
Aku baru mau berpisah dari Kak Ally dan Pangeran Leon saat tiba-tiba Nona Orchid berlari tergesa-gesa ke arah kami. Air mukanya amat keruh oleh ketakutan. Begitu melihatku, ia langsung mendekat.
“Lady Muthia, Lady Muthia,” panggilnya panik, “Tolong bantu Rosy.”
“Ada apa dengan Nona Hilton?” aku jadi ikut panik dan bingung melihatnya. Kak Ally dan Pangeran Leon pun jadi penasaran juga. Kami harus menenangkan dulu gadis itu sebelum bisa mendengar penjelasannya dengan baik.
“Wah, wah,” Pangeran Leon menyeringai, “Sepertinya ada sekelompok anak tidak tahu diri yang berkeliaran di akademi kita. Em … Nona Orchid, kan? Bisa Anda tuntun kami sampai ke sana.”
Nona Orchid tertegun sebentar saat bertatapan dengan Pangeran Leon. Ia pun segera menggeleng kuat dan mengajak kami untuk ikut dengannya. Gadis itu mendesak kami untuk bergegas saking cemasnya.
“Eh? Apa dia teman yang kamu maksud itu?” Kak Ally menunjuk seorang gadis yang tengah menendang pria di hadapannya. Aku pun mengangguk mewakili Nona Orchid. Tidak perlu diragukan lagi, dia memang Nona Hilton.
“Nona Hilton, ya?” Pangeran Leon jadi semakin tertarik.
“Kenapa?” seru Nona Hilton dengan tegasnya, “Kalian dulu yang memulainya. Majulah satu per satu kalau kalian sungguh lelaki!”
“Wah, wah …,” Pangeran Leon angkat suara. Ia memutuskan untuk melerai mereka sebelum pertengkaran yang lebih besar terjadi. “Ternyata Nona Hilton adalah gadis yang tangguh. Anda membuat saya terpukau.”
“Hanna,” panggil Kak Ally kemudian, “Dia teman yang pernah kamu ceritakan, kan?”
“Iya,” aku mengangguk pelan, “Dia bangsawan baru dari utara.”
__ADS_1
“Mereka dulu yang memulainya,” adu Nona Hilton diikuti dengan anggukan kuat oleh sahabatnya, “Mereka menghalangi jalan kami dan tidak membiarkan kami pergi.”
“Siapa bilang aku dulu yang memulai?” bocah yang tadi ditendang oleh Nona Hilton berusaha menyangkal. Ah, dia preman kelas yang kemarin membuat masalah denganku. Sekalian kubantu saja Nona Hilton.
“Tuan Anderson memang pengganggu dan sok hebat,” ucapku enteng, “Apa Anda sebegitu tidak tahu malunya sampai berusaha mencelakai orang lain hanya karena kalah argumen?"
"Aku tidak begitu–" Bion masih berusaha menyanggah. Namun, Kak Ally buru-buru memotongnya, "Kalian! Ikuti kami sekarang! Berjalanlah dengan kaki kalian sendiri atau DOS yang akan mengangkat kaki kalian."
"Ck!" Bion berdecak kesal. Ia tidak bisa berbuat banyak di hadapan Pangeran Ketiga yang sekaligus merupakan Ketum DOS. Nama keluarganya tidak akan lebih berarti dari nama Keluarga Kerajaan la Diamond.
"Kalian bisa pulang lebih dulu," ucap Pangeran Leon pada kami, "Kami akan minta keterangan dari kalian nanti."
"Hm, terima kasih, Pangeran," balasku sopan.
"Bukan saya yang dekat, tapi kakak saya," aku menjawabnya pelan, "Beliau sering mampir ke kediaman kami untuk mengajak kakak pergi."
"Hm, begitukah?" Nona Hilton menatap selidik.
Keluarga Muthiaku memang terkenal sebagai keluarga bangsawan netral yang paling kuat. Kami berfokus untuk melindungi kontinen dari invasi negeri-negeri Daratan Besar yang mungkin datang kapan saja. Meski di tengah kondisi politik yang rumit begitu, bukannya kami tidak bisa jadi dekat. Lagi pula, para orang dewasa hanya menganggapnya sebagai kedekatan anak-anak biasa.
