Cara Menjadi Bos Mafia

Cara Menjadi Bos Mafia
Chapter 13


__ADS_3

Orang itu melihat Winston begitu yakin, langsung melepaskan tangannya. Pada saat ini masuk lagi sekitar 20 orangan dari luar, dan Yandhi juga berada di antara mereka, dia berkata dengan lantang. “Kak Wins, kamu tidak boleh ke sana, aku dengar Kak San kali ini sangat sadis, kalau kamu datang dia gak berniat membiarkanmu keluar dengan utuh. Dan kabar ini sangat dirahasiakan, bahkan anak buah yang lainnya juga tidak tahu gerakan hari ini, aku juga baru dapat kabar!”


Winston menggeleng dan berkata dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku. “Carlos dan Kojan ditangkap oleh mereka, kalau aku tidak kesana bagaimana dengan mereka? Sudah saatnya, tidak ada gunanya bersembunyi, kebetulan aku memang ingin bertemu dengan Kak San itu!”


“Tetapi kamu pergi sendiri bagaimana mungkin bisa melawan mereka? Tidak bisa, terlalu berbahaya!” Yandhi tetap bersikeras.


“Jangan bicara lagi, semakin lama aku datang, nyawa Carlos dan Kojan semakin terancam. Aku tahu batasan, percayalah padaku!” Setelah Winston mengatakannya, dia langsung berjalan keluar kelas. Melihat semua anak buahnya juga ikut, dia menghentikan langkahnya dan menyilangkan tangannya. “Kalian semua tunggu di kelas, yang ikut denganku, jangan salahkan aku tidak sungkan-sungkan!” Mendengar Winston berkata demikian, tidak ada yang berani mengikutinya, meskipun cemas, mereka hanya bisa berdoa dalam hati. Yandhi memanggil semua orang dan berbisik pada mereka, setelahnya semua mengangguk dan bubar.


Winston sangat panik, dia berjalan secepat mungkin, seorang diri pergi ke ruang lukis yang ada di lantai 3. Carlos dan Kojan adalah orang pertama yang menjadi anak buahnya, hubungan mereka sangat erat. Mendengar mereka berdua ditangkap, hati Winston bagaikan tersayat, dia tahu anak buah Kak San tidak akan membiarkan mereka berdua begitu saja. dalam hati dia bersumpah, kalau sampai Carlos dan Kojan mengalami bahaya, dia pasti akan bertarung dengan Kak San itu sampai titik darah penghabisan.


Begitu naik ke lantai 3, tanpa perlu mencari tahu lagi, dia sudah melihat ada empat lima anak yang berdiri di koridor, tangannya memegang tongkat pemukul, Winston tahu ini pasti ruang lukis yang dimaksud. Dia mendekat dengan langkah lebar, dan perasaannya perlahan menjadi tenang.


 “Heh! Bocah, mau apa?” Seorang anak berambut klimis menatap Winston dengan kepala miring.


Ekspresi Winston begitu tenang. “Katakan pada bos kalian, katakan Winston Santoso sudah datang!” ‘si rambut klimis’ ini mengamati Winston dengan seksama, lalu berbisik pada orang yang ada di sampingnya, orang disampingnya mengangguk dan membuka  pintu di belakang lalu berjalan masuk. ‘si rambut klimis’ berbalik dan berkata pada Winston. “Tunggu sebentar!”


Winston memasukkan tangannya ke dalam saku celana dan berbalik mendekati dinding koridor, dia menundukkan kepalanya tanpa bicara. Namun otaknya sedang berputar dengan cepat, memikirkan cara untuk menyelamatkan Carlos dan Kojan dengan selamat, dan kalau benar Kak San adalah kakak kelas itu, entah dia tega menghajarnya atau tidak. Berpikir sejenak, membuat Winston mulai gundah. Dalam hati bergumam, sudahlah, lihat nanti saja, biarkan takdir yang memutuskan!


Setelah lima menit berlalu, akhirnya pintu terbuka, murid yang tadi masuk berkata pada Winston: “Kakak menyuruhmu masuk!”


