Cara Menjadi Tokoh Di Dunia Novel

Cara Menjadi Tokoh Di Dunia Novel
Bab 006: Identitas Palsu (Zamrud)


__ADS_3

“Persiapan sudah selesai, Nona,” kata seorang wanita paruh baya begitu ia menuntaskan dandanan yang kuminta. Aku pun menatap ke cermin dan tersenyum kepadanya. Seperti yang kuduga, Madam Eline memang yang terbaik dalam urusan ini.


Aku menatap rambutku yang pendek sebahu dan berwarna cokelat terang. Sebelumnya, rambutku berwarna hijau cerah seperti daun muda yang baru tumbuh. Itu adalah ciri khas dari keluarga kerajaan asalku, Kerajaan Emerald. Dengan dandanan baru ini, aku sudah lebih mirip dengan warga Kerajaan Diamond wilayah utara pada umumnya.


Sayangnya, aku tidak bisa mengubah warna iris mataku yang hijau gelap bak zamrud ini. Hm, aku memang tidak perlu menyembunyikan semua identitasku. Lagi pula, tidak banyak yang tahu tentang orang-orang kerajaan kami. Kami adalah kerajaan mandiri yang cenderung tertutup.


“Terima kasih, Madam,” ucapku kemudian, lantas meninggalkan salon Madam Eline. Seperti katanya, persiapanku sudah selesai. Identitas bangsawan palsu, perbekalan, sampai penampilan yang jauh berbeda. Mulai hari ini, aku adalah Rosica Hilton, putri dari Baron Hilton yang baru-baru ini membeli gelar bangsawan. Baron Hilton hanyalah sosok palsu. Aku yang membuatnya untuk menyamar di Kerajaan Diamond.


Sebenarnya, ayah dan ibuku tidak setuju menjadikanku pemimpin operasi intelijen di Kerajaan Diamond. Kedua orang tuaku itu over protektif sampai mengekang anak gadisnya yang energik ini. Hmph! Aku ingin terbang bebas seperti burung di angkasa.


Meski over protektif, mereka tidak akan bisa mengabaikan permintaanku jika aku sudah bersikeras pada sesuatu. Lagian, aku kan punya kompetensi untuk memimpin para mata-mata yang bekerja di berbagai bidang itu. Aku akan menunjukkan hasil yang terbaik pada mereka nanti.


Kerajaan Emerald bukannya memusuhi Kerajaan Diamond sampai berani mengirim mata-mata. Kami bahkan punya hubungan diplomatik dan perdagangan dengan mereka. Kerajaan kami hanya ingin melindungi diri dan bersikap waspada, apalagi kami mendengar gelagat yang tidak biasa dari salah satu suksesor Kerajaan Diamond akhir-akhir ini. Para intelijen kami mencurigai adanya ancaman berbahaya di masa depan. Sebagai salah seorang putri dan srikandi dari Kerajaan Emerald, tentu aku tidak akan membiarkan bahaya itu menyentuh sejengkal pun tanah kerajaan kami.


...***...


Rubia vi Emerald. Ia bersekolah di Akademi Permata sebagai Rosica Hilton. Putri sulung dari Kerajaan Emerald itu adalah sosok yang tomboi dan patriotik. Ia sangat berbakat dalam seni berpedang dan membidik sejak kecil. Rambut aslinya berwarna hijau cerah bak daun muda. Ia mewarnainya cokelat terang saat menjadi Rosica Hilton demi mengamati masa depan Kerajaan Diamond. Dengan mengobservasi generasi muda mereka, ia bisa tahu bagaimana kerajaan itu akan berdiri ke depannya. Di akademi, ia menjadi satu-satunya gadis bermata hijau gelap karena tidak bisa mengubah warnanya.


...***...


Karena statusku sebagai Rosica Hilton adalah putri baron, aku mendapat kamar yang lebih kecil dari lainnya. Itu pun dibagi dua dengan seorang gadis bangsawan yang setara denganku. Kabar baiknya, teman sekamarku itu adalah gadis yang interaktif dan cepat berteman. Hm, aku akan memanfaatkannya dengan baik untuk menyempurnakan penyamaranku.


