
Winston tidak tahu dirinya berjalan berapa lama, akhirnya dia sampai di rumah. Begitu membuka pintu, orang tuanya ada di rumah. Ketika mereka melihat wajah Winston yang penuh luka, seraya bertanya, "Wins, mukamu kenapa?"
Rasa gengsi Winston membuatnya tidak bisa mengatakan kalau dia habis dipukuli, sehingga dia berkata dengan suara lemah. "Di luar hujan lebat, jadi kepleset dan terbentur."
Ibunya bertanya dengan penuh perhatian. "Kamu baik-baik saja, Wins? Perlu ke dokter gak?"
"Ma, aku gapapa, jangan ikut campur!" Winston langsung kembali ke kamarnya dan mengunci pintu, perasaannya sangat kacau sekarang, dia tidak ingin bertemu dengan siapa pun.
Ayah Winston mengetuk pintu kamarnya dan berkata, "Wins, kalau begitu makan dulu baru balik ke kamar!"
"Pa, aku sudah makan diluar." Terdengar suara kesal dari dalam kamar. Ayah Winston menoleh ke arah istrinya sambil berkata, "Aku merasa anak kita semakin menjaga jarak dengan kita, sekarang Winston jarang menceritakan tentang dirinya pada kita."
"Iya, anak ini..."
Sekitar jam 10 lebih, Winston mendengar orangtuanya sudah masuk ke kamar dan tidur. Dia lalu keluar dari kamar, pergi ke kamar mandi dan mandi dengan bersih terlebih dahulu. Lalu mencari kotak perkakas yang ada di teras, mengambil sebuah cutter kembali ke kamarnya.
Di dalam kamarnya, Winston melepaskan semua pakaiannya, berdiri di depan cermin dengan tubuh telanjang, tangannya memegang cutter. Menatap dirinya dalam cermin, Winston berkata dengan nada yang begitu dingin. "Winston ingat baik-baik, mulai hari ini, tidak ada yang boleh mengganggumu lagi."
Lalu dia mendorong keluar pisau, mengulurkan tangan kiri, dan mengiris telapak tangannya. Pisau cutter yang begitu tajam menggores telapak tangannya sepanjang 3 inchi, darah segar langsung mengalir keluar. Winston mengetatkan rahangnya agar tidak bersuara, menatap wajahnya yang mengkerut karena kesakitan, lalu berkata dengan tegas. "Winston, kalau sakit seperti ini saja kamu tidak kuat menahannya, bagaimana mungkin kamu berharap tidak diganggu lagi?" Rasa sakit di telapak tangannya menjalar ke seluruh sarafnya, membuatnya mengerang tanpa terkendali.
Mungkin karena terlalu sakit, atau mungkin karena darah yang mengalir terlalu banyak, Winston merasa kepalanya pusing, namun tangannya tetap mencengkram pisau cutter dengan erat. Orangtua Winston seperti mendengar suara erangan dari dalam kamar putra mereka. Karena tidak tahu apa yang terjadi, mereka membuka pintu kamar Winston, dan mereka berdua sungguh dibuat terkejut oleh pemandangan yang mereka lihat. Lantai penuh dengan darah, tangan Winston memegang pisau cutter, tubuh telanjang yang terkapar di lantai dengan mulut yang mengerang lemah.
Ayah Winston segera mengambil selimut dan membungkus tubuh putranya sambil berlari keluar, ibunya mengikuti dari belakang, mereka berdua berlari ke rumah sakit secepat mungkin.
Satu minggu kemudian, Winston kembali masuk sekolah seperti biasa sambil membawa tas sekolahnya, hanya saja tangan kirinya terbungkus perban.
Ketika masuk ke dalam kelas, dia sama sekali tidak peduli dengan tatapan penasaran teman sekelasnya, hanya duduk di tempat duduknya dengan tenang. Teman-teman merasa ada yang berbeda setelah seminggu tidak melihat Winston, namun dimana bedanya tidak ada yang bisa menjelaskan, hanya merasa ada yang berbeda dan aneh.
Melihat teman sekelasnya, Suna bertanya dengan penuh perhatian. "Winston, katanya beberapa hari ini lu sakit dan diopname. Sakit apa sampai separah itu?"
__ADS_1
"Bukan apa-apa," jawab Winston sambil tersenyum. "Hanya tidak sengaja melukai tangan saja."
Suna melihat perban di tangan Winston, mengangguk paham, lalu berkata dengan kesal. "Udah umur berapa, masih aja ceroboh!"
Winston tertawa dan berkata, "Baiklah, lain kali aku akan memperhatikan." Melihat Winston yang tertawa ceria, Suna benar-benar merasa ada yang berbeda, paling tidak dia merasa Winston jauh lebih ceria.
"Apa yang lucu? Wins, jangan bilang lu kabur nginep di rumah sakit buat ngindarin gue ya! Haha!" Carlos berjalan ke arah Winston dengan senyum jahat.
