
Winston terkekeh, dan mengabaikan Hermanto, dia berbalik dan langsung pergi. Hermanto ingin mengejarnya, namun ditahan oleh anak buahnya sampai tidak bisa berkutik, hanya bisa berteriak dan mengumpat. Terdengar suara Winston dari jauh. “Aku salut karena kamu seorang pria sejati, semoga besok kamu bisa datang menemuiku dan bergabung denganku.”
“Winston, sayang sekali kamu masih terbalut kulit manusia. Asik gue lu apain?” Setelah Hermanto mendengarnya kembali berteriak, namun dia ditahan dengan kuat. Carlos mendekat dan menepuk bahunya sambil berkata, “Kak Wins sudah mengantar adikmu sejak tadi.” Setelah mengatakannya, mereka melepaskannya dan berlari menyusul Winston.
Hermanto tercengang dan segera berlari pulang, dai membuka pintu kamar dan melihat adiknya sedang duduk di lantai memeluk sebuah boneka, juga ada banyak boneka lain yang memenuhi ranjang. Melihat kakaknya kembali, dia langsung memeluk kakaknya dan berkata: “Kak, temanmu baik sekali, dia membelikanku begitu banyak boneka! Bahkan mengajakku pergi main ice skating!” karena di keluarga Hermanto hanya mengandalkan ayahnya bekerja seorang diri, uang sekolah mereka berdua sudah menjadi biaya yang cukup besar, meskipun tahu adiknya sangat suka boneka, namun mereka memang tidak sanggup membelinya!
melihat adiknya yang tersenyum begitu lebar, Hermanto menghela nafas panjang, dalam hati berkata, Winston, sebenarnya lu orang yang seperti apa!
SMA 1 baru memulai tahun ajaran baru selama satu minggu, Perkumpulan Naga Hitam tanpa sebab mengumumkan pembubaran perkumpulan mereka, selain itu Sakti dan para ajudannya juga terluka parah sampai dirawat di rumah sakit. Hari kedua Perkumpulan Naga Hitam bubar, organisasi yang dipimpin oleh Kak San juga ikut mengumumkan pembubaran organisasi. Dan pada saat ini organisasi yang bernama Geng Win tiba-tiba berdiri, dalam waktu cepat mengambil alih orang-orang yang kehilangan tempat bernaung, anggotanya dalam sekejap bertambah sampai ratusan orang, baik dalam maupun luar sekolah sama sekali tidak terkalahkan. Para siswa berlomba menyebarkan cerita tentang Geng Win, dan nama Winston langsung menjadi begitu terkenal.
Dan pada saat yang sama terjadi gejolak di dunia mafia Jakarta, sebuah organisasi misterius yang bernama Geng Macan tiba-tiba berdiri dengan dukungan dana yang besar, lalu mulai bertikai dengan Tiga Serangkai. Kabarnya Geng Macan ini mendapat dukungan dari kelompok gangster di Rusia, lalu mendirikan berbagai geng yang tersebar di bagian timur juga utara Indonesia, semua aktivitas perkumpulan berjalan secara mandiri. Kemudian, pimpinan Geng Kapak yang merupakan bagian dari Tiga Serangkai mengalami pertikaian dengan tiga orang anak muda ketika diperjalanan pulang kampung, dan berakhir tewas dengan luka 37 tusukan. Dalam sekejap Geng Kapak menjadi kacaku, berbagai wilayah kekuasaan mereka direbut oleh geng lainnya. Para gangster ibukota tidak hentinya bertikai, dan kembali membuat keributan.
Hari minggu yang cerah. Pusat perbelanjaan Jakart begitu ramai. Orang-orang mengumpulkan sisa tenaga yang masih tersisa untuk melepaskan penat, senyum merekah di wajah setiap orang.
Awalnya Winston berniat bermalas-malasan di rumah, namun baru jam 7 telepon sudah berdering, ayah Winston datang ke kamar Winston dan menarik putranya yang masih meringkuk dalam selimut. “Wins, cepat bangun, ada telepon untukmu!”
