
Winston terkekeh, dia menatap Mata Tiga. “Kak Mata Tiga juga tidak perlu menakutiku, karena sudah datang sudah dipastikan aku tidak takut padamu. Kalau benar-benar berkelahi juga kami belum tentu kalah. Hanya saja apakah itu menguntungkan kita!” Winston terdiam sejenak, lalu membungkukkan badan membidik bola.
Mata Tiga tidak lagi memandang rendah pemuda yang kurus kering dihadapannya lagi, instingnya mengatakan kalau orang ini bukan orang biasa. Baik otak maupun nyalinya tidak kalah dengan preman senior yang sudah main lama di bidang ini.
Mata Tiga mengeluarkan sekotak rokok dan mengeluarkan dua batang untuk Winston. Winston mengatakan ‘terima kasih’ lalu mengambil sebatang dan ditaruh di mulutnya, Carlos yang ada di samping segera maju untuk menyalakan rokok Winston dan Mata Tiga. Mata Tiga melihat Carlos dan berkata pada Winston. “Bocah ini cekatan juga!” Setelah terdiam sejenak dia berkata lagi, “Jadi bagaimana rencana lu?”
“Aku ingin bekerja sama, dengan demikian akan menguntungkan kedua belah pihak, sama-sama tidak rugi.” Winston menyemburkan asap di mulutnya.
“Haha! Kerja sama? Uhm, memang ide yang bagus, juga menguntungkan bagi semuanya.” Mata Tiga menggosok stik di tangannya dan berkata, “Tetapi…”
Bagaimana mungkin Winston tidak paham maksud Mata Tiga.“Maksud Kak Mata Tiga siapa yang akan jadi ketuanya ya kan?” Mata Tiga tidak bicara, hanya mengangguk dan memicingkan matanya menatap Winston. “Pada dasarnya aku tidak pantas berebut posisi ketua dengan Kak Mata Tiga, namun kalau menyerahkan anak buahku begitu saja aku akan dianggap tidak punya harga diri, kalau begitu satu kata…” tanya Mata Tiga dengan alis mengkerut. “Apa?”
“Duel! Kamu dan aku, siapa yang menang akan menjadi ketua.” Sorot mata Winston langsung berubah dingin.
Mata Tiga tercengang, tidak berani mempercayai ucapannya. Dia kembali mengamati Winston. Tidak ada yang spesial, postur tubuh setinggi 170an cm, bahkan kurus dan terlihat lemah, orang macam apa ini? beraninya bicara seperti ini.
“Haha!” Mata Tiga tertawa. “Apa yang lu katakan bisa dipegang?”
“Kalau ucapannya gak bisa dipegang buat apa datang!”
“Ok, kalau begitu deal! Kamu pilih hari apa?” ucap Mata Tiga dengan penuh percaya diri.
Winston melihat ke sekeliling dan berkata, “Tempatmu ini lumayan, waktu luangku juga tidak banyak. Aku rasa sekarang saja!”
__ADS_1
“Hehe, ok!”
Winston melepaskan pakaiannya, Carlos dan Kojan sama sekali tidak menyangka akan menjadi seperti ini. Carlos berkata dengan cemas. “Kak Wins, yakin mau duel? Mata Tiga itu terkenal jago berantem loh!”
Winston melemparkan bajunya pada Carlos dan berbisik, “Ini adalah cara yang paling tepat. Kita lemah, tidak akan sanggup melawan Mata Tiga!” lalu berbalik dan berjalan ke tengah ruang billiard. Carlos dan Kojan memegang pisau yang ada di pinggang mereka secara bersamaan, kalau sampai nanti bos dalam bahaya, bedebah itu akan mereka tebas lebih dulu. Melihat lawannya sangat bekerjsama, mereka berdia saling bertatapan dan tersenyum, begitu penuh arti.
Pada saat ini Mata Tiga menyuruh anak buahnya memindahkan meja billiard ke samping, lalu membuka seluruh lampu di ruangan. Seketika seisi ruangan menjadi terang benderang. Dia juga membuka jaket, menggulung lengan kemejanya, lalu bersiap. Sekarang dia merasa lucu, karena dirinya harus duel dengan bocah yang hanya setengah umurnya, kalau sampai tersebar memalukan tidak ya?!
Winston berdiri tegak di hadapan Mata Tiga, sama sekali tidak tegang, seolah semua berada di bawah kendalinya. Ruang billiard begitu hening, semua orang melihat ke arah dua orang yang berdiri di tengah ruangan. Sebuah tekanan yang tidak terlihat menyerbak diudara.
Melihat Winston masih tidak berniat memulai, Mata Tiga membuka suara. “Dek, sudah boleh mulai?” Winston menjawab dengan anggukan.