“Rosy, cepat bangun!” seru gadis itu sambil menepuk-nepuk pundakku. Dalam waktu sehari, kami sudah benar-benar dekat sampai memanggil nama satu sama lain dengan panggilan akrab. Berteman dengannya memang sebuah keberuntungan. “Ini hari pertama. Jangan sampai kita terlambat.”


“Hm? Ini sudah pagi?” tanyaku sambil mengucek-ngucek mata yang masih mengantuk. Nyawaku masih belum sepenuhnya terkumpul. Semalam, kami terlalu asyik mengobrol sampai tidur terlalu larut.

__ADS_1


“Matahari sudah di ujung anak panah, Rosy,” kata gadis itu menunjuk ke luar jendela. Maksudnya, mentari sudah terbit cukup tinggi. “Kita harus buru-buru sebelum pintu gerbangnya ditutup.”


“Hm, baiklah,” jawabku santai. Persiapan itu mudah. Aku tidak perlu banyak waktu untuk berdandan seperti para lady lainnya. Hmph! Buat apa penampilan yang muluk-muluk? Asal nyaman, itu sudah lebih dari cukup bagiku.


“Ayo cepat! Aku nggak mau datang sendiri,” gadis itu menarik lenganku untuk bergegas. Dia adalah Lilianne Orchid, putri bungsu dari Viscount Orchid.


“Oke,” aku mengangguk kecil. Jujur saja, aku masih mengantuk sekarang. Aku ingin balik ke kamar dan kembali tidur saja. Namun, aku tak bisa melewatkan hari pertamaku. “Tunggu aku sebentar, Lily”


Setelah mencuci muka, kutatap mata hijauku di cermin. Lily sangat tertarik dengan mata ini semalam. Ia menduga-duga banyak hal. Gadis itu bahkan berpikir bahwa aku adalah keturunan bangsa peri bermata hijau. Yah, wajar saja. Kerajaan Emerald cukup jauh dengan dan kurang terkenal meskipun kami bertetangga dengan Kerajaan Diamond. Bangsawan Diamond di perbatasan utara pun jarang berinteraksi dengan kami.


“Ayo berangkat!” seruku dengan semangat yang tiba-tiba membara. Lily pun membalasku dengan anggukan dan senyuman yang sama semangatnya. “Hm, ayo!”


Aku sungguh menikmati hari ini. Yah, harusnya begitu. Aku harusnya bisa menikmati hari pertama yang spesial ini. Sayangnya, orasi dari kepala sekolah terlalu lama dan berbelit-belit sampai menghancurkan semangatku. Pidato itu membuatku mengantuk. Lily sampai harus membangunkanku beberapa kali selama acara pembukaan tadi.


“Huaah …,” aku menutup mulutku dengan telapak tangan saat menguap. Rasa kantuk itu masih meliputiku sampai sekarang. Menurut yang kudengar, Profesor Neo memang agak menjengkelkan. Semoga saja dia tidak menjadi guru di kelasku.


“Hm? Apa lagi?” aku menoleh malas ke arah Lily menunjuk. Semangatku masih belum kembali, padahal pidato Profesor Neo itu seharusnya memberi semangat. Huh! Salahnya sendiri karena pidatonya terlalu banyak berputar-putar.


“Itu Lady Ruby dan Putri Saphira,” tunjuk Lily girang seolah melihat artis terkenal yang kebetulan lewat, “Aku sempat melihat kedatangan mereka kemarin. Para gadis banyak bercerita tentang mereka berdua. Mereka berdua sangat cantik dan terhormat. Andai aku bisa bergabung dalam salon mereka.”


“Kenapa tidak?” tanyaku santai. Seperti yang kudengar dari para informan, kedua gadis terhormat itu sangat mencolok. Mereka sama-sama menjadi panutan bagi para gadis bangsawan di negerinya masing-masing. Aku pun mengajak Lily, “Kalau mau dekat dengan mereka, bukannya tinggal mendekat?”


“Hus! Mereka berdua adalah sosok yang tidak mungkin kita raih. Melihatnya saja sudah jadi keberuntungan bagi gadis-gadis bangsawan kecil seperti kita,” sanggah Lily tak percaya diri. Hais! Dia bahkan belum mencoba sama sekali. Aku pun menghela napas miris dan memutar bola mataku. Sekejap kemudian, aku meraih pergelangan tangan Lily, lalu menariknya.