Winston berjalan keluar dari kamar dengan mata yang masih mengantuk dan bergumam, “Orang yang menelepon sebaiknya memberikan alasan yang sempurna, kalau gak pasti akan kuhajar sampai babak belur!” Begitu mengangkat telepon dia langsung berkata dengan suara kencang: “Halo? Siapapun ini, sebaiknya kasih aku alasan yang meyakinkan!”
Terdengar suara yang manis dari seberang saja: “Hehe! Siapa yang membuat Kak Wins kesal sampai begitu emosi!”
begitu Winston mendengar ini, rasa kesalnya langsung sirna, dia berkata dengan malu: “Ah! Ternyata Kak Tika, maaf, aku tidak tahu ini kakak! Hehe, ada apa?”
“Hari ini hari minggu, bosan di rumah, temani aku jalan-jalan ya!”
“Gitu ya! Ya sudah, jam berapa?”
“Semakin cepat semakin baik. Kamu baru bangun kan, kalau begitu jam 8 ya!”
“Ok! Ketemuan dimana?”
“Uhm… kita janjian di depan Gedung Oten aja! Gimana?”
“Ok, gak masalah!”
__ADS_1
“Kalau begitu sepakat ya, gak boleh telat, aku gak sabaran orangnya!”
“Iya non, dijamin on time!”
“Baiklah kalau begitu, bye, sampai jumpa nanti!”
“bye!”
Winston segera masuk ke dalam kamar mandi, mandi gosok gigi selesai hanya dalam lima menit, dia kembali ke kamar dan memakai seragam sekolah, lalu berkata pada ayahnya: “Pa, temanku mengajakku jalan-jalan, aku pergi dulu ya!”
Ayah Winton berkata, “Jangan pulang malam-malam!”
“Iya!”
Winston naik angkutan umum dan datang ke depan Gedung Oten, dia melihat jam tangan, lumayan, masih ada lima menit lagi. Winston berdiri di depan gedung, lalu melihat ke sekeliling dengan berjinjit, namun tempat ini begitu ramai, sejauh mata memandang hanya terlihat kepala manusia yang mondar mandir. Dalam hati berpikir: orang sebanyak ini gimana nyari Santika?
Winston sedang kebingungan, ada seseorang yang menepuk punggungnya. Dia menoleh dan melihat, kebetulan Santika yang sedang tersenyum. Hari ini dia mengenakan gaun berwarna putih bermotif merah, membuatnya terlihat begitu langsing dan terasa lebih dewasa. Winston melihat orang di hadapannya dengan mata berbinar, lalu bertanya dengan penasaran. “Kak tika, kok kamu bisa menemukanku?”
Santika terkekeh dan berkata, “Kamu gak tahu kalau kamu sangat menarik perhatian?”
Santika tersenyum. “Bodoh, jalan-jalan hari minggu pakai seragam sekolah, mungkin di dunia ini cuma kamu yang begini! Bahkan diri sendiri juga tidak sadar!”
Winston melihat ke sekeliling, iya juga, yang memakai seragam sekolah hanya dia seorang diri, memang terasa lain sendiri. “Haha! Aku memang berpakaian seperti ini kalau jalan-jalan, tidak disangka malah menjadi bahan tertawaan!”
Santika menariknya dan berkata, “Baiklah, biarkan kakak membelikan satu stel baju untukmu, kalau gak kamu jalan di sampingku dengan pakaian seperti ini sungguh memalukan!” Setelah mengatakannya, dia menarik Winston masuk ke dalam pusat perbelanjaan yang ada di samping Gedung Oten.
Winston menggeleng dengan tidak berdaya, dia berjalan sambil berkata, “Aku tetap merasa lebih nyaman pakai seragam ini, juga terasa lebih bersemangat.”
“Udah, jangan kolot begitu, sepanjang hari hanya mengenakan satu baju itu saja, kamu gak bosan, aku sudah bosan melihatnya!”
Santika mengajak Winston memilih pakaian cukup lama, akhirnya memilih baju santai merk ROBIN HOOD. Setelah Winston mengganti pakaiannya, dia terlihat jauh lebih fresh. Santika sangat puas dengan baju ini sehingga mengangguk puas. Namun Winston pribadi malah tidak merasakan apapun, karena Santika mengatakan bagus, dia langsung pergi ke kasir dan membayar bajunya. Ketika Santika melihatnya sudah membayar baju itu, wajahnya langsung terlihat tidak senang, Winston bertanya dengan heran. “Kak Tika, kenapa?”