"Hm, pokoknya terima kasih," ucap Nona Hilton kemudian, "Berkat Anda, saya jadi terhindar dari masalah yang tidak perlu."
__ADS_1
"Itu bukan apa-apa," balasku ringan. Dibandingkan dengan apa yang Nona Hilton berikan, bagiku hal ini masih belum ada apa-apanya. Dia adalah teman pertamaku. Selama seminggu ini, hanya dia teman yang mendekatiku dengan setulus hati.
Aku cukup terkejut saat melihat Nona Hilton mengajukan diri sebagai ketua kelas. Yah, dia memang pantas sih. Meski dia sempat dihujat beberapa kali karena dekat denganku, dia masih bisa mengatasinya dengan baik dan bijak. Dia bisa cepat dekat dengan siapa saja. Karena itu, aku akan mendukungnya untuk jadi orang nomor satu di kelas.
Keesokan paginya, kami sudah duduk di kelas menanti visi-misi yang akan dipaparkan oleh para kandidat. Namun, anehnya, Nona Hilton dan Bion tidak terlihat. Aku bisa mengerti alasan bocah dari Keluarga Anderson itu tidak hadir di kelas hari ini, tapi kenapa Nona Hilton juga tidak datang sampai jam segini.
"Selamat pagi, Anak-anak," sapa Magister Cloen. Pada akhirnya, Nona Hilton tak kunjung datang juga. Padahal, kami sudah menunggu sosoknya yang unik untuk memaparkan visi-misi di depan kelas.
"Karena ternyata dua kandidat ketua kita yang lain tidak bisa hadir pagi ini, kita hanya akan mendengar visi-misi dari Tuan Magnum," kata Magister Cloen dengan wajah datarnya, "Bagi yang bersangkutan, silakan maju."
"Baik, Magister," seorang pemuda berambut cepak berdiri dari duduknya. Ia pun berjalan ke depan dengan langkah tegap. Senyum hangat terlukis di bibirnya seolah mewakili kepercayaan diri dan jiwa kepemimpinan yang kuat.
"Selamat pagi, Teman-teman yang saya banggakan," ucapnya memulai orasi, "Saya berdiri di hadapan kalian …."
Dia menyampaikan visi-misinya dengan lugas. Andai orasinya disandingkan dengan kata sambutan dari kepala akademi, sudah tentu orasinya akan lebih didengar. Begitu ia menyelesaikan pemaparannya, teman-teman sekelas pun bertepuk tangan.
"Baiklah," Magister Cloen mengetuk mejanya sekali sehingga seisi kelas diam seketika, "Karena kandidat lainnya tidak bisa hadir hari ini, maka mereka otomatis didiskualifikasi. Kita punya calon tunggal sekarang. Jadi, Tuan Magnum. Sampaikan kata sambutan Anda sebagai ketua dari kelas ini."
"Eh?" kami semua terbengong. Begitu pula Arnold. Dia yang paling terkejut di antara kami. Bocah itu mencoba bertanya untuk memastikan, "Saya sudah menjadi ketua kelas, Magister? Bagaimana dengan Tuan Anderson dan Nona Hilton?"
"Apa telingamu tersumbat barusan?" Magister Cloen balik bertanya dengan dingin, "Sudah kubilang bahwa mereka didiskualifikasi karena tidak hadir kelas hari ini."
__ADS_1
"Oh! Ah, baiklah," Arnold pun berdehem sebentar, baru kemudian memulai pidatonya sebagai ketua kelas. Meski mendadak diminta memberi sambutan, ia tetap dapat berbicara dengan luwes dan normal. Kami pun bertepuk tangan sekali lagi setelah ia menyelesaikan sambutannya.
Hah … maaf, Nona Hilton. Ketuanya bahkan sudah ditunjuk sebelum Anda unjuk gigi. Saya jadi tidak bisa memberikan dukungan apa pun pada Anda.