
Keesokan harinya, di dalam toilet.
“Dut, katanya kemarin si payah di kelas kalian melukai muka lu, lu bahkan jadi pengikutnya, yang benar?” Seorang anak yang bertubuh tinggi bertanya pada Carlos sambil menggigit sebatang rokok. Carlos memasang wajah kesal. “Beraninya lu panggil dia payah, gue hajar lu!”
Anak yang bertubuh tinggi itu mengangkat alisnya dan menggoyangkan wajah Carlos yang berdaging. “Lu tahu lagi ngomong sama siapa?”
Carlos menepis tangannya dan berkata dengan mata melotot. “Kojan brengsek, lu pikir gue takut sama lu? Jangan ngerasa udah jago lu cuman karena kenal beberapa orang!” Kojan terkekeh. “Boleh juga, bocah. Hari ini setelah pulang sekolah lu sama si cemen itu tunggu gue di kelas, kalau sampai berani kabur gue patahin kaki lu!”
Carlos menatap matanya dengan tegas. “Gue tunggu, jangan bilang lu yang takut gak berani datang.”
Setelah kembali ke kelas, Carlos menceritakan apa yang baru saja terjadi pada Winston. Winston bertanya pada Carlos. “Siapa Kojan? Apa pekerjaannya?”
“Dia yang badannya tinggi dan dulu sering bersama denganku, waktu itu kami sempat merampas uangmu bersama.” Setelah mengatakannya dia menatap Winston dengan hati-hati, melihatnya tidak peduli, dia lanjut berkata dengan tenang. “Dia adalah Kojan, sejak masih SD sudah jadi preman, dia punya beberapa anak buah. Sekarang sudah menjadi kepala preman dari kelas 9F.”
Winston mengangguk, bertanya padanya. “Kamu bisa mencari berapa banyak orang?” Carlos berpikir sejenak lalu berkata, “Yang bisa diandalkan paling lima sampai enam orang! Sisanya cuma banyak gaya, beneran diajak berantem pasti kabur duluan.”
Winston berkata, “Baiklah, kalau begitu panggil beberapa orang yang bisa diandalkan itu untuk menemuiku.” Carlos langsung berjalan keluar setelah mendapat perintah.
Jam 6 sore, dalam ruang kelas gedung kedua SMP 2.
__ADS_1
Carlos berdiri di belakang kelas, mengangkat sebuah kursi dan membantingnya dengan keras ke lantai. Terdengar suara yang kencang di koridor. Kursi hancur menjadi berkeping-keping. Carlos membungkukkan badannya dan mengambil sebatang papan kayu sepanjang setengah meter, datang ke samping tempat duduk Winston dan berkata, “Kak Wins, pegang ini, nanti bisa kepake kalau berantem.”
Winston menggeleng. “Gak perlu.” Carlos tidak berani membantah, dia meletakkan papan itu di bawah sebuah meja, kalau bos tidak mau biar dia yang pakai. Tidak lama berlangsung, pintu ruang kelas yang tertutup ditendang seseorang sampai terbuka. Suara yang begitu mendadak membuat Carlos terkejut, begitu menoleh, Kojan sudah membawa beberapa orang masuk ke dalam kelas. “Boleh juga, kalian ternyata punya nyali, benar-benar nunggu gue di sini ya!” Kojan menoleh dan tertawa pada anak buahnya. “Haha, lihat dua orang idiot ini!”
Winston tidak bicara, dia hanya duduk dengan dingin di kursinya. Setelah Carlos mendengarnya, amarahnya langsung memuncak. “Kojan, kalau berani ayo duel satu lawan satu sama gue. Siapa yang kalah cemen!”
“Duel sama lu? Ngimpi! Gak ngaca!” dia menoleh dan melihat ke arah Winston yang masih duduk di sana sambil berkata, “Woi, sini lu!”