Santika berkata dengan kesal. “Bukankah tadi aku udah bilang mau beliin kamu baju? Kenapa kamu malah ke kasir dan membayarnya!”
__ADS_1
Winston tertawa dan berkata, “Siapa yang bayar kan sama aja, lagipula baju ini kamu yang pilih, sama dengan kamu yang beli kan!”
Santika mengerutkan bibirnya dan berkata, “Mana mungkin sama, retur bajunya, aku mau beli ulang!”
Begitu Winston mendengar ini langsung merasa pusing, dia memohon. “Kak Tika, lebih baik kakak traktir aku makan saja! aku jauh lebih tertarik pada makanan daripada pakaian, haha!”
Setelah Santika mendengar ini, dia berpikir sejenak lalu berkata, “Baiklah, kalau begitu aku akan mentraktirmu makan enak!” Winston segera mengangguk. Mereka berdua mulai jalan-jalan dan melihat-lihat. Dari jam 8 jalan-jalan sampai jam 12, ini membuat Winston mengenal lebih dalam apa itu jalan-jalan, biasanya Santika terlihat biasanya saja, namun ketika jalan-jalan staminanya terlihat ekstra kuat, bahkan Winston yang biasa berangkat sekolah dengan berlari saja sampai terkejut, merasa dirinya kalah kuat dengan Santika. Dan mereka hanya jalan-jalan dan melihat-lihat, setelah melihat-lihat mencobanya, setelah mencoba hanya mengatakan lumayan, lalu meletakkan barangnya dan pergi. Akhirnya Winston melihat ada kursi panjang di pusat perbelanjaan, dia langsung duduk disana dan tidak mau beranjak apapun alasannya. Membuat Santika kesal dan mengatainya tidak berguna. Winston memilih memejamkan mata, memasang wajah terserah mau apa, pokoknya aku gak mau jalan. Dan pada akhirnya perjalanan belum berakhir Santika sudah memilih mengalah, lalu pergi makan dengan Winston.
Setelah makan, Santika menyarankan untuk pergi disco. Awalnya Winston tidak mau pergi, namun melihat wajah Santika yang begitu bersemangat mau tidak mau setuju. Mereka berdua datang ke sebuah club disko yang ada di pusat kota, lampu di sana remang-remang, terdengar suara yang begitu memekakkan telinga. Winston merasa suara musiknya sangat keras, membuat orang yang mendengar juga ingin ikut bergoyang. Dalam hati berkata: pastas saja di sini sering terjadi perkelahian, mendengar musik seperti ini bagaikan meminum obat penyemangat.
Santika membawa Winston duduk di sebuah sudutan, dia bertanya dengan keras. “Wins, mau minum apa gak?”
Karena suara musik yang terlalu gaduh, Winston juga menjawab dengan berteriak, “Aku mau cola aja!” santika mengangguk, lalu menuju meja bar dan membawa dua gelas cola. Setelah kembali dan duduk sebentar, dia menarik Winston untuk menari. Dia berdiri di tengah panggung dan ikut berjoget dengan Santika sebentar, namun kepalanya langsung pusing oleh cahaya lampu yang berkelap kelip. Dia memberitahu Santika, lalu kembali ke tempat duduk. Dia minum cola sambil melihat Santika yang sedang berjoget di tengah panggung, kesan yang dia berikan berbeda kali ini, membuat orang merasa dia kurang lugu, sebaliknya terlihat lebih liar. Gaun yang ketat membuat tubuh Santika terlihat lebih seksi dan menggoda. Rambut panjang yang melambai bagaikan jaring hitam yang menyelubunginya. Seiring dengan gerakan yang begitu bersemangat, wajah putih bersih Santika menjadi merona, menjadikan dirinya berubah jadi pemandangan paling indah.
