
Siangnya, Winston dan Carlos pergi ke rumah sakit untuk menengok teman yang terluka, Mata Tiga dan Kojan juga ada disana, setelah ditanya dengan jelas, yang dirawat ada lima orang, namun tidak parah. Akhirnya Winston bisa merasa tenang. Mata Tiga melihat mereka berempat senggang sehingga mengajak bermain billiard, meskipun Winston tidak tertarik pada billiard, namun dia tidak tega mengecewakan yang lainnya, sehingga tetap mengangguk. Mata Tiga segera berkata: “Gue gak mau satu tim dengan Kak Wins ya, deal dulu.”
“…”
“…”
“…”
Winston, Kojan dan Carlos speechless.
Ketika Mata Tiga pertama kali bertemu dengan Winston, dia ingat Winston seperti orang yang tidak pernah main billiard, dan kenangan itu masih begitu jelas terngiang dalam ingatannya.
Di koridor rumah sakit terdengar suara Carlos yang tidak senang. “Woi! Kenapa gue sekelompok sama Kak Wins?”
Mata Tiga dan Kojan bicara bersamaan. “Karena diantara kita lu yang mainnya paling jago!”
“Hm! Iya juga! Eh tunggu dulu! Rasanya gue gak pernah menang dari kalian!”
“…”
“…”
Koridor langsung terasa hening.
Keesokan harinya, Winston menyerah naik sepeda, dia berlari ke sekolah. Dia merasa orang yang dia hadapi semakin lama semakin hebat, kalau tidak punya stamina yang kuat tidak akan bisa. Jarak rumahnya ke SMA 1 dua kilometer, Winston berlari sambil melatih tinju, setelah lelah dia berjalan untuk istirahat sejenak. Ketika sampai di sekolah sudah penuh dengan keringat. Suasana hatinya sangat bagus hari ini, begitu sampai di gerbang sekolah dia sengaja menyapa kakek penjaga sekolah.
Kakek penjaga melambaikan tangan padanya. “Nak, kenapa penuh keringat seperti itu? cepat masuk jangan sampai masuk angin!”
Winston mengangguk sambil tersenyum, lalu berlari masuk ke dalam sekolah. Baru lari beberapa langkah, terdengar suara motor di belakangnya, ‘yang benar saja’ Winston refleks melompat ke samping. Sebuah motor berhenti di sampingnya. “Woi, kenapa lu lagi?! Lu punya kebiasaan jalan di tengah jalan ya?”
Ketika Winston menoleh, dia tidak bisa menahan tawa. Pengendara motor ini adalah ‘kakak’ cantik yang kemarin hampir menabraknya. Winston mengangguk dan tersenyum. “Halo Kak!”
__ADS_1
Wajah gadis yang mengendarai motor itu langsung merona, lalu terkekeh, “Ingatan lu bagus juga rupanya!”
Winston sengaja mengamati gadis ini dari atas sampai bawah, dilihat olehnya dari ujung ke ujung seperti ini membuat gadis ini merasa malu, lalu berkata dengan tersipu. “Hei, apa lihat-lihat? Gak pernah lihat cewek cantik ya?”
Winston berkata dengan ‘sedih’,”Justru karena kakak cantik makanya membuat orang sulit melupakannya! Bukan karena ingatanku bagus.” Sebenarnya ini adalah kata hatinya, gadis yang cantik seperti ini memang membuat orang sulit melupakannya.
Wajah gadis ini memerah, tiba-tiba ada seekor kelinci yang masuk ke dalam hatinya dan melompat kesana kemari. Ucapan seperti ini kalau keluar dari mulut orang lain dia pasti akan mengabaikannya, namun entah kenapa begitu terlontar dari mulut anak yang bahkan tidak dia ketahui namanya, terasa begitu berbeda. Ada perasaan senang yang sulit digambarkannya. Setiap kali bertemu dengan anak ini jantungnya selalu berdegup kencang dan aneh, dia tidak tahu perasaan apa ini, sehingga dia memutuskan untuk menghindar.
