Cara Menjadi Bos Mafia

Cara Menjadi Bos Mafia
Chapter 6


__ADS_3

Malamnya Winston menelepon pulang terlebih dahulu, mengatakan kalau ada temannya yang ulang tahun sehingga ada acara, dia akan pulang lebih malam. Lalu membawa Mata Tiga, Carlos, Kojan dan 50an anak buah datang ke sebuah restoran yang tidak besar juga tidak kecil. Begitu masuk ke dalam restoran anak buah mereka berseru dengan kencang, tamu yang ada didalam kalau bukan pergi karena terkejut, ya pergi karena diusir. Mata Tiga memilih sebuah meja yang bersih dan membiarkan Winston duduk ditengah, lalu mengatur tempat duduk yang lainnya.


Winston, Mata Tiga, Carlos dan Kojan duduk bersama. Pemilik restoran mendengar pelayan mengatakan kalau ada segerombolan preman yang datang, bahkan mencapai 50 orangan. Pemilik resto mengira dirinya menyinggung seseorang sehingga segera keluar dari dapur, begitu bertemu mereka langsung berkata sambil tersenyum. “Ya ampun! Benar-benar sebuah keberuntungan restoran kecilku ini bisa kedatangan anda sekalian! Mau makan apa pesan saja, saya yang traktir!”


Carlos melirik orang yang bicara, umurnya sekitar 30 tahunan, lemak di tubuhnya tidak lebih sedikit dari miliknya, dia sedang basa basi dengan wajah tersenyum. Carlos berkata, “Lu bosnya?”


Pemilik restoran melihat yang bicara adalah anak gemuk yang terlihat masih muda, tidak berani meremehkan, dia mendekat dan berkata, “”Hehe, saya pemilik restoran ini, entah adik-adik sekalian datang kesini karena…?”


“Gak buat nyari ribut!” Carlos menunjuk Winston yang ada di samping dan berkata, “Ini adalah ketua kami, hari ini memilih tempat ini untuk mentraktir teman-teman. Harganya yang masuk akal sedikit, kalau enggak kita gak bakal tinggal diam!”


Pemilik restoran mendengar ini diam-diam merasa lega, orang yang membuka restoran adalah orang yang berpengalaman, tahu harus bicara apa dengan orang seperti apa. “Lihat apa yang adik katakan ini. Kalian datang ke sini karena memandang restoran kami. Kali ini saya yang traktir, hitung-hitung untuk berterima kasih!”


Winston melambaikan tangannya. “Bapak tidak perlu sungkan, kedatangan kami tidak ada maksud lain, hanya ingin makan saja. kalau ada makanan yang enak sajikan saja, kami tidak akan membuat anda merugi.”


Pemilik restoran berkata dengan senang. “Baik! Kalau begitu saya juga tidak akan sungkan pada adik-adik sekalian. Saya aturkan dulu, semua makan dan minum yang senang!” Winston mengangguk, pemilik restoran berjalan menuju dapur.


Melihatnya pergi, Carlos tersenyum dan berkata, “Bos ini lumayan juga!”


“Ternyata bukan orang biasa!” gumam Kojan. Mata Tiga merasa seperti ada yang kurang di atas meja, lalu menepuk kepalanya sendiri, “Keasikan dengerin pemilik resto basa basi.” Lalu berteriak pada pelayan. “Pelayan, bawakan 6 krat bir terlebih dahulu!”


Pelayan mendekat, seorang gadis yang masih berusia muda, dia bertanya dengan wajah merona: “Tuan mau bir apa?” Carlos melihat gadis ini lumayan cantik, langsung menggodanya. “Nona, disini jual bir apa aja? Coba sebutkan.”


“Ada Bir Bintang, Heineken, Balihai, Guiness.”


“Masih ada yang lainnya gak?” ucap Carlos sambil menatap gadis itu.

