Cara Menjadi Bos Mafia

Cara Menjadi Bos Mafia
Chapter 19


__ADS_3

Gadis itu berdiri dan menepuk bokongnya, lalu berlari ke belakang Mata Tiga dan menendangnya dengan keras. “Dasar preman tidak tahu malu, beraninya mukul gue! Mampus lu, mampus lu…” Melihat Mata Tiga tidak bergeming setelah ditendang, dia kembali menendang beberapa kali, semakin ditendang semakin ketagihan!


Mata Tiga tiba-tiba berbalik, urat sudah timbul di keningnya karena kesal. “Gue matiin juga nih siluman kecil ini!” Melihat sorot mata Mata Tiga yang bisa menyeramkan, Carlos segera maju dan menahannya. “Sudahlah, sudahlah, untuk apa emosi sama bocah?!” Mendengar ucapan Carlos, Mata Tiga sedikit lebih tenang, lalu duduk diatas ranjang dengan kesal.


Winston tersenyum, dalam hati berpikir gadis ini sungguh unik, orang yang bisa membuat Mata Tiga begitu kesal sangat jarang. Memikirkan ini, Winston langsung tertawa dan berkata: “Pertunjukkan yang sangat bagus! Sayang banget udah selesai, sayang bener!”


Gadis itu melihat pria yang tertawa, merasa umur mereka sepertinya hanya berjarak tidak sampai dua tahun, wajahnya juga tidak menyeramkan, dengan berani membentak Winston. “Ngapain lu ketawa, gak takut gigi lu jatuh!”


Winston berkata pada gadis ini dengan wajah tersenyum. “Hm! Lumayan, jauh lebih hebat dari kakakmu! Tetapi anak cewek harusnya lebih kalem, kalau gak nanti siapa yang berani jadi pacar kamu?”


Gadis itu bertanya dengan terkejut. “Lu kenal abang gue?” Winston mengangguk dan berkata: “Kenal! Kakakmu memintaku menjagamu dengan baik, kamu mau main kemana kami akan mengajakmu kesana!” Kojan yang mendengar ini langsung panik. “Kak Wins, gak bisa…”


Winston memotong ucapannya. “Gak apa.” Dia menoleh ke arah gadis itu dan berkata: “Gimana, mau main kemana?”


Gadis itu memutar bola matanya dan berkata. “Gue mau main ice skating!”


Mendengar ini Winston tercengang, dia gak bisa main ice skating. Lalu berkata sambil terkekeh: “Kak Nicho, sepertinya diantara kita Kak Nicho yang paling jago main ice skating, kamu aja yang temenin adik ini pergi! Aku masih ada urusan, aku pergi dulu!” Setelah mengatakannya dia langsung pamit pulang, meninggalkan Mata Tiga yang tercengang, dan Carlos juga Kojan yang tersenyum nakal.


 “Lucu? Dut, kenapa gue lihat lu yang ketawanya paling lebar?!”


“Bukan begitu Kak Mata Tiga! Kojan juga ketawa\, kenapa lu diem aja. Eh\~\~eh\~\~ jangan tarik kuping gue!” Terdengar suara teriakan Carlos dari dalam kamar\, juga suara tertawa dari gadis ini.


Keesokan harinya, Winston berangkat lebih awal dari rumah, dia mampir dulu ke tempat Mata Tiga baru ke sekolah. Baru sampai di sekolah, Hermanto langsung memanggilnya ke kebun belakang. Winston sudah mempersiapkannya sejak awal, dia bertanya, “Apakah kamu sudah memikirkannya!”


Alis Hermanto mengkerut, dai berkata dengan tekad bulat. “Benar, Kak Wins. Jam 6 malam gue akan membawa… Kak Naga ke restoran. Semoga Kak Wins bisa memegang ucapanmu, dan melepaskan adikku!”


Winston berkata, “Tenang aja, asalkan kamu bisa melakukannya, aku akan melepaskannya tanpa syarat!”


Hermanto bertanya dengan lega. “Adik gue, baik-baik aja kan!”


Winston berkata dengan wajah tersenyum. “Dia amat sangat baik, gak perlu khawatir, aku bukan orang yang suka ingkar janji!” Setelah mengatakannya dia langsung pergi dari kebun belakang, “Semoga kamu juga bisa memegang omonganmu, jangan membuatku kecewa!”