“Kenapa harus malu? Kita kan seumuran dengan mereka? Lihatlah! Gadis yang ada di samping Lady Ruby adalah putri dari Vicount Morgan,” kataku sembari menyeretnya untuk mendekati para gadis terhormat itu, “Dia sama sepertimu, putri seorang viscount.”

__ADS_1


“Ta–tapi,” Lily tetap saja malu-malu.


“Sudahlah,” sedangkan aku tetap memaksanya, “Ikuti saja aku.”


“Salam, Tuan Putri Saphira. Salam, Lady Ruby dan para lady sekalian,” kataku menyapa dengan luwes. Lily pun mengikutiku sedikit kikuk. Gerakannya kaku karena gugup. “Suatu kehormatan dapat bertemu dengan Anda sekalian. Perkenalkan, saya Rosica Hilton. Ini sahabat saya, Lilianne Orchid.”


“Hm,” Putri Saphira memekarkan kipas yang dibawanya. Ia menatap kami dengan dingin. Mata biru gelapnya yang sedalam samudra itu seolah dapat menenggelamkan siapa pun yang dipandangnya.


“Hilton?” Lady Ruby menatap dengan sebuah tanda tanya di atas kepalanya. Dia pasti baru pertama kali ini mendengar nama keluarga palsuku itu. Wajar saja. Aku baru mendapat izin untuk memimpin operasi intelijen dari ayah tiga hari sebelum pendaftaran akademi ditutup. Itu adalah tiga bulan yang lalu. Jadi, tidak mungkin gadis bangsawan ibu kota seperti Lady Ruby mengenalku.


“Oh!” Lady Ruby menyunggingkan senyum ramahnya. Senyuman itu sangat indah bagai kuncup bunga mawar yang cantik. “Berarti kamu putri pedagang yang kaya raya dari utara itu. Keluargamu pasti sangat hebat. Senang bertemu denganmu.”


“Heh?”


Dia mengenal marga palsuku? Bahkan latar belakang yang kami buat-buat? Apa gadis itu punya kewajiban untuk menghafal nama semua bangsawan di Kerajaan Diamond, bahkan yang baru hadir tiga bulan yang lalu? Ah, sudahlah. Itu berarti, penyamaran kami sempurna.


Setelah itu, kami berbasa-basi sejenak sampai lonceng masuk kelas berdentang. Kami pun masuk ke kelas masing-masing sesuai dengan yang telah ditentukan. Aku dan Lily satu kelas, jadi kami tidak perlu berpisah. Sepanjang perjalanan masuk, sahabat pertamaku itu terlihat sangat girang karena bisa bertemu langsung dengan dua sosok yang amat dikaguminya.


Tak banyak yang perlu kami lakukan di hari pertama. Kami hanya berkenalan satu sama lain bersama wali kelas, lalu dilanjutkan dengan tur keliling akademi. Begitu tur selesai, kami bisa langsung kembali ke asrama.


Tok! Tok! Tok!


“Siapa?” aku membuka pintu kamar yang diketuk dengan pelan dan sopan. Saat daun pintu kamarku sempurna terbuka, kulihat sosok yang amat cantik nan menawan, tapi juga unik. Aku sempat terpesona dengan keayuannya yang khas.


“Perkenalkan, aku Hanna Muthia,” kata gadis itu dengan suara yang lirih, tapi masih sanggup kudengar. Ia bermata cokelat gelap. Rambutnya berwarna silver panjang menjuntai sampai ke pinggang. Kulitnya pun putih sehalus susu yang manis. Oh! Aku ingat siapa gadis ini. Dia adalah teman sekelas kami sekaligus gadis yang paling dekat dengan putri sulung dari Kerajaan Diamond, Hanna Muthia, putri semata wayang Earl Muthia.

__ADS_1


“Nona Hilton, Nona Orchid,” panggilnya dengan suara yang lembut, tapi berwajah datar, “Putri Diamond I ingin mengobrol sambil minum teh bersama kalian. Saya harap, Anda berdua berkenan untuk datang.”


__ADS_2