“Awas hati-hati!” Mata Tiga tidak lagi segan-segan, satu pukulan langsung melayang ke arah Winston. Dia melangkah mundur satu langkah dan berhasil menghindari pukulan ini, namun perutnya malah menerima satu tendangan dari Mata Tiga, Winston ditendang sampai terpental jauh. Carlos sedikit tidak tahan, ketika akan mencabut pisaunya malah ditahan oleh Kojan, dia berkata pelan: “Tunggu sebentar lagi!” Carlos kesal sampai menghentakkan kaki, keringat sampai mengucur.
Melihat Winston yang terkapar di lantai dan tidak kunjung berdiri, Mata Tiga terkekeh dan berkata, “Dek, gue menang nih?!” Dia berbalik dan mengambil jaketnya dari anak buahnya.
“Kelihatannya aku sudah meremehkanmu!” Mata Tiga berjalan ke arah Winston, mengangkat kakinya dan menendang ke arah wajahnya. Mundur satu langkah, namun Winston tidak tumbang. Lalu satu tendangan lagi, Winston kembali mundur tiga langkah, dia tetap berdiri di sana. Darah mengalir turun dari hidungnya, kedua sisi wajahnya juga sudah bengkak. Winston membuang ludah yang penuh dengan darah dan tersenyum.
Mata Tiga pribadi juga merasa sedikit takut, meskipun dia adalah orang yang memukul. “Rasakan ini!” setelah berteriak, Mata Tiga menggunakan seluruh tenaga yang dia miliki dan melayangkan pukulan ke arah Winston. Tubuh Winston yang gemetar tiba-tiba menunduk, kali ini Mata Tiga hanya memukul udara dan tubuhnya langsung menerkam ke depan tanpa kendali. Winston yang tadinya gontai tiba-tiba menjadi lincah, dia segera mengeluarkan pisau lipat yang ada di pinggangnya dan menancapkannya pada titik terlemah Mata Tiga. Pisau langsung berhenti ketika menusuk ke dalam daging, Winston menarik kembali pisaunya, berkata pada Mata Tiga sambil menunjuknya dengan ujung pisaunya. “Tadi kamu sudah mati.”
Mata Tiga menyentuh luka yang berada di dadanya, bersandar di dinding dengan kepala tertunduk tanpa bicara. Winston berdiri dengan tenang menunggu jawabannya. Carlos memasang wajah bersemangat, berkata dengan suara pelan pada Kojan yang ada di sampingnya. “Hehe, Kak Wins menang!” Kojan mengangguk, tangannya memegang gagang pisau yang ada di pinggangnya, dan mulai bergerak ke tengah gagang perlahan. Mata Tiga memang sudah kalah, tetapi bukan berarti dia tidak sanggup bertarung. Kojan takut Mata Tiga tidak bisa menerima kekalahan dan malah menyerang Winston diam-diam.
Setelah sesaat, Mata Tiga mengangkat kepala dan berkata sambil menatap Winston. “Gue merasa kurang terima. Tetapi seorang pria sejati harus menepati apa yang dikatakan, gue kalah! Kelak lu adalah bos gue, cukup satu kata dari lu, maka nyawa ini akan jadi milik lu.” Setelah mengatakannya, dia langsung membungkuk penuh hormat.
__ADS_1
Winston hanya terkekeh, lalu pandangannya tiba-tiba gelap, dan jatuh pingsan. Mata Tiga panik dan bergerak cepat, dia langsung menangkap Winston dan berteriak, “Semua keluar jegat mobil!” dia belum selesai bicara, Carlos sudah terlebih dahulu berlari keluar untuk mencegat mobil…
Mata Tiga dan yang lainnya membawa Winston ke rumah sakit, dia didiagnosa: bagian tulang rusuknya mengalami terlalu banyak cedera, juga sedikit pendarahan dalam, gegar otak ringan. Harus dirawat untuk diobservasi. Carlos menelepon orang rumah Winston, mengatakan kalau dia mengalami kecelakaan dan sekarang berada di rumah sakit. Begitu orang tua Winston mendengarnya langsung menuju rumah sakit setelah bertanya di rumah sakit mana.
Setelah bertemu, Carlos dan yang lainnya menenangkan juga menjelaskan, baru orangtua Winston bisa sedikit lebih tenang. Untuk lebih meyakinkan, Carlos menarik Mata Tiga yang baru saja selesai diperban dan berkata, “Om Tante, dia yang tadi menabrak Kak Wins dengan mobil!” Kojan dan beberapa anak buah yang lainnya segera mengangguk, muka Mata Tiga memerah dan hanya menggaruk kepalanya dengan senyum canggung.