Ketika Winston sedang terlena, ada beberapa anak muda yang mendekati Santika dan mengepungnya, mereka tertawa entah mengatakan apa. Jarak Winston terlalu jauh sehingga tidak bisa mendengarnya, namun melihat wajah Santika yang kesal sudah jelas apa yang terjadi. Dia menghela nafas, lalu menghampiri Santika.
Santika yang dikepung sungguh tidak berdaya, baru menoleh dan akan memanggil Winston, dia sudah muncul di belakangnya, lalu dia tersenyum dengan manis kearah Winston, dan berkata pada beberapa anak muda ini. “Gue gak minat main sama kalian. Pacar gue udah datang, sana minggir!”
Beberapa anak muda ini melihat Santika tiba-tiba tersenyum, langsung tercengang oleh kecantikannya, sama sekali tidak mendengar apa yang dia katakan. Winston berdiri dibelakang mereka, lalu berdehem, namun mereka sama sekali tidak merespon. Sehingga dia mau tidak meu menepuk bahu salah seorang diantara mereka, baru orang itu sadar dari mimpi indahnya, dia menoleh dan bertanya dengan melotot. “Heh bocah, mau apa lu?”
Winston menunjuk Santika dan berkata, “Dia temen gue!” Akhirnya ucapan Winston ini menarik perhatian orang-orang ini, mereka melihatnya dari atas sampai bawah, lalu salah satu diantara mereka berkata, “Bocah, kakak-kakak ini lagi pengen ngajak temen lu yang cantik ini main, kalau lu pintar sana minggir! Kalau gak jangan salahkan kita gak segan-segan!”
Winston tersenyum dingin dan berkata, “Kalau lu pergi dari hadapan gue sekarang, gue bakal anggap omongan lu barusan sebagai kentut! Dan gak akan mempermasalahkannya.”
“Brengsek, bocah pitik yang bulu aja belum punya!”
“Bocah, lu jangan bertingkah di depan kita ya!”
“Ngapain banyak ngomong? Langsung hajar aja!”
Hanya satu kata Winston saja sudah membuat mereka mengamuk, mereka melihat usia Winston yang terlihat masih kecil, tubuhnya juga kurus kecil, seorang diri pula sehingga sama sekali tidak menganggapnya. Mereka langsung mendekat dan bersiap beraksi. Orang-orang ini membayangkan bisa memperlihatkan kehebatan mereka di hadapan cewek cantik, langsung menggebu-gebu.”
Winston melihat pose mereka langsung tahu, perkelahian akan sulit dihindari, dia melirik kearah Santika dan melihatnya sedang menjulurkan lidah ke arahnya, dalam hati berkata: wanita cantik memang petaka!
__ADS_1
Karena mau berkelahi, jangan ragu lagi. Selagi orang-orang ini belum siap, dia mengangkat kaki dan menendang seorang pemuda yang ada di sebelah kiri.
Orang itu tidak menyangka anak muda yang kurus dan kecil ini akan menyerang terlebih dahulu, karena lengah Winston berkesempatan menendang perutnya, dia mengerang dan mundur. Yang lainnya melihat Winston yang menyerang terlebih dahulu langsung maju. Orang disana sudah terbiasa dengan perkelahian, yang sudah berpengalaman berdiri disamping dan menonton. Santika berdiri tidak jauh dari Winston, dia menatapnya dengan penuh perhatian. Winston membungkuk dan berhasil menghindari pukulan dari depan, sekalian memeluk lawan, lalu mengangkat kepalanya dengan kuat untuk menghantam dagu lawan dengan keras. Orang itu gontai dan terkapar di lantai. Meskipun berhasil menyerang satu orang diantara mereka sampai tumbang, namun bagian punggungnya malah menerima tendangan dari lawan yang lain, membuat Winston kesakitan sampai membuka lebar mulutnya. Seorang yang lain kembali mengangkat kakinya, Winston tidak ingin berlama-lama, dia menghindar dan menarik kaki orang itu ke belakang. Orang itu kehilangan keseimbangan dan langsung terkapar di lantai, Winston melangkah maju satu langkah, lalu menendang wajahnya dengan keras. Orang itu langsung pingsan tanpa sempat mengerang, tulang hidungnya terlihat menekuk ke dalam.