
“Apa itu?” tanyanya ketika melihatku membawa sebuah kotak berlapis beludru merah marun. Aku pun mengangkat dan membukanya. Tampak lima buah batu mulia di dalamnya. Warnanya merah, biru, hijau, dan bening. Satunya lagi adalah mutiara besar yang putih cantik memancarkan warna-warna lainnya seperti pelangi.
“Ini karya asli,” jawabku singkat.
“Hah?” dia mengerutkan keningnya terheran, “Apa maksudmu?”
“Sentuhlah salah satu dari batu ini,” pintaku padanya. Meski masih dengan ekspresi heran, ia tetap mengikuti permintaanku. Disentuhnya batu mulia yang paling bening.
“Hm, kamu memilih berlian,” kataku dengan seulas senyum simpul, “Mari kita lihat bagaimana karya asli dari permata ini.”
Aku pun mengeluarkan berlian itu. Batu cantik berwarna bening itu memantulkan formasi cahaya yang unik saat kutaruh di atas meja bersinar. Karya asli pun siap ditampilkan.
"Selena la Diamond. Putri sulung dari Kerjaan Diamond. Ia gadis yang cerdas, ceria, dan terampil. Sejak kecil, ia telah dikenal sebagai permata terbaik di seantero kerajaan, bahkan kontinen."
Seuntai deskripsi tokoh muncul di layar bersinar. Setelah beberapa saat, deskripsi itu menghilang, lalu digantikan sesosok gadis ayu berambut pirang platinum panjang. Kulit gadis itu lembut secerah pagi. nya kuning keemasan seperti sinar mentari. Senyumnya mengembang indah secantik purnama yang terbit di malam hari.
Dia memperhatikan setiap visual yang ditampilkan oleh meja bersinar setelah itu. Ekspresinya berubah-ubah, terutama saat gadis tokoh utama mulai mendapat musibah yang tragis bertubi-tubi. Begitu visual selesai ditampilkan, ia pun menatapku dengan pandangan tak percaya.
“Apa yang terjadi selanjutnya?” desaknya penasaran, “Masa dia jadi tawanan di kerajaan musuh selamanya?”
“Itu rahasia,” aku mengambil kembali karya asli berlian dari meja bersinar. Dalam sekejap, semua visual itu menghilang. Aku pun mengembalikan berlian ke kotak beludruku.
“Sedih amat akhirnya,” protesnya geram, “Jangan jadi tawanan dong! Apalagi dia sudah dapat banyak cacian sejak tertimpa tragedi pertama. Dia jadi tunanetra, terasing di istananya, harus jadi tawanan musuh pula.”
“Tunggu saja kelanjutannya,” aku menaruh telunjuk di bibir sambil menyeringai tipis, “Kamu bakal tahu akhirnya bahagia atau sedih kalau bisa bersabar dan mencermati setiap plotnya.”
Aku pun meletakkan kotak beludruku di atas meja bersinar. Detik kemudian, ia tenggelam ke dalam meja seolah tertelan begitu saja. Tak berselang lama, kelima batu muliaku tampak di atas meja.
__ADS_1
“Kamu mau masuk ke dunia novel, kan?” tanyaku sambil menatapnya, “Caranya mudah. Kamu tidak perlu mati dahulu untuk masuk ke dalamnya. Kalau kamu mati, kamu malah tidak akan bisa masuk ke sana lagi. Kamu tidak perlu ditabrak truk sepulang bekerja. Tidak pula mati karena kelelahan di malam lembur yang panjang tiada habisnya. Itu adalah plot klise dari novel-novel fantasi isekai arus utama.”
“Jadi?” tanyanya singkat.
“Masuklah ke cerita dengan membacanya,” ucapku dengan entengnya, “Dengan begitu, kamu akan merasakan betapa indahnya dunia di sana.”
Aku menekan tombol yang muncul di meja bersinar. Muncullah tulisan-tulisan di atas setiap batu mulia. Berlian, Mirah Delima, Nilam, Zamrud, dan Mutiara. Itu semua adalah kode-kode nama dari karya asli novel ‘multikarakter’ ini.
“Perhatikan papan nama di setiap cerita,” ucapku memberi arahan sebelum novel ini dimulai, “Papan nama itu akan memberi petunjuk mengenai plot yang kamu baca.”
“Hm,” ia pun mengangguk, lalu berkata dengan sangat percaya diri, “Lihat saja nanti! Aku akan mengubah alur buruk yang kamu tulis itu.”
“Silakan saja,” aku tak peduli dengan tekadnya. Kutatap visual-visual setiap karya asli di meja bersinar. Sebelum dia terlarut dalam kisah imajinatif itu, aku mengingatkan, “Seperti yang kubilang di muka. Kamu bisa menjadi siapa saja. Entah itu Mirah, Nilam, Zamrud, Mutiara, bahkan Berlian yang sudah kamu lihat garis besarnya tadi. Kamu bahkan bisa menjadi semuanya kalau mau.”
“Bukannya sudah pasti aku jadi semuanya?” tebaknya dengan kening berkerut.
“Terserah kamu,” aku mengangkat kedua bahu, membiarkan tebakannya begitu saja, “Yah, setiap alurnya emang bersambung satu sama lain sih. Oiya, kamu harus ingat!”
“Ini semua dibuat sekadar untuk hiburan semata. Inilah yang namanya dunia fantasi dalam novel. Setiap rincinya hanyalah khayalan saja,” ucapku mengingatkan, “Kamu tidak boleh terlalu dalam masuk ke sana. Kamu punya dunia nyata. Ah, tempat kita berada pun hanyalah dunia fana. Kelak, kehidupan ini terasa seakan-akan semuanya hanya mimpi. Namun ….”
