Cara Menjadi Bos Mafia

Cara Menjadi Bos Mafia
Chapter 8


__ADS_3

Melihat mata jernih Winston sedang menatap dirinya dengan wajah tersenyum, tanpa sadar jantungnya berdegub kencang, dia segera pergi dengan kepala menggeleng. Dalam hatinya dia berkata pada diri sendiri kalau dia hanya pergi bukan sedang melarikan diri. Sementara Winston berteriak di belakang dengan lantang. “Bye, Kak!” sebenarnya dia bahkan tidak tahu gadis ini ada di kelas yang mana, dan dia juga tidak ingin tahu, tadi dia hanya tertarik oleh kecantikan wanita ini, itu saja.


Melihat wanita itu sudah menjauh, Winston menarik kembali tatapannya, lalu membungkukkan badan untuk mengangkat sepedanya. Pada saat ini terdengar suara pria dari belakang yang memanggil. “Kak Wins! Tunggu aku!” Tanpa perlu menoleh pun tahu siapa, Winston menoleh melihat ke arah Carlos yang dipenuhi keringat, dibelakangnya ada Kojan dan enam orang wajah baru.


Setelah mendekat, Carlos berkata pada keenam anak baru itu. “Ini adalah Kak Wins, bos kalian!” Keenam orang itu melirik kearah Winston lalu membungkukkan badan sambil memanggil. “Halo Kak Wins!”


Melihat Winston yang kebingungan, Kojan segera menjelaskan. “Keenam orang ini juga murid baru, Kak Mata Tiga dan kami yang merekrutnya. Ketika berkelahi mereka sangat kuat!”


Winston mengangguk ke arah keenam orang itu, lalu berkata pada Carlos dan Kojan. “Nanti setelah semua kawan-kawan tiba, kalian berhati-hatilah, jangan membuat masalah dulu, mengerti?” Mereka berdua mengangguk, Carlos berkata sambil tersenyum. “Kak Wins, aku sudah ikut lama denganmu, sedikit banyak sudah belajar, tenang saja!”


Winston berbalik dan berkata sambil menggeleng. “Yang membuatku paling tidak tenang justru kamu.” Lalu mendorong sepedanya menuju parkiran yang ada disamping. Kojan terkekeh, lalu mendorong sepedanya ikut di belakang Winston. “Bocah ini, selain senang diatas penderitaan orang masih bisa apa lagi?” Tubuh gempal Carlos mendorong sepeda dan mengejar Winston, keenam anak baru juga mengikuti di belakang dengan wajah tersenyum.


Winston dan yang lainnya sampai di parkiran, baru berniat masuk, mereka sudah dihadang oleh dua orang murid yang ada di depan parkiran. “Eh~~ eh~ eh! Berhenti, mau apa kalian, gak tahu apa ini perkiran khusus guru?”


Carlos merasa tidak senang. “Tadi kami melihat ada anak berseragam yang memarkir sepeda mereka, kenapa kami malah gak boleh?”


Seorang anak bermata sipit melirik ke arah Carlos. “Mereka ya mereka, elu ya elu. Kalau gue bilang gak boleh ya gak boleh!” Anak kurus yang berdiri di sampingnya tidak bicara, namun kepalanya sudah terangkat tinggi sampai semua bisa melihat bulu dalam hidungnya dengan jelas.


Carlos memarkir sepedanya, dan maju untuk membuat perhitungan. “Karena kami anak baru ya kan? Gue kasih tahu ya, mending lu cepetan minggir. Pokoknya hari ini gue harus parkir disini.” Winston juga merasa kedua anak ini keterlaluan, sehingga dia tidak menahan Carlos.


‘Si Mata Sipit’ mendengar ini, langsung membelalakkan matanya dan berkata dengan keras, “Bocah, ngajak berantem ya. Sana minggir, gue gak punya waktu debat sama bocah kayak lu.”


“Ngapain lu melotot. Mau melotot kayak gimana juga mata lu gak lebih gede dari kedelai!”


‘Si Mata Sipit’ yang mendengar ini langsung tidak tahan lagi, dia paling tidak tahan orang lain mengatakan matanya sipit, hari ini malah ada anak baru yang mengatakannya di hadapannya langsung, membuat emosinya langsung membakar ubun-ubun. Dia menggulung lengan bajunya dan bersiap main tangan. Winston mengulurkan tangan kedepannya dan berkata. “Bro sudahlah, temanku ini anak baru jadi gak tahu aturan, kita parkir di tempat lain saja.”