Setengah bulan kemudian, Winston sudah cukup pulih, dokter bilang istirahat yang cukup beberapa waktu maka sudah tidak apa. Hari ini, hanya ada orangtuanya yang menjemputnya di rumah sakit. Mata Tiga dan yang lainnya sudah mengatakan tidak datang. Winston juga tidak ingin orang tuanya bertemu dengan orang-orang ini.
Setelah pulang ke rumah, orangtuanya memasakan makanan yang enak untuk merayakan kepulangannya. Melihat meja makan yang penuh dengan makanan, dalam hati Winston merasa bersalah, kalau sampai orang tuanya tahu dia masuk rumah sakit karena berkelahi, entah apa yang akan mereka pikirkan. Winston merasa bersalah pada orang tuanya sekarang, namun pada waktu yang bersamaan dia juga tidak bisa melepaskan kehidupannya yang sekarang, hari-hari yang begitu menantang dan bebas ini, membuatnya merasakan apa itu kebahagiaan. Di dunia ini tidak ada hal yang lebih menyenangkan dari dihormati orang-orang! Paling tidak itu yang dia pikirkan sekarang.
Dia tidak tahu apa yang dia lakukan saat ini benar atau tidak, namun ada satu hal yang pasti, dia suka kehidupan yang sekarang, mungkin pada dasarnya dia memang dilahirkan jahat. Untuk sementara Winston melupakan masalahnya, dia menemani orang tuanya menghabiskan makanan yang ada di meja makan terlebih dahulu.
Keesokan harinya, Winston membawa tas sekolahnya berjalan ke sekolah. Dari jauh sudah terlihat ada 50 orangan yang berdiri di seberang gerbang sekolah, senyum langsung mengembang di bibir Winston. Dia melihat Mata Tiga dan Kojan sedang jongkok sambil mengobrol dan merokok. Tubuh gempal Carlos tidak bisa jongkok, sehingga dia berdiri disamping berbicara dengan mereka, suaranya yang kencang membuat Winston yang berada cukup jauh bisa mendengar apa yang dia katakan. Mereka bertiga melihat Winston datang dari kejauhan, lalu membuang puntung rokoknya dan segera berdiri. Berseru dengan suara lantang: “Semua berdiri yang tegak, yang tegak. Kak Wins sudah datang!”
Para anak buah yang tadinya berantakan segera berdiri membentuk dua baris, setelah Winston mendekat, mereka berseru dengan serempak. “Halo Kak Wins!” Para murid yang melewati mereka langsung refleks menghindar sejauh mungkin begitu melihat semua ini, pejalan kaki juga semua menoleh, melihat semua ini, dalam hati berpikir: ini gangster?!
Mata Tiga menggaruk kepalanya dan menatap Winston dengan canggung. “Kak Wins, yang waktu itu maaf. Terima kasih Kak Wins tidak menusukkan pisaumu, dokter mengatakan padaku bahwa lukanya berada tepat di samping liver.”
Winston tertawa lebar dan berkata, “Kalau aku benar-benar menusukkannya bagaimana mungkin aku bisa memiliki kawan sebaikmu?” Setelah mengatakannya dia langsung mengulurkan tangannya pada Mata Tiga. Ada perasaan terharu yang terbersit di mata Mata Tiga, dan menggenggam tangan Winston dengan erat. Carlos dan Kojan juga ikut meletakkan tangan mereka diatasnya, tangan mereka berempat menjabat dengan erat, sama seperti takdir mereka yang tidak terpisahkan, bersatu menjadi satu.
Mereka berempat sama sekali tidak bicara, berharap perasaan ini terus membekas dalam hati. Winston yang sekarang adalah pahlawan sesungguhnya dalam hati anak buahnya, mereka merasa tidak ada masalah yang bisa menyulitkan mereka asalkan ada Kak Wins. Dan pahlawan tidak untuk disebut, melainkan untuk dibuktikan dengan aksi.
Setelah cukup lama, mereka berempat baru melepaskan tangannya. Carlos mengeluarkan sebuah kantong yang menggembung dan menyerahkannya pada Winston. “Kak Wins, ini adalah uang yang didapatkan minggu ini. jauh lebih banyak dari dulu!” Winston membukanya dan melihat, dia mengangguk dan berkata pada Carlos. “Pakai uang ini untuk mentraktir yang lainnya makan, supaya semua bisa berkumpul dan saling mengenal.”
__ADS_1
Begitu Carlos mendengar ini langsung merasa senang, makan dan minum adalah hal yang paling dia suka, dia berkata dengan mata yang sudah menyipit karena tersenyum lebar. “Terima kasih Kak Wins!” dia berbalik dan berkata pada anak buah di sekelilingnya. “Malam ini semua berkumpul di gerbang, Kak Wins akan mentraktir semuanya makan!”
“Horeee~!” Semua bersorak senang. Dan kembali membuat pejalan kaki mengerutkan alis mereka.