
Cowok yang hebat? Winston tidak bisa menebak siapa orang itu, lalu berkata, “kalau begitu aku harus bertemu dengannya kalau ada kesempatan! hehe!”
Santika yang melihat wajahnya seperti semula, sengaja berkata, “Dia gak akan mau bertemu dengan orang kecil seperti lu!” Setelah mengatakannya dia langsung terkekeh.
Melihat senyum Santika yang nakal dan lugu, membuat Winston terlena. Menyadari Winston sedang menatap dirinya dengan wajah tercengang, wajahnya langsung merona, Santika melambaikan tangan di depan wajahnya dan berkata, “Woi! Gak pernah lihat cewek cantik ya?”
Winston kembali tersadar, lalu menangkap tangan kecil yang bergerak di hadapannya. “Iya bener! Belum pernah bertemu dengan kakak yang begitu cantik. Entah kakak secantik ini bersedia menemaniku makan siang atau tidak?”
Tangan mungil Santika dicengkram oleh Winston, dia berusaha menariknya beberapa kali namun tidak berhasil, wajahnya begitu merah bagaikan habis terkena tinta merah, dai menunduk dan berkata dengan manja dan lirih. “Baiklah!”
Melihat wajah cantik Santika yang menunduk, ada perasaan yang bergejolak dalam hati Winston, ingin rasanya terus seperti ini seumur hidup. Mereka berdua berdiri dengan hening seperti itu, tidak ada yang bicara seolah waktu terhenti disana. Matahari bulan September begitu terik, tubuh mereka diselubungi cahaya matahari yang cerah. Seolah satu abad telah berlalu, Winston baru sadar dan melihat tangannya masih menggenggam tangan mungil Santika, dia segera melepaskan tangannya dengan wajah tersipu, seolah habis melakukan kejahatan, dia berkata dengan suara pelan. “Maaf, kak! Tadi aku…”
Santika meletakkan jarinya di depan bibir Winston, memotong penjelasannya dan berkata sambil tersenyum. “Lain kali jangan panggil gue kakak lagi, gue cuma satu tingkat diatas lu! Orang rumah gue biasa panggil gue Tika, lu panggil gue Tika aja!”
Winston mengangguk dan berkata pelan. “Tika!”
Perasaan Santika terasa begitu manis, dan menarik baju Winston dan berkata, “Bukannya lu lapar? Gue juga agak lapar, yuk makan! Ikut gue ke tempat makan yang enak.” Setelah mengatakannya, dia langsung menarik Winston.
Dari jauh terdengar suara Winston sedang menghela. “Tadi ngomongnya gak laper!” Santika tersenyum dengan nakal. “Dek, kakak bercanda!” Bayangan keduanya menghilang di ujung jalan.
Siangnya tidak ada omongan, malamnya sepulang sekolah, ketika Winston baru selesai makan, dia langsung menerima telepon dari Santika. Winston bertanya, “Kak Tika, ada apa?”
Terdengar suara terkekeh dari seberang sana. “Gak ada apa-apa, cuma kangen aja, pengen denger suara elu! Heh, memangnya kalau gak ada urusan gak boleh telepon gitu?”
“Boleh, boleh, welcome kok! Kak Tika udah makan?”
“Baru aja selesai makan, makan aja gak enak!”
“Kenapa?”
“Nanya lagi, semua salah lu! Sejak lu berantem sama kakak gue, sepanjang hari kakak gue pasang muka asem terus, sama sekali gak ngeladenin orang, ngeselin banget! Pokoknya salah lu!”
__ADS_1
“Hei! Neng, gak gitu juga konsepnya, gue kan serasa jadi kambing hitam!”
“Huh! Bodo, gue mau temenin kakak gue dulu, bye.”
‘Tuuttt’ telepon dimatikan, Winston hanya menggeleng dengan pasrah, dia sama sekali tidak paham apa tujuan Santika meneleponnya, haih! Pemikiran wanita memang sulit untuk dimengerti! Winston meletakkan telepon lalu kembali ke kamarnya dan membaca buku. Di ruang tamu, ayah Winston melihat putranya masuk ke dalam kamar, langsung berbisik pada istrinya: “Jangan-jangan putra kita sudah punya pacar?! Haha!”