__ADS_1


‘Si Mata Sipit’ sama sekali tidak memandang Winston, dia menepis tangannya. “Kenapa? Mau pergi gitu aja? Gak ada urusannya sama elu, minggir sana. Hari ini si gendut ini mesti gue hajar!”


Carlos yang mendengar ini langsung emosi, dia paling benci orang lain memarahi Winston, juga paling benci orang yang bukan temannya memanggilnya gendut. Dan ‘Si Mata Sipit’ ini sangat tidak beruntung, langsung melanggar kedua hal ini sekaligus. Carlos tidak banyak omong, langsung maju ke depan, lalu mengangkat tangannya melayangkan pukulan ke wajah ‘Si Mata Sipit’. ‘Si Mata Sipit’ dipukul sampai mundur dua langkah, matanya juga sampai berkunang-kunang.


“Lu berani mukul gue?!”


Carlos langsung mendaratkan tendangan di perut ‘Si Mata Sipit’. ‘Si Mata Sipit’ gontai dan terduduk di lantai. Carlos maju dan tidak lagi memperdulikan bagian kepala atau badan, semuanya habis diinjak Carlos.


Anak kurus yang bersama dengan ‘Si Mata Sipit’ melihatnya dipukuli, berniat maju namun ditahan oleh Kojan. Kojan menoleh dan melihat ke arah Winston, melihat Winston tersenyum, akhirnya dia bisa merasa tenang. Dia langsung berkata pada anak buah yang baru: “Bro, sini pemanasan dulu.”


Gerombolan ini sama sekali tidak ada satu pun yang mudah diganggu, karena bosnya tidak bersuara makanya tidak berani maju, sekarang Kojan sudah membuka suara, keenam orang ini langsung mengepung ‘Si Kurus’ dengan senyum jahat. Salah satu diantara mereka berkata, “Biar gue contohin!” Dia melayangkan tendangan ke paha ‘Si Kurus’, membuat tubuh ‘Si Kurus’ langsung kehilangan keseimbangan.


 “Minggir lu!” Datang lagi satu orang dan menjambak rambut ‘Si Kurus’ lalu menariknya ke samping. Kulit kepala ‘Si Kurus’ terasa sakit, dan membungkukkan badannya. Yang lainnya segera mengepung dan mengeroyok ‘Si Kurus’.


Carlos bertanya pada Kojan dengan wajah bingung. “Orang ini guru bukan sih? Kenapa sama sekali tidak bicara!” Kojan juga tidak tahu, dia menggeleng dan berkata, “Mana gue tahu. Masalah di sekolah gembel ini banyak juga ternyata!” Semuanya mengangguk dan sependapat.


Winston melihat kedua orang yang meringkuk di lantai, dan berkata pada yang lainnya. “Sudah cukup, ayo pergi!” Semuanya ikut dengan Winston lalu berjalan cukup jauh baru melihat parkiran yang jauh lebih besar dari yang tadi. Semua memarkir sepeda mereka lalu datang ke lapangan. Saat ini lapangan sudah dipenuhi banyak siswa, Carlos bergumam. “Sepertinya murid baru sekolah ini banyak juga!”


Siswa yang berada di lapangan semua berkelompok, dandanan mereka juga beraneka ragam, ditangan mereka semuanya memegang rokok. Dalam hati Winston berpikir, mungkin semua anak berandal di kota ini berkumpul di sini. Melihat ini, perasaannya langsung bergejolak, dia suka tantangan, dan yang muncul dalam hatinya adalah keinginan menaklukan.


Winston dan yang lainnya berdiri paling depan, teman yang ikut dengannya juga tiba satu per satu. Dalam sekejap, sudah berkumpul sekitar 40 orangan. Winston berkata pada Carlos. “Carlos, coba kamu lihat apakah masih ada yang belum datang?” Carlos mengangguk, dia berdiri di tempatnya dan berteriak dengan sangat lantang. “Yang mencari Kak Wins semua kesini.” Suaranya sangat kencang, bahkan seluruh lapangan bisa mendengar suaranya. Kojan yang berdiri disamping Carlos merasa kupingnya berdengung, dia mengangkat kakinya dan langsung menendang bokong Carlos. “Sial, kak Wins nyuruh lu cari, siapa yang suruh lu teriak? Kuping gue hampir budek sama suara lu!”


Carlos terkekeh dan berkata dengan bangga. “Gimana suara gue? Cukup mematikan ya kan!”