Winston berdiri dan berjalan perlahan ke arah Kojan, Carlos ikut dibelakangnya. Melihat Winston yang lebih pendek satu kepala darinya, Kojan terlihat begitu meremehkan. “Belakangan ini lu songong banget ya, beraninya berebut anak buah sama gue. Kalau Carlos lu mau ambil aja. Tapi gue ga terima, menurut lu gimana dong?” Winston menundukkan kepalanya, poninya yang panjang menutupi matanya, sudut bibirnya bergerak perlahan dan terdengar suara yang begitu dingin. “Kalau kamu pintar sebaiknya terima, Carlos punya pilihannya sendiri.”
Kojan yang mendengar suara yang dingin ini sempat terkejut, namun melihat Carlos yang tersenyum di belakangnya, dia langsung melupakan mentalnya yang lemah. “Lu mau bergaya di depan gue?” dia langsung menjambak rambut Winston, mengangkat kakinya dan menendang wajah Winston dengan lututnya. Winston berlutut di lantai dengan hidung berdarah. Carlos berteriak dan langsung berlari ke arah Kojan, namun malah ditahan oleh beberapa anak buah yang dibawa Kojan.
Carlos memberontak dan berusaha bangun, namun ada lima orang yang menahan kaki dan tangannya. “Kojan, brengsek lu…” dia belum selesai bicara, seorang anak buah Kojan sudah menendang wajahnya, Carlos terbatuk dan memuntahkan darah segar.
Winston yang jatuh di lantai tiba-tiba mencengkram kaki yang menginjak wajahnya dengan tangan kirinya, Kojan tercengang. Tangan kanan Winston mengeluarkan cutter dan menusukkannya ke paha Kojan. “Aaaaa!” Kojan berteriak kesakitan sambil mundur beberapa langkah dengan tangan yang memegangi pahanya. Winston berdiri dan berjalan ke samping Kojan, dia mengepalkan tangan dan meninju wajah Kojan. Anak buah Kojan melihat pertumpahan darah, seketika tidak tahu harus bagaimana.
Mereka tercengang namun Winston sama sekali tidak berhenti, membelalakkan matanya yang merah, menendang dan memukuli tubuh Kojan dengan keras. Tidak lama berselang, wajah Kojan sudah babak belur penuh darah dan terkapar di lantai. Carlos memanfaatkan kesempatan yang lainnya tercengang untuk segera bangkit berdiri, sekalian mengambil papan yang sudah dia sembunyikan di bawah meja, lalu menghantam kepala orang yang menahannya. Orang itu mengerang sambil memegangi kepalanya, darah mengalir turun dari sela jari. Carlos berteriak, “Teman-teman, keluar semuanya!”
Setelah mengatakannya, langsung terdengar suara ramai dari koridor. Tidak lama kemudian, masuk sekitar tujuh delapan orang. Carlos berseru, “Ikutin gue!” lalu mengambil tongkat sambil memukuli lawan. Gerombolan yang masuk melihat Carlos turun tangan segera mengepung Kojan dan anak buahnya sambil mengeroyok mereka.
__ADS_1
Winston menjambak rambut Kojan, lalu menarik kepalanya, saat ini pandangan Kojan sudah buram, satu matanya sudah bengkak karena dipukuli, dia hanya melihat orang di hadapannya dengan satu mata lainya: “Heh bocah, kali ini gue ngaku kalah, karena gue gak sesadis lu. Mau pukul atau bunuh terserah, kalau gue sampai mengerang gue rela jadi anjing!”
Winston meletakkan pisau cutter di lehernya dan berkata, “Sekarang kamu punya dua pilihan. Satu mati dikerjai, satu lagi jadi anak buah gue. Pilih sendiri.” Winston melepaskan Kojan dan mundur dua langkah. Pada saat ini yang lain sudah berdiri di belakang Winston. Seorang murid yang lebih cekatan segera membawakan kursi untuk Winston, Winston yang melihat ini hanya tersenyum dan duduk sambil menyilangkan kaki, tangannya mengusap wajahnya perlahan.
Kojan mengusap darah di sudut bibirnya, melihat anak buahnya yang terkapar di lantai dan bertanya, “Siapa nama lu?”
