
“Baik, Kak!” Yang bicara adalah seorang anak laki-laki berambut panjang sampai sebahu, matanya sipit sampai hanya terlihat seperti satu garis, mengenakan seragam sekolah, tinggi badannya tidak jauh berbeda dengan Winston. Setelah menjawab perintah bosnya langsung berjalan ke arah Winston, dia menggertakkan kedua tangannya sampai jarinya menghasilkan suara ‘kreek… kreek’.
Winston sudah bersiap sejak awal, dia tahu pertarungan hari ini akan sulit dihindari. Dia berdiri diam menatap ‘Gala’ mendekat, diam-diam mengumpulkan tenaga. Dalam hati berpikir, lawan ada banyak, kalau mau berkelahi harus cepat, membuat mereka tidak bisa bangkit dengan satu pukulan.
Jarak diantara mereka semakin dekat seiring dengan ‘Gala’ yang semakin mendekat. Seisi ruangan begitu hening, semuanya fokus menatap kedua orang ini. mata Kak San sama sekali tidak beranjak dari Winston, satu sisi dia merasa cemas, sisi lain dia juga penasaran, ingin tahu bagaimana cara anak ini memukul Handoko sampai tumbang.
Jarak keduanya sudah sampai jarak menyerang, ‘Gala’ yang memulai serangan, gerakan yang awalnya pelan tiba-tiba menyerang dengan cepat ke arah Winston, tubuhnya miring ke depan, satu kakinya diangkat dan menyerang ke bagian bawah perut Winston. Winston tersenyum, jurus ini sering dia pakai, dia mengalahkan Kak Han juga menggunakan jurus ini sebagai pembukaan. Tubuh Winston sedikit miring dan berhasil menghindari lutut ‘Gala’, mengulurkan telapak tangannya dan memukul bagian belakang lehernya dengan kuat. Begitu ‘Gala’ mendapati Winston berhasil menghindari serangannya ini sudah merasa gawat, melihat telapak tangan lawan yang menyerang, dia berusaha keras menundukkan tubuhnya sebisa mungkin. Meskipun reaksinya cepat, dan tangan Winston tidak mengenai belakang lehernya, namun tetap mengenai mulutnya.
Gala mengerang dan darah segar langsung menyembur keluar dari mulutnya, bahkan di lantai ada tiga batang gigi putih. Gala mengibaskan rambutnya kebelakang, dan membelalakkan matanya dengan mulut penuh dengan darah. Dalam hati Winston merasa sayang karena respon lawan terlalu cepat, sehingga dia gagal menyerang titik terlemahnya.
Gala tidak berani menganggap remeh lawan lagi, rasa sakit yang menjalar dari mulutnya membuatnya benar-benar menjadi orang gila. Dia berteriak dengan keras dan melayangkan pukulannya. Winston menahan pukulan ini dengan tangannya, dia merasa sendi telapak tangannya nyeri, namun sama sekali tidak sempat berpikir panjang, dia memanfaatkan kesempatan mencengkram pergelangan tangannya, ketika Gala tercengang, tangan Winston yang lainnya segera memukul wajahnya. Satu pukulan saja sudah membuat Gala terpental dan terpelanting jatuh di lantai. Baru akan bangun, lutut Winston sudah mendarat di atas dadanya. Winston setengah berlutut, kedua tangannya bagaikan air hujan yang jatuh di wajah Gala. Awalnya Gala masih bisa memberontak, namun seiring dengan banyaknya pukulan Winston yang mendarat, terutama pukulan yang mendarat di dagunya, membuat kesadarannya tiba-tiba menjadi samar, tidak lagi memiliki kekuatan untuk melawan. Winston sama sekali tidak berniat untuk berhenti, setiap pukulan mendarat tepat di wajah Gala, bahkan ada darah yang menyembur sampai ke wajah Winston.
Orang di ruangan itu yang belum pernah bertemu dengan Winston sepenuhnya tercengang, dalam hati berpikir tentang orang yang ada di hadapan mereka: dia orang bukan? Orang yang pernah bertemu dengan Winston di kebun belakang sekolah kembali teringat pemandangan saat itu, membuat kaki mereka tidak hentinya gemetar.
Kak San juga dibuat terkejut oleh hal ini, dia berteriak dengan lantang. “Winston hentikan!”
Winston menghentikan tangannya yang sedang memukul, lalu berdiri sambil melihat ke arah Kak San dengan senyum tipis di wajahnya. “Yang ini tidak bisa, dia bukan lawanku.” Dia menurunkan tangan yang bersimbah darah, darah segar menetes turun dari tangannya.