Gadis ini kembali naik ke atas motor dan berkata ‘bye’, tanpa menunggu Winston membalas, dia sudah pergi. Sekitar 10 meteran, gadis itu menoleh dan berkata dengan kencang: “Nama gue Santika Leandra!”
Suara gadis ini menggema di telinga Winston. “Santika Leandra, nama yang indah!” Melihat bayangan tubuh gadis yang begitu keren, hatinya semakin bersemangat. Tiba-tiba muncul sebuah pemikiran dalam hatinya: jangan bilang orang ini Kak San? Winston menggeleng dan menepis pemikiran ini, dalam hati berkata, di dunia ini ada banyak wanita yang namanya berawalan San, tidak mungkin segitu kebetulannya! Entah mengapa, Winston tidak berharap wanita ini adalah Kak San.
Winston berjalan masuk ke dalam kelas, di dalam begitu kacau. Carlos dangat supel, dia sedang mengobrol dengan asyik bersama beberapa siswa di sampingnya! Winston duduk di tempat duduknya, Lucy yang duduk disampingnya langsung bertanya, “Bro! tahu gak, kemarin ada yang berantem di kebun belakang sekolah loh, terus hari ini ada beberapa anak yang gak masuk karena diopname!”
Winston tersenyum, lalu berkata sambil menggeleng. “Kurang tahu ya.” Lalu bertanya pada Lucy. “Pihak sekolah ada ngomong mau gimana nyelesaiinnya?”
Lucy menggeleng. “Kalau ini gak dengar, tapi masalah separah ini pihak sekolah gak mungkin cuekin ya kan?”
Winston berkata, “Belum tentu! Jangan lupa ini SMA 1, gak ada SMA yang lebih kacau dari tempat ini di Jakarta. Oh iya, kenapa kamu masuk sekolah ini?” Winston merasa Lucy seharusnya siswi yang cerdas, kalau nilainya lumayan seharusnya tidak perlu masuk ke sekolah ini.
Winston bertanya dengan penasaran, “Biasanya kamu main apa? Kayaknya mainan anak cewek gak banyak!”
Begitu membicarakan main Lucy langsung bersemangat, terlihat sama seperti Carlos tadi, dia berkata dengan seru. “Ketika di rumah nonton TV, dengar music. Kalau di luar main ice skating, berenang, disko, nonton, karaoke’an dan masih banyak lagi, pokoknya.”
Winston menatapnya sambil tersenyum. “Pokoknya gak baca buku, iya kan?”
Wajah Lucy merona, dia mencubit pelan lengan Winston dan berkata, “Ngeselin!”
Melihat Lucy yang tersipu, membuat Winston tertawa terbahak-bahak, ‘gadis yang imut sekali!’ namun Winston segera menarik kembali senyumnya, karena dia melihat tatapan mata Carlos yang penuh amarah sedang tertuju ke arahnya, di dalamnya penuh dengan perasaan ‘sedih’.
Terdengar suara gumaman Carlos. ‘Kak Wins! Ini sama sekali gak lucu. Aku, aku sedih…’ juga suara tawa Lucy yang terkekeh.
__ADS_1
Siangnya Yandhi datang menemui Winston, lalu berkata denga hati-hati. “Setelah Kak San mengetahui kejadian kemarin sangat marah. Tetapi dia tidak akan beraksi sekarang, dia masih akan mengamati sesaat. Kak Wins, kamu harus hati-hati!”
Winston mengangguk, lalu bertanya, “Bagaimana kondisi Kak Han yang kemarin kupukuli? Ada berapa banyak yang terluka?”
Yandhi menoleh dan melihat ke arah koridor, lalu berkata dengan suara pelan. “Katanya luka Kak Han sangat parah, untuk sementara waktu tidak akan bisa pulih. Ini juga salah satu alasan yang membuat Kak San murka, merasa apa yang kamu lakukan terlalu kejam dan keterlaluan. Yang terluka ada belasan orang!”
Winston tersenyum. “Karena sudah jadi musuh, aku tidak akan segan-segan ketika berkelahi. Bagaimana kamu bisa tahu informasi ini?”
Yandhi berkata, “Meskipun aku ikut dengan Kak Wins sekarang, tetapi aku masih punya anak buah yang berada dibawah Kak San. Mereka yang memberitahuku!”
Winston mengangguk lalu bertanya, “Orang ini bisa diandalkan tidak? Apakah informasinya bisa dipercaya?”
Yandhi mengangguk. “Kak Wins tenang saja, kami sudah kenal sejak kecil, dia selalu mendengarkanku. Aku memberitahunya tentang aku yang ikut dengan Kak Wins, awalnya dia juga ingin ikut bergabung, tetapi aku tidak mengizinkannya, aku merasa dia tetap berada di pihak Kak San untuk sementara akan sangat membantu kita!”
Winston menepuk bahunya dan berkata, “Kamu benar dalam mengurus hal ini, dengan adanya temanmu, kita bisa mengetahui kondisi pihak Kak San untuk sementara waktu.” Setelah berhenti sejenak Winston kembali bertanya, “Bagaimana penampakan Kak San kalian itu?”
Yandhi tercengang lalu berkata, “Dia wanita yang sangat cantik, rambutnya panjang, matanya besar, tingginya sekitar 170, sangat langsing.” Winston memotong ucapannya dan bertanya: “Apakah dia sering pakai setelan jeans dan naik motor?”
Yandhi melihat Winston dengan wajah terkejut. “Kak Wins, kok tahu? Kalian pernah bertemu?”
Winston menghelas nafas, dalam hati berkata, benar-benar apa yang ditakutkan malah itu yang datang, tidak disangka gadis itu benar-benar Kak San. Tetapi wajahnya begitu polos, tidak terlihat seperti orang yang bisa menjadi simpanan preman. Tanpa sadar Winston merasa kesal, tangannya mengetuk meja perlahan.
Melihat ekspresi wajah Winston yang buruk, Yandhi langsung menyingkir. Dalam hati menerka mungkin di antara Kak Wins dan Kak San ada hubungan yang tidak biasa.
Tiga hari kemudian, saat jam istirahat siang, Winston datang ke tukang bakmi dan membeli semangkuk bakmi yang berada di depan sekolah. Dia hari ini dia tidak bertemu dengan wanita itu lagi, dalam hatinya penuh dengan tanda tanya. Winston baru makan beberapa suap, ada seorang murid yang berlari menghampiri. Begitu masuk ke lapak tukang bakmi, melihat Winston yang sedang makan bakmi, dia segera menghampiri dan berkata dengan lantang. “Kak Wins, gawat, Kak Carlos dan Kak Kojan juga beberapa teman kita dipukuli oleh segerombolan orang!”
“Apa?” Begitu Winston berdiri dan melihat, ternyata anak buahnya, wajahnya masih ada bercak darah. Dalam hati berpikir: Kak San ini cepat sekali!
“Ayo, bawa aku kesana.” Dia meletakkan uang 10 ribu lalu berlari masuk ke sekolah dengan orang itu.
Orang itu membawa Winston masuk ke dalam kelas, di dalamnya berantakan, meja dan kursi yang hancur berserakan dimana-mana. Juga teman-temannya yang terkapar di lantai sambil mengerang. Melihat Winston kembali, ada seseorang yang menghampirinya dengan gontai, dia berkata dengan kesakitan. “Kak Wins! Kak Carlos dan Kak Kojan dibawa oleh orang Kak San. Mereka menyuruhmu datang ke ruang lukis yang ada di lantai tiga untuk menjemput orang! Mereka bilang kalau kakak gak datang maka kita harus bersiap menjemput mayat.”
__ADS_1
Winston mengangguk tanpa ekspresi, dia tidak bicara, dia langsung berbalik dan berjalan keluar. Namun anak buahnya menarik bajunya. “Kak Wins, jangan pergi seorang diri, terlalu berbahaya! Aku akan mencari Kak Mata Tiga untuk membicarakan ini dulu!”
Winston menepis tangan menarik bajunya dan berkata, “Gak keburu. Tenang saja, aku tahu batasan, tidak apa! Jangan cari Mata Tiga dulu, hanya akan membuat masalah menjadi semakin kacau.”