__ADS_1


Hermanto termenung di kebun belakang itu, hatinya begitu tidak tenang, demi adiknya dia mau tidak mau mengkhianati kawannya. Untuk seorang yang setia kawan, tidak akan ada yang bisa membayangkan bagaimana perasaannya.


Siang hari, Santika datang mengajak Winston makan bersama, dan langsung disetujui. Membuat Carlos merasa tidak senang melihat ini, dia bergumam. “Kenapa gak ada yang ngajak gue makan?”


Malamnya, di sebuah restoran yang tidak jauh dari SMA 1. Winston, Carlos dan yang lainnya semua berada di dalam resto, menunggu Hermanto mengajak kawannya datang. Melihat sudah jam 6, Carlos bertanya dengan tidak sabar: “Kak Wins, jangan-jangan si Hermanto itu mempermainkan kita!”


Winston menggeleng dan berkata, “Tidak akan. Aku yakin dia akan datang, matanya gak akan bisa membohongiku! Baru saja mengatakannya, seorang anak buah sudah berlari masuk dengan terburu-buru. “Kak Wins, Hermanto mengajak beberapa orang datang!”


Mata Winston langsung berbinar dan berkata dengan lantang. “Kalian semua sudah tahu harus melakukan apa bukan?!”


“Iya, Kak Wins!”


“Baiklah, setelah pertarungan hari ini tidak kan ada lagi Perkumpulan Naga Hitam di SMA 1!”


“Yooo~~~~”


Di luar restoran. Hermanto mengajak Sakti dan yang lainnya ke restoran dan berkata pada mereka: “Yang ini tempatnya, makanannya enak banget! Hari ini gue yang traktir!”


Sakti berkata sambil tersenyum. “Kenapa, udah kaya ya! Sejak kapan makan kalian yang bayar. Ayo, kita coba apa bener makanan disini seenak yang dikatakan Manto!” mereka masuk ke dalam resto, Hermanto masuk terakhir, wajahnya begitu pucat. Namun Sakti sama sekali tidak memperhatikannya, mimpi pun tidak akan menyangka dirinya akan dijebak oleh orang kepercayaannya.


Winston keluar dari dalam, lalu bertanya dengan wajah tersenyum: “Mau pesen apa? Disini gak ada makanan dan minuman, tapi kalau tongkat dan pisau ada sedikit! Gak tahu sesuai dengan selera kalian gak.” Ucapan ini bagaikan petir yang menyambar, seisi ruangan langsung menjadi hening.


Seorang pemuda berwajah kurus berdiri, dia menatap Winston dan berkata dngan nada mencibir: “Berengsek, siapa lu, kalau sudah bosan hidup sini gue bantu!”


Senyum diwajah Winston semakin lebar dan semakin manis, tida tidak bicara, hanya menjentikkan jarinya. Setelah mendengarnya, langsung muncul 30 orangan dari dalam, lalu masuk lagi belasan orang dari depan. Pintu dikunci dari luar, bahkan jendela juga diblokir dengan trails. Seluruh restoran bagaikan sangkar raksasa, yang ada didalam jangan harap bisa keluar.


Sakti langsung paham, dia menatap Hermanto dengan wajah tidak percaya dan berkata: “Manto, lu… beraninya berkhianat?”


“Kak Naga, gue bersalah sama lu!” Dia berkata menunduk dan berkata lirih, begitu lirih sampai dirinya mungkin tidak akan bisa mendengar dengan jelas.


Begitu yang lainnya melihat sikap Hermanto langsung paham, pria berwajah kurus itu langsung menendang perut Hermanto dengan keras. “Brengsek! Kak Naga begitu baik pada kita, teganya lu khianati kita. Lu masimh orang bukan? Dasar binatang!”

__ADS_1


Hermanto berlutut di lantai dengan mata berkaca-kaca. “Kak Naga, gue bersalah sama elu! Nanti setelah adik gue dilepasin, terserah lu mau bunuh gue atau mau lu apain!”


Sakti mengabaikan Hermanto, dia menatap Winston dan berkata, “Hari ini gue terima jebakan ini. kasih tahu gue, siapa lu?”


Winston terkekeh. “Ternyata lu gak sepintar anak buah lu! Gue bukan anak buah Kak San, menurut lu gue siapa?”


“Winston Santoso!”


“Tepat sekali, akulah orangnya, hari ini aku ingin berdiskusi dengan Kak Naga tentang bagaimana cara membubarkan Perkumpulan Naga Hitam!”


