Cara Menjadi Tokoh Di Dunia Novel

Cara Menjadi Tokoh Di Dunia Novel
Bab 005: Perjalanan ke Akademi (Nilam)


__ADS_3

Menjadi anggota keluarga kerajaan besar berarti mengemban tanggung jawab yang teramat penting. Meskipun bukan sebagai raja ataupun pangeran mahkota, aku tetap memiliki perananku tersendiri bagi Kerajaan Safir dalam dunia perpolitikan di kontinen. Karena itu, aku harus menjadi sosok paling sempurna dalam posisiku sebagai Putri Kedua Kerajaan Safir.


Sikap, etika, dan paras. Sebenarnya, aku tak mau terlalu peduli dengan hal-hal seperti itu. Namun, aku terpaksa memedulikannya karena kedudukanku yang elit.


Orang-orang memandangku tinggi. Mereka selalu memanjatkan pujian yang banyak padaku. Setiap model pakaian yang aku gunakan akan mereka tiru dan menjadi tren di pergaulan kelas atas, utamanya di Kerajaan Safir-ku ini.


“Hmph! Mereka terlalu berlebihan,” gumamku sembari menatap gerbang ibu kota yang semakin menjauh. Aku bersyukur ayahanda dan ibunda mau mengabulkan permintaanku untuk bersekolah di luar negeri. Di Kerajaan Diamond nanti, suasananya tidak akan sama persis seperti di Kerajaan Safir. Aku pasti bisa mendapatkan pengalaman baru di sana.


“Tuan Putri, apa Anda baik-baik saja?” tanya seorang gadis pendek berambut cokelat sebahu yang menatapku dengan air muka yang beriak khawatir, “Ini akan menjadi perjalanan yang panjang. Mohon bersabar. Kita akan sampai di Kerajaan Diamond dalam waktu tiga minggu.”


“Itu terlalu lama,” balasku ketus.


“Semangat, Tuan Putri. Kita akan segera menikmati hari-hari indah di Akademi Permata,” ucap gadis itu memberi dukungan. Namanya adalah Sari. Ia gadis yatim piatu yang kebetulan bertemu denganku saat aku sedang berjalan-jalan di kota–waktu itu umurku delapan tahun. Aku melihatnya punya talenta yang menjanjikan. Karena itulah aku mengangkatnya sebagai pelayanku. Sesuai dengan harapan, ia dapat lulus dalam ujian akademik dan mendapat beasiswa dari Kerajaan Safir untuk bersekolah menemaniku. “


“Hm,” aku mengangguk kecil dengan senyuman tipis. Pandanganku pun kembali menatap ke luar jendela. Lautan gandum yang masih hijau baru ditanam terlihat elok di sana. Ini tidak buruk juga. Meskipun perjalanan ini cukup panjang dan melelahkan, aku mungkin bisa mencoba untuk menikmatinya.


...***...

__ADS_1


Evanna de Saphira. Putri Kedua Kerajaan Safir. Ia adalah sosok putri yang paling anggun sehingga menjadi pedoman bagi para lady di kerajaannya. Selain untuk menghindari hal-hal merepotkan dan menuntut ilmu, ia pergi ke luar negeri dengan mengemban tugas penting sebagai duta kehormatan bagi Kerajaan Safir di Kerajaan Diamond. Setiap keputusannya akan menjadi kebijakan luar negeri Kerajaan Safir. Ia merupakan gadis yang dingin, waspada, dan teliti. Sebagai putri yang sudah terbiasa dipuji, matanya sangat jeli membedakan kawan dan lawan, apalagi penjilat yang mungkin akan menusuknya dari belakang kapan saja.


...***...


“Kita akhirnya sampai di perbatasan,” ucapku begitu melihat tugu persahabatan yang tertancap gagah di persimpangan jalan. Dua minggu telah berlalu tanpa terasa. Dalam hitungan hari, aku akan sampai di Akademi Permata, akademi paling bergengsi di Kontinen Western. Aku memang tidak terlalu peduli pada embel-embel ‘terbaik’-nya, tapi aku cukup berdebar ketika membayangkan kehidupan seru yang akan kujalani di sana.


“Tuan Putri, lihat!” seru Sari riang, “Kita sudah sampai di Kota Bandar Harapan.”


“Yah, kita akan beristirahat sebentar di kota ini,” ujarku ringan. Kota Bandar Harapan adalah kota pertama yang kami sambangi setelah melalui tugu di perbatasan. Ia adalah kota pelabuhan yang menjadi pusat jalur perdagangan antara Kontinen Western dengan Daratan Besar, bahkan Benua Oriental. Para pedagang yang datang ke negeri kami juga pasti melewati kota ini.


