
Hari ini, Winston belajar di kelas seperti biasa, mendengarkan setiap ucapan guru dengan serius. Dia merasa bagaimana pun dirinya, apapun yang dia kerjakan, pendidikan tetap yang terpenting. Memiliki sebuah otak yang lebih hebat dari orang lain jauh lebih berguna daripada memiliki tubuh yang kekar. Sepulang sekolah, Carlos berlari masuk ke dalam kelas dan berbisik di samping Winston. "Kak Wins, Mata Tiga mau bertemu denganmu."
Winston sedang menundukkan kepala menghitung soal matematika, dia berkata tanpa mengangkat kepalanya, "Hm, suruh dia tunggu, aku selesaikan soal ini dulu."
Carlos mengangguk dan berlari keluar dengan cepat. Nama asli Mata Tiga adalah Nicho, dia adalah preman yang cukup terkenal di sekitar SMP 2, ketika berkelahi terkenal dengan kejamnya. Pernah sekali berkelahi dengan orang lain, meninggalkan bekas luka sepanjang 10 centi di keningnya. Kalau diperhatikan membuat orang merasa seperti dia memiliki tiga mata. Panggilan Mata Tiga berasal dari sini.
Carlos berlari ke lantai bawah, di lapangan sekolah berdiri dua kelompok. Kelompok yang satu adalah Kojan yang membawa sekitar 18 orang anak buah, kelompok satu lagi adalah Mata Tiga yang membawa belasan pengikut. Kojan sedang memiringkan kepalanya, merokok sambil jongkok di sana, melihat Carlos kembali langsung membuang puntung rokoknya dan berdiri, lalu bertanya, "Dut, di mana Kak Wins?"
"Kak Wins turun sebentar lagi, biarkan mereka tunggu sebentar!" Tubuh gemuk Carlos agak terengah-engah.
Kojan yang melihat ini merasa tidak senang. “Sial, lihat badan gendut lu, gak bisa diet apa? Baru lari dikit ada udah ngos-ngosan kayak bagong.”
“Kurang aja, lu pikir gue gak mau kurus. Ngomong enak!” Carlos melihat ke arah anak buah Mata Tiga yang sudah tidak sabar menunggu. “Kalian tunggu sebentar, bos kami akan segera turun.”
“Sialan, apa-apaan, dia pikir siapa dia!” seorang pemuda dengan kacamata hitam berframe kuning berkata dengan lantang.
Carlos yang mendengar ini langsung emosi, berjalan ke hadapan orang itu dan meninju orang itu tanpa banyak bicara, kacamatanya terpental sampai sangat jauh. Anak buah Mata Tiga sama sekali tidak menyangka mereka akan main pukul begitu saja, sama sekali tidak memandang mereka. Semua memasukkan tangan ke dalam pakaian mereka dan memegang pisau yang sudah mereka siapkan dibalik baju mereka. Yang memimpin melambaikan tangan dan menahan gerakan mereka sambil berkata pada Carlos: “Anak buah gue yang ini masih baru jadi gak tahu aturan, membuat kalian melihat lelucon.”
Carlos tertawa dengan sinis. “Gampang, gampang!” Kemudian dia menatap orang yang ditarik pergi sambil berkata, “Sebelum ngajak anak buah keluar ajari dulu yang benar ngerti gak, jangan mulutnya kayak comberan, sial!”
Ekspresi pimpinan mereka langsung berubah, namun segera berkata sambil tersenyum sinis. “Hm, pukulan yang lu ajarkan tadi akan gue ingat. Hehe!”
“Ingat kepalamu!” Kojan yang di samping sudah menahan diri cukup lama, melihat sikap pimpinan mereka yang seperti itu langsung emosi dan mengumpat, satu tendangan langsung mendarat di perut bawah lawan. Orang itu membungkukkan tubuh dan mundur beberapa langkah, sampai memapah anak buahnya. Kali ini anak buah Mata Tiga sungguh tidak tinggal diam, langsung mengeluarkan pisau yang mereka bawa. Orang yang dibawa oleh Carlos dan Kojan juga mengeluarkan pisau yang sudah mereka siapkan. Kedua belah pihak sudah memanas, masing-masing sudah mulai mengincar lawan mereka. Tepat pada saat ini, Winston berjalan keluar dari gedung sekolah dengan tangan yang dimasukkan ke dalam saku celana.
