
Lady Ruby dan kawan-kawannya, Putri Saphira dan pelayannya, sekaligus Nona Hilton dan Nona Orchid. Aku sudah mengirim undangan kepada mereka sesuai arahan tuan putri. Kuharap, mereka semua mau bertemu dengan tuan putriku dan mengobrol ringan bersama-sama.
Aku berhenti di salah satu lorong akademi yang panjang. Jendela di lorong itu sangat besar dengan ornamen bintang bersulur-sulur yang rumit dan persisi. Sinar mentari sore menembusnya dengan bebas sehingga terbentuklah bayang-bayang ornamen itu. Aku pun menoleh ke taman akademi yang cantik nan luas di luar sana.
"Tuan Putri, andai Anda juga bisa melihat pemandangan yang indah ini," gumamku lirih. Aku tidak bisa melupakan kejadian waktu itu. Andai saja saat itu ia tak melindungiku, aku mungkin tak akan bisa hidup dengan baik sampai hari ini. Dia telah berkorban dan menyelamatkanku.
"Hanna," panggil sebuah suara yang amat kukenal, "Ternyata kamu di sini."
"Pangeran Leon," aku pun menoleh pada pemuda yang memanggilku itu. Ia merupakan Pangeran Ketiga dari Kerajaan Diamond. Tahun ini, ia duduk di bangku tahun kedua pendidikan akademi. Ia memiliki rambut pirang platinum menyala. Matanya secerah emas yang mulia. Itulah ciri khas dari Keluarga Kerajaan Diamond yang terkenal, tapi tuan putriku berbeda.
"Kebetulan sekali kita bertemu. Apa kamu ada waktu? Aku mau mengajakmu mengobrol sebentar," kata Pangeran Leon dengan senyum ramah di bibirnya. Sejak tragedi itu, banyak orang yang menganggapku dan tuan putri sebagai gadis terkutuk. Mereka takut dan terang-terangan menjauhi kami terlepas dari kedudukan orang tua kami yang tinggi di kerajaan. Hah … jangankan mereka, sanak saudaraku pun ada yang enggan bertemu denganku, juga tuan putri.
"Terima kasih atas undangan Anda, Pangeran," kataku dengan seulas senyuman tipis, "Saya bisa meluangkan waktu. Namun, saya harap Anda tidak menyita waktu saya terlalu lama."
"Aku tahu," jawabnya senang, "Kamu pasti mau bertemu dengan kakakku, kan? Terima kasih sudah merawat dia dengan baik selama ini."
"Sayalah yang sepatutnya berterima kasih karena diizinkan untuk terus berada di sisi beliau," balasku sopan. Aku pun menerima tawarannya. Kami mengobrolkan hal-hal ringan berdua sambil menyusuri lorong yang seolah tak ada habisnya. Sesekali, kami membahas tuan putri. Aku senang karena ia mau menerima aku dan tuan putri dengan sepenuh hati.
"Sampaikan salamku pada kakak," katanya sebelum kami berpisah, "Juga, kuharap kamu mau memanggilku dengan santai tanpa honorifik. Bukankah kita sudah menjadi teman sejak kecil? Panggil saja aku Leon."
__ADS_1
"Saya akan mempertimbangkannya, Pangeran," kataku tanpa memberi jawaban yang jelas. Sebagai putri dari Earl Muthia yang netral, aku tak boleh menunjukkan kecenderungan pada pangeran tertentu. Apa yang kulakukan di sini akan menjadi cermin dari keluargaku karena aku datang ke akademi sebagai perwakilan atas mereka. Karena itu, aku harus hati-hati mengambil tindakan.
Perjalananku masih panjang. Lagi pula, aku sudah berniat untuk setia pada tuan putriku satu-satunya. Biarlah para pangeran itu bergaduh. Selama mereka tak mengganggu kami, aku tak akan peduli.
Dua hari pun berlalu sejak aku mengirim undangan pada para lady. Aku khawatir karena sampai saat ini, tak satu pun dari mereka membalas undangan tuan putri. Padahal, kupikir mereka akan menjadi sosok yang cocok sebagai teman berbincang kami.
Ah, sudahlah. Kami sudah terbiasa diabaikan begini. Para lady yang kuundang mungkin juga menganggap kami gadis terkutuk sehingga tidak mau datang. Kebanyakan orang yang melihat kami memang begitu. Setiap kali mereka melihat rambut putih pucatku, mereka akan segera menghindar dengan berbagai alasan.