Keesokan harinya, Winston tetap berlari ke sekolah. Begitu masuk ke dalam kelas, dia melihat Carlos, lalu mendekat sambil berkata pelan padanya. “Carlos, katakan pada Kojan dan Yandhi, aku akan menunggu kalian di kebun belakang!”
Carlos langsung mengiyakan tanpa banyak tanya, lagipula apapun yang Kak Win lakukan selalu masuk akal. Setelah melihat Carlos pergi, dia meletakkan buku di mejanya dan berjalan keluar kelas.
Winston baru sampai di kebun tidak lama, mereka bertiga sudah datang. Winston menundukkan kepala berpikir sejenak lalu berkata: “Kita diskusikan bagaimana cara menghadapi Sakti! Aku dan Kak San sempat bertaruh, kalau dalam setengah bulan tidak membuat Perkumpulan Naga Hitam maka geng kita harus bubar!”
Carlos berkata, “Kak Wins, aku rasa panggil saja Mata Tiga, kita hajar saja langsung!”
Winston menggeleng dan berkata, “Aku belum pernah bertemu dengan Sakti, tidak tahu dia orang yang seperti apa, sama sekali tidak tahu kemampuannya, kalau maju secara tiba-tiba aku takut akan rugi, Kak San bukan orang biasa, kalau dia menyetujui pertaruhan ini berarti Perkumpulan Naga Hitam punya kemampuan yang tidak bisa diremehkan!”
Yandhi menimpali. “Apa yang Kak Wins katakan benar. Hanya murid yang menjadi anak buah Sakti saja sudah mencapai lebih dari 100 orang, ditambah preman yang bergabung dengannya dari luar, kekuasaannya memang tidaklah kecil.”
Carlos berkata dengan lantang. “Yandhi, kalau begitu kita harus bagaimana?” Lalu berkata lagi pada Kojan. “Aku rasa lebih baik cari beberapa orang, ketika dia pulang sekolah kita keroyok, gampang kan!”
Carlos berkata, “Ini gak boleh, itu juga gak boleh, kalau begitu bukankah kita sudah pasti kalah?”
Winston melambaikan tangannya dan bertanya pada Yandhi. “Kalau begitu kamu punya ide apa?”
Yandhi berpikir sejenak lalu berkata, “Sebaiknya kita giring Sakti dan orang kepercayaannya ke sebuah tempat yang terpencil, dan akan lebih baik kalau mereka tidak punya persiapan apa pun, dengan demikian kita akan punya kesempatan untuk membereskan mereka sekaligus! Begitu mereka dibereskan, makan Perkumpulan Naga Hitam juga akan runtuh.”
Carlos yang mendengar ini langsung memutar bola matanya. “Ngomongnya gampang, tapi gimana cara kita menggiring mereka ke tempat yang terpencil, bahkan harus dalam kondisi mereka tidak punya persiapan apapun pula, memangnya mereka bodoh!”
Winston tiba-tiba bertanya, “Ada berapa anak buah kepercayaan Sakti?”
Yandhi berpikir dengan saksama. “Sepertinya ada tujuh delapan orang, orang-orang ini semuanya pernah mempertaruhkan hidup dan mati mereka bersama!”
__ADS_1
Winston berpikir dengan cepat, setelah mempertimbangkan hampir lima menit, dia berkata pada yang lain. “Kalian bantu aku cari tahu… lalu…” Semua orang mendengar sambil mengangguk, lalu Carlos berkata, “Kak Win, bukankah kalau begini…”
Winston belum bicara, Yandhi sudah menjawab, “Kak Carlos, ada hal yang harus menghalalkan segala cara ketika kelakukannya. Kalau kita ingin sukses, kita tidak boleh terlalu jujur!”
Carlos berkata dengan wajah yang berat. “Gue tahu, cuma ngerasa…”
Winston menatap Carlos dan berkata dengan suara kencang. “Merasa apa? Aku tidak pernah mengatakan kalau aku orang baik, apa yang akan kita lakukan kelak mungkin akan lebih jahat lagi! Kalau punya keraguan segera katakan!”
Carlos tidak pernah melihat Winston seperti ini, dia menunduk dan berkata, “Kak Wins, aku salah! Lain kali aku tidak akan mengatakan hal lain lagi.”