Melihat senyuman Winston, sifat Kak San yang tidak pernah mengaku kalah membuat amarahnya langsung tersulut, dia menarik keluar golok bergerigi sepanjang 30 sentimeter yang tersemat di belakang pinggangnya, dia berkata pada Winston dengan suara kencang: “Gue yang lawan lu! Berani gak?”
Winston bertanya, “Gimana kalau kamu kalah?”
Kak San menjawab dengan senyum yang dingin. “Hah! Pede banget lu! Lu pikir lu bisa menang?”
__ADS_1
Winston kembali bertanya, “Gimana kalau kamu kalah?”
Kak San memelototinya dengan kejam. “Kalau gue kalah, lu boleh pergi!”
Winston berkata dengan terkekeh. “Gimana kalau aku yang kalah?”
“Elu itu nyebelin ya, kalau lu kalah gue matiin lu!”
“Kalau begitu rasanya agak kurang adil? Aku kalah atau menang sama sekali tidak berpengaruh padamu, iya kan?”
Dibawah kejaran Winston, Kak San merasa pikirannya buntu, dia bertanya dengan bingung: “Kalau begitu coba lu bilang maunya gimana?”
Winston menatap Kak San dan berkata dengan wajah tersenyum. “Aku kalah, kuserahkan nyawaku padamu, terserah mau kau apakan, meskipun ingin aku menjadi pesuruhmu juga tidak masalah. Tapi kalau kamu kalah kamu harus menyetujui satu hal, tidak peduli apa pun itu!”
Winston menarik kembali senyumnya dan berkata sambil mengangguk. “Kak San, kalau begitu ayo dimulai!” Dia sama sekali tidak berani menganggap remeh gadis muda yang ada dihadapannya.
Mereka berdua perlahan mendekat, terakhir berdiri tegang dan saling bertatapan, tidak ada yang berani menyerang terlebih dahulu dengan gegabah. Keduanya berdiri di tengah tanpa bergerak, namun keringat sudah terlihat mengalir di keningnya. Keringat Winston mengalir turun, menyusuri sudut matanya, namun dia sama sekali tidak berani mengusapnya, tekanan wanita yang ada di hadapannya ini sama sekali tidak mengizinkan dia bergerak sedikit pun. Waktu seolah berhenti berputar, tekanan yang terpancar dari keduanya membuat para anak buah yang ada di dalam ruangan ikut berkeringat, bahkan nafas pun tidak berani terlalu kencang.
“Namaku Sandra!”
“Hah?” ucapan Kak San yang aneh ini membuat Winston tercengang, tepat ketika Winston tercengang, golok di tangan Kak San langsung ditusukkan ke arah perut Winston. Ketika dia sadar dan ingin merespon sudah terlambat, dia refleks menggunakan kedua tangannya mencengkram pergelangan tangan Kak San yang memegang golok, dan terus mundur mengikuti tenaga yang menekannya. Sampai tubuhnya mengenai meja baru berhenti.
Kedua tangan Kak San memegang golok, menusukkan ke depan dengan sekuat tenaga. Sama sekali tidak berani merenggangkan tangan. Mereka berusaha bertahan. Winston berkata dengan rahang mengetat: “Kamu sungguh licik…”
__ADS_1
Tubuh Kak San condong ke depan dan berkata, “Sebelas dua belas!”
Winston berteriak dan mengandalkan kekuatan yang terkumpul, mendorong tangan Kak San kes amping, lalu mengambil kesempatan untuk berguling ke samping. Semua kekuatan Kak San dikerahkan di pergelangan tangannya, karena kehilangan penopang, goloknya menusuk meja yang ada di belakang Winston. Karena tenaga yang digunakan sangat kuat, golok itu menancap masuk ke dalam meja sampai menembus meja. Dalam hati Winston berseru nyaris saja. Dia tidak memberi kesempatan pada Kak San untuk mencabut goloknya dan langsung melayangkan tendangan ke arahnya.
Kak San tidak berdaya, mau tidak mau menyerah untuk mencabut goloknya dan menghindari ke samping. Dia belum berdiri tegak, Winston sudah menyerang dan memeluk pinggang langsing Kak San, mengangkatnya dengan kuat lalu membantingnya ke lantai, tenaga yang digunakan tidak kecil sehingga membuat Kak San meringis kesakitan, tulang di sekujur tubuhnya bagaikan terpencar. Sekarang Winston sudah tidak mempedulikan apa itu sentuhan pria dan wanita yang tidak pantas, dia menerkam tubuh Kak San dan menindih tubuh yang baru akan bangun. Mana pernah Kak San tertimpa oleh tubuh pria dengan begitu kasar, namun kaki dan tangannya tertindih oleh Winston sampai tidak bisa berkutik, membuatnya kesal sampai wajahnya memerah, mulut mungilnya terbuka dan menggigit bahu Winston. Gigitan ini cukup keras, membuat Winston nyaris berteriak, namun dia mengetatkan rahangnya dan menahan kedua pergelangan tangan Kak San dengan satu tangan, sementara satu tangannya yang lain menekan kepalanya di lantai. Melihat mulut Kak San yang penuh darah tersenyum ke arahnya, Winston kesal sampai urat nadinya muncul jelas di keningnya.
