Cara Menjadi Bos Mafia

Cara Menjadi Bos Mafia
Chapter 15


__ADS_3

Kak San tertawa dan berkata, “Lu nakal banget ya!”


Winston memasang wajah bingung dan berkata dalam hati, apanya yang nakal?


Dia menepuk bahu Kak San yang bersandar begitu nyaman padanya dan berkata, “Ngomong-ngomong Kak San, bukankah kamu sudah boleh berdiri, ada banyak yang melihat pertunjukkan kita!”


Begitu Kak San mendengar, dia segera berdiri. Melihat ke sekeliling, kenapa semua melihatnya dengan wajah seperti orang bodoh? Wajahnya langsung merona merah, Kak San berkata dengan kepala menunduk. “Ma… maaf ya! Sudah membuat kotor baju elu!”


Winston menggerakkan kakinya yang kesemutan karena tertindih oleh Kak San, lalu berdiri dan berkata, “Ini bukan apa-apa, asalkan kamu tidak menangis lagi, mau baju ini kuserahkan padamu juga gak masalah!”


Mendengar ucapannya ini, hati Kak San terasa begitu manis, dia menyipitkan mata dan menatap Winston. Winston menepuk debu di pakaiannya, lalu bertanya, “Kak, Namamu Sandra Leandra?” Sandra mengangguk dan berkata,”Iya, itu adalah nama asli gue, lu boleh panggil gue dengan panggilan Sansan!”


Dalam hati Winston berpikir: Kak San bernama Sandra Leandra, gadis bermotor itu bernama Santika Leandra, jangan-jangan mereka adalah.


Sandra melihat Winston yang hanya menunduk tanpa mengatakan apapun, menarik lengan bajunya dan berkata, “Apa yang lagi lu pikirkan? Ada yang aneh sama nama gue?”


Winston langsung menggeleng dan berkata, “Gak kok, nama yang indah sekali! Sekarang kamu sudah tidak membenciku?”


Sandra berkata dengan manja. “Orang aku gak pernah.” Ucapan selanjutnya tidak dilanjutkan, dia hanya menunduk sambil memainkan ujung kemeja seragamnya saja. ekspresi Sandra yang malu-malu nyaris membuat bola mata semua anak buahnya jatuh. Mereka saling bertatapan, dalam mata mereka tertulis: apakah dunia sedang kacau hari ini? Kalau tidak pasti dunia akan kiamat! Menakutkan sekali!


Winston berkata, “Tapi ada satu hal yang ingin kukatakan. Tidak ada tahta yang dipimpin oleh dua raja, suatu hari pasti akan ada yang mundur dari SMA 1 suatu hari nanti.”


Ucapan ini menyentak Sandra, membuatnya kembali tenang, “Maksudmu siapa yang mundur dari kita?”


Winston berkata dengan penuh percaya diri. “Aku punya kemampuan dan juga kekuatan untuk bertahan. Aku sama sekali tidak memandang kekuatan Perkumpulan Naga Hitam, kemampuanmu juga…”


Sandra memotong ucapannya, “Lu juga gak mandang ya kan!” Winston hanya tersenyum, hanya mengangguk tanpa bicara.


Sandra menatap pria di hadapannya cukup lama baru berkata, “Gua bukan orang yang mudah dikalahkan, tapi gue juga gak bodoh, gue tahu gue bukan tandingan lu, tetapi gue gak akan membubarkan geng gue cuma karena satu kata dari lu!”


Winston mengangguk dan berkata, “Aku akan membuktikannya padamu. Dalam waktu setengah bulan aku akan membuat Perkumpulan Naga Hitam bubar! Kalau gagal aku yang akan membubarkan gengku.”

__ADS_1


“Kalau lu benar melakukannya, gue juga akan membubarkan geng gue tanpa banyak omong!” tidak ada yang paham kekuatan Sakti seperti Sandra, bagaimana pun mereka sudah bertarung begitu lama. Dia merasa Winston masih muda, terlalu gegabah, pasti akan rugi kalau jatuh ke tangan Sakti.


“Ok, deal!” Winston mengulurkan tangannya ke arah Sandra, Sandra menepuk tangannya dan berkata, “Deal!”


Winston berkata pada Sandra sambil tersenyum. “Kalau begitu aku pamit dulu, aku harus menengok kedua kawanku. Bye Kak San!”