“Winston Santoso,” jawab Winston sambil memasukkan cutter ke dalam sakunya.
“Ok, Kak Wins. Gue nyerah sama lu, mulai sekarang lu jadi bos gue!” Kojan merasa orang di hadapannya ini bukan hanya cukup sadis, bahkan punya otak, seharusnya kelak akan menjadi orang yang hebat.
Winston berdiri dan berkata sambil menepuk bahu Kojan. “Hehe! Kelak semua adalah kawan. Apa yang aku punya kamu pasti kebagian!” Setelah mengatakannya dia langsung berjalan keluar dari kelas. Kojan melihat bayangan tubuh yang menghilang di depan pintu, sorot mata ramah Winston masih terngiang dalam pikiran Kojan, pada saat ini dia merasakan kebahagiaan yang entah datang dari mana.
Orang-orang yang datang belakangan sempat kebingungan, mereka semua teman Carlos, hari ini Carlos mengatakan pada mereka kalau dia punya seorang bos, ingin memperkenalkannya pada mereka. Setelah melihatnya mereka merasa sangat kecewa, karena Winston dihadapan mereka sama sekali tidak ada istimewanya. Karena menghargai Carlos, mereka mengikuti Carlos memanggil Winston dengan panggilan ‘Kak Wins’, namun dalam hati tidak terima. Siapa yang menyangka orang biasa dihadapan mereka ini, bisa membereskan Kojan seorang diri hanya dengan beberapa gerakan saja, bahkan membuat Kojan bersedia menjadi anak buahnya dengan mudah. Sekarang mereka mengakui Winston dengan setulus hati.
Carlos memecah keheningan, berkata pada orang yang ada di sampingnya. “Kenapa masih bengong? Cepat bawa Kak Kojan dan teman yang terluka ke rumah sakit!” Yang lainnya segera memapah Kojan dan anak buahnya yang terluka. Kojan menepis orang yang datang memapahnya, berusaha berdiri dan berkata, “Gue bisa jalan sendiri! Sekarang aja manggil Kak Kojan? Habis nabok gue baru ngasi permen!”
Carlos tersenyum dengan canggung. “Kak Kojan, kok gitu ngomongnya? Kelak kita semua kawan, ikut Kak Wins sudah dijamin tidak salah lagi. Ayo, gue bantu!” Carlos memapah Kojan yang gontai, sementara Kojan malah mengeplak kepalanya dan mengumpat “Memang sialan bocah ini!!!” Mereka semua berjalan ke rumah sakit sambil tertawa.
Di perjalanan pulang, Winston berjalan begitu lambat, memikirkan semua yang terjadi dua hari ini. Bagaimana caranya agar tidak diganggu? Hanya dengan menjadi lebih kuat dari orang lain. Bagaimana caranya menjadi lebih kuat dari orang lain? Yaitu menjadi lebih sadis. Preman di dalam sekolah bisa dikatakan sudah di bawah kendalinya, kalau ada itu juga berasal dari luar sekolah. Winston memutuskan untuk membangun kekuatan, dan menjadikan SMP 2 sebagai pusatnya, merangkul preman yang ada di luar. Orang-orang ini masih muda, ketika berkelahi sama sekali tidak mengira-ngira, singkatnya cukup sadis. Berdasarkan antusiasme darah muda, keinginan untuk menjadi pahlawan, akan sangat mudah mengendalikan mereka. Cara pikir Winston jauh dibandingkan dengan anak seusianya, bahkan orang dewasa pun tidak akan bisa menandinginya.
__ADS_1
Di rumah Winston tidak berubah, dia tetap anak baik yang penurut, kebanggaan orang tuanya. Di sekolah, tetap murid kebanggaan para guru, murid teladan yang berprestasi. Namun namanya sudah tersebar di sekitar SMP 2, preman disini semua tahu kalau belakangan ini muncul seorang Ketua Gengster baru di SMP 2 yang bernama Winston Santoso, sangat sadis saat berkelahi, senjatanya adalah pisau lipat.