“Hehe! Ramai sekali?!” Winston berdiri di antara kerumunan dan mengabaikan pisau di tangan mereka. Melihat anak murid biasa yang mengenakan seragam SMP 2, yang memimpin memegangi perut sambil bertanya, “Nak, sedang apa kamu?”
Winston tidak bicara, Carlos berkata dengan lantang. “Ini adalah bos kami!”
Yang memimpin mengamati Winston dari atas sampai bawah, dalam hati berkata, Yang benar saja, SMP 2 ini sudah gak ada orang lagi apa, sampai mencari orang yang kurang gizi seperti ini buat jadi bos.
__ADS_1
Winston tidak melewatkan tatapan meremehkannya, hanya berdiri sambil tersenyum.
Setelah melihat sebentar, orang itu mengangguk dan berkata, “Bos Winston, ada yang ingin dibicarakan oleh bos kami. Apakah nanti malam boleh meluangkan waktu untuk bertemu sebentar?”
“Tidak masalah, katakan saja jam dan tempatnya, tapi kalau terlalu malam aku sibuk.” Winston menyetujui dengan cepat.
Orang itu mengangguk lagi dan berkata, “Setelah pulang sekolah datanglah ke Sinar Biliard, bos kami akan menunggumu di sana. Gimana?”
“Ok, deal.” Sebenarnya Winston sudah sejak lama ingin bertemu dengan preman yang dipanggil Mata Tiga ini, hanya saja tidak ada kesempatan, siapa yang menyangka hari ini dia datang mencarinya. Melihat orang-orang ini pergi, dia berkata pada Carlos dan Kojan. “Kalian berdua terlalu gegabah, harus diubah.” Kojan tidak bicara dan menundukkan kepala, Carlos malah berkata dengan lantang. “Kak Wins, mereka duluan yang songong, kalau bukan karena mereka mengataimu duluan, aku tidak akan memukulnya.”
Winston tersenyum dan berkata, “Aku tidak menyalahkan kalian, aku hanya mengingatkan kalian, selalu berpikiran dingin tidak akan membuat kalian dirugikan!”
Carlos dan Kojan mengangguk bersamaan. “Baik Kak Wins!” Mereka merasa apa yang bos mereka katakan masuk akal, kalau tadi bos mereka tidak datang dan benar-benar berkelahi, jangan lihat orang mereka banyak, belum tentu mereka bisa menang.
Kojan berpikir sejenak lalu berkata, “Kak Wins, aku rasa Mata Tiga mencari kita pasti punya niatan jahat. Menurutmu apakah lebih baik…”
Winston berkata dengan wajah serius. “Kalau kita benar-benar ingin berdiri di sini, maka harus melewati rintangan malam ini. Mungkin akan berbahaya, tapi kalau tidak punya nyali kenapa berani menjadi preman?” wajah Kojan langsung merona mendengar ini, dia mengangguk dan berkata, “Kak Wins, kalau begitu malam ini kita harus bagaimana, kita akan mendengarkan perintahmu!”
‘Kriiiing’ suara bel pulang sekolah berdering. Seketika gerbang sekolah langsung dipenuhi oleh murid. Entah kenapa hari ini semua murid langsung menyerbu gerbang yang pada dasarnya tidak besar. Dan yang pertama kali keluar meneriakkan “YEEESSSS!!!” dengan begitu lantang bagaikan habis memenangkan lotre.
Di kedua sisi tangga lantai 1 menuju lantai 2, berdiri 20an murid yang menggigit rokok, tidak peduli bisa merokok atau tidak, mereka merasa itu terlihat keren. Begitu melihat cewek cantik yang lewat, mereka akan bersiul dan memanggil, “Cuan banget nih, yang ini benar-benar gres! Benar-benar cuci mata~~”
“Minggir sana! Muka udah kayak tantenya~~bebong!! Haha!”
“Sialan…”
Carlos dan Kojan yang berdiri di antara mereka malah tidak terlihat begitu senang, Carlos bertanya pada Kojan: “Kak Kojan, sudah jam berapa?” Kojan melihat jam tangannya, lalu menepuk bahunya “Baru pulang sekolah menurut ini jam berapa? Ngapain grogi gitu! Ada aku tenang saja.”
Carlon menelan ludah dan berkata, “Gak sopan, bohong kalau tidak grogi! Lawan kita itu si Mata Tiga!”
__ADS_1
“Memang kenapa Mata Tia? Memangnya bukan orang. Kebanyakan minum gak bisa mabok, kebanyakan makan gak bisa mules?!” Ucapan Kojan membuat semuanya bersorak. Carlos tertawa dan berkata, “Bacot ni anak.”