Dia menatapku penasaran karena terhenti sebentar.
“Dunia ini adalah tempat menanam. Manfaatkan waktumu dengan bijak. Sungguh kamu akan dibangkitkan dan dimintai pertanggungjawaban.”
Dia pun menyentuh meja bersinarku pelan, mengelusnya perlahan. Sekejap kemudian, ia menghilang dari hadapanku–tentu untuk ‘masuk’ ke novel itu. Aku pun tersenyum puas melihatnya.
“Berliankah?” gumamku sambil menatap visual berlian yang berkedip-kedip, “Sepertinya, dia sangat bersimpati dengan putri itu. Yah, bukannya buruk sih. Malah bagus kalau dia jadi Selena la Diamond, tapi …”
__ADS_1
Aku pun menekan-nekan tombol pada meja bersinar, mengetikkan sesuatu pada plot yang dia pilih. Dengan seringai nan tipis di bibir, aku kembali bergumam, “Mari buat dia mengingat skenarionya setelah tragedi pertama yang membuatnya buta terjadi.”
...***...
Dialah Berlian. Gadis itu bernama Selena la Diamond, putri pertama dari Kerajaan Diamond. Ia tumbuh di lingkungan yang baik, menjadi putri yang ceria, dan disayangi kedua orang tuanya yang merupakan penguasa tertinggi di kerajaan.
“Ada apa, Sayang?” tanya Ratu Clara la Diamond, ibunda Selena. Selena kecil yang masih berusia tiga tahun pun menggeleng imut. Ia hanya merasa telah melupakan sesuatu yang penting. Namun, sepertinya itu bukanlah hal yang mendesak.
Musim demi musim berganti. Tahun demi tahun berlalu. Selena menikmati masa kecilnya yang indah dengan riang. Karena rasa penasarannya yang tinggi, raja dan ratu pun membangunkan sebuah istana khusus untuknya. Rencananya, istana itu akan dipenuhi dengan buku-buku dari seluruh dunia.
“Ibunda, ayo undang para putri dari setiap negara,” seru Selena ketika ia ikut merancang acara yang akan diadakan di setiap negara. Saat itu, usianya tujuh tahun. “ Biarkan mereka bermain denganku Istana Melati Putih nanti. Aku ingin punya banyak teman dari mana-mana.”
“Tentu, ayo kita lakukan,” sambut Ratu Clara penuh semangat, “Pasti itu akan menjadi acara yang bagus untuk kalian. Putriku memang yang terbaik.”
Acara besar itu pun diadakan. Para putri dari setiap negara juga ikut datang. Mereka berkumpul di istana empunya undangan. Selena sendiri yang menyiapkan acara khusus para putri itu di istananya, terutama pada pilihan ragam jamuan, dekorasi, dan rentetan acara.
“Selamat datang semua!” sapa Selena dengan riangnya sewaktu memberikan sambutan. Ratu Clara menemaninya di panggung kehormatan, menambah keberanian yang ada dalam dirinya. Tepuk tangan nan meriah pun bergema. Selain para putri, hadir juga para ratu dan nyonya bangsawan tinggi di sana.
Selena berkenalan dengan kawan-kawan barunya selama acara yang meriah itu. Mereka pun bermain akrab di istananya. Yah meskipun ada beberapa putri yang masih malu-malu sih. Meski begitu, acara itu tetap berjalan lancar sehingga dengan alami meningkatkan pengaruh Selena la Diamond di tangah para putri lainnya.
"Hanna, berilah salam pada Tuan Putri Selena," kata seorang wanita muda berparas anggun yang merupakan salah satu dari tamu penting istana. Ada aura kebijaksanaan yang terpancar darinya. Di belakangnya, bersembunyi seorang gadis kecil berambut hitam nan kemerahan diterpa mentari. Gadis itu tampak takut dan waspada. Umurnya masih lima tahunan saat itu, dua tahun lebih muda dari Selena.
"Namamu Hanna, kan?" ucap Selena sambil mendekati Hanna dan tersenyum manis padanya. Rambut pirang platinumnya tergerai lurus ke bumi, indah nian nan mempesona. Mata keemasannya menatap penuh persahabatan pada gadis kecil yang malu-malu mengintipnya. "Perkenalkan, aku Selena la Diamond."
"Sa–salam," jawab Hanna yang masih saja bersembunyi di balik gaun ibundanya, "Aku ... Hanna Muthia."
"Ya ampun … imutnya," seru Selena gemas ingin mencubit pipi tembam Hanna yang kemerahan, "Kamu seperti peri bunga di musim semi."
__ADS_1
Begitulah pertemuan Selena la Diamond dengan sahabat karibnya, Hanna Muthia. Hanna memang tidak langsung akrab dengannya. Putri dari pasangan Earl Muthia itu bahkan terkesan takut saat melihat Putri la Diamond I. Ia baru mau membuka hatinya setelah berkali-kali Selena mengajaknya bermain bersama.
Selena menjalani hari-harinya dengan penuh kebahagiaan. Ia punya kehormatan, status, kekayaan, sahabat, dan segala kemewahan yang ada. Sayangnya, kebahagiaan itu tidaklah berlangsung selamanya. Setahun setelah pertemuannya dengan Hanna, tragedi pertama yang mengenaskan di plot Berlian menimpanya.