__ADS_1


Gadis itu ditatap sampai wajahnya semakin merona, dia  berkata dengan lirih. “Tidak ada lagi.”


“Coba diingat-ingat, pikir yang lebih seksama lagi…”


Winston langsung menjitak kepala Carlos dan berkata, “Banyak omong ni anak.” Lalu menoleh dan berkata pada pelayan itu. “Tolong bawakan Balihai!”


Gadis itu mengangguk dan pergi dengan cepat. Kojan tertawa terbahak-bahak dan berkata sambil mengedipkan mata. “Dut, liat tuh anak orang ampe syok  gara-gara lu!”


“Sialan, besok gue diet…” terdengar suara tawa yang membahana.


Birnya datang dengan cepat, Mata Tiga menuangkan bir dan berdiri. “Teman-teman, gelas pertama kita bersulang untuk Kak Wins. Kita bersulang untuk Kak Wins yang pulang dari rumah sakit.” Semua berdiri dan berkata, “Selamat Kak Wins!”


Winston berdiri dan mengangguk sambil tersenyum, “Terima kasih semuanya, seharusnya aku yang bersulang untuk kalian, siapa yang menyangka Kak Nicho sudah duluan. Tidak perlu banyak bicara lagi, cheers!”


Semua bersorak dengan serempak. “Cheers!” terdengar suara gelas yang saling berbenturan.


Winston baru selesai minum segelas, mau tidak mau menuang satu gelas lagi dan mengangkatnya sambil berkata, “Kelak masih butuh kerja keras kalian semua, kesuksesan ini tercipta karena kalian! Cheers!”


“Cheers!”


Semua mengajak bersulang satu sama lain, makan belum datang semua, botol bir sudah memenuhi meja. Yang diperhatikan dalam minum-minum bukan prosesnya, tapi perasaan yang senang. Orang yang bertarung mempertaruhkan nyawanya hari ini, mungkin besok akan menjadi kawan sehidup semati.


Winston berempat tidak minum gila-gilaan seperti yang lainnya, mereka minum sambil mengobrol. Mata Tiga memegang gelas birnya sambil berkata, “Kak Wins, apakah kita perlu mendirikan organisasi. Anggota kita semakin lama semakin banyak, kalau tidak ada organisasi akan sulit mengendalikannya!”


Carlos dan Kojan memang sudah punya rencana ini sejak awal, mereka mengangguk, Kojan berkata, “Apa yang dikatakan Kak Mata Tiga benar, kita harus mendirikan organisasi kita sendiri.” Lalu Carlos menimpali. “Iya, seperti Geng Kapak di kota kita, keren sekali!” (Geng Kapak Kota Jakarta adalah geng senior di kota ini, tidak ada yang tahu kapan mereka mulai berdiri. Merupakan mafia yang sudah diakui dan dikenal masyarakat.”

__ADS_1


Winston hanya menundukkan kepala dan tidak bicara. Dai juga ingin mendirikan organisasi, tetapi mudah mengatakannya, untuk merealisasikannya tidak mudah sama sekali. Dia mengambil birnya dan berkata setelah meminum satu teguk. “Aku tidak menolak mendirikan organisasi, tetapi pada saat itu akan ada banyak anggota yang bertambah, makan minum dan hiburan akan mengandalkan organisasi, menurut kalian kita harus membiayai mereka dengan apa?”


Mereka bertiga tercengang, Winston mengangkat kepalanya dan menghabiskan bir di gelasnya, lalu berkata lagi. “Uang yang kita miliki sekarang berasal dari ‘uang keamanan’ yang kita dapatkan dari para  murid, dalam sebulan bahkan tidak mencapai 40 juta. Lalu kita mendirikan organisasi dengan uang yang hanya segini? Kalau pun kita memaksakan diri mendirikannya, hanya akan membuat kita semakin cepat bubar.”