Winston tidak ragu, dia langsung masuk ke dalam ruang lukis, didalamnya remang-remang, semua jendela tertutup tirai, hanya ada dua bohlam lampu yang menyala, perasaan pertama ketika masuk ke dalam sini adalah besar, ruangan ini mungkin tiga kali lipatnya ruang kelas, meskipun sudah tertata belasan kursi tetap membuat ruangan ini terasa kosong. Ada belasan orang yang berdiri di dalam ruangan, ditengahnya ada sebuah kursi yang diduduki seorang wanita, sayangnya dia membelakangi Winston, sehingga wajahnya tidak terlihat jelas. Namun melihat bayangan punggungnya membuat Winston merasa begitu familiar namun juga asing, tetap dengan rambut hitam panjang yang tergerai, setelan jeans, namun aura yang terpancar membuat Winston merasa begitu berbeda dengan wanita yang dia temui.

__ADS_1


“Kamu adalah Winston Santoso?” Suara wanita yang terdengar begitu dingin membuyarkan lamunan Winston.


Dia menyembunyikan perasaannya dan menjawab, “Benar! Kamu pasti Kak San iya kan?”


Wanita itu tetap membelakangi Winston dan berkata, “Lu pinter banget, tetapi lu belagu banget! Baru masuk SMA 1 aja udah bikin gue kehilangan seorang anak buah yang kuat.”


Winston berkata dengan tenang. “Pada dasarnya aku tidak ingin membuat masalah, tetapi karena aku sudah ditantang, maka aku juga tidak akan menghindar.”


Kak San berkata dengan dingin. “Nak, umur berapa lu?” Winston tidak menyangka dia akan menanyakan umur, setelah ragu sejenak dia menjawab, “16!”


“Hm, lebih muda dua tahun dari gue! Sayang sekali.” Kak San menghela nafas.


Winston bertanya, “Apa maksud ucapanmu?” Kak San berdiri namun tetap tidak berbalik. “Gue gak berniat membiarkan elu keluar hidup-hidup! Lu baru 16 tahun, menurut lu sayang gak?!”


“Ternyata lu gila juga ya! Mereka ya. Bisa bagaimana lagi, anak buah gue sedang ‘menyervis’ mereka dengan sangat baik!”


Mana mungkin Winston tidak paham maksud ucapannya, dia berkata,”Karena aku sudah datang, aku harap Kak San bisa menepati janji. Kalau sampai hal seperti ini saja tidak bisa dilakukan, aku juga tidak bisa berkata apa-apa!”


Kak San berdecak, “Bahkan diri sendiri saja dalam masalah, masih ngurusin orang lain. Tetapi lu memang menepati janji, dan gue juga bukan orang yang suka ingkar janji.” Setelah mengatakannya dia langsung berkata pada orang di sampingnya. “Lepasin kedua bocah itu!”


Setelah orang itu mendengar langsung pergi. Akhirnya Kak San berbalik dan melihat ke arah Winston, ada rasa terkejut yang muncul sekelibat dalam tatapannya. Mata yang sangat special!

__ADS_1


Winston juga melihat wajah Kak San dengan jelas, dalam hatinya merasa lega, karena dia bukan Santika si gadis bermotor itu, meskipun sangat mirip, namun Winston yakin mereka orang yang berbeda. Gadis ini juga wanita cantik yang jarang ditemui, alisnya yang melengkung tebal dan sempurna, matanya yang jernih bersinar,sayangnya sinar yang terpancar begitu dingin. Di bawah hidungnya yang mancung ada bibir merah  yang memancarkan kecantikan yang begitu gagah, dan tubuhnya yang melekuk indah membuat memancarkan kecantikan yang begitu memukau. Melihat ini semua Winston menghela nafas, Kak San bisa mencapai hari ini dan memiliki anak buah sebanyak ini sepertinya bukan karena kebetulan, melainkan karena daya tarik yang sulit untuk ditahan.


“Udah cukup lihatnya?” Ditatap sampai seperti itu oleh Winston membuat Kak San merasa sangat tidak nyaman.


Winston merasa tidak enak hati, menatap seorang wanita memang kurang sopan. Melihat Winston tidak bicara, Kak San maju kehadapannya dan berkata, “Lu gak terlalu mirip dengan yang gue bayangkan!”


Winston hanya berseru ‘oh’ lalu menatap mata Kak San sambil menunggunya melanjutkan ucapannya. Kak San mengangkat tangannya dan menggerayangi wajah Winston, dia berkata perlahan. “Gue gak nyangka lu ternyata cowok yang manis dan pemalu kayak gini.”