Suara Bass Carlos ternyata cukup bermanfaat, anak buah yang belum menemukan Winston mulai menghampiri.

__ADS_1


Namun tetap terdengar suara teriakan kesal dari sekeliling. “Siapa tuh!”


“Siapa yang tadi teriak? Kayak teriakan setan!”


Wajah Carlos memerah, berteriak dengan penuh emosi. “Nak, bapak moyangmu ini yang berteriak. Siapa yang gak senang keluar sini!”


Winston memberi isyarat pada anak buah yang ada disekitar Carlos, semua langsung paham dan menyingkir, membiarkan Carlos berdiri di tengah lapangan seorang diri. Awalnya Winston tidak ingin membuat masalah, namun jiwa mudanya yang menggelora membuatnya berubah pikiran. Dia ingin memanfaatkan kesempatan ini untuk menunjukkan kebolehan mereka, sehingga tidak mencegah Carlos.


Anak muda yang sifatnya menggebu-gebu langsung maju mengepung Carlos. Seorang murid berseragam biru yang terlebih dahulu maju. “Tadi lu yang teriak.” Carlos maju dan menatapnya, lalu berkata dengan nada mencibir. “Lu bukan tandingan gue, minggir sana!”


Anak berseragam biru itu nyaris dibuat mati kesal, sendirinya gemuk seperti babi malah mengatai orang lain, dia tidak banyak bicara dan langsung melayangkan pukulan ke arah Carlos. Carlos sangat emosional, merupakan ajudan nomor satu Winston, pengalaman berkelahinya sangat banyak. Melihat pukulan yang mendekat langsung menangkapnya dengan satu tangan. Satu tangan lainnya langsung memukul wajah anak berseragam biru itu. Pukulan ini sangat bertenaga, membuat murid ini terduduk di lantai dan tidak bisa bangun lagi.


Carlos melihat ke sekeliling, lalu berkata dengan lantang. “Siapa berikutnya? Yang merasa cowok jangan jadi pengecut! Ayo lanjut!”


Ucapan Carlos menyulut amarah anak-anak disana, ada sekitar tujuh sampai delapan orang yang langsung mengepung Carlos. “Hehe, kalian mau main keroyokan rupanya? Hari ini biar gue temenin main!” Ekspresi wajah Carlos begitu kejam, membuat anak-anak ini terkejut.


Tujuh sampai delapan orang ini melihat Carlos hanya seorang diri, sehebat apa pun juga tidak akan bisa menahannya, mereka menahan perasaan tidak tenang dan langsung menyerang Carlos. Semuanya menyerang Carlos bersamaan, dan mereka berkelahi jadi satu. Dan dalam waktu singkat ada beberapa orang yang wajahnya terluka. Winston mengangguk pada Kojan, Kojan maju dengan cepat dan mencengkram leher seorang anak, satu tangan lainnya memukul perutnya dengan kencang. Anak itu mengerang dan tubuhnya langsung meringkuk. Hanya satu lemparan, Kojan sudah berhasil melempar anak itu ke samping, lalu mencengkram satu anak lagi.


Carlos dan Kojan menghajar anak-anak itu sampai tunggang langgang, yang berniat kabur ditahan oleh anak buah Winston, tanpa banyak omong, langsung menghajar mereka habis-habisan. Lawan mereka yang jumlahnya tujuh delapan orang itu terkapar di lantai, Winston menyuruh semuanya berhenti. Carlos mengusap darah yang ada di sudut bibirnya dan tersenyum, “Puas sekali! Siapa lagi yang gak senang, maju semuanya! Hahaha~”


Anak baru yang ada di samping semuanya menundukkan kepala, mereka diam-diam melirik orang-orang yang terkapar itu, dalam hati merinding. Ekspresi wajah Carlos tiba-tiba berubah, dia teringat pesan Kak Wins yang menyuruh mereka jangan membuat masalah dulu, dalam hati berseru: gawat.


Dia menoleh dan melihat ke arah Winston, melihatnya tersenyum puas sambil mengangguk, akhirnya Carlos merasa tenang.


Dia menegakkan tubuhnya dan berkata dengan lantang. “Gue tahu ada banyak yang masih gak senang, kalian tahu gak siapa kita? Yang dibelakang gue ini adalah ketua kami, Winston Santoso dari SMP 2, yang masih mau ngelawan silahkan pikirkan baik-baik!”

__ADS_1


__ADS_2