Ekspresi wajah Sakti langsung berubah dan berkata: “Kak Wins, gue siap tetap disini, terserah mau lu apain, tapi lepasin teman-teman gue yang lain!”


Winston menggeleng dan berkata, “Oh tidak bisa, gue sudah mengerahkan seluruh tenaga dan pikiran, tujuannya adalah untuk memukul mundur kalian dari SMA 1 sekaligus. Hehe, Kak Naga juga orang yang cerdas, gue rasa gue gak perlu ngelanjutin sisanya!”


Pria berwajah kurus itu berteriak ke arah Sakti. “Kak Naga, kita lawan saja!” Dia langsung menerjang ke arah Winston. Winston berdiri di sana tidak bergeming, ketika pria itu sudah mendekat hampir satu meter, tiba-tiba ada satu tendangan yang mendarat di wajah pria itu. Kecepatan pria kurus itu saat menerjang ditambah dengan tendangan yang mengenai wajahnya menghasilkan benturan yang sangat keras. Pria itu tertendang sampai meringis kesakitan dan terkapar di lantai. Yang menendang adalah Kojan, dia tidak bicara, hanya menendangi pria kurus yang sudah terjatuh di lantai dengan membabi buta.


Suara erangan pria kurus itu bagaikan palu raksasa yang menghantam hati Sakti dan juga kawanannya, keringat dingin mengucur. Melihat pria kurus yang terkapar lemas di lantai, Sakti berkata, “Hanya pernah mendengar kalau Kak Wins cukup kejam, akhirnya hari ini bisa melihatnya secara langsung!”


Winston berkata, “Gue gak pernah segan sama musuh!”


Sakti berkata dengan lantang. “Sejak kalian datang ke SMA 1, gue gak pernah ngusik kalian, kenapa kalian memperlakukan kami seperti ini?”


Winston berkata dengan senyuman dingin. “Hanya boleh ada satu penguasa dalam sebuah takhta. Kalau sampai ada yang lain, maka itu bagaikan duri dalam daging, sangat menyakitkan. Kalau gue gak bergerak, lu juga akan bergerak cepat atau lambat! Jadi Perkumpulan Naga Hitam harus musnah! Dan kalian adalah musuh terbesar kami!”


Sakti adalah seorang pria sejati, dia tahu hari ini tidak bisa dihindari, sehingga dia maju dan berkata, “Kalau lu memang cowok maju dan duel sama gue, kalau gue kalah, terserah mau lu apain, tapi kalau lu yang kalah, lepaskan kami, gimana?”


Winston berkata, “Sekarang lu gak berhak tawar menawar dengan gue, lu cuma binatang yang terkurung dalam kandang.” Setelah mengatakannya dia langsung mengayunkan tangannya, semua paham apa maksud bosnya dan langsung maju. Sakti dan kawanannya tenggelam dalam kerumunan.


Kojan memindahkan kursi untuk Winston, sementara dirinya berdiri di samping menonton, pada saat yang sama juga bisa melindungi Winston, dia takut situasi terlalu kacau dan berbahaya. Winston duduk di kursi sambil mengangkat kakinya, tangannya mengetuk sandaran lengan kursi perlahan sambil tersenyum. Puluhan orang berkelahi menjadi satu, suara barang yang hancur, suara erangan dan teriakan menjadi satu. Rasa manusiawi sudah tidak ada di sini, orang-orang mengayunkan senjatanya dengan membabi buta, memukuli sesamanya. Kondisi restoran sekarang sama sekali tidak ada bedanya dengan neraka. Darah segar membasahi lantai. Suara gaduh dalam restoran tidak melebihi 10 menit, semuanya langsung menjadi hening. Sakti dan kawanannya terkapar bersimbah darah di lantai dan tidak jelas masih hidup atau sudah mati.


“Gotong mereka keluar, bersihkan tempat ini.” Winston berdiri, anak buahnya yang ada diluar membuka kunci dan Winston berjalan keluar. Menghirup udara segar yang ada diluar, Winston menghela nafas panjang. Hermanto mengejarnya dan menarik Winston sambil bertanya: “Di mana adikku?”

__ADS_1


Winston menepis tangannya dan berkata dengan wajah heran. “Adikmu tidak ada di tempatku, mana aku tahu dia di mana?”


Begitu mendengar ini mata Hermanto langsung memerah, dia berkata dengan suara keras. “Winston sekarang lu mau curang? Lu orang atau bukan!”


__ADS_2