Winston tidak lagi ragu, dia jongkok di lantai, lalu meletakkan tubuh lemah Kak San diatas pangkuannya, satu tangan mencengkram kedua tangannya dengan kuat, lalu mengayunkan tangannya yang satu lagi dan memukuli bokong Kak San dengan keras. Kak San mana pernah dipermalukan seperti ini, dia mengerahkan seluruh tenaganya untuk memberontak. Namun bagaimanapun dia tetap seorang wanita, meskipun lebih tua dua tahun dari Winston, namun secara fisik dia tetap tidak sebanding dengan pria. Tenaga Kak San perlahan lenyap, namun tangan Winston sama sekali tidak berhenti, sehingga dia mau tidak mau terima nasib. ‘anak ini berani memukul bokongnya di hadapan semua orang seperti ini……’ begitu Kak San memikirkan ini, “Huaaaa~~” dia langsung menangis dengan kencang seperti seorang anak kecil.
Tangis ini menggemparkan langit dan bumi, bahkan para dewa dan hantu pun digemparkan olehnya. Bahkan Winston sendiri merasa dirinya adalah seorang penjahat yang sangat berdosa. Dia menghentikan tangannya dan berkata dengan nafas terengah-engah. “Kalau kamu kelak berani menusukku dengan golok lagi, aku akan memukul bokongmu lagi!”
Mendengar ini, tangis Kak San semakin menjadi, bahkan Winston sampai tidak tahu harus bagaimana baiknya, sebentar menggaruk kepala, sebentar menggaruk wajahnya. Anak buah Kak San juga kebingungan, dalam hati bergumam, yakin ini Kak San?
Saat ini Winston sama sekali tidak berdaya, kalau Kak San main kasar dia sama sekali tidak takut, meskipun dengan cara halus juga dia masih sanggup menahannya. Namun tangisan ini membuatnya kebingungan. Konon katanya air mata adalah senjata terkejam wanita, ucapan ini sama sekali tidak salah. Paling tidak sekarang Winston merasa seperti itu, bahkan merasakannya secara langsung. Dia jongkok di sana tanpa bergerak, Kak San yang tengkurap di lantai juga sama sekali tidak terlihat akan berhenti menangis.
Winston menghela napas, “Haih! Sudah jangan nangis lagi. Aku yang salah ok, lebih baik kamu juga memukuliku sampai nangis!” setelah mengatakan ini, airmata Winston juga hampir menetes, dia merasa dirinya lebih kasihan. Suara tangis Kak San kembali kencang, dia berbalik dan duduk diatas pangkuan Winston lalu merangkul leher Winston, wajahnya bersandar di bahu Winston. “Huuu~~ huuuu~~~!!” Winston merasa bahunya basah, begitu menoleh, rasanya mau pingsan, karena air mata dan ingus Kak San sudah membasahi bajunya.
Akhirnya merasa terdesak dan tidak berdaya, lalu berkata dengan keras. “Nona besar, jangan menangis lagi. Anggap saja aku kalah boleh gak? Mau bunuh atau mau potong terserah!”
Kak San juga sudah lelah menangis, dia berkata dengan terisak. “Aku yang kalah. Tetapi aku bukan orang yang takut kalah, apa yang kamu inginkan katakan saja!”
Winston sungguh merasa pusing sekarang, dia menghela nafas dan berkata, “Yang aku ingin kamu lakukan adalah jangan menangis lagi!”
Kak San merasa bersandar di bahu Winston sangat nyaman, selain ada aroma maskulin pria, dia juga bisa merasakan rasa aman. ‘kenapa basah?’ begitu melihat baju Winston yang basah oleh air matanya, dia mengangkat kepalanya dan pindah ke bahu sebelah sambil berkata dengan suara manja. “Permintaanmu sesederhana itu?”
__ADS_1
Winston mengangguk, “Iya. Hal yang paling kuinginkan sekarang adalah kamu berhenti menangis, itu adalah senjata paling mematikan yang pernah kutemui seumur hidupku!”