Ekspresi wajah Winston melunak. “Carlos, aku tidak berniat menyalahkanmu. Kalau kamu ingin bertahan di dunia ini, entah di bidang apapun, selama kamu masih ingin tetap disana dan ingin berkembang, maka kamu harus punya hati yang dingin!”
Carlos mengangguk dan berkata, “Kak Wins, aku paham. Pokoknya aku akan mendengarkanmu kapan pun itu!”
Winston mengangguk dan menatap ketiga kawannya, lalu bertanya, “Kalau masih ada yang ingin kalian katakan utarakanlah. Kalau tidak ada kita akhiri sampai di sini, semuanya kembali ke kelas! Masih ada hal yang harus kupertimbangkan!”
Mereka bertiga berkata dengan serempak. “Tidak ada!”
Winston mengangguk yang menandakan mereka sudah boleh pergi, lalu mereka bertiga kembali ke gedung sekolah. Melihat mereka bertiga berjalan menjauh, Winston berjalan santai di kebun seorang diri, memikirkan masalahnya : meskipun dia membuat Sakti tunduk, menjadi ketua preman di SMA 1 lalu mau apa? Terus meminta uang keamanan yang tidak pernah cukup? Apa yang Mata Tiga katakan benar, hanya sekolahan saja tidak akan cukup, itu hanya mengumpulkan uang yang sedikit. Kalau ingin punya uang yang banyak, maka harus terjun ke dunia prostitusi, perjudian juga narkotika, namun ketika bidang ini sulit untuk disentuh, kalau sampai tidak hati-hati, bukan hanya dirinya yang akan menerima ganjarannya, bahkan teman-temannya juga akan ikut terseret. Ada lagi mengandalkan uang keamanan lahan pedagang, namun lapak yang ramai sudah dikuasai oleh Tiga Serangkai, bahkan tempat yang bisnisnya sepi juga sudah dikuasai oleh geng kecil, kelihatannya dia harus mendiskusikan hal ini dengan Mata Tiga!
Berpikir sampai disini Winston menghela nafas panjang, karena sudah memutuskannya, maka tidak perlu berubah pikiran. Dia segera berjalan ke gedung sekolah dengan langkah lebar.
Setelah tiga hari berlalu, SMA 1 terasa begitu tenang. Ketiga geng yang berkuasa sama sekali tidak berkelahi. Namun, di balik keadaan yang begitu tenang, ada badai yang sedang mengintai, akan ada badai yang menerpa dan memporak-porandakan semuanya.
Tiga hari kemudian, Hermanto sedang dalam perjalanan pulang, mengingat rapat yang tadi diadakan oleh Kak Naga dan kawan-kawan, perasaannya terasa kacau. Ada seorang Kak San di SMA 1 saja sudah cukup membuat tidak tenang, sekarang malah nambah yang namanya Winston pula, membuat kondisi semakin kacau. Unuknya Winston bertemu dengan Kak San, sehingga tidak sempat membuat masalah dengan mereka. Ketika dia sedang memikirkan hal ini, tiba-tiba muncul lima orang yang menghadang jalannya. Yang memimpin memiliki postur tubuh yang tidak tinggi dan tubuh gempal, di wajahnya ada luka yang panjang dan sedang menatapnya.
Hermanto tercengang, lalu bertanya, “Kenapa lu ngalangin jalan gue?”
Si gempal itu terkekeh dan berkata, “Lu Hermanto kan! Bos gue mau ketemu sama elu, tidak tahu lu bersedia atau gak?”
Hermanto terkejut, melihat orang yang berdiri di belakang si gempal ini mengenakan seragam SMA 1, dia langsung paham garis besarnya, lalu berkata, “Bos kalian Winston Santoso kan? Tapi gue gak berminat ketemu dia, kalau dia mau ketemu sama gue suruh datang secara langsung!”
__ADS_1
Si gempal itu bukan orang lain, melainkan Carlos, dia berkata, “Hehe, Kak Hermanto apa gak terlalu sombong? Tetapi gak apa, Kak Wins bilang, kalau lu gak bersedia jalan sendiri, teman-teman kami bisa membantumu!”
Hermanto memicingkan matanya dan berkata, “Lu pikir hanya dengan beberapa orang gini bisa nahan gue?! Lucu banget!”