Ketika Kak San bicara menghembuskan napas yang harum di wajah Winston, aroma yang harum dan manis ini terhirup olehnya, membuat hatinya goyah. Namun dia segera menenangkan dirinya, dalam pikirannya terbersit rangkaian kata yang cocok untuk Kak San: barang berkualitas tinggi! Sebenarnya Winston adalah orang yang berpikiran kolot, cara pandang pria dan wanita tidak boleh bersentuhan terus menghantuinya, biasa di sekolah dia jarang mengajak wanita bicara, bukan karena sifatnya yang pemalu, namun karena dia merasa itu kurang pantas.


Wajah Winston merona merah, kepalanya menunduk semakin rendah, sebesar ini dia adalah wanita pertama yang begitu dekat dengannya, tentu saja selain ibunya. Ada rasa hangat yang tanpa sadar menjalar di bagian bawah tubuhnya, Winston hanya bisa berkata pada dirinya tanpa henti: tenang! Tenang!...


Kak San menatap orang yang sudah menghajar Handoko dan anak buahnya sampai tidak bisa berkutik ini, ternyata adalah seorang pria pemalu, seorang pria yang hanya menundukkan kepala dengan tersipu. Melihat sikapnya ini membuatnya refleks ingin menggodanya. Wajah Kak San semakin lama semakin dekat dengan wajah Winston, bibir merahnya hampir menyentuh pipinya, aroma yang begitu harum dan hangat membuatnya hampir tidak bisa mengendalikan diri, tangannya yang berada dalam saku celana sudah penuh dengan keringat dingin. Tepat pada saat ini, Winston tiba-tiba merasa begitu tenang, karena dia memegang pisau yang ada di sakunya, pisau lipat yang sudah merubah jalan hidupnya.


Setelah menarik napas panjang, Winston langsung mendorong Kak San perlahan, wajahnya sama sekali tidak memperlihatkan rasa malu lagi, sorot matanya juga sudah tidak canggung lagi. Sorot mata yang begitu dingin menyapu orang yang berdiri di hadapannya, Kak San yang sempat begitu terlena juga langsung menjadi tenang. Wajahnya juga memerah, dalam hati berpikir: apa yang dia lakukan tadi, bukankah hanya ingin menggodanya, kenapa dia malah nyaris tidak bisa menahan diri? Kak San melihat ke sekeliling, dia melihat orang di sekelilingnya yang tercengang, mereka masih tenggelam dalam pemandangan yang tadi, Kak San yang begitu cantik dan menggoda masih terngiang dalam benak mereka.


Haih! Kak San menghela nafas, dia menatap mata Winston dan berkata, “Lu orang yang berbakat, kalau lu mau ikut dengan gue, gue gak akan mempersulit lu, bahkan akan menjadikan kesempatan yang bagus buat elu. Lu orang yang pintar, gue gak perlu ngomong yang lain, lu bakal mempertimbangkannya dengan serius!”


Winston menggeleng dan berkata, “Aku adalah seorang anak laki-laki. Memintaku bekerja di bawah pimpinan seorang wanita adalah hal yang tidak mungkin, juga tidak perlu dipertimbangkan.” Ucapan Winston ini bagaikan palu raksasa yang bukan hanya menghantam perasaan Kak San, juga menghantam perasaan setiap orang yang ada disana. Anak buah Kak San semuanya merasa malu dan menundukkan kepala mereka.


Kak San mengakui dia cukup menyukai pria di hadapannya ini, dia tidak tega melukainya, kalau dia bergabung dengannya, dengan tidak mempersulitnya juga termasuk sudah bertanggung jawab pada anak buahnya. Namun sayangnya Winston sama sekali tidak memandang niat baiknya, bahkan mengatakan hal ini dengan begitu yakin. Dan pada saat bersamaan ucapan Winston sudah melukai harga dirinya, sejak kecil sampai sekarang tidak ada yang berani memperlakukannya seperti ini. melihat reaksi anak buahnya, membuatnya merasa begitu kesal. Dai berkata dengan kesal dan wajah yang memerah. “Winston Santoso, lu pikir lu siapa hah? Gue kasih kesempatan gak mau rupanya, kalau begitu jangan salahin gue!”

__ADS_1


Lalu dia berkata pada salah seorang anak buahnya. “Gala, sana coba test dia. Apakah dia memang punya modal untuk menggila disini!”


__ADS_2