Sandra mengangguk, bibir mungilnya terbuka sedikit, namun pada akhirnya tidak bicara. Winston melambaikan tangannya dan berbalik berjalan keluar ruang lukis. Setelah keluar dia menghela nafas panjang, membayangkan kejadian dia berkelahi dengan Sandra benar-benar… menegangkan! Dia menggelengkan kepala dan merasa lucu dengan apa yang dia pikirkan. Sandra berada di lingkungan yang berbeda dengannya, apalagi dia adalah kekasih bos Geng Jinggo, sementara dirinya hanya seorang preman kecil.


Sandra menatap bayangan Winston yang pergi sampai sangat, sangat lama… dalam hati dia bertekad, dia harus menundukkan pria ini, bukan, tapi anak laki-laki!


Winston baru saja turun dari tangga lantai 3 setengah jalan, terdengar suara ramai yang menuju ke atas, yang memimpin adalah Mata Tiga, juga Carlos dan Kojan yang wajahnya babak belur. Begitu melihat Winston, jelas semua langsung merasa lega. Carlos bertanya dengan suara kencang. “Kak Wins, kau… tidak apa-apa kan?”


Wajah Winston yang sekarang penuh dengan percikan darah, bagian bahunya merah sehamparan besar.


Winston melihat semuanya dan terkekeh. “Aku tidak apa-apa. Kenapa Kak Nicho juga datang!” Mata Tiga mengamati Winston, setelah memastikan dia baik-baik saja, lalu berkata sambil tersenyum. “Anak buah barumu yang bernama Yandhi mengutus anak buahnya untuk datang mencariku, Kak Wins, masalah sebesar ini kenapa tidak mengabariku sama sekali, kalau sampai terjadi sesuatu padamu… Huh! Lain kali jangan seperti ini lagi!”


Melihat Mata Tiga yang begitu cemas, ada rasa hangat yang menjalar ke dalam hati Winston, dia berkata dengan penuh terima kasih. “Baiklah, Kak Nicho, kelak kalau ada masalah aku pasti akan memberitahumu! Ok?”


Mata Tiga tertawa dengan keras dan berkata, “Gitu dong! Apa fungsinya sahabat, sahabat itu orang yang akan ingat padamu ketika dalam masalah!”


 “Kak Wins, kau kenapa?” Mata Tiga langsung panik dan memapah Winston, dia mengerahkan tenaganya dan langsung menggendong Winston berlari menuruni tangga. Yang lainnya juga begitu terkejut. Carlos berteriak, “Berengsek, gue mau cari yang namanya Kak San buat bikin perhitungan!” setelah mengatakannya, dia langsung mencabut pisau yang dia kantongi dan berlari menaiki tangga. Anak buah yang ikut dengannya juga ikut mengeluarkan perkakas mereka dan berlari naik bersama Carlos.


Winston yang digendong oleh Mata Tiga panik, dia ingin berteriak namun tidak bisa, dia hanya bisa berkata dengan lemah. “Kak Nicho, cepat panggil Carlos suruh kembali.”


Mata Tiga melihat ekspresi panik Winston, langsung berteriak, “Dut, cepat kembali! Ada yang mau Kak Wins bicarakan sama elu!” Carlos yang sedang menaiki tangga mendengar ini sempat ragu sejenak, lalu menyentakkan kaki dan berlari turun. “Kak Wins, kenapa? Aku akan membawa anak-anak untuk menghajar si ****** itu!”


Winston meliriknya lalu berkata dengan kesal. “Memangnya kamu tahu ada apa? Selalu begitu gegabah, semuanya balik. Gak ada yang boleh membuat perhitungan dengan Kak San Paham tidak?”


Carlos yang melihat Winston marah, tidak berani membantah, dia menyimpan kembali pisaunya dan bertanya dengan hati-hati. “Kak Wins, kenapa tidak membiarkan kita membuat perhitungan dengan Kak San, kami tidak takut padanya!”


Winston ingin mengatakan sesuatu, namun rasa pusing kembali mendera, dia mengibaskan tangannya dan berkata, “Sudahlah, sulit dijelaskan sekarang, aku akan menjelaskannya nanti.” Suaranya semakin lama semakin lirih, dan akhirnya kepala Winston terkulai dan jatuh pingsan.