Kojan bertanya, “Kak Wins, kalau begitu maksudmu adalah…?” Winston tersenyum, menundukkan kepala sambil memainkan gelas yang ada di tangannya. Carlos orang yang tidak sabaran, melihat Winston tidak bicara, dia bertanya dengan suara lantang. “Kak Wins ngomong dong, kita semua dengerin kok!”


Winston melihat ke arah tiga orang yang menatapnya sampai tidak berkedip, dia berkata perlahan. “Seharusnya… kalian sekarang… belajar yang benar!”


Carlos dan Kojan tercengang, ida refleks bertanya, “Belajar yang benar?”


“Tepat sekali, seharusnya kalian belajar yang benar sekarang. Satu bulan lagi sudah UN, kalian semua harus masuk SMA. Siapa yang gagal masuk SMA… aku Winston tidak akan mengampuni kalian. Kecuali kalian tidak ingin ikut denganku lagi!”


Mata Tiga juga tercengang, “Kalau gitu… gimana dengan aku?” Winston terkekeh, “Kamu tetap mengendalikan tempat ini, bahkan harus semakin meluas, memperkuat kekuasaan, targetnya adalah setiap SMP. Kekuasaan mafia tidak akan memandang SMP-SMP yang hanya menghasilkan uang receh, mereka tidak mau tapi kita mau, terima lebih banyak anak sekolah dan anak usia muda yang berada diluar sekolah, itu adalah fondasi kita.”


Mata Tiga mengangguk, “Kak Wins, aku mengerti, kekuatan kecil seperti kita bisa ditemukan di setiap sudut Jakarta. Kita sama sekali tidak menyentuh para mafia besar itu, dan kita tidak akan sanggup melawan mereka.”


Winston mengangguk dengan kagum, lalu berkata pada Carlos. “Carlos, Kojan, banyak-banyaklah belajar dari Kak Nicho, tidak kan merugikan kalian.” Wajah Kojan memerah, namun dia tetap tidak mengerti. “Kalau begitu untuk apa kita masuk SMA?” Winston berdiri, matanya begitu bersinar. “Ikut denganku untuk menundukkan SMA 1!”


Dagu Carlos dan Kojan nyaris jatuh. “Men… menundukkan SMA 1? Astaga!” Carlos langsung tertawa dengan kencang. “Sungguh tidak sabar! Hm! SMA 1, ini adalah SMA yang terkenal penuh anak berandal. Haha!!”


Dai menoleh dan bertanya pada Kojan. “Kak Kojan, tahu gak setiap tahunnya ada berapa banyak lulusan SMA 1 yang menjadi penjahat di kota ini?” Kojan menggeleng, dia sungguh tidak tahu tentang ini, dia hanya tahu kalau disana sangat kacau.


Makan malam kali ini semua merasa begitu senang, bisa dikatakan mereka bukan makan dengan senang melainkan minum dengan senang. Pada saat pembayaran mereka menghabiskan dua juta lebih, ini pun sudah termasuk minuman yang digratiskan oleh pemilik restoran. Makanan dua juta lebih sama sekali tidak banyak yang dimakan, karena perut mereka sudah lebih dulu penuh oleh bir.


Meskipun Winston tidak banyak minum, namun dirinya yang tidak biasa minum tetap tidak kuat. Meskipun dia masih sadar, namun tubuhnya terasa seperti melayang. Kojan dan Mata Tiga juga minum cukup banyak, namun mereka tidak mabuk, hanya Carlos yang mabuk paling parah. Sebentar menarik tangan Winston dan menangis tersedu-sedu, sebentar menarik Kojan sambil tertawa dengan keras, sebentar mencium wajah Mata Tiga.

__ADS_1


Dan akhirnya mereka semua menyimpulkan satu hal : tidak akan membiarkan Carlos mabuk lagi, ketika mabuk anak ini sungguh tidak karuan. Kojan naik taksi dan mengantar Carlos pulang. Mata Tiga ingin mengantarkan Winston, namun ditolak secara halus oleh Winston.


__ADS_2