“Sari,” aku harus mengajak pelayanku itu untuk bersenang-senang di sini, “Ayo kita jalan-jalan dan melihat-lihat kota ini.”


“Baik, Tuan Putri,” balas Sari semangat, “Saya akan menyiapkan segala keperluan Anda.”


Aku dan Sari pun menjelajahi Kota Bandar Harapan seharian. Kami mengenakan pakaian standar yang lazim dipakai oleh para putri pedagang agar tidak mencolok. Para pengawal mengikuti kami diam-diam agar tidak mengganggu sesuai perintahku.


Kota Bandar Harapan sangat ramai dan unik. Aku mencicipi berbagai jenis kuliner lautnya yang beragam. Ada ikan, cumi, bahkan tiram yang dibumbui dengan rempah-rempah istimewa. Menurut koki yang kutanyai, rempah-rempah itu datang dari Benua Oriental, daratan-daratan nun jauh di timur dunia.

__ADS_1


Di tengah safari kuliner itu, aku melihat seorang pemuda yang sangat cerewet. Ia membual bahwa dirinya akan bersekolah di Akademi Permata mulai semester ini. Itu berarti, dia akan jadi satu angkatan denganku.


“Sari, kita mungkin akan mendapati hal-hal unik sepanjang masa pendidikan di akademi nanti,” kataku saat melihat pemuda berbaju bagus itu dari dalam sebuah kafetaria. Mendengar ucapanku, Sari jadi terlihat lebih bersemangat. “Benar, kan, Tuan Putri? Kita pasti akan mendapatkan pengalaman yang menarik di sana. Saya tidak sabar menantikannya.”


Hari-hari perjalanan yang panjang berlalu dengan cepat. Kami akhirnya sampai di Kota Intan, Ibu Kota Kerajaan Diamond. Masih ada waktu beberapa hari sebelum akademi dibuka. Aku pun datang ke gedung kedutaan kami di kerajaan ini. Kami menginap di sana selama beberapa hari untuk mengurus ini dan itu. Setelah urusan kami selesai, barulah kami berangkat ke Akademi Permata.


Sebagai akademi elit yang bergengsi, Akademi Permata mewajibkan para siswa dan siswinya untuk tinggal di asrama, bahkan walaupun ia seorang pangeran atau putri. Mereka ingin mengajarkan kemandirian pada generasi penerus masa depan kerajaan. Semua siswa dan siswinya diperlakukan setara tanpa ada satu pun perbedaan.


Yah, begitulah label yang ditempelkan pada akademi. Namun, apa yang terjadi di lapangan tidaklah demikian. Bahkan, golongan elit seperti keluarga kerajaan atau bangsawan sekelas count ke atas akan mendapat asrama yang lebih bagus dan terpisah, sedangkan mereka yang biasa akan berbagi kamar dengan orang lainnya–tergantung uang yang dibayarkan ke akademi sih. Pada dasarnya, akademi ini adalah manifestasi dari kehidupan sosial-politik dan aristokrasi bagi para siswa. Mereka semua akan menjalin hubungan relasi dan persaingan sejak bersekolah di sini.


Aku tidak akan terkejut jika terdapat ketimpangan hukum dan keberpihakan di Akademi Permata. Sebelum berangkat, aku sudah mengumpulkan informasi-informasi yang sekiranya akan kubutuhkan selama tinggal di luar negeri, termasuk lawan politik dan sosok-sosok yang harus kuwaspadai. Jika aku mau, aku mungkin bisa menemukan perwujudan para koruptor, tukang suap, dan kaum oportunis di sini. Namun, itu bukanlah hal yang kubutuhkan. Aku hanya perlu ….


“Sari, bukannya dia …,” ucapku begitu melihat gadis berambut merah yang baru keluar dari auditorium. Sari pun mengangguk, lalu membenarkan dugaanku, “Benar, Tuan Putri. Dia Lady Amelia Ruby. Sosok gadis muda yang paling bersinar di Kerajaan Diamond.”


“Wah, bukannya ini menarik?” yah, aku cukup tertarik dengan gadis yang mencolok itu, “Mari kita hampiri dia.”


Amelia Ruby terkenal sebagai sosok yang baik hati dan terbuka pada siapa pun, berbeda denganku yang cenderung waspada dan selektif memilih sekutu atau lawan. Dengan karakternya yang luhur itu, ia pantas menjadi tokoh protagonis dalam sebuah novel fantasi. Kalau dia sudah jadi protagonis, apakah aku akan menjadi tokoh sebaliknya?

__ADS_1


__ADS_2