Pada saat ini Winston turun dari koridor lantai dua, semua menarik kembali senyuman mereka dan berdiri tegak di samping tangga sambil membungkuk. “Halo Kak Wins!”
Winston mengangguk dan bertanya, “Sudah bawa barangnya?” Carlos menjawab, “Kak Wins tenang saja, sudah disiapkan.”
“Hm, ayo. Akhirnya kita bisa bertemu dengan Mata Tiga yang melegenda ini!” ucap Winston dengan setengah bercanda. Semua orang yang melihat Winston begitu santai langsung merasa tenang, mereka berjalan sambil bercanda ke Sinar Biliard.
Sinar Biliard berada di sisi kiri SMP 2, biasanya murid SMP 2 main billiard disini. Pertama karena dekat dengan sekolah, kedua karena murah. Rombongan Winston sampai di Sinar Biliard, pada saat ini sama sekali tidak ada tamu yang bermain billiard disini, semua meja billiard sudah disewa oleh Mata Tiga. Mata Tiga sedang memegang stik billiard dan bermain dengan seorang anak buahnya, begitu melihat Winston dan rombongannya datang langsung tertawa dan menyambutnya. Ruangan billiard ini remang-remang, setelah mendekat Winston baru melihat wajah Mata Tiga dengan jelas. Umurnya seperti 20 tahunan, tinggi badannya sekitar 180an, rambutnya dipotong rapi. Memberikan kesan segar untuk orang yang melihatnya, dia juga selalu tersenyum.
Mata Tiga juga mengamati Winston, dia mengangguk dan berkata, “Lu pasti Winston yang terkenal itu ya?”
Winston tersenyum, “Sampai Kak Mata Tiga juga tahu namaku, entah ini keberuntungan atau musibah bagiku?”
Mata Tiga tercengang, lalu tertawa, “Dek Winston ternyata orang pintar! Gue suka!” dia mengambil stik billiard dan memberikannya pada Winston. “Minat main satu ronde!”
Winston tidak pernah main billiard, namun dia tetap menerima stik billiard tanpa ragu. “Ok. Meskipun tidak bisa main juga harus main, kalau tidak itu artinya aku tidak menghargai Kak Mata Tiga.” Mata Tiga memicingkan matanya. “Hm, gue suka dengan omongan ini!”
Memegang stik billiard, Mata Tiga memukul bola yang sudah tertata rapi dengan keras. “Lu disekolah gimana tidak seharusnya gue tanya, karena sudah membentuk geng di wilayah gue, kalau sampai gak nyapa sama sekali itu berarti sedikit keterlaluan.”
Winston melihat orang lain main, langsung tahu bagaimana cara bermain. Dia mengangkat stik dan membidik bola 6, lalu berkata, “Aku juga baru mulai belum lama, ada hal yang kurang mengerti, masih butuh bantuan Kak Mata Tiga untuk mengajariku.” Bola 6 tidak masuk.
“Kalau mengajari gak berani, semuanya juga saling bekerja sama!” Mata Tiga memasukkan satu bola, “Belakangan ini pasti dapet cukup banyak uang di sekolah ya kan?”
“Tidak terlalu banyak, semuanya murid kere, paling sehari cuma dapet beberapa ratus ribu!” Winston menggosok ujung stik.
Mata Tiga tertawa, membidik bola sambil berkata: “Mulutmu besar juga, kalau dikumpulkan satu bulan sudah belasan juta!” bola tidak masuk, Mata Tiga langsung berkata: “Dulu gue yang pegang kendali disini, sekarang kamu mengambil alih SMP 2, membuat anak buahku tidak bisa masuk sama sekali. Bukankah kamu seharusnya memberikan sedikit jalan keluar!”
Winston berkata sambil tersenyum. “Tidak berani sampai membajak jalan keluar! Karena sudah membicarakan ini, aku rasa hanya ada beberapa cara yang bisa dipilih iya kan?” Mata tiga melihat Winston yang berada di seberang. “Oh? Bagaimana.”
__ADS_1
“Kalau mau kamu yang pergi, atau aku yang pergi, atau kita kerja sama.”
“Haha, apa yang lu katakan memang benar!” Sorot mata Mata Tiga langsung menjadi dingin, “Jadi maksudnya lu mau nendang gue dari lapak ini?”