Mata Tiga yang sudah tidak sabar menunggu.


“Kak Mata Tiga, jangan-jangan Kak Wins gak bisa keluar?” Anak buah di sampingnya bertanya. Mata Tiga menggeleng, karena dia juga tidak tahu.


Setelah 5 menit berlalu, ada yang menepuk bahu Mata Tiga dan mengejutkannya, dia berbalik dan baru saja ingin marah, begitu melihat Winston yang datang, mulutnya langsung mengatup rapat. “Kak Wins, nongol dari mana? Kok kita gak lihat!”


Winston terkekeh dan berkata, “Ada yang menjaga di gerbang jadi gak bisa keluar, mau tidak mau aku harus lompati tembok sekolah.” Setelah mengatakannya dia mengeluarkan selembar kertas dan meyerahkannya pada Mata Tiga. “Cepat, nanti waktunya gak cukup!”


 “Ok, Kak Wins tenang saja, tidak akan ada yang terlewatkan!” Mata Tiga memegang kertas itu dan langsung membawa anak buahnya pergi tanpa menoleh lagi.


Dan pada akhirnya, hasil UN sudah keluar. Semuanya lulus, dan nilai Winston berada di posisi teratas di seluruh Jakarta, namun murid yang nilainya nomor 1 sekota Jakarta ini malah memilih untuk masuk SMA 1 yang memiliki peringkat terburuk di Jakarta, membuat para guru kebingungan, dalam hati menyayangkan: tunas bangsa berkualitas rusak begitu saja!


Ayah Winston berkata pada istrinya. “Huh, anak sudah besar. Dia punya pilihannya sendiri, kita bisa memaksanya sesaat namun tidak akan bisa memaksanya selamanya.” Kemudian berkata lagi pada Winston: “Wins, semoga kamu bisa mengambil jalanmu sendiri dengan baik, karena tidak akan ada kesempatan untuk menyesal!”


Dan akhirnya Winston berhasil masuk SMA yang memiliki reputasi terburuk se-ibukota dengan status lulusan peringkat satu se-ibukota, dan pada saat bersamaan membawa anak buah dengan jumlah 100 orang lebih. Akhirnya Winston menyelesaikan SMP yang merubah jalan hidupnya, memulai jalan hidupnya yang baru.


Selama libur kenaikan SMA, Winston sama sekali tidak bersantai. Sejak dia berkelahi dengan Mata Tiga, dia sadar otak yang cerdas dan hati yang kejam saja tidak cukup untuk membuatnya sukses di bidang ini, dia tetap membutuhkan fisik yang kuat. Dalam jangka waktu dua bulan, Winston mendaftar masuk dengan kelas Muaythai, Taekwondo, asalkan dia punya waktu luang maka dia akan terus berlatih. Bahkan Mata Tiga juga salut pada tekadnya. Setelah kenal dengan Winston, Mata Tiga bisa menarik kesimpulan dari sifat anak ini: Kalau tidak mau kerjakan tidak usah, tetapi kalau sudah dikerjakan harus melakukan yang terbaik. Satu bulan kemudian, Winston memanggil Mata Tiga ke tempat pelatihan Muaythai. Dia mengenakan sarung tinju dan mengajak Mata Tiga berduel, dan hasilnya tidak ada yang tahu siapa yang menang dan siapa yang kalah, namun hasilnya mereka berdua babak belur, sekujur tubuhnya penuh dengan luka.


Setengah bulan kemudian, Winston kembali memanggil Mata Tiga. Kali ini Carlos dan Kojan juga ikut, namun dia ditahan di depan pintu, ketika melihat Mata Tiga keluar dengan mata bengkak, mereka segera menanyakan hasilnya, Mata Tiga hanya berkata, “Kak Wins sangat berbakat dalam olahraga!” Lalu pergi begitu saja.


Setengah bulan kemudian, ketika Winston mencari Mata Tiga lagi, Mata Tiga yang matanya masih sedikit bengkak sama sekali tidak mau menemaninya berduel, dibujuk sampai seperti apapun dia menolak. Winston tidak berdaya, dai mulai memberikan iming-iming. “Asalkan kamu mau, malam ini aku traktir makan, tempatnya silahkan pilih sesukamu.” Mata Tiga memejamkan matanya dan berkata, “Apapun hadiahnya gue gak akan mau, kalau nyawa udah melayang memang masih bisa makan enak?”


Carlos yang ada disamping tidak tahan terhadap godaan, dia mengajukan diri untuk duel dengan Winston. Mata Tiga menatap Carlos yang pergi menjauh bersama dengan Winston dengan wajah iba, dia menggeleng dan berkata dalam hati. Jaga dirimu kawan!