"Kamu murung lagi," pundakku ditepuk seseorang ketika suara itu terdengar.
Aku pun berpaling ke asal suara itu dan mendapati kakakku di sana. Namanya Ally Muthia. Ia adalah kakak yang selalu tersenyum padaku dengan penuh kepedulian.
Benar, tidak semua orang mengabaikan kami. Selain Pangeran Keempat, masih ada beberapa sosok yang mau menerima kami. Mereka adalah sosok yang baik dan paling dekat dengan kami. Kami menyayangi mereka sepenuh hati.
"..."
Aku menggeleng dengan wajah tertekuk. Ia pun mengelus kepalaku dengan lembut. Kasih sayang yang hangat mengalir dalam belaiannya yang halus itu.
"Aku cuma khawatir pada tuan putri," jawabku kemudian, "Sampai saat ini, belum ada satu pun yang mau menjadi temannya."
__ADS_1
"Jangan khawatir," hibur Kak Ally halus, "Kalian pasti akan mendapat kawan terbaik di akademi."
"Yah, semoga saja begitu. Terima kasih, Kak," balasku lirih. Acara itu akan kami adakan besok sore di akhir pekan. Kalau mereka tak kunjung mengirim balasan sampai hari ini, kami mungkin terpaksa membatalkannya dan mengundang teman-teman yang lain minggu depan.
Seperti yang kakakku bilang, kami pasti akan mendapatkan teman. Sore itu, Nona Hilton dan Nona Orchid datang membalas undanganku. Mereka berkunjung langsung ke kamarku untuk mengantarkan balasannya.
Dari mata hijau Nona Hilton yang cerah, aku melihat sosok optimis nan penuh percaya diri, sedangkan Nona Orchid ... aku merasa dia masih sama seperti orang-orang lainnya. Ia tak berani bertatapan mata langsung denganku dan bersikap pasif di tengah perbincangan kami. Sepertinya, ia mampir ke mari karena Nona Hilton memaksanya.
Di sela obrolan kami, seorang gadis pendek berambut cokelat sebahu mengetuk pintu. Ia memperkenalkan dirinya sebagai pelayan dari Putri Saphira. Namanya Sari. Kedatangannya ke mari untuk menyampaikan balasan dari sang putri.
"Terima kasih sudah mengantarnya," kataku begitu menerima surat darinya. Aku ingin mengajaknya untuk masuk ke kamarku dahulu. Sayangnya, ia buru-buru pergi sebelum aku berkata-kata. Sepertinya, ia juga takut pada rambut putih pucatku. Ia mungkin juga menganggapku sebagai putri terkutuk. Setelah acara kami sukses digelar nanti, semoga ia tak takut lagi padaku dan tuan putri.
"Lady Muthia," tepat setelah Sari pergi, Lady Ruby memanggilku. Ia tersenyum ramah dengan manisnya. Rambut merahnya yang pekat membuatku terpesona. Ia datang guna menyampaikan ketersediaannya untuk menghadiri acara kami. Aku pun segera melaporkan perkembangan baik itu setelah Nona Hilton dan Nona Orchid meninggalkan kamarku.
"Tuan Putri," panggilku pada sosok gadis yang duduk di kursi dengan anggun. Ia memiliki rambut yang putih sama sepertiku, tapi lebih cerah seperti untaian platinum, "Mereka mau datang untuk bertamu."
"Benarkah?" gadis itu tampak senang mendengarnya. Sudah lama sekali ia tak menerima tamu. Aku melihat semangat di mata beningnya yang jernih. "Hanna, ayo kita bersiap. Kita akan menjamu mereka sebaik-baiknya."
"Baik, Tuan Putri," balasku patuh. Aku pasti tak akan mengecewakannya. Semoga acara ini dapat mengubah hidup terasing kami ke depannya.
__ADS_1
...***...
Hanna Muthia. Putri bungsu Earl Muthia. Sejak kecil, ia sudah akrab dengan Putri Diamond I. Matanya cokelat gelap nan pekat. Rambutnya putih keperakan sehingga ia dikenal sebagai gadis terkutuk sama seperti sang putri. Ia sosok yang pendiam, tapi tegas dan memiliki kepercayaan diri yang kuat. Saat diperlukan, ia tak akan segan untuk berbicara lantang.