Suna melihat Carlos mengganggu Winston langsung merasa kesal, dia berkata dengan keras. "Carlos, lu gila ya? Gak lihat Winston cedera?"
"Elah, memangnya dia pacar lu sampai dibantu seperti itu, kalian kapan jadiannya?"
Suna dibuat kesal sampai wajahnya merah padam. "Lu... Dasar gak tahu malu." Winston menarik Suna dan berkata:"Sudahlah, anggap saja dia sedang kentut! Untuk apa bertengkar dengannya?" Suna langsung tertawa dan melirik Carlos dengan nakal tanpa bicara.
Carlos mengira dirinya salah dengar, langsung berkata sambil memelototi Winston."Sial, ngomong apa lu barusan?"
Winston berdiri dan berjalan dengan tegap ke arah Carlos, ketika wajahnya hanya berjarak beberapa centi dengan wajah Carlos, dia berhenti dan berkata dengan penuh penekanan. "Tadi aku bilang kamu sedang kentut!"
Darah mengalir dari sudut bibir Winston, namun kali ini dia tidak menangis, melainkan tertawa. Menatap Carlos yang tertawa, Winston memasukkan tangannya ke dalam saku celana. Ketika Carlos dan yang lainnya merasa Winston pasti sudah gila, suara tawa Winston berhenti. Winston mengeluarkan tangan dari saku celananya, dan Carlos melihat sebilah pisau, pisau cutter yang masih begitu baru.
Winston mendorong keluar pisaunya perlahan. Kelas langsung menjadi hening, hanya ada suara 'kreek' 'kreek' yang datang dari cutter.
Carlos menahan rasa takut dalam hatinya, dia tidak percaya, Winston yang minggu lalu masih dia pukuli sesuka hatinya, sekarang bisa melakukan sesuatu padanya! "Sialan, lu pikir dengan bawa pisau buluk begitu gue bakal takut sama lu? Gak liat lu kayak apa. "Melihat Winston tidak bergerak, dia semakin yakin Winston hanya menakutinya, Carlos mendorong kepala Winston dan berkata, "Ngeliat muka lu itu ngeselin, pergi lu jauh-jauh!"
Winston menunggu Carlos menyelesaikan ucapannya, lalu menggeser tubuhnya, pisau cutter melesat di depan wajah Carlos. Carlos merasa ada yang basah di wajahnya, lalu terdengar jeritan dari teman sekelas yang begitu memekakkan telinga. Cairan yang asin mengalir masuk ke dalam mulut Carlos. Carlos mengulurkan tangan untuk memegang wajahnya, apaan nih? Kok lengket! Begitu melihat tangannya, tangannya penuh dengan darah segar!
"Aaaaa!" Carlos memegangi wajahnya dengan kedua tangannya sambil berteriak. Winston maju dan menjambak rambutnya dengan kencang, membuat Carlos menatapnya secara langsung:"Tahu gak? Ini ganjaran dari menggangguku!" Carlos melihat sorot mata Winston yang begitu dingin, hanya sekejap, ini bukan mata manusia, hanya binatang buas yang bisa memancarkan sorot mata yang begitu menakutkan. Dia sangat takut sekarang, sejak kecil sampai sekarang, baru kali ini dia merasakan apa itu kematian. Bukan karena luka di wajahnya juga bukan karena pisau di tangan Winston, melainkan orang yang berdiri di hadapannya yang membuatnya familiar namun juga asing.
Bagaimana pun anak SMP masih anak-anak, pasti tidak pernah melihat hal seperti ini. siswi yang penakut langsung terkejut sampai menangis. Seorang siswa berlari keluar kelas dan menuju ke ruangan wali kelas dengan langkah lebar, dia langsung membuka pintu dan berlari masuk. Pada saat ini wali kelas sedang membaca modul pengajaran, mendapati murid kelasnya berlari masuk dengan panik, langsung bertanya: “Daniel Manurang, kenapa masuk tanpa mengetuk pintu?”
__ADS_1
Daniel berkata sambil terengah. “Pak guru, gawat, Winston melukai wajah Carlos, darahnya banyak sekali!”
Wali kelas mereka adalah seorang guru laki-laki, biasanya sangat suka pada Winston, dia merasa murid ini bukan hanya rajin belajar, dia juga pintar, soal sesulit apapun hanya perlu diajari satu kali saja sudah bisa, hanya saja sifatnya sedikit pendiam. Mendengar ucapan Daniel dia merasa tidak percaya, murid baik seperti Winston mana mungkin menggores wajah temannya sampai berdarah?! Namun melihat reaksi Daniel tidak seperti sedang berbohong, dia ikut dengan Daniel ke kelas dengan perasaan penasaran.