Dan hasilnya, ketika Carlos dan Winston makan malam, dia memuntahkan dua batang gigi yang patah.

__ADS_1


Sejak saat itu, begitu Winston ingin mengajak anak buahnya berduel, dalam radius 5 meter tidak akan ada orang yang bisa diajak bicara. Mata Tiga sempat berkata, “Nanti kalau Kak Wins sudah pensiun, dia boleh ikut lomba lari marathon, kekuatannya pasti cocok dengan olahraga ini.” Carlos yang pernah merasakannya mengangguk setuju.


Waktu dua bulan berlalu begitu saja, Winston tetap seperti biasa, hanya tumbuh sedikit lebih tinggi, membuat orang merasa posturnya kecil dan kurus.


SMA 1 sedikit lebih jauh dari rumah Winston, mau tidak mau dia harus berangkat sekolah naik sepeda. Ketika sampai di depan gerbang sekolah, yang pertama kali dilihat adalah gerbang yang sudah berkarat dan rusak. Di kedua sisi gerbang penuh dengan tempelan kertas, begitu dilihat: ”Penderita HIV/AIDS tidak perlu khawatir.”


Iklan seperti ini bahkan bisa ditempel di depan gerbang sekolah? Winston berjalan masuk  sambil menggelengkan kepala. Dia melihat ada seorang pak tua yang sedang duduk di pos satpam sambil membaca koran, Winston mendekat dan bertanya, “Pak, saya murid baru disini, mau tanya daftar ulang murid barunya dimana ya?”


Pak tua meletakkan korannya dan menatap Winston sambil berkata dengan lantang. “Kamu bicara apa? Gak kedengeran, yang kencang!” Winston mau tidak mau bicara dengan kencang. “Saya bilang, pendaftaran ulang murid baru di mana?”


“Apa? Kamu udah mau terlambat! Terus kenapa gak cepetan masuk malah masih ngomong di sini?!” pak tua itu menggeleng sambil lanjut membaca korannya.


Winston nyaris muntah darah, punya security seperti ini mana mungkin sekolah ini bisa tentram? Dia langsung mengabaikan pak tua itu dan mendorong sepedanya masuk ke dalam gerbang sekolah. Baru berjalan beberapa langkah, terdengar suara knalpot motor yang kencang dari belakangnya. Winston tidak sempat berpikir panjang, dia refleks loncat ke samping dan melempar sepedanya. Sebuah motor melesat dengan cepat di sampingnya, lalu berhenti tidak jauh di depannya. Yang mengendarai motor adalah seseorang yang mengenakan jaket jeans, begitu helmnya dibuka, rambut panjang yang hitam lebat melambai di udara, lalu orang itu menoleh ke arah Winston.


‘Cantik sekali’ gumam Winston ketika melihat pengendaranya adalah seorang wanita. Wajah tirus dengan alis yang tipis, sepasang mata yang jernih dan hitam, bibir yang merah dan sexy bergerak gemulai.


“Buta ya? Jalan gak pake mata?”


Suaranya sangat merdu, namun ucapan yang dilontarkannya langsung membuat Winston kehilangan minat untuk mengaguminya, dia berkata dengan wajah muram. “Sepertinya kamu yang nabrak deh! Kenapa malah menyalahkan aku.”


Wanita itu mengamati Winston dari atas sampai bawah, postur tubuhnya biasa saja, wajahnya cukup manis, dan matanya sangat berbeda! Panjang dan tipis, juga begitu jernih. Memberikan kesan yang berbeda bagi orang yang melihatnya.


Melihat wanita ini mengamatinya seperti itu, Winston sedikit malu. “Apakah ada yang salah di badan saya?”


Suara Winston membuyarkan lamunan gadis ini, pipinya sedikit merona, dia turun dari motor dan berjalan ke arah Winston sambil berkata, “Lu murid baru ya?” Winston mengangguk. Dia merasa postur tubuh wanita ini sangat bagus, tinggi 170, hampir sama tingginya dengan dia. Ditambah body yang semampai, akhirnya Winston paham apa itu wanita cantik.


“Kalau murid baru harus manggil gue kakak, gak boleh panggil lu atau nama. Badan lu kecil juga, nanti kalau ada yangguin elu bilang sama kakak ya, biar gue yang maju!” Gadis itu berkata sambil menepuk bahu Winston. Entah kenapa, melihat anak yang wajahnya manis seperti ini, hatinya refleks ingin mendekat dan melindunginya, mungkin karena tubuhnya yang kecil membangkitkan jiwa heroicnya!


Winston tidak tahu harus tertawa atau menangis, namun dia tetap mengangguk dengan patuh: “Baik, terima kasih kak. Saya akan mengingatnya!”

__ADS_1


__ADS_2