__ADS_1


“Kak Wins!” Semua yang melihat Winston seperti ini langsung berteriak. Mata Tiga tidak berani menunda, dia langsung berlari menuruni tangga keluar sekolah, dia memanggil sebuah taksi dan menuju rumah sakit terdekat. Yang lainnya ingin ikut mencegat taksi dan menuju ke rumah sakit. Namun ditahan oleh Kojan, dia berkata dengan lantang. “Semuanya kembali dulu, begitu banyak orang yang ke rumah sakit juga tidak ada gunanya, nanti aku akan memberitahukan kondisi Kak Wins pada kalian.”


Setelah mendengar ucapan Kojan, meskipun tidak bersedia pun hanya bisa tetap tinggal dan menunggu kabar. Carlos Kojan dan Yandhi naik mobil, Yandhi berkata pada supir untuk mengikuti mobil yang ada di depan, supir mengangguk dan langsun mengejar. Dibelakang terdengar teriakan supir lainnya. “Woi, kalian jadi naik gak?”


“Gak jadi!”


“Sial, gak mau naik ngapain manggil!”


“Hei!!!”


“Eh! Eh, mau apa kalian? Mau mukul orang?!”


“Sial! Emosi nih, gue hajar lu!”


Rumah sakit Graha Sehat Jakarta. “Dok, gimana kondisi teman kami?” Seorang dokter berjalan keluar dari ruang IGD, Mata Tiga segera maju dan bertanya dengan panik.


Dokter melihatnya dan berkata dengan acuh. “Kamu siapanya pasien?”


Melihat sikap dokter, Mata Tiga langsung kesal, dia menghembuskan napas panjang dan berkata dengan sopan. “Dok, saya adalah teman pasien. Saya ingin tahu apakah teman saya dalam bahaya?”


Dokter berkata, “Untuk sementara belum tahu, hanya mendapati bagian bahu dan juga sendi tangannya terluka, penyakit lainnya harus tunggu hasil pemeriksaan lebih lanjut!”


Mata Tiga berkata dengan panik. “Kalau begitu apakah kami boleh masuk dan menjenguknya?”


Dokter berkata dengan sinis. “Mana boleh, sekarang pasien sedang istirahat, tidak boleh diganggu!”


Mata Tiga mengangguk, lalu mengeluarkan uang 400 ribu dan meletakkannya di tangan dokter: “Kami adalah sahabat baik, kami masuk hanya ingin melihat keadaannya, tidak akan mengganggunya, tenang saja, apakah bisa memberikan kami sedikit kelonggaran!”


Dokter melihat uang yang ada di tangannya, sikapnya langsung berubah, dia menepuk bahu Mata Tiga. “Kalau begitu, tidak manusiawi kalau mencegah kalian masuk, hehe!” dia berbalik dan berkata pada perawat. “Biarkan mereka masuk dan melihat sebentar, tapi kalian harus cepat! Hasil pemeriksaan akan keluar besok, tenang saja!”


Mata Tiga mengangguk dan mengucapkan terima kasih, lau mereka berempat masuk ke dalam bangsal. Melihat wajah Winston yan pucat, dan terbaring dengan mata terpejam, tangannya terpasang infus. Carlos mendekat dan menggenggam tangan Winston sambil menangis, dia bergumam, “Semua salah gue yang gak berguna, kalau bukan karena Kak Wins ingin menolongku, dia tidak akan jadi begini. Semua salahku.” Semua juga merasa sedih, mendengar ucapan Carlos mereka juga merasa begitu sedih, menundukkan kepala dan mengusap air mata mereka. Mata Tiga mendekat dengan mata berkaca-kaca, lalu menendang bokong Carlos sambil berkata, “Semua udah kejadian, ngapain nangis!”

__ADS_1


Carlos berkata dengan terisak, “Gue kan khawatir!” Mata Tiga berkata dengan lantang: “Kurang ajar, gue lebih khawatir dari lu aja gak nangis.” Dalam hati berpikir: dokter bilang tidak ada luka luar yang parah, kalau begitu kenapa Kak Wins bisa tidak sadarkan diri? Jangan-jangan ada luka dalam!


Winston yang terbaring di ranjang bergerak, dia membuka matanya dan berkata, “Carlos, kalau kamu nangis lagi di samping ranjangku, aku jamin kau akan kuhajar sampai menjadi kepala babi!”


__ADS_2