Sampai di depan kelas, mendengar ruangan yang begitu hening. Guru menatap Daniel dan berkata dalam hati, bedebah ini kalau sampai berani membohongiku, lihat saja bagaimana aku mengerjaimu. Daniel ditatap oleh pak guru sampai merinding, dia berdiri disana tanpa berani bergerak. Pak guru mendorong pintu dan berjalan masuk ke dalam kelas, siswa di dalam kelas semua duduk di kursi mereka masing-masing. Awalnya dia melihat ke arah Winston, saat ini dia sedang membaca buku di mejanya. Lalu mengangkat wajah melihat ke belakang, hanya melihat Carlos memegangi wajahnya dengan sapu tangan, namun darah segar sudah membasahi sapu tangan dan menetes di atas meja.
Guru bertanya dengan lantang. “Carlos, siapa yang melukai wajahmu?”
Carlos mengangkat wajahnya dan diam-diam melirik ke arah Winston yang duduk di baris depan, mendapati dia sedang menoleh ke arahnya dengan tatapan itu lagi, sorot matanya yang begitu kejam, seolah berkata kalau dia mengatakan hal yang sebenarnya akan mencabiknya. Hatinya terasa takut, bahkan tanpa sadar merinding, dia berdiri dan berkata dengan kencang. “Pak guru, aku yang tidak sengaja menggores wajahku sendiri, bukan orang lain pelakunya.”
Murid seperti dia memang sangat dibenci oleh guru, mendengarnya berkata demikian guru langsung merasa lega, “Lalu kenapa masih duduk di sana. Jono, bawa dia ke toilet untuk membersihkan lukanya!” Setelah mengatakannya dia bergumam dengan lirih. “Merepotkan, membuat lantai penuh dengan darah!”
Lalu dia menunjuk Daniel. “Kenapa kamu mengatakan kalau Winston yang membuat Carlos berdarah?” Daniel berkata dengan terpaksa. “Tadi aku lihat sendiri…” Namun ketika dia melihat sorot mata Winston, dia langsung menelan ucapan yang sudah di ujung lidah itu. Lalu menoleh dan berkata pada guru. “Ma… maaf Pak, tidak seharusnya saya berbohong, Carlos yang melukai diri sendiri Pak!”
Lain kali lihat yang jelas baru beritahu bapak.” Pak guru menoleh dan berkata pada Winston: “Wins, sudah mau ujian, bagaimana persiapanmu?”
Winston berdiri dan berkata dengan penuh hormat. “Pak guru tenang saja! Saya yakin bisa mendapatkan juara nasional.”
Punya murid seperti Winston adalah kebanggaan bagi seorang guru, dan ada murid sepertinya dikelas membuat dirinya merasa jauh lebih hebat ketika bersanding dengan guru lainnya. Dia tersenyum dengan puas dan menepuk bahu Winston sambil berkata, “Winston, rajin belajar bagus, tapi harus memperhatikan kesehatanmu, jangan sampai kecapekan ya?”
Winston mengangguk dengan patuh. “Terima kasih perhatiannya Pak, saya akan memperhatikannya!”
Pak guru menyuruh Winston duduk, lalu berkata pada Daniel. ”Ambil kain pel dan pel kelas sampai bersih.” Daniel pasrah, dia rela menyinggung guru daripada mengatakan hal yang sebenarnya, karena Winston yang sekarang jauh lebih mengerikan daripada guru. Kelas terasa begitu tenang, hati setiap murid yang duduk di tempat duduknya bagaikan tertindih sebongkah batu besar, membuat mereka nyaris tidak bisa bernafas. Dan pada akhirnya Suna yang terlebih dahulu memecah keheningan, dia bertanya pada teman sebangkunya. “Kenapa kamu menjadi begitu sadis?”
Winston hanya berkata dengan datar. “Karena aku sadar hanya dengan cara seperti itu baru tidak diganggu oleh orang lain.”
“Tetapi meskipun Carlos nakal, caramu terlalu kejam. Luka sebesar itu bukankah akan meninggalkan bekas di wajahnya?” Suna merasa apa yang dilakukan Carlos sedikit keterlaluan.
Winston tersenyum dan mengatakan hal yang aneh. “Hidup manusia sudah ditentukan oleh takdir, meskipun kamu berusaha keras, tidak akan bisa mengubah takdirmu.” Setelah mengatakannya, dai kembali membaca bukunya dan tidak lagi menggubris Suna yang kebingungan.
__ADS_1
Setelah sejenak, Carlos dan Jono kembali dari toilet, di hidung Carlos tertempel perban sepanjang 4 inchi, di atasnya masih terlihat darah yang samar. Ketika Carlos melewati samping Winston dia menghentikan langkahnya, dia membungkuk hormat pada Winston. “Kak Wins, kelak kamu adalah bosku, aku akan menjadi pengikutmu!”
Murid gemuk yang sering mengganggu Winston – Carlos, mulai sekarang akan menjadi pelingdung Winston yang paling setia. Bekas luka yang memenuhi tubuhnya entah ada berapa banyak yang disebabkan karena menyelamatkan Winston